Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 1: Menuju Sarang Serigala**
--
Dunia ini tidak pernah adil bagi Elena Vance. Di saat kembarannya, Alana, selalu mendapatkan kilau lampu gila dari panggung peragaan busana Paris, Elena hanyalah bayangan yang bersembunyi di balik kanvas-kanvas lukisannya di lantai bawah tanah.
Namun malam ini, takdir memainkan lelucon paling berdarah.
Arthur Vance, pria yang terpaksa ia panggil ayah, berlutut di hadapannya dengan air mata palsu yang mengalir di kerutan wajahnya yang menua. Di luar rumah besar mereka, tiga mobil hitam melingkar seperti sekumpulan pelatuk kematian. Nicholas Barrett pria yang menguasai jalur logistik ilegal seluruh pantai timur datang untuk menagih janji. Janji sebuah pernikahan untuk melunasi utang darah keluarga Vance.
Masalahnya hanya satu, Alana, sang pengantin yang seharusnya mengenakan gaun sutra putih itu, telah kabur ke London dua jam yang lalu bersama kekasih rahasianya.
"Hanya kau yang bisa menyelamatkan kami, Elena," bisik Arthur, suaranya bergetar karena ketakutan yang nyata. "Nicholas tidak tahu wajah Alana secara detail. Dia hanya tahu ada seorang putri Vance yang harus dibawanya malam ini. Jika dia tahu Alana kabur, dia akan meratakan tempat ini."
Elena menatap gaun pengantin yang terhampar di atas ranjang. Itu bukan miliknya. Hidup ini bukan miliknya. Namun, saat melihat tangan Arthur yang gemetar, Elena tahu ia tidak punya pilihan.
---
Detak jarum jam dinding terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Elena berdiri di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri yang asing. Kain tule putih yang membungkus tubuhnya terasa seperti kain kafan yang mahal. Riasan tebal menyamarkan matanya yang sayu, mencoba meniru keanggunan Alana yang selalu tampak sempurna.
"Kau siap?"
Suara Arthur memecah keheningan dari ambang pintu. Pria itu tampak sepuluh tahun lebih tua. Tidak ada pelukan hangat seorang ayah yang melepas putrinya ke pelaminan. Yang ada hanya keputusasaan seorang pengecut.
"Jangan biarkan dia menyentuh leher bagian belakangmu," Elena berbisik, suaranya parau. "Alana punya tanda lahir di sana. Aku tidak."
"Aku sudah menyuruh penata rias menutupinya dengan foundation tebal. Nicholas tidak akan sedetail itu. Dia pria yang sibuk dengan bisnis darahnya," sahut Arthur cepat, seolah meyakinkan dirinya sendiri.
Ketika Elena melangkah turun ke ruang tamu, hawa dingin langsung menusuk kulitnya yang terbuka. Di sana, berdiri tiga pria dengan setelan jas hitam konvensional namun berpotongan rapi. Di tengah-tengah mereka, bersandar pada pilar marmer, adalah sang monster itu sendiri.
Nicholas Barrett.
Pria itu bertubuh jangkung, dengan bahu lebar yang mengintimidasi ruangan. Rambut hitamnya dipotong rapi, membingkai wajah dengan rahang tegas yang tampak seperti dipahat dari batu es. Sepasang matanya berwarna abu-abu gelap sepekat badai langsung tertuju pada Elena saat gadis itu menginjak anak tangga terakhir.
Tidak ada senyuman. Tidak ada binar kekaguman. Tatapan Nicholas dingin, tajam, dan kalkulatif. Seolah-olah dia sedang memeriksa barang dagangan yang baru saja tiba di pelabuhannya.
"Kau terlambat sepuluh menit, Vance," suara Nicholas berat, bergaung rendah di dada Elena. Pria itu bahkan tidak memandang Arthur saat berbicara. Matanya tetap mengunci Elena.
"Maafkan kami, Mr. Barrett. Gaunnya... ada sedikit masalah pada ritsletingnya," dusta Arthur, suaranya bergetar kentara.
Nicholas menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat. Setiap ketukan pantofelnya di atas lantai marmer membuat jantung Elena berdegup dua kali lebih cepat. Ketika Nicholas berhenti tepat di hadapan Elena, aroma parfum maskulin yang bercampur dengan samar bau tembakau mahal langsung menguasai indra penciuman Elena.
Nicholas mengulurkan tangan kanannya yang dibalut sarung tangan kulit hitam. "Mari pergi. Aku tidak suka membuang waktu untuk formalitas yang tidak berguna."
Elena menelan ludah. Tangannya yang dingin dan gemetar perlahan naik, menyentuh telapak tangan Nicholas. Bahkan di balik sarung tangan kulit itu, Elena bisa merasakan kekuatan yang sanggup mematahkan pergelangan tangannya dalam sekali sentak.
"Jaga dirimu... Alana," panggil Arthur dari belakang.
Elena tidak menoleh. Dia tahu, mulai detik ini, nama Elena Vance telah mati. Di mata dunia, dan di mata pria berbahaya di sebelahnya ini, dia adalah Alana.
---
Perjalanan menuju kediaman Barrett di pinggiran kota New York dilalui dalam keheningan yang mencekik. Nicholas duduk di kursi belakang bersamanya, dipisahkan oleh jarak yang cukup luas di dalam mobil limosin yang mewah. Pria itu sibuk dengan iPad-nya, memeriksa grafik dan laporan yang tidak bisa Elena pahami, seolah-olah dia baru saja menjemput sekretaris baru, bukan seorang istri.
Elena menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang perlahan menjauh, digantikan oleh jajaran pohon pinus yang gelap dan lebat.
"Kau tidak banyak bicara," suara Nicholas tiba-tiba memecah kesunyian, tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. "Di majalah-majalah gosip, Alana Vance dikenal sebagai wanita yang tidak bisa diam selama lima menit."
Jantung Elena mencelos. Ia meremas kain gaunnya erat-erat hingga kukunya memutih.
"Aku hanya... lelah, Mr. Barrett," jawab Elena, mencoba meniru nada suara Alana yang biasanya manja, meski gagal total karena suaranya justru terdengar bergetar menahan takut. "Ini hari yang panjang."
Nicholas perlahan mematikan layarnya. Dia memutar tubuhnya menghadap Elena, menopang dagunya dengan satu tangan di sandaran lengan. Mata abu-abunya menyipit, meneliti setiap inci wajah Elena dari balik kegelapan mobil.
"Panggil aku Nicholas. Kita sudah menikah secara hukum satu jam yang lalu saat pengacaraku menandatangani berkasnya," katanya datar. "Dan satu hal lagi, Alana..." Nicholas mendekatkan wajahnya, membuat Elena secara refleks bersandar pada pintu mobil. "Aku tahu kau tidak menginginkan pernikahan ini. Begitu juga aku. Jadi, jalankan peranmu dengan baik, jangan membuat masalah, dan kau akan mendapatkan semua kemewahan yang kau inginkan."
Nicholas mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang bergerak ke arah leher Elena. Elena menahan napas, teringat peringatan tentang tanda lahir Alana. Namun, tangan Nicholas hanya melewati bahunya, mengambil sehelai rambut Elena yang terlepas dari sanggul dan menyelipkannya ke belakang telinga.
Sentuhan itu singkat, namun terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi.
"Tapi jika kau mencoba mengkhianatiku, atau melarikan diri..." Nicholas berbisik tepat di telinga Elena, hembusan napasnya yang hangat berbanding terbalik dengan kata-katanya yang sedingin es. "...aku akan memastikan seluruh keluarga Vance membayar harganya dengan nyawa mereka. Paham?"
Elena hanya bisa mengangguk kaku. Di balik gaun pengantin yang indah ini, dia menyadari satu hal, dia baru saja menyerahkan dirinya pada iblis.
---