Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Balas Dendam
"Sialan! Kamu memang jalang sialan, nggak tau diri!" hardik Denara.
Amaia terkejut oleh suara yang datang dari arah belakangnya. Beberapa menit setelah acara makan malam selesai, Amaia berpamitan ke kamar mandi. Sebenarnya dia ingin menenangkan diri. Terlalu sesak berada di antara keluarga Tedjakusuma yang selama ini menipunya.
Tak hanya Amaia, tetapi Erwin dan Atika juga tertipu oleh topeng mereka. Selama ini Amaia menganggap Ferdian seperti ayahnya sendiri. Setelah Erwin berpulang, pria itu sangat memperhatikan Amaia. Tak pernah sekalipun dia lepas pandang dari kehidupan Amaia dan Atika.
Saat keduanya merasa sulit, Ferdian selalu datang membantu. Ketika Amaia butuh bantuan, Ferdian dengan cepat menolong. Walaupun kuliahnya ditopang juga oleh beasiswa, tapi bantuan Ferdian ikut serta alam prosesnya. Amaia tak akan pernah melupakan bagaimana pria itu memperlakukannya dengan sangat baik.
Semuanya hancur setelah bertahun-tahun. Amaia tak menyangka sikap tulus Ferdian selama ini hanyalah kebohongan belaka.
"Sialan, malah bengong!" Denara mendorong pundak Amaia.
Tubuh perempuan kecil itu terbentur ke tembok kamar mandi. Kedua mata Denara yang menatap tajam sangat kentara memperlihatkan kebencian. Ekspresi murkanya membuat Amaia yakin, gadis itu benar-benar aneh. Aneh karena tertarik pada saudara angkatnya sendiri! Walaupun saudara angkat, tapi nyatanya itu tetap tak etis di mata Amaia.
"Apa-apaan kamu, Denara?" Amaia berdiri tegak dan memprotes.
"Kamu yang apa-apaan? Berani juga kamu merebut milikku?! Mas Widi itu milikku! Aku yang jatuh cinta padanya!"
"Milik kamu? Denara, kamu jangan gila. Mas Widi itu kakakmu."
"Ah, brengsek!" Denara menjerit kesetanan sambil mendorong kasar tubuh Amaia.
Iparnya meringis akibat dorongan itu. Karena kini pinggang Amaia terhempas ke tepi wastafel. Rasa sakit menjalar di pinggangnya.
"Kamu keterlaluan, Dena. Kamu pikir kalau aku melaporkan ini ke Mas Widi, dia bakal diam saja? Walaupun kamu adiknya, kamu pikir dia bakal membela kamu?" Tiba-tiba Amaia memprovokasinya.
Sesuai dugaan Amaia, Denara kian murka. Ditariknya rambut Amaia. Kepalanya di benturkan ke tembok. Saat seperti ini, Amaia malah gagal melawannya.
"Lepasin aku, Dena!" Amaia memekik. Ia berusaha melepas cengkeraman iparnya itu. Tapi pegangan Denara terlalu kuat. "Denara!"
"Cewek sundal, Sialan! Aku tau kamu pasti menggoda Mas Widi di belakang Kak Rakha. Kamu bermain-main di belakang kakakku dengan Mas Widi. Makanya Mas Widi jadi bodoh menerima perempuan per*k sialan kayak kamu!" Umpatan kasar meluncur dari bibir Denara. "Kamu pikir, kamu bisa menjadi nyonya muda di sini? Perempuan nggak tau malu!"
Tubuh Amaia terhempas ke lantai setelah Denara dengan kasar mendorongnya lagi. Susah payah Amaia berdiri. Kedua kakinya terasa sakit dan bergetar. Ia menatap nyalang pada Denara.
"Jaga bicara kamu," cetusnya.
"Kenapa?" Denara melipat tangan di depan dada. "Aku benar, ya? Kamu menggoda Mas Widi selama ini? Kamu yang duluan genit padanya! Kamu!" Ia menunjuk wajah Amaia. Mata melotot murka.
