Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Medan, Tinggalkan Medan
Dua minggu berlalu. Akhirnya Danu ikut juga dengan semua saran yang ada. Danu berdiri dan beranjak kepinggir jalan, menanti bus yang bisa membawanya ke Aek Nabara, dari sana Danu akan tunggu bus lainnya yang membawa Danu kembali ke Kota Medan, teruskan kuliahnya.
Desa demi desa yang dilewati kembali bawa Danu pada ingatannya saat masih bersama Juli. Tak ada yang belum mereka lihat lagi. Semua tempat yang katanya bagus sudah mereka kunjungi, bahkan sampai Rantau Prapat, Kota Pinang, Sampuran di Silangkitang yang lumayan jauhpun sudah mereka jalani sama-sama. Tapi kini itu ngga’ mungkin lagi, Juli sudah pergi, Danu bahkan ngga’ lihat Juli saat pergi, bahkan jenajahnyapun Danu tak lihat.
Danu membuka pintu kamar kostnya. Tak ada Fahmi walau jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, Danu hidupkan lampu dan buka kamar tidurnya yang hanya dikunci dengan paku. Itu pasti kerjaan Fahmi yang tidak menemukan gembok kamar Danu.
Danu membuka pintu dan hidupkan lampu. Begitu lampu menyala, mata Danu terbeliak. Diatas tempat tidurnya berserakan potongan pakaian. Danu mendekat dan meraihnya.
Air mata Danu langsung turun, Danu terduduk dan memeluk semua yang ada diatas tempat tidurnya, dalam pelukan Danu kini ada Baju, Rok, Catatan, Kamera, dan Jilbab Juli. Mata Danu tak tahan lihat baju dan jilbab yang berbercak kecoklatan, itu berarti bekas darah Juli yang sudah mengering.
Fahmi tak pulang. Danu langsung berubah bagai orang yang kebingungan, ketakutan dan entah apalagi. Suara kucing aja membuat Danu melonjak. Semalam suntuk Danu tak bisa tenang. Pakaian terakhir yang dipakai Juli terus dalam pelukannya, Danu jadi orang linglung, bingung.
Pagi datang cepat. Danu tukar pakaian dan berangkat menuju kampusnya. Begitu kaki Danu injak kampus, Danu merasa bagai sedang terbang, tanah kampus bagai tanah yang amat gambut, bergoyang-goyang tanpa henti. Dada Danu berdesir bila melihat wanita yang pakai jilbab. Danu mengira itu Juli, tapi begitu Danu melihat wajah yang bukan Juli, Danu lemas dan gemetar terus.
Fahmi yang tidak kuat melihat Danu yang banyak diam. Akhirnya Fahmi yang mengambil jalan pintas yang menurutnya baik bagi Danu.
“ Tanda tangani Dan “.
“ Apa ini ?. mau demo lagi ?. aku.. aku .. aku ngga’ iku Mi, aku ngga’ ikut “.
Fahmi geleng kepala. “ Baca dulu “.
Danu ambil map diatas meja dan membaca dengan perlahan, berulang-ulang, hingga lebih dari lima kali, baru Danu letakkan kembali.
“ Maksudmu apa sih ?”.
“ Tinggalkan Medan Dan, kamu tak baik lama tinggal disini “.
“ Kemana ?”.
“ Sibolga “.
Danu melihat wajah Fahmi cukup lama. Danu juga udah mulai ngga’ tahan tinggal disini. Semua tak ada yang membuat Danu tenang, suara gaduh sedikit aja membuat Danu gemetar.
“ Kenapa Sibolga ?”.
“ Keluarga kamu kan Orang Sibolga “.
“ Ibu saya memang orang Sibolga “.
“ Justru itu Dan “.
Danu masih juga memandang Fahmi. Tapi memang kaya’nya ini yang terbaik. Danu tanda tangani kertas yang disodorkan Fahmi. Fahmi simpan kembali kedalam Map dan pergi lagi.
Danu masukkan semua pakaiannya kedalam tas, semua buku-bukunya. Kini tinggal pakaian yang dipakai Juli saat ia tertembak, Danu masih termangu menatapnya, apakah ia harus membawa pakaian ini atau tidak. Danu naik keranjang, bersandar disandaran ranjang, ambil jilbab Juli dan menutupkannya kekepalanya.
“ Apaan Mi “.
“ Apa lu ?. mau apa lagi ?”.
Semua bekas pakaian Juli diambil Fahmi dan memasukkan kedalam plastik hitam, dan membawa keluar kamar. Danu mengejar dan menangkap tangan Fahmi, Fahmi berontak dan lepas.
“ Dibawa kemana ?”.
“ Di bakar “.
“ Apa ?”.
“ Di bakar. Kenapa ?”.
Tangan kiri Danu menyambar kerah baju Fahmi, tangan kanannya sudah hampir mampir diwajah Fahmi, Fahmi tak berusaha mengelak, mata mereka saling pandang. Wajah Danu dan Fahmi amat tegang memang. Akhirnya Danu kalah, ia tundukkan muka, turunkan tangan kanannya dan lepaskan tangan kirinya dari kerah baju Fahmi. Danu terduduk, Fahmi langsung keluar menuju pintu belakang.
Danu berlari menuju pintu belakang. Danu terhenti di pintu. Mata Danu terbeliak dengan dada yang terus bergemuruh, api sudah melalap semua bekas pakaian Juli, Fahmi yang membakar terlihat berdiri dengan berkacak pinggang. Danu lemas dan terduduk didepan pintu.
Seminggu, setelah semua surat selesai, Danu memeluk Fahmi, Fahmi mengelus bahu Danu dan menepuk-nepuknya pelan.
“ Teruskan hidupmu Dan “.
“ Kamu juga Mi, baik-baiklah disini “.
Danu melangkah keluar pintu. Fahmi hanya berdiri dipintu. Danu berbalik, Fahmi anggukkan kepala kearah Danu. Danu tertunduk dan hembuskan nafas berat, berbalik lagi dan melangkah dengan muka ditekuk. Danu memilih tinggalkan Medan menuju Sibolga, mungkin disana Danu bisa tenang.
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya