"Tatapan seperti itu bukanlah tatapan yang dimiliki orang yang takut dan putus asa"
"Tetapi, keberanian tanpa kemampuan hanyalah omong kosong belaka"
Tidak pernah terbayangkan oleh Giro sebelumnya, bahwa hari itu merupakan hari yang akan menentukan arah takdirnya.
Di usia yang begitu muda, Giro harus mengalami pengalaman yang akan selalu membekas di benaknya, pengalaman yang akan selalu menghantui bunga tidurnya setiap malam.
Tetapi, bayangan dari orang-orang yang ia sayangi mampu membuatnya mengangkat asanya yang perlahan hilang, menariknya agar terus melangkah tanpa peduli seberapa berat halangan yang menantinya.
Mampukah Giro menjawab kepercayaan orang-orang terhadapnya?
"Kau tidak akan bisa melakukannya jika kau bahkan tidak bisa bertahan hidup"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bophi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Act 30 : Burdens
"Apa tujuanmu sebenarnya?" tanya Bianca dengan serius kepada Yura.
"Ma... maksud Anda?" Yura terlihat panik dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Bianca kepadanya.
"Kau bilang tujuanmu berlatih bela diri adalah agar kau bisa terbebas dari takdir keluarga yang mengekangmu. Namun, aku rasa bukan hanya itu" ujar Bianca sambil menatap mata Yura dengan tajam.
"A... aku..." Yura tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Tenang saja. Apapun jawabanmu, aku tidak akan mengubah keputusanku. Aku akan tetap melatihmu dan menjadikanmu wanita yang tangguh. Namun, seperti yang Guru Rendi katakan, kau tidak akan bisa melangkah maju selama kau belum bisa melepas bebanmu. Jangan lari, Yura." Ujar Bianca meyakinkan Yura.
Yura terdiam sejenak setelah mendengar perkataan dari Bianca. Memang benar, dia memiliki tujuan lain selain hanya agar bisa terbebas dari tanggung jawab keluarganya. Namun, Yura tidak begitu yakin jika dia harus mempercayai Bianca karena mereka baru saja bertemu.
"Kau tidak usah khawatir. Aku tidak punya niat buruk kepadamu. Aku hanya ingin kau bisa jujur kepada dirimu sendiri dan kepadaku, agar hubungan kita tidak hanya sekedar guru dan murid" ujar Bianca mencoba menenangkan Yura.
"Aku... ingin membunuh Kapten Lazor" ujar Yura yang akhirnya mengatakan tujuannya yang sebenarnya.
"Sudah kuduga... kau adalah anak dari salah satu pengawal Tuan Huesca, kan?" tanya Bianca.
"Benar, Guru. Aku adalah anak dari Ervern, pengawal dari Tuan Huesca yang dibunuh dengan kejam oleh Kapten" ujar Yura sambil menahan emosinya.
"Oh, Ervern. Aku mengenalnya, dia adalah orang yang sangat baik dan berpendirian kuat. Saat perang waktu itu, Guru Rendi memerintahkan para guru yang ada di dojo untuk mengamankan kota, sedangkan Guru Rendi berangkat ke medan perang sendirian. Jika saja kita pergi bersamanya ke medan perang, mungkin hasil akhirnya akan berbeda..." ujar Bianca mengingat-ingat kejadian saat itu.
"Tapi pada akhirnya, aku yakin jika keputusan Guru Rendi yang menyuruh kita tetap berada di kota adalah keputusan yang tepat. Jika para guru ikut turun ke medang perang, maka pusat kota akan menjadi sasaran yang sangat empuk bagi para Ravager itu" lanjutnya dengan yakin.
Yura terdiam setelah mengutarakan tujuan utamanya berlatih bela diri kepada Bianca. Yang ia harapkan hanyalah bisa membalaskan dendamnya kepada Kapten yang telah membunuh ayahnya.
"Aku bisa membantumu untuk meraih tujuanmu. Tapi tentu saja, aku tidak bisa menjanjikan bahwa kau akan mampu melakukannya, karena semua itu kembali kepada dirimu, keinginanmu, maupun tekadmu. Jalan yang akan kau lalui tidaklah mudah. Apa kau tetap ingin melakukannya?" tanya Bianca dengan serius.
"Tentu saja, Guru. Aku tidak peduli sesulit apa jalan yang akan aku lalui, tapi aku tidak akan pernah menyerah..." jawab Yura dengan penuh keyakinan.
Bianca menuangkan teh kedalam cangkirnya yang sudah kosong, dan segera meminumnya dengan lembut. Dia menatap mata Yura dengan tajam, dia tidak melihat sedikitpun keraguan dari mata Yura.
"Baiklah. Dengan ini aku menyatakan bahwa kau adalah muridku, dan aku sebagai gurumu akan melakukan apa saja agar kau bisa menjadi seorang wanita yang kuat. Percayalah padaku, kau akan bisa lebih kuat dariku" ujar Bianca dengan sangat yakin.
"Terima kasih, Guru. Aku berjanji jika aku akan mematuhi Anda, Guru." Ujar Yura sambil memberikan hormat kepada Bianca.
"Baiklah, sekarang kau boleh pulang dan beristirahat. Karena mulai besok, tidak ada waktu bagimu beristirahat" ujar Bianca.
"Baik, Guru. Tapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya satu hal?" tanya Yura sebelum ia pergi dari sana.
"Tentu saja. Silahkan kau tanyakan apa saja" jawab Bianca yang sangat menikmati teh yang sedang ia minum.
"Apakah Guru Rendi, yang menjadi alasan Anda tetap setia di dojo ini? Sedangkan yang aku dengar, Anda mendapatkan banyak sekali tawaran untuk mengisi posisi yang sangat tinggi di kerajaan, namun Anda menolak semuanya dan tetap mengajar disini" tanya Yura.
"Haha... sebenarnya aku sangat membenci pertanyaan seperti itu. Namun karena kau adalah muridku, aku tidak keberatan menjawabanya untuk kali ini saja..." jawab Bianca sambil tertawa mendengar pertanyaan Yura.
"Kau benar. Sejak aku bertemu dengannya saat aku masih kecil dulu, aku sudah sangat mengaguminya. Guru Rendi adalah sosok yang sangat aku jadikan pedoman dalam hidup. Namun suatu saat kau akan mengerti, jika cinta itu tak selalu harus saling memiliki..." lanjut Bianca. Ia kembali menghisap tehnya dengan pelan.
"Terima kasih, Guru. Sejak aku kehilangan ayahku, hatiku menjadi serasa tertutup. Sulit sekali bagiku untuk bisa menerima kehadiran orang baru di sekitarku. Tapi entah mengapa, sejak anak itu datang, aku merasa jika aku bisa melakukan sesuatu. Anak itu sedikit membuatku mengerti arti dari kerja keras dan harapan, aku tidak ingin kalah darinya." Ujar Yura.
"Ya, Giro memang anak yang sangat tangguh. Dia mirip seperti Guru Rendi dalam berbagai aspek, mungkin jika aku masih seumuran dengannya, aku bisa jatuh cinta kepadanya... haha" gurau Bianca.
Wajah Yura memerah saat mendengar ucapan Bianca itu. Jatuh cinta? Apa itu? Selama ini dia tidak pernah merasakan sesuatu seperti itu kepada siapapun. Namun entah mengapa saat Bianca mengatakan itu, pikirannya tiba-tiba tertuju kepada Giro. Dia langsung menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus pikirannya tersebut.
Bianca yang melihat tingkah Yura langsung bisa menerka apa yang sedang terjadi. Hal seperti pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan yang tiba-tiba muncul yang membuatmu tersipu saat memikirkan seseorang. Ya, masa muda memanglah sangat indah.
Mereka pun menghabiskan sisa teh mereka sambil berbincang ringan tentang apapun yang mereka anggap menarik. Entah itu kehidupan pribadi mereka maupun hal yang sama sekali tidak berguna, seperti warna baju yang mereka sukai dan mereka benci. Namun, hal-hal kecil dan tidak berguna seperti itulah yang kelak akan menjadi pondasi hubungan seseorang.
Setelah beberapa saat, Yura pulang dari dojo dengan perasaan lega. Bebannya yang selama ini ia pikul sendiri akhirnya bisa ia bagi dengan orang lain. Dia tidak menyangka jika membagi beban dengan orang lain bisa membuat beban tersebut terasa jauh lebih ringan. Ia merasa jika ia bisa melakukan apapun, tujuan yang ia inginkan memang masih terasa jauh, namun ia yakin jika ia bisa meraihnya.
"Hei, Yura!" seru seseorang mengagetkan lamunan Yura saat ia sedang berjalan pulang menuju rumahnya.
Yura menoleh kearah suara tersebut dan melihat Giro dan teman-temannya baru pulang dari latihan mereka.
"Giro. Kau baru selesai latihanmu?" tanya Yura kepada Giro.
"Ya, hari ini kami selesai lebih cepat karena Guru Slipwell mempunyai hal yang harus ia selesaikan secepatnya. Entahlah, aku tidak tahu apa urusannya" jawab Giro.
Yura melihat teman-teman Giro. Pyrus, Jenny, dan Hosa. Dia ingat saat mereka pertama kali bertemu, dia bersikap tidak sopan kepada mereka. Dia merasa malu karena telah bersikap seperti itu sebelumnya.
"Anu... aku... aku minta maaf karena sebelumnya aku bersikap tidak sopan kepada kalian saat kita pertama kali bertemu" ucap Yura sambil membungkukkan badannya tanda permohonan maaf kepada Pyrus dan Jenny.
"Yura..." gumam Giro saat melihat Yura yang selama ini sangat dingin dan pendiam, akhirnya mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada teman-temannya.
"Apa yang kau bilang? Tenang saja, aku tidak merasa seperti itu! Kau adalah teman dari Giro, artinya kau adalah teman kami juga! Betul kan, Jenny?" ujar Pyrus sambil tersenyum kepada Yura.
"Ya, tidak usah dipikirkan. Aku juga tahu bagaimana rasanya bertemu dengan orang-orang baru. Kalau kau tahu, dulu aku memukul seseorang tanpa sadar karena ia tiba-tiba mengajakku berkenalan! Hahaha" ujar Jenny sambil tertawa.
"Memukul orang karena diajak kenalan... Jenny, kau memang luar biasa... pantas saja tidak ada pria yang berani mendekatimu..." canda Pyrus.
"Itu dulu saat aku kecil! Sekarang aku berkenalan dengan banyak orang! Dan harus kau catat, banyak sekali pria yang meminta berkenalan denganku! Ingat itu!" ujar Jenny sambil memukul Pyrus karena kesal.
Mereka pun tertawa karena ulah Jenny dan Pyrus. Jenny memasang wajah cemberut karena masih terlihat kesal.
"Yura! Kau harus berada di pihakku! Kita satu-satunya wanita... atau dua-duanya? Ah apapun itu, kita berdua adalah wanita. Kita harus menunjukkan kepada para pria ini betapa mengerikannya wanita saat mereka marah!" seru Jenny kepada Yura.
"Eh... tentu! Yaaa...!" ujar Yura yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
"Hahaha... aku yakin kau akan menyukai mereka, Yura. Mereka adalah teman yang sangat baik, percayalah." Ujar Giro sambil tersenyum kearah Yura.
"Kenapa? Kenapa aku bergetar saat ia tersenyum kearahku? Yura, sadarlah!" Yura terlihat menundukkan wajahnya saat Giro berbicara kepadanya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana latihanmu dengan Guru Bianca?" tanya Giro.
"Guru Bianca? Kau belajar dengan Guru Bianca, Yura?" tanya Pyrus yang tidak mengetahui apapun.
"Iya, kemarin aku meminta Guru Slipwell agar mengizinkan Yura berlatih dengan kita, tapi beliau menolaknya. Untung saja Guru Bianca datang dan bilang jika dia bersedia melatih Yura! Akhirnya aku tadi membawa Yura bertemu dengannya" ujar Giro menjelaskan apa yang terjadi.
"Kau beruntung sekali! Andai aku bisa dilatih oleh guru secantik Guru Bianca setiap hari... aku pasti sangat bahagia!" ujar Pyrus yang iri kepada Yura.
"Kau seharusnya berlatih bersama Guru Stronk!" ujar Jenny jengkel kepada Pyrus.
"Hahaha... aku tadi berbincang banyak hal dengan Guru Bianca. Beliau sangat baik, aku akan mulai berlatih dengannya besok." Ujar Yura sambil tertawa melihat Pyrus dan Jenny.
"Syukurlah kalau begitu, ayo kita sama-sama berjuang! Apapun tujuan kita, kita harus tetap bersama dan saling mendukung satu sama lain!" ujar Giro senang.
"Yaaaa! Aku setuju!" seru Jenny.
"Tentu saja! Kita semua akan menggemparkan dunia!" ujar Pyrus bersemangat.
"Hmm..." gumam Hosa sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ba... baik..." ucap Yura pelan. Dia benar-benar tidak menyangka jika dia akan bisa mendapatkan teman seperti mereka padahal selama ini yang ia lakukan hanyalah berdiam diri dan tidak mempedulikan orang lain. Dia tidak yakin jika dia pantas untuk mendapatkan teman seperti mereka. Tapi saat ia memandang Giro, Giro menganggukkan kepalanya, seolah berkata, "Semuanya akan baik baik-baik saja".
salam dari Broken Angel'S
Fuhhh Giro kau memang terbaik!!!! Siapa yang akan mereka lawan?