Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Hadiah
Tidak banyak yang dilakukan Kin dan Dara di rumah Davian. Obrolan kecil seputar bisnis antara Kin dan Davian, membuat mereka seakan lupa untuk membicarakan hal lainnya.
Dara dan Aina fokus pada masakan yang mereka buat di dapur. Hujan hari itu mengguyur kota Jakarta cukup deras, sehingga orang tua Davian menghabiskan waktu di sana hingga makan malam tiba.
Setelah selesai makan malam, mereka pun pamit untuk kembali ke rumah. Tak lupa Kin dan Dara meminta maaf karena telah mengganggu waktu keduanya.
Sudah terlanjur basah, tak mungkin jika mereka langsung pulang begitu saja siang tadi.
Kembali Aina dan Davian hidup berdua lagi, mungkinkah mereka melanjutkan akak tertunda mereka?
Tentu tidak.
Davian lebih memilih bergulat dengan laptopnya, sedangkan Aina sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Tidak ada obrolan yang terjadi sebelum mereka masuk kamar masing-masing. Apalagi selain rasa canggung yang kini mendera mereka berdua.
**
Sehari berlalu.
Dua hari.
Seminggu kemudian, keduanya hanya melakukan aktifitas yang biasa mereka lakukan, tanpa adanya banyak percakapan yang tidak penting.
Bi Inah sudah menyiapkan makan malam spesial hari ini. Menu khas Indonesia tersaji sempurna di atas meja makan ditambah dengan berbagai camilan dan tak lupa beberapa lilin menyala menerangi ruang makan yang hanya bercahaya temaram.
Davian yang menyuruhnya. Hari ini istrinya ulang tahun dan tak mungkin ia akan melewatkan momen ini begitu saja. Apalagi seminggu ini hubungan keduanya agak jauh dari sebelumnya. Bukan karena marahan, melainkan karena rasa malu dan canggung yang terjadi karena aktifitas panas sebelumnya.
Aina saat ini sedang belanja, Agil yang mengantarnya. Sengaja Davian memaksa Aina untuk keluar rumah agar rencana yang sudah ia susun berjalan dengan lancar.
Kue ulang tahun dengan beberapa lilin sudah di siapkan Davian di dalam kamarnya. Nantinya akan ia bawa turun saat Aina sudah sampai di rumah.
"Agil, apa kau sudah akan pulang?" tanya Davian melalui sambungan telepon.
"Ini masih di jalan. Setengah jam lagi kita akan sampai!" jawab Agil santai.
"Lama sekali, apa jalanan macet?"
"Bos, apa kau lupa jalanan di jam segini. Sepertinya kau sudah tidak sabar menunggu istrimu." Agil terkekeh sambil melirik Aina dari cermin didepannya. Wanita itu mendengus kesal dan ia arahkan pada Agil.
"Baiklah, hati-hati!"
Davian memutuskan sambungan telepon dan kemudian menunggu kedatangan mereka di dalam kamarnya.
"Gil, apa aku boleh menanyakan sesuatu?"
"Iya Nyonya, apa?" tanya Agil sambil fokus menyetir.
"Aku yakin kau tahu masalah keluargaku, begitu juga dengan Alee. Davian sudah mencari tahu kenapa sampai Alee di culik. Lalu yang ingin aku tanyakan, apakah kau sudah menemukan orang yang sudah menculik Alee?"
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Aina, membuat Agil membisu dan tidak langsung menjawab.
Ia sudah tahu siapa dalang di balik semua ini, tapi apakah Davian akan mengizinkan dirinya untuk bicara pada Aina?
"Kenapa kau diam saja. Aku yakin kau sudah mengetahui siapa pelakunya!"
"Iya, aku sudah tahu. Tapi lebih baik Nyonya tanya sama Davian saja. Aku tidak bisa melangkahi Davian jika dia belum memberikan izin untukku menceritakannya pada anda!"
"Apa pelakunya adalah mamaku?"
Agil tidak menjawab. Ia membelokkan setirnya menuju ke jalan setapak yang akan membawa mereka cepat sampai di rumah. Selain itu juga Agil menghindari pertanyaan yang tidak perlu ia jawab.
Melihat kelakuan Agil, Aina mendengus kesal dan menduga kediaman Agil adalah jawaban atas pertanyaannya.
Jika memang benar, Aina mengecam akan membuat perhitungan pada Metta. Tapi mungkinkah Aina berani?
Mobil yang dikemudikan Agil sampai di halaman rumah Aina. Segera Aina turun dan menghampiri Agil yang sedang menutup pintu mobil.
"Kau yakin tidak ingin menjawab pertanyaan dariku?"
Agil menggeleng." Tuan Davian sudah menunggu di dalam. Silakan Nyonya masuk, aku harus segera pulang Nyonya!"
Ekspresi Aina datar. Ia tak habis pikir orang ini begitu setianya pada Davian, suaminya.
Aina membuka pintu dan di sambut kue ulang tahun dengan lilin menyala di atasnya. Davian yang membawanya dengan hiasan senyum indah di wajahnya.
"Happy birthday, Na."
Aina mengerutkan keningnya, tak percaya jika pria sibuk itu ingat tanggal ulang tahunnya.
"Hmmm, kau yakin ini hari ulang tahunku?"
"Yakin. Kenapa?"
"Ohhh, terima kasih." Kata Aina dengan senyum tipis di bibirnya.