NovelToon NovelToon
The Dark Side Of Love

The Dark Side Of Love

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Contest / Romansa / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: aresss

Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Little Fight

Happy Reading

***

Jasmine POV

Aku keluar dari mobil dan diikuti oleh Edward.

"Cuaca berubah begitu cepat..." ucapku.

"Kau benar..."

Aku dan Edward berjalan bersama menaiki anak tangga menuju teras. Saat di anak tangga terakhir, pintu terbuka dan memunculkan Johansen serta Kimberly. Yah Kimberly. Kali ini memakai setelan kantor abu-abu. Rok pensilnya benar-benar mengangguku. Tanpa sadar, aku membandingkan pakaiannya dengan pakaianku.

"Mr.Lendsmen. Miss. Brown..." ucap Johansen sebagai sapaan dengan senyum merekah.

"Edward... Aku sudah menunggumu." ucap Kimberly dan dia jelas mengabaikan keberadaanku. Aku memasukkan tanganku ke dalam jaket dan menatap wanita sialan ini.

"Ada apa?" jawab Edward

"Aku sudah mengirim email tentang laporan persediaan tekstil untuk musim ini. Namun, sepertinya kau belum membaca berkas tersebut...."

"Benarkah? Aku tidak membuka ponselku sejak keamrin..."

Kemudian Edward beralih padaku, "Aku ada sedikit pekerjaan. Aku akan menemuimu nanti." kemudian beralih pada Johansen, "Tolong bantu dia, Johansen...'

"Yes, sir..."

Aku menatap Edward kemudian Kimberly.

"Okay.." bisikku pelan dan berjalan bersama masuk ke dalam rumah.

"This way, Edward. Ada beberapa hal yang perlu kudiskusikan denganmu..." ucap Kimberly dan mau tak mau, aku menatap bokongnya yang tercetak jelas dibalik rok pensilnya. Dia beanr-benar seksi dan itu membuatku tidak nyaman. Sejenak, aku berpikir bahwa dia sengaja mengenakan pakaian seperti itu.

"Aku akan menemuimu sesegera mungkin.." ucap Edward dan mengecup keningku sekilas. Aku melihat wajah Kimberly yang berubah kesal dan aku membalasnya dengan senyum kemenangan. Dia milikku, sobat...

"This way, Miss..." ucap Johansen dan aku mengikutinya ke sayap kiri sedangkan Edward dan Kimberly menuju sayap kanan.

Aku berjalan dengan Johansen kemudian menoleh sekilas ke belakang untuk melihat punggung mereka berdua.

"Mereka pergi ke mana?" tanyaku pada Johansen.

"Ruang kerja, Miss..."

Aku mengangguk kecil, "Apakah Kimberly bekerja pada Edward?"

"Yes, Miss.."

Aku ingin bertanya lebih lanjut tentang Kimberly, tapi aku takut melewati batas.

"Kita pergi ke mana?"

"Mr.Lendsman berpesan sebelumnya untuk menyediakan kuda sebelum kedatangan anda berdua, Miss..."

Aku diam, menunggu dia selesai berbicara.

"Kita akan berkuda, Miss..."

Oh... Aku paham

"Seberapa kaya Edward?" tanyaku asal dan itu keluar begitu saja dari mulutku.

Johansen tertawa kecil, "Entahlah, Miss..."

"Apa aku ikut berkuda?"

"Tentu saja..."

"Apa Kimberly akan ikut?"

"Sepertinya yah..."

Kami sampai pada pintu samping dan menemukan golf cart (mobil golf) di sana beserta beberapa pelayan pria.

"Kita tidak berkuda?" tanyaku.

Johansen melihatku, "Yes, Miss. Kita menuju kandang kuda dengan ini.."

Aku mengangguk paham dan mulai bertanya-tanya, sebanyak apa aset Edward membuat dia sekaya ini. Aku dan Johansen naik salah satu golf cart dengan posisi Johansen yang mengendarainya. Kami melaju diikuti oleh dua golf cart dibelakang kami.

Kami berjalan di jalan kecil yang di apit oleh rerumputan hijau. Aku menatap betapa terawatnya semua taman Edward. Mulai dari pemilihan bunga, rumput, air mancur, patung-patung hiasan, dan lainnya. Semuanya menampilkan kemewahan yang tak pernah kubayangkan.

"Apa Edward hidup sendiri di sini?"

"Yes, Miss.."

"Sejak kapan?"

"18 tahun...."

Well. itu usia yang sangat muda.

"Sebelumnya dia punya rumah lama?"