Amaia menyeringai. "Siapa yang sebenarnya tak tahu malu? Bagaimana kalau orang-orang atau Om Ferdian tau, anak perempuannya tergila-gila pada saudara angkatnya sendiri? Aku yakin itu hal yang sangat memalukan buatnya."
Ucapan Amaia membuat Denara terkejut. ia hendak maju, tapi Amaia langsung berdiri tegak. Tak ada jejak ketakutan di wajahnya meski ia habis didorong dan ditindas oleh saudara Rakha.
"Jalang brengsek ini berani juga ngancem segala. Mau aku robek mulut sialanmu itu, hah? Atau mau aku sebarkan juga kalau selama ini kamu selingkuh dengan Mas Widi di belakang Kak Rakha?"
Tanpa pikir panjang, tamparan keras mendarat di pipi Denara. Deru napas Amaia memburu cepat setelah melampiaskan kemarahannya lewat tamparan itu. Selama ini dia muak dengan sikap Denara. Apalagi dengan omongannya yang sembarangan.
"Astaga, kamu, ibumu, dan Rakha sangat-sangat mirip," bisik Amaia, "benar-benar menjijikkan."
"Amaia, sialan!"
Amaia mengangkat ponsel yang sejak tadi digenggamnya. "Sebarkan saja omongan nggak jelas itu. Tapi kalau aku sebarkan rekaman pengakuanmu tentang Mas Widi." Denara refleks meraihnya, tapi Amaia dengan cepat menyembunyikan ponsel ke belakang punggung.
Seringai tipis terlihat di bibir Amaia. Denara masih mengusap pipinya karena tamparan tadi. Tapi tatapan matanya terlihat sangat murka.
"Jangan macam-macam kamu. Kalau sampai kamu bicara yang nggak-nggak tentangku. Aku nggak mau Mas Widi marah karena istrinya diusik," kata Amaia penuh keberanian. Amaia menyenggol bahu Denara dan keluar dari ruangan itu.
......******......
Denara bodoh!
Amaia menggenggam ponsel di tangannya sesaat setelah keluar dari kamar mandi. Baru digertak dan diancam saja, Denara sudah ketakutan. Padahal Amaia tak sempat merekam apa pun di ponselnya. Tapi Denara terlihat sangat panik.
Kaki Amaia masih terasa lemas setelah pertikaian dengan iparnya tadi. Dari dulu Denara memang tak pernah menyukainya. Terlebih ketika Amaia dijodohkan dengan Rakha dan perhatian Ferdian benar-benar sangat berbeda jika menyangkut Amaia. Pasti Denara iri padanya.
"Sekeluarga nggak ada yang beres," ujar Amaia seraya menyeret langkah ke arah balkon.
Rongga dadanya seketika nyeri mengingat perlakuan Denara tadi. Dulu Denara bisa menahan diri saat Amaia terlibat dengan Rakha. Namun, sekarang begitu merasa Widitama diusik oleh Amaia, Denara berani bersikap kasar.
"Papa ...," gumam Amaia seraya berdiri di depan teralis balkon. Matanya mendadak panas ketika mengingat wajah Erwin. "Andai papa tau apa yang terjadi di sini. Aku nggak sanggup memberi tahu semuanya pada mama. Dia sangat percaya Om Ferdian selama ini."
Lelehan air mata keluar dari matanya. Bahu Amaia turun seiring rasa sakit yang tak hanya akibat tindakan kasar Denara, tapi karena mengingat kepalsuan keluarga Tedjakusuma. Karena selama ini Denara sangat mempercayai mereka.
Memang betul, orang yang cenderung sangat kita percaya, justru adalah orang yang paling gampang memberikan rasa kecewa. Kini Amaia percaya kalimat yang entah diucapkan oleh siapa untuk pertama kalinya.
"Kamu ngapain di sini? Semua orang menunggu di bawah. Ayah ingin bicara dengan kita."
Suara familiar itu mengusik lamunan Amaia tentang mendiang ayahnya. Dia mengusap pipi untuk menyingkirkan air mata.
"Iya, aku ke sana sekarang, Mas," kata Amaia masih menunduk dan membelakangi Widitama.
Namun, suara langkah kaki pria itu mendekat. Mau tak mau Amaia berbalik dan menemukan pria berkemeja abu-abu gelap itu sedikit heran. Barangkali karena mata Amaia yang sedikit masih basah.
Amaia berusaha menghindar dan hendak pergi. Namun, langkahnya tertahan setelah melihat Denara muncul dari lorong kamar mandi lantai dua. Melihat wajah menyebalkan wanita itu, api murka dalam dada Amaia tersulut lagi. Ia benar-benar tak terima dengan kelakuan Denara terhadapnya.
"Mas, kalau aku menuruti semua rencana dan keinginan kamu, apa kamu mau menolongku?" tanya Amaia seraya mendongak pada sang suami.
Alis rapi Widitama menukik. "Seperti apa yang saya katakan. Semua tergantung bagaimana kamu bersikap. Tentang menolongmu, akan saya lakukan selagi itu bukan sesuatu yang merugikan saya."
Persetan! Amaia hanya ingin membalas mereka semua atas apa yang terjadi. Apalagi Denara. Sikap yang selalu terlihat merendahkannya selama ini membuat Amaia tak tahan untuk melihat perempuan itu hancur. Kalau bisa hancur pula bersama seluruh anggota keluarga Tedjakusuma.
Mungkin saja, pria di hadapannya ini juga akan hancur.
"Kalau begitu, aku akan mengikuti semua rencana kamu." Amaia memangkas jarak di antara mereka. Matanya berkaca-kaca saat menatap lekat Widitama. Pedih rasanya tatkala menyadar bahwa dirinya benar-benar nyaris kalah oleh situasi saat ini. "Aku akan menuruti apa pun yang kamu inginkan."
"Semuanya?"
Sebelum menjawab Widitama, Amaia mencuri tatap ke arah Denara. Wanita itu berhenti tak jauh dari sana karena melihat Amaia dan Widitama sedang berbincang.
Amaia mengangguk yakin. Satu-satunya anggota keluarga Tedjakusuma yang bisa dia manfaatkan sekarang adalah Widitama.
"Semuanya," jawab Amaia dengan lirih.
Ketika Widitama hendak berucap, Amaia berjinjit dan menangkup kedua pipi pria itu. Bibirnya dengan berani menyentuh bibir Widitama. Dari sudut ekor matanya, Amaia bisa melihat Denara melotot tak percaya sekaligus murka. Namun, Amaia tak peduli. Tujuannya memang begitu, membuat sang ipar kepanasan.
"Apa yang kamu lakukan?" bisik Widitama saat Amaia hendak menjauhkan wajah.
Bibir Amaia terbuka hendak menjawab, tapi Widitama menarik pinggang rampingnya. Pria itu menunduk dan mencium bibir tipis istrinya dengan pelan, tapi sukses besar membuatnya terkejut. Berbeda dari Amaia yang hanya mengecup, Widitama justru mencecap bibir Amaia dengan gerakan pelan. Amaia meremas lengan kemeja Widitama.
Sungguh di luar dugaannya pria itu akan membalas kecupan tadi. Padahal Amaia hanya ingin membuat Denara cemburu buta. Ciuman Widitama berubah kasar dan menutut. Dipagutnya bibir Amaia seolah menegaskan bahwa dia bisa membalas lebih panas dari sekadar ciuman biasa.
Amaia bisa saja mendorong pria itu, tapi sekarang dari tempatnya, dia melihat Denara mengepalkan tangan. Dia menyaksikan ciuman Widitama dan Amaia dengan sorot mata yang menahan murka. Wajahnya terlihat merah karena amarah.
Jauh di lubuk hatinya, Amaia merasa puas atas kemenangan itu.
Saat ciuman Widitama kian dalam, Amaia memejamkan mata dan melingkarkan kedua lengannya pada leher pria itu. Amaia tak sempat berpikir panjang ketika bibirnya tanpa permisi membalas pagutan bibir suaminya.