"Kita pernah diizinkan bersama, tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu"
Pernahkah kalian dibuat bimbang akan dua pilihan? Disaat harus memilih salah satu, tapi kalian menginginkan keduanya. Lalu setelah berhasil memilih satu, kalian juga malah menyesali sesuatu yang tidak dipilih itu.
Itulah aku...
Disini,
Di dalam kisah ini!
Selamat membaca, semoga suka! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S,ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Pagi yang cerah ini, aku bersiap - siap untuk pergi ke sekolah seperti biasa. Di depan rumah sudah ada teman - temanku yang sedang menunggu.
"Jia ayo buruan, keburu telat nih!" teriak mereka dari luar.
Aku pun segera menyampirkan Tasku di bahu sebelahku, dan bergegas menghampiri mereka. Hari ini aku sedang tidak ingin berangkat bareng tetangga sebelahku itu.
Pelajaran Penjaskes adalah mata pelajaran yang akan kami pelajari hari ini. Seperti biasa di pelajaran Penjaskes kami tidak selalu diberikan materi, tetapi lebih sering ke praktek. Tapi memang, aku lebih suka belajar di luar lapangan, daripada di dalam ruangan.
Jam pelajaran pertama dimulai. Aku dan teman-teman langsung berlari ke tengah lapangan, untuk memulai pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan kali ini dibimbing oleh guru kami yang paling muda yaitu Pak Hendra.
"Oke anak-anak mari kita mulai acara pemanasan ini. Setelah pemanasan mari kita lanjut ke olahraga basket ball." ucap Pak Hendra.
Kalau untuk sekedar pemanasan aku sangat bersemangat melakukan nya, tapi untuk melanjutkan ke olahraga lain aku tidak begitu semangat rasanya. Aku melihat ke arah teman-temanku, dan ternyata mereka juga terlihat begitu semangat mengikuti arahan dari Pak Hendra.
Setelah Pak Hendra menginstruksikan untuk melanjutkan ke olahraga basket ball, kami berenam malah pergi tanpa diketahui oleh Pak Hendra menuju ke perpustakaan. Sebagian siswa juga terlihat melangkahkan kaki mereka ke arah lain, ada yang ke kantin, ke UKS, dan ada juga yang pergi keluar gerbang entah mereka mau ke mana.
Olahraga basket ball ini, tidak diwajibkan semua siswa ikut. Seperti biasa hanya yang jago bermain saja yang diwajibkan ikut. Siswa yang lain di beri instruksi untuk melakukan olahraga lain selain basket ball. Tetapi, kebanyakan dari kita tidak menuruti instruksi dari Pak Hendra, malah melakukan hal-hal seenak jidat sendiri.
"Aduh enaknya ngapain ya sekarang?" tanya Tari, kepada kami berlima.
Kami sebenarnya bingung mau ke mana, namun dikarenakan perpustakaan adalah tempat paling enak buat ngadem, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke sana saja.
Sedari tadi aku melihat Mita sibuk dengan ponsel nya. Aku tanya Mita apa yang sedang dia lihat, tiba-tiba Mita memperlihatkan ponsel nya itu.
"Oh lagi nonton, kirain lagi sibuk chattingan sama doi." kataku.
Mita mengendikkan bahunya, "Ya enggak lah, gue udah sejak lama punya komitmen gak mau pacaran." katanya.
"Beneran Mit?" tanyaku.
Mita mengangguk tanda mengiyakan pertanyaanku tersebut.
"Halah bohong tuh Ji, perasaan kemarin Mita punya mantan dah." celetuk Herlin.
Mendengar pernyataan Herlin, Mita memelototkan matanya ke arah Herlin. Mungkin ia tidak setuju dengan pernyataan Herlin, karena memang sepertinya Herlin cuma bercanda dengan perkataannya tersebut.
Memposisikan diri untuk sekedar istirahat merehatkan diri, di perpustakaan sepertinya adalah tempat yang paling baik. Selain suasana yang adem, karena dilarang untuk berisik. Dari sini juga terlihat pemandangan yang sangat indah ke arah luar, membuat suasana bertambah menjadi sejuk.
Ada tiga pohon beringin, terlihat seperti pohon kembar yang mempunyai tinggi dan besar yang sama. Sepertinya jika berteduh di bawah sana, akan terasa sangat nyaman dan menyenangkan. Tiba-tiba aku terbesit pikiran akan suatu hal.
"Eh guys, lain kali kita main-main yuk ke dekat pohon beringin itu." ajakku.
