Hai, novel sebelumnya adalah karya terburuk bagi saya. Jadi, ijinkan saya mengubah hampir keseluruhan alurnya. Ada banyak sekali kesalahan dan seharusnya tidak ditulis, maafkanlah saya🙏
Pada saat itu saya seperti anak kecil yang sangat di luar batas, menulis bukan dari jiwa. Saya tidak mengakui dan sungguh menyesal menulis karya tersebut. Mohon kerjasamanya. Jika ada yang hendak mereview, tolong ijinkan saya menyelesaikan dulu🙏🙏
Dunia ini identik dengan cinta, kasih sayang. Tampak terdengar begitu indah. saya pikir semua itu bertahan, rupanya ketika kita berharap akan hal itu. Dunia seakan begitu kejam. No! Bukan dunia yang kejam, karena dasarnya dunia ini memang demikian. Di mana cinta yang tak berdasarkan iman pada Rabb adalah kekecewaan. Sungguh perbedaan yang sangat nyata ketika kedua cinta itu dialami oleh manusia sepertiku.
Leona Rain.
di karya ini, semoga dapat menghapus kesalahan di masa lalu terhadap penulisan Novel ini. Saya masih merancang jadi tolong bersabarl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 0409 Ni Luh Budarwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27-Nayla Lagi
Selamat Membaca 🐣
Mereka makan bertiga, bibi Hazal juga ikut. Seperti keluarga kecil, suasana begitu hangat. Hanya saja, sebenarnya Viana masih ingat ketika Harry begitu menorehkan luka di hatinya.
"Tuan dan nyonya biar saya yang bersihkan!" Hazal tidak mengijinkan Viana membantunya karena kasihan melihat Viana yang tampak pucat.
"Iya bi, terima kasih. Maaf hari ini tiba-tiba saya engga enak badan," ucap Viana yang membuat Harry melihatnya secara intens.
"Oh iya, kok kamu tiba-tiba pucat ya?" tanya Harry yang juga tidak mengerti, padahal tadi Viana tampak bugar.
"Aku mau istirahat dulu ya," ijin Viana. Sebagai suami Harry memiliki inisiatif untuk menggendong Viana.
"Harry, turunin malu." Viana meminta di turunkan karena ada bibi Hazal yang tampak tersenyum melihat pasangan muda itu.
"Sama suami ngapain malu?"
Tanpa blablabla Harry membawa Viana ke kamarnya, Harry menjaga Viana yang sedang tidur. Di ajak ke dokter Viana juga tidak mau, dia kira hanya kurang istirahat. Saat Harry sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya, ponsel Viana berdering. Harry melihat nama yang tertera di layar 'Nayla' nama itu membuat Harry meradang. Harry tidak mengangkat telepon dari Nayla, tapi kembali dia menghubungi Viana. Jadi Harry mengangkat tanpa bicara, ingin tahu apa yang ingin di sampaikan oleh Nayla pada Viana.
[Halo Viana]
[Viana, aku sungguh ingin menolong mu. Tolong tinggalkan Harry, dia tidak pantas untuk mu. Dia bukan manusia biasa, dia iblis. Jangan sampai kamu mengandung anaknya, akan sangat berbahaya untuk hidup mu. Vi, segera pergi dari sana!]
Mendengar pengaduan Nayla yang membuatnya begitu marah, Harry jadi tahu kalau selama ini Nayla di balik ketidaksiapan Viana untuk hamil. Harry memutuskan sambungan telepon dari Nayla, jelas Nayla yang keras kepala terus menelpon Viana. Nayla tidak tahu kalau yang mengangkat telepon tadi bukan Viana, melainkan Harry.
Harry mematikan telepon Viana, sehingga Nayla tidak bisa lagi menghubungi. Harry masih kesal, kalau saja Viana mendengar tadi pastilah Viana semakin meragukan dirinya. Harry takut, Viana meninggalkan dirinya. Bukan salahnya jika dia mewarisi darah ayahnya, karena Harry juga memiliki perasaan layaknya manusia biasa.
Harry ikut berbaring di samping Viana. Melihat Viana marah saja, Harry sudah takut. Apalagi jika Viana meninggalkan dirinya, tentu akan semakin sakit. Harry memeluk Viana begitu erat, sehingga Viana terbangun dari tidurnya.
"Harry sesak," lirih Viana barulah Harry sadar kalau dia terlalu erat memeluk Viana.
"Sorry sayang," gumam Harry yang kemudian mengendurkan pelukannya.
"Aku mau bangun, kamu lanjut aja tidur!" Viana melepas pelukan Harry, namun kembali di tahan.
"Jangan pergi sayang," lirih Harry yang menarik tubuh Viana.
"Engga, emang aku pergi kemana?" tanya Viana menahan tubuhnya, dengan nakal Harry menyingkirkan tangan Viana yang ada di atas dadanya hingga tubuh mereka tanpa jarak.
Viana merasa jantungnya tak beraturan, padahal mereka selalu tidur berdua kecuali kemarin ketika mereka bertengkar. Harry tersenyum dan menatapnya intens, hingga tahu kalau Viana sedang gugup.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu yang bergemuruh Vi, apa kamu juga mendengar?" tanya Harry membuat Viana beku, tak bisa berkata-kata.
"T-tidak aku..aku tidak mendengar," ucap Viana gugup membuat Harry semakin ingin menggodanya.
"Vi, aku mau." Harry menggantung kalimat, membuat Viana semakin tak karuan.
"Mau a apa?"
"Em, aku mau berbisik." jelas Viana memalingkan wajahnya merasa malu atas prasangkanya pada suaminya.
"Bicara aja, ngapain pakai bisik-bisik segala?
Gemas dengan jawaban Viana di tariknya kepala Viana hingga b***r mereka menyatu. Bukan suatu hal yang salah, mereka sudah sah. Hubungan mereka sah di mata hukum dan agama, karena pasangan suami istri. Yang salah itu, jika melakukannya pada orang dan waktu yang tidak tepat. Pagi itu mereka bergelut, saling memiliki satu sama lainnya.
********
Biasanya Viana akan minum obat, kali ini berbeda. Harry membuat Viana lupa akan obat itu dengan mengajak Viana ke kantornya untuk memeriksa beberapa cabang usaha yang akan di buka, tampak mereka di awasi oleh mata seseorang dari kejauhan. Harry menyadari kalau tindakannya di awasi, namun orang itu tidak tahu kalau Harry sudah mengetahuinya.
"Sial, ketika aku tidak menyerap cahaya mengapa aku tak bisa membaca pergerakan mereka? hanya pikiran Viana saja yang tidak bisa aku baca."
"Sayang kamu kenapa?" tanya Viana yang melihat Harry melamun, seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak, aku sedang berpikir bagaimana kalau kita liburan?"
"Harry, kamu serius?" tanya Viana yang nampak sumringah.
"Seluruh rius pun aku berikan untuk cintaku." gombalan Harry berhasil mendapatkan cubitan.
"Engga mempan, aku tau kamu cuma gombal!" ujar Viana meninggalkan Harry dan mengambil gorengan yang tadi di bawakan karyawannya.
"Vi, nanti malam awas ya."
"Nanti malam aku mau tidur sendiri," ucap Viana yang sudah tahu kalau Harry hanya mengerjai dirinya.
"Terus aku tidur di mana?"
"Di sofa lah, itu hukuman buat kamu." Viana kembali makan gorengan, satu, dua, bahkan lima gorengan habis di makannya.
Tinggal lima gorengan lagi, ketika Viana akan memakan gorengan ke-enam Harry mengambil piringnya. Viana menatap Harry untuk meminta penjelasan, justru Harry makan gorengan itu.
"Ck, kok di ambil semua sih?" tanya Viana tampak kesal dengan ulah suaminya.
"Ouh, jadi ceritanya ngambek nih?"
Harry merangkul Viana dan membuatnya duduk di pangkuannya. Dengan romantis Harry menyuapi Viana dengan gorengan, setelah itu dia menggigit gorengan yang di makan Viana.
"Ih Harry," gumam Viana yang mencubit tangannya.
"Aduh bukan guling sayang, jangan di cubit mulu sakit."
"Makanya, itu kenapa gorengannya di makan kan habis aku yang gigit?"
"Bukan hanya gorengan," ucap Harry memajukan wajahnya, sontak Viana bangun dan menjauh.
"Hahaha," tawa Harry berhasil membuat Viana takut.
"Jahil banget sih kamu?"
"Ouh ada yang marah nih ya?"
"Aduh kok kepala aku pusing ya?" tanya Viana dalam hatinya.
"Kenapa sayang?" tanya Harry yang sudah ada di belakang Viana .
"Engga tahu, kepala aku tiba-tiba pusing." Viana memegang kepalanya yang terasa cenat-cenut.
"Duduk aja dulu, atau kita ke dokter?" tanya Harry yang khawatir melihat keadaan istrinya.
"Engga deh, mungkin cuma masuk angin aja." Viana menolak untuk di antar ke dokter.
"Kalau gitu kita pulang sekarang ya?" tanya Harry yang langsung membawa Viana menuju Mansionnya.
____****____
"Sayang kamu tidur aja, biar aku temenin." Harry membaringkan tubuh Viana di kasur.
"Iya, maaf ya aku ngerepotin banget."
"Viana kamu itu istri aku, sama sekali engga ngerepotin. Justru aku senang, bisa menjaga kamu dan bertanggung jawab ketika kamu seperti ini." Harry mengecup kening istrinya.
"Makasih," ucap Viana yang memeluk Harry.
Viana merasa haru dengan perkataan Harry, sungguh dia beruntung sekali mendapatkan Harry sebagai suaminya.
Bersambung 🌻