Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28: Langkah Kaki Dua Nyawa
Pagi itu, gerbang utama Adhitama Group terbuka lebar menyambut kedatangan Nara. Udara pagi kota yang sibuk terasa sejuk namun membawa ketegangan halus di dadanya. Di dalam tas kerjanya, tersimpan berkas penunjukan tugas yang sah; di balik seragam yang sengaja dipilihnya berukuran agak longgar, tersimpan rahasia terindah sekaligus terberat yang harus ia jaga: nyawa kecil yang mulai tumbuh perlahan di dalam rahimnya.
Ini adalah hari pertamanya bekerja secara resmi di kantor pusat perusahaan milik suaminya sendiri—namun tak satu pun orang di gedung bertingkat itu yang tahu hubungan sejati mereka. Kesepakatan yang diputuskan semalam itu kini mulai dijalankan. Di sini, di antara ribuan karyawan, Nara hanya akan dikenal sebagai staf administrasi baru yang direkrut atas dasar kemampuan, bukan ikatan keluarga.
Langkah kakinya ringan namun tegas saat melintasi lobi utama. Kepala tegak, senyum sopan terukir di bibirnya, meski jantungnya berdebar sedikit lebih kencang dari biasanya. Ia menyadari bahwa setiap gerak-geriknya mungkin akan diamati, diperhatikan, bahkan dinilai oleh orang-orang yang belum mengenalnya. Terlebih lagi, latar belakangnya sebagai gadis desa yang sederhana, yang pernah menjadi bahan pembicaraan di masa lalu, tentu masih terekam samar dalam ingatan sebagian orang.
Saat ia tiba di ruang kerja bagian administrasi, tatapan-tatapan mulai beralih ke arahnya. Ada rasa penasaran, ada yang bersikap biasa saja, namun tak sedikit pula yang menatap dengan pandangan menyelidik—cara orang menilai pendatang baru yang tak memiliki latar belakang keluarga terpandang di kota besar ini.
"Selamat bergabung, Nara," sapa kepala bagian dengan nada datar namun sopan. "Semoga kamu bisa beradaptasi dengan cepat. Di sini, kedisiplinan dan ketelitian adalah yang utama."
"Terima kasih, Bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Nara mantap, lalu mulai menata meja kerjanya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang tegas dan berat terdengar mendekat, disertai bisik-bisik pelan yang seketika menyebar di antara rekan-rekan kerjanya. Arkan Adhitama, Direktur Utama sekaligus pemilik perusahaan, berjalan melewati ruangan itu menuju ruang kerjanya di ujung lorong. Penampilannya rapi, berwibawa, wajahnya kaku tanpa senyum—persis citra pemimpin yang ditakuti dan dihormati.
Saat melewati meja Nara, langkahnya tak sedikit pun melambat. Ia hanya melirik sekilas, mengangguk singkat seolah melihat karyawan baru biasa saja, lalu terus berjalan tanpa sepatah kata pun. Tak ada kilatan kasih sayang, tak ada tanda pengenalan khusus. Bagi semua orang di sana, Arkan dan Nara adalah dua orang yang belum saling mengenal dekat. Namun bagi Nara, lewatnya sosok itu membawa ketenangan sekaligus pengingat diam: kita sedang menjalani bagian dari rencana kita.
Di balik kaca ruangan kerja Arkan yang tembus pandang namun kedap suara, pria itu berdiri diam sejenak begitu ia masuk. Ia memandang keluar, menatap sosok istrinya yang kini mulai sibuk memilah berkas-berkas di mejanya. Di balik wajah dingin yang ia pasang di depan umum, hatinya justru berdebar cemas. Ia tahu, apa yang mereka mulai hari ini bukan hal yang mudah. Ia harus menahan diri untuk tidak segera berlari mendekat, memastikan ia baik-baik saja, atau melindunginya dari tatapan-tatapan yang mungkin tidak ramah.
Ponsel di saku celana Nara bergetar pelan tak lama kemudian. Sebuah pesan masuk singkat, hanya bisa dibaca dengan pandangan sekilas:
"Jangan mengangkat beban berat. Istirahatlah sejenak setiap dua jam sekali. Di laci meja sudah aku siapkan bekal gizi dan susu khusus. Maafkan sikapku tadi—ini demi kita berdua. —A."
Nara tersenyum tipis, menyembunyikan rasa haru di hatinya. Ia membuka laci meja, dan benar saja, di sana tersusun rapi kotak bekal serta botol minum yang sudah disiapkan Arkan diam-diam semalam. Perhatian itu membuat semangatnya makin berkobar. Ia tidak sendirian, meski tampak demikian di mata orang lain.
Siang harinya, suasana di kantor berjalan seperti biasa—sibuk, padat, dan penuh tuntutan pekerjaan. Nara mampu mengimbangi ritme kerja yang cepat itu. Meski kadang terasa sedikit lelah di pinggangnya atau sedikit rasa mual samar yang muncul di tenggorokan, ia berusaha menyembunyikannya dengan baik. Ia tidak ingin ada yang curiga terlalu cepat, dan lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja sama baiknya dengan siapa pun, tanpa memandang latar belakang atau status.
Namun, ketidaktahuan orang-orang akan kebenaran itu perlahan mulai membuka jalan bagi hal lain. Saat jam istirahat, saat ia berjalan menuju kantin, terdengar percakapan pelan di sudut ruangan yang sengaja terdengar agar ia mendengarnya.
"Lihat itu, karyawan baru dari desa itu ya?" bisik salah satu suara.
"Iya. Entah bagaimana caranya bisa diterima di sini. Biasanya kan butuh koneksi kuat."
"Siapa tahu koneksinya bukan lewat jalur resmi..." sahut yang lain dengan nada menyindir.
Nara berjalan terus seolah tak mendengar, meski hatinya terasa sedikit teriris. Ia mengusap perutnya perlahan di balik tas yang ia gendong, berbisik dalam hati: Kuatlah, Nak. Ini baru permulaan. Kita buktikan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh apa yang dikatakan mulut orang lain.
Di sore harinya, tugas-tugas mulai menumpuk di mejanya. Beberapa rekan kerja yang merasa kedudukannya terancam atau sekadar ingin menguji ketahanan pendatang baru, diam-diam memberikan tugas tambahan yang seharusnya bukan bagian dari tanggung jawabnya. Nara menyadarinya, namun ia memilih menyelesaikannya dengan tenang dan teliti, bukan dengan kemarahan. Ia tahu, kerja keras dan ketelitianlah yang akan menjadi jawaban terbaiknya.
Saat jam kerja berakhir, langkah Nara terasa sedikit lebih berat dari pagi tadi. Namun, begitu ia keluar dari gerbang kantor dan melihat mobil yang menunggu agak jauh dari keramaian, kelelahan itu perlahan hilang. Begitu masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat, dinding pertahanan yang ia bangun seharian itu akhirnya runtuh.
Arkan, yang sudah menunggu di kursi pengemudi, segera menariknya ke dalam pelukan hangat yang lama. Ia membiarkan Nara bersandar di dadanya, melepaskan semua ketegangan yang tersimpan.
"Bagaimana hari pertamamu?" tanyanya lembut, sambil mengusap punggung istrinya perlahan.
"Berat, tapi aku bisa," jawab Nara sambil tersenyum lelah namun puas. "Banyak hal yang harus dihadapi, tapi aku tahu alasannya. Dan aku siap untuk besok."
Arkan menunduk, lalu meletakkan telapak tangannya di atas perut Nara yang masih rata itu dengan penuh kelembutan.
"Maafkan aku harus bersikap seolah tak peduli di sana. Setiap kali melihatmu bekerja sendirian, rasanya aku ingin memanggil semua orang dan berkata: Ini istriku, hormati dia sebagaimana mestinya."
Nara mengangkat wajahnya, menatap mata suaminya lekat-lekat.
"Kita sudah sepakat, Mas. Semua ini ada tujuannya. Biarkan waktu yang menjawab. Yang penting, di sini kita saling mengerti dan saling menjaga."
Malam itu, di rumah mereka yang tenang, Arkan kembali berubah menjadi sosok yang paling memanjakan. Ia memijat lembut kaki dan pinggang Nara yang terasa pegal, menyiapkan makan malam dengan menu yang disesuaikan, lalu duduk lama di samping tempat tidur, berbicara pelan pada nyawa kecil yang tumbuh di dalam sana.
"Hai Nak," bisik Arkan sambil menatap perut istrinya dengan tatapan penuh haru dan harapan. "Hari ini Ibumu bekerja sangat hebat. Ia membuktikan kekuatan hatinya yang luar biasa. Maafkan Ayah jika hari ini terlihat seperti orang asing di matanya. Ayah hanya ingin kalian berdua tumbuh dan bersinar atas kekuatan sendiri. Nanti... saat waktunya tiba, dunia akan tahu siapa kalian sebenarnya. Tidurlah yang nyenyak ya, Nak. Besok kita mulai lagi langkah baru."
Nara memejamkan matanya, mendengarkan suara lembut suaminya yang menenangkan. Ia tahu, hari ini hanyalah satu dari sekian banyak hari yang akan dijalani dengan cara seperti ini. Rahasia ini perlahan menjadi bagian dari keseharian mereka, menyimpan keindahan sekaligus tantangan yang tak terduga. Di luar sana, orang-orang mulai berbicara, menebak-nebak, dan perlahan mulai memperhatikan perubahan-perubahan halus yang mulai terlihat pada diri Nara.
Dan di situlah, di balik rahasia yang terjaga itu, benih-benih ujian yang lebih besar mulai bersiap tumbuh. Langkah kaki dua nyawa itu telah dimulai—dan jalan di depan masih panjang, penuh kejutan, serta membutuhkan ketegaran yang jauh lebih besar lagi.
Bersambung....