"Mau ngapain?" tanya Sri.
"Enggak, cuman pengen aja, kayaknya seru bisa ngadem disana." ucapku.
Terlihat Tari datang mendekatiku, sambil menyodorkan cemilan berbahan ubi ungu itu.
"Aku sih pernah dengar-dengar, katanya kita gak boleh main sembarangan ke dekat pohon beringin itu. Bahaya Ji!" ucap Tari.
Sembari mendengar penuturan Tari, aku mulai merebahkan tubuhku di atas tiga kursi, dengan kedua tangan sebagai bantal. Sambil melihat pemandangan ke arah luar ruangan perpustakaan, yang terlihat sangat memanjakan mata.
"Tapi kalian lihatkan pemandangan di luar sana sangat indah. Lagi pula bahaya apa yang akan terjadi, kiranya dengan tempat senyaman dan seaman itu." ucapku lagi.
Aku mengedarkan seluruh pandanganku ke arah tiga pohon indah itu. Terlihat di sekelilingnya, ada begitu banyak bunga - bunga indah yang entah tumbuh liar, atau sengaja ditanam. Tapi bunga - bunga itu tampak tumbuh dengan subur.
Di depan tiga pohon itu, ada hamparan luas rumput hijau, yang aku tidak tahu apa nama rumput itu. Namun aku dapat membayangkan, sepertinya jika kita bisa tiduran di atas rumput - rumput itu akan terasa nyaman.
Dari jauh terlihat tiga anak kecil, tengah bermain - main di dekat pohon beringin itu. Mereka tampak gembira berlarian mengelilingi pohon - pohon rindang itu.
Seketika tanpa sadar mulutku mengukir senyum, melihat bagaimana anak - anak itu bermain gembira di tempat yang begitu indah.
Namun tidak terasa, setelah beberapa menit aku dan teman - teman hanya berdiam diri saja di perpustakaan. Kini jam pelajaran kedua sudah dimulai.
Jam pelajaran kedua hari ini adalah Ppkn, aku sudah sangat malas membayangkan bagaimana suntuk nya mendengar Pak Yogi menjelaskan materi tentang kewarganegaraan. Padahal aku pikir, coba saja kalau pelajaran Ppkn ada praktek lapangan, semisal debat bakal calon presiden, atau apalah itu yang bersangkutan. Maksudku supaya tidak ada rasa ngantuk di tengah pembahasan. Hanya mendengarkan penjelasan materi saja, terkadang memang sering membuat jenuh dan bosan. Terkecuali bagi siswa - siswi yang mampu dan mau berfikir kritis.
Di tengah pembahasan Pak Yogi, aku benar - benar dibuat ngantuk berat. Segera aku cari cara untuk menghindari rasa kantuk, dengan mengalihkan pandangan ke arah luar jendela.
Tapi ternyata tidak ada yang menarik, di luar ruangan ini. Hanya terlihat beberapa siswa - siswi yang mondar - mandir ke berbagai arah. Mungkin di antara mereka ada yang izin ke wc, atau mungkin ada yang sengaja bolos mata pelajaran kedua.
"Shuttt, Ji? Mau makan cemilan gak?"
Aku terkejut, mendengar bisikan Tari dari belakang, tepat di kedua telingaku.
"Ish, Tari apaan si, bikin jantungan aja." celotehku, pada Tari.
Mendengar omelanku, Tari hanya terkekeh pelan. Sembari memberikan beberapa cemilan andalannya, dari bawah meja.
"Ini, aku lihat kayaknya kamu ngantuk banget. Buruan ambil, bahaya kalau sampai Pak Yogi tahu." ucap Tari.
Memang anak gadis satu ini, sering sekali membawa banyak cemilan ke sekolah. Katanya dia sengaja bawa dari rumah, karena kalau beli di kantin mahal. Padahal maklum saja, Ibu nya di rumah kan punya punya warung. Tahu sendiri lah, mungkin dia ambil - ambil gratis dari warung Ibunya. Haha....
Selain itu, kata Tari kalau makan cemilan di tengah jam pelajaran seperti ini, akan menghindari rasa kantuk. Tapi resiko nya lebih berbahaya, ketimbang ketahuan ngantuk.
...✎﹏𝔻𝕊...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Thanks udah mau mampir😊
Sorry for typo and absurd🙏
Menerima kritik dan saran☺️
Jangan lupa like, vote, and comment🙃
semngat ya semoga sukses buat nerbitin novel karangan sendiri 😊good lock