"Yes, Miss.. Dia memiliki tempat dinggal bersama orangtuanya dulu."

"Kenapa dia pindah kemari?"

Johansen menatapku, "Adan baiknya menanyakan itu secara pribadi, Miss.."

Aku tersenyum malu. Sial. Aku sudah melewati batas.

"Nampaknya kau sudah bekerja sangat lama pada keluarga Edward.." tanyaku dengan nada selidik. Mau tak maau, aku menyesalinya. Terkadang aku kesal dengan diriku sendiri karena tidak mengontrol pertanyaanku.

"Sudah sangat lama, bahkan jauh sebelum Mr. Edward lahir.."

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

Dia menatapku sekilas, "Tergantung pertanyaannya, Miss.."

"Apakah Edward memiliki masalah.. Uhm.. Ah.." aku memikirkan kata-kata yang pas dan sopan, tapi aku tidak menemukannya. Aku ingin bertanya apakah Edward memiliki masalah dalam pengendalian emosi. Di artikel internet, aku selalu menemukan artikel yang membahas bahwa banyak orang kaya yang memiliki masalah psikologis. Mungkin Edward termasuk.

"Ah.. Sudahlah. Lupakan." ucapku akhirnya.

"Yes, Miss..."

"Maksudku.. Edward memiliki pergantian emosi yang begitu cepat. Sebentar ini, sebentar lagi itu. Terkadang aku kesulitan mengimbangi emosinya yang berubah-ubah... Aku sampai berpikir jika dia berkepribadian ganda..." pada akhirnya, aku mengucapkan kata-kata tersebut.

"Miss Jasmine..."

"Yah?" aku menatap Johansen yang menatap lurus ke depan.

"Semua orang punya rahasia, bukan begitu?" ucapnya dan aku benar-benar tidak mengerti sedikit pun dari perkataannya.

"Aku telah hidup begitu lama, Miss Brown. Ada satu nasihat yang ingin saya berikan kepada anda secara pribadi..."

"What's that?"

"Anda harus selalu berhati-hati pada siapa pun, bahkan orang yang anda cintai sekali pun..."

Johansen melambatkan laju golf cart tersebut hingga akhirnya berhenti dan kami sampai pada tujuan kami. Aku menatapnya.

"Apa maksudnya?"

"Hanya sebuah nasihat, Miss..."

Dia turun dan aku ikut. Aku melihat sebuah lumbung ternak berwarna cokelat dan tidak jauh darinya ada sebuah lapangan berkuda. Aku berjalan di atas rumput yang basah dan sedikit becek.  Aku mengikuti Johansen ke dekat lumbung ternak.

Saat sampai di sana, dia memberiku sepatu boot semi-karet dan sebuah helm tunggang cokelat. Aku menerimanya kemudian duduk di bangku kayu dan mengganti sepatuku dengan itu.

"Apakah Anda pernah berkuda sebelumnya, Miss?" tanya Johansen seraya mengganti sepatunya dengan sepatu bot karet. Itu membuat setelan jasnya tidak singkron dengan boot tersebut.

"Aku tinggal di peternakan Brystol sebelumnya dan yah aku cukup ahli..."

"Brystol? Itu kota kecil yang indah..."

Aku menggangguk kecil, yah.. Itu indah, tapi membosankan. Aku dan dia berjalan semakin dalam ke lumbung, melihat banyak kuda yang dikandangkan. Beberapa orang ada di sana sedang memberi makan kuda.

"Berapa banyak kuda di sini?"

"Dua belas, Miss..."

Aku melihat kuda berwarna hitam dan ukurannya beda dari yang lain. Kulitnya berkilau dan tampak begitu gagah. Rambutnya dan ekornya bergelombang. Dia mengikik dan menggoyang-goyang kepalanya. Aku melihat palang namanya di pintu.

"Pegasus..."aku mengusap ukiran nama tersebut.

"Itu kuda jantan favorit Mr.Lendsman.. Itu jenis Friesian."

Aku pernah mendengar jenis itu sebelumnya dan sering disebut-sebut sebagai kuda bangsawan

"Wow... Dia beda dari yang lain.." kami berjalan lagi dan aku melihat kuda putih dengan ukuran hanya sedikit lebih kecil dari Pegasus.

"Aprhodite.."

"Itu adalah kuda betina milik Miss Kimberly dengan jenis yang sama seperti milik Mr.Lendsman..."

Aku menatap kuda bernama Aprhodite tersebut dikandangankan berseberangan dengan Pegasus. Nampaknya kedua kuda ini adalah calon-calon yang akan dikawinkan. Cih.. Setidaknya pemilik kuda-kuda ini tidak menikah juga.

"Cantik seperti pemiliknya..." ucapku seadanya, "Jadi, kuda mana yang akan kutunggangi?"

Johansen berjalan dan berhenti di kandang kuda bernama Flabel. Dia tidak terlalu besar dan nampaknya dari jenis kuda biasa. Kulitnya berwarna abu-abu, tapi tidak merata. Di bagian tertuntu gelap sekali dan di bagian lainnya tidak terlalu gelap. Dia bergerak-gerak di kandangnya lalu mendengus khas kuda.

"Itu kuda jantan berjenis Holsteiner, Miss. Dia kuda yang jinak..."

Aku menatap kuda tersebut dan dia juga menatapku. Perlahan, dia menurunkan kepalanya padaku seolah hendak memintaku mengelus kepalanya. Aku menatap Johansen dan dia mengangguk kecil. Aku mengangkat tanganku dan perlahan mengelus kepalanya. Aku tertawa kecil menatap betapa jinaknya kuda ini.

"Flabel..." ucapku kemudian kuda itu segera menggoyang-goyangkan kepalanya dan mengikik senang.

"Apakah anda siap menungganginya, Miss?"

"Yeah.."

Lalu pekerja di sana mengikuti instruksi Johansen untuk membuka kandangnya. Dia membawa Flabel keluar dari kandangnya. Aku dan Johansen mengikuti untuk keluar dari lumbung tersebut. Setelah berada di luar, pekerja tersebut membantuku naik.

"Thank you.."

Pekerja itu memegang tali kuda tersebut dan membawanya berjalan sejenak. Johansen mengikut di sisi lain kuda.

"Kau tidak naik kuda?"

"Sulit bagi pria tua seperti saya, Miss..."

Saat kami semakin menjauh dari lumbung dan berada di tepi lapangan pacu kuda, aku menatap kedatangan Edward dna Kimberly dari kejauahan. Aku menatap mereka turun dari golf cart. Kemudian Edward melambai ke arahku dan aku melambai kecil. Yah.. Tentu saja, Kimberly tidak melambai padaku.

Mereka berjalan bersama menuju lumbung dan aku menatap mereka hingga hilang dibalik bangunan lumbung. Aku menarik napas dan membuangnya kasar.

"Mereka berdua tampaknya dekat.." komentarku pelan.

"Mereka hanya teman, Miss.."

Aku menoleh ke arah Johansen, "Benarkah? Mereka nampak seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.."

"Mr.Lendsman hanya menganggapnya sebagai rekan, Miss...."

"Hmm... Baiklah." ucapku pelan, "Boleh aku menungganginya sendiri?" tanyaku.

"Anda bisa?" tanya pekerja

"Yah..."

Johansen memberi arahan pada pekerja itu agar memberi tali itu padaku dan aku menerimanya.

"Kami akan mengawasi dari belakang untuk menghindari hal yang kurang baik..."

"Baiklah..."

Aku menhentak kecil pengangan tali itu dan kudanya segera berjalan lebih cepat. Dia bergerak dengan anggun di lahan tersebut. Lalu, aku menarik tali kuda untuk memberhentikannya saat menatap Edward dan Kimberly melaju menuju arahku.

Saat mendekat, aku menatap mereka menggunakan baju yang lebih cocok untuk berkuda. Tidak sepertiku. Sial. Aku seperti gembel saja di sini.

"Jasmine.." ucap Edward seraya memberhentikan kudanya di dekatku dan di susul oleh Kimberly, "Nampaknya kau cukup ahli berkuda..."

"Tidak juga.." jawabku singkat dan senyum Edward perlahan pudar. Dia menatapku seolah bertanya 'ada yang salah.'

Aku menatap pakaian Kimberly dan sepatu boot kulitnya yang berbeda dari sepatu boot karet sialanku. Baju khusus berkudanya menunjukkan lekukan badannya yang bagus dan aku memakai jaket longgarku yang kumal.  Edward pun memakai setelan khusus berkuda. Hanya ku yang kumal. Sialan.

Ukuran kuda mereka pun tampak berbeda jauh dari kudaku. Hah.... Begitu mencoloknya perbedaan ini. Jika tahu berkuda seperti ini, aku akan membeli pakaian atau apalah. Kenapa Edward tidak memberitahuku? Dan kenapa Kimberly memakai setelan yang cocok sedangkan aku tidak? Artinya dai memberi tahu Kimberly tentang berkuda ini, tapi tidak denganku.

"Mau melakukan putaran pemanasan, Edward?" tanya Kimberly dan aku tidak tau maksud 'putaran pemanasan' ini. Jelas dia tidak mengajakku dalam 'putaran pemanasan' ini.

"Tentu.." jawabnya dengan tetap menatapku, "Kau ikut?" tanyanya padaku.

"Aku tidak tahu apa itu..." ucapku pelan dan berharap dijelaskan agar aku bisa ikut dengan mereka.

"Kalau begitu kau bisa melihatnya saja.." ucap Kimberly ketus, "Taruhan?" dia beralih ke Edward.

Edward mengangguk kecil, "Sure..." segera dia menghentakkan talinya dan kudanya melaju dengan kencang diikuti oleh kuda Kimberly. Aku melihat mereka memasuki sirkuit training yang dilengkapi dengan palang-palang lompatan. Aku menggerakkan kudaku menuju sirkuit tersebut tanpa masuk ke dalamnya.

Aku sakit hati tidak diajak...

Johansen muncul dengan golf cart bersama pekerja. Aku menatapnya dan tersenyum kecil. Kami melaju perlahan dan menatap seorang pekerja yang memegang bendera hijau di garis start. Aku menatap mereka berdua berbicara dan tertawa.

Cih...

Apa yang mereka bicarakan? Lalu aku mendengus kesal menatap Kimberly mengelus lembut kuda Edward. Kuda mereka pun tampak serasi. Aku menatap kudaku kemudian mengelusnya lembut. Kau tetap yang terbaik Flabella.

"Apa mereka sering melakukan ini?" tanyaku pada Johansen.

"Yes, Miss... Mereka sering bertanding seperi ini.."

"Aktivitas apa lagi yang sering melakukan bersama?"

"Golf, beselancar, tenis, helikopter, panahan, karate, --"

"Okay. Okay. Cukup..." potongku dan Johansen tersenyum kecil. Dasar pria tua mengesalkan. Seharusnya dia pura-pura tidak tahu saja.

"Apa lagi?" aku bertanya lebih lanjut. Sialan, Jasmine Lihatlah betapa tidak konsistennya aku.

"Pertandingan di mulai, Miss..." Johansen mengalihkan pembicaraan dan mau tak mau aku menatap mereka berdua.

Dengan cepat, bendera diturunkan dan kuda mereka berdua melaju dengan cepat hingga menimbulkan getaran halus di tanah. Kaki kuda terdengar berhentak-hentak di sana. Kimberly meminpin dam membawa kudanya melewati palang-palang tantangan. Kudanya melompat begitu anggun.

Kimberly dan Edward melewati kami dan aku merasakan angin dari gerakan kuda tersebut. Edward memimpin dan aku merasa senang.

"C'mon Edward..." teriakku kecil. Kemudian merasa panik ketika Kimberly begitu tipis di belakangnya.

"Berapa putaran?" tanyaku

"Dua putaran, Miss..."

Edward memimpin untuk putaran pertama dan Kimberly dengan mudah menyusulnya. Lalu Edward menyusul lagi membuat posisi mereka sama. Kuda mereka melewati palang tantangan secara bersama dan aku bisa menatap wajah serius dari mereka berdua.

"Mereka keren..." gumamku pelan dan entah mengapa aku sedikit kesal.

Kuda Edward melaju dengan kencang, melewati Kimberly kemudian melewati kami. Aku menatap wajah Edward yang menatap tajam ke depan dan aku tahu bahwa dia akan memenangkan pertandingan ini. Dan yah... Edward menang dengan posisi tipis dari Kimberly.

Aku melajukan kudaku ke arah mereka diikuti Johansen dengan golf cartnya. Mereka berdua turun dari kuda dan pekerja membawa kuda untuk minum. Aku menatap mereka berdua berbicara hal yang tidak kupahami.

"Yah.. Aphrodite bisa menang jika saja kau tidak menggangguku dengan siulan nakalmu.." ucap Kimberly dan Edward tertawa.

Siulan nakal? Well... Menarik. Edward berisul nakal padanya?!!

"Itulah mengapa kau harus berkonsentrasi..."

"Hai guys.." ucapku dan berusaha bergabung dengan pembicaraan mereka yang tidak terlalu kupahami.

"Ya.. Pegasus harusnya......." aku menatap kesal kepada Kimberly yang dengan sengaja menaikkan suaranya agar Edward tetap fokus padanya.

Edward melirik dari ujung matanya padaku seraya tetap memfokuskan wajahnya pada Kimberly yang berbicara. Aku memutar mataku kemudian mengerakkan kudaku dengan perlahan melewati mereka.

"Jasmine.." Edward memanggil dan aku tidak berusaha menghentikan kudaku. Aku bisa mendengar langkah kakinya mendekat ke arahku.

"Jasmine.." panggilnya dengan nada suaranya naik satu oktav

"Hm.." gumamku tanpa melihat kepadanya.

"Dia hanya seorang teman, Jasmine..."

Teman? Kalian jelas lebih dari teman.

"I know.." ucapku dengan suara malas nan jengkel.

"Kau marah."

"No. I'm not."

"Jasmine, hentikan kudanya sekarang..."

Aku menoleh padanya, "Aku sedang berkuda. Tidak perlu mengangguku."

"Jasmine." dia segera memegang tali kudaku sehingga kudaku berhenti.

"What?" suaraku meninggi dan menatap dia dengan tajam.

Dia menatapku kesal kemudian mendengus kasar seraya mengusap wajahnya.

"Dia hanya teman. Berapa kali harus kukatakan padamu...."

"Kenapa kau marah padaku? Aku bilang kan tidak apa-apa. Pergi saja dengannya. Aku baik-baik saja sendiri...."

"Jasmine... Mari kita bicarakan ini dan turun dari kuda sekarang.."

"Aku bukan orang yang bisa kau perintahkan sesuka hatimu.." ucapku dengan suara marah.

"Sial." Edward mengumpat dan itu pertama kalinya aku mendengar dia begitu

"Aku tidak membawamu kemari untuk berdebat.."

"Bukan aku yang memulai perdebatan, Edward..."

Tiba-tiba suara kaki kuda menapak dengan cepat melewati kami dan itu adalah Kimberly. Dia melewati kami dengan cepat menuju palang-palang rintangan. Aku menatap Edward yang mengikuti arah Kimberly. Sialan. Bisa-bisanya dia melihat wanita lain saat aku di sini.

Saat aku hendak menarik tali kudaku dari tangan Edward, suara kikikan kuda Kimberly terdengar begitu kencang dan nampaknya dia kehilangan kontrol dari kuda itu. Kudanya yang bernama Aphrodite tersebut mengangkat kedua kaki depannya ke udara dengan tinggi membuat Kimberly kehilangan pegangan dan segera terjatuh ke tanah dengan posisi punggung terlebih dahulu.

"Shit. Kim! Kimberly!" teriak Edward.

Aku menatap Edward melepas tali kuda serta helm dari tangannya dan segera berlari dengan cepat menuju Kimberly. Beberapa pekerja berlari ke arah Kimberly. Aku memutar arah kepala kudaku dan membawanya menjauh dari kerumunan.

"Miss Brown?" panggil Johansen, tapi aku mengabikannya, "Jasmine Brown." dia memanggil lagi dan aku tidak peduli dan tetap melajukan kudaku.

Peduli setan dengannya!

****

MrsFox

 

 

1
Liz Iz
baru baca tahun ini, sumpahhh bagus banget. bikin susah move on deh 😍😍😍
andrana maula
Lumayan
Dian Winati
Luar biasa
Krista Itha
huuhuu kebagian yg revisi semua 😭
Krista Itha
ada koyo ya miss di London?
Krista Itha
waah paling telat ternyata aku..udh gak kebagian 😁
Krista Itha
sampai kesini saya buat ngikutin miss
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
Sari
Luar biasa
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
sokorrr bingung kann sekarang 😂😂
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
love love love dr. lubovswky
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
thanks Dr. lubowsky untung dia mau mnjelaskan siapa Jasmine
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
wahh kok Johansen jd gitu sih...ngeselin bgt
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
hilang ingatan kahh
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
wwooo kerjaan kimberly dan musuhnya lukas ini
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
kasihan Jasmine
dan kasihan juga Edward..
☠🏘⃝AⁿᵘDee³Edlwééis 🌸
mngkin kalau aku jadi Jasmine aku akan melakukan hal serupa... ngeselin bgt deh Kimberly
bunga cinta
gass
Siti Sa'diah
kkk aku baca ulang lg senyum2 bacanya
moci oci
baca novel ini aku ingat drama yg dimainkan hyun bin judulnya lupa, tpi inti ceritanya sama satu tubuh dua kepribadian
terimakasih thor cerita mu luar biasa
Anonim
aq dah deg2an ni thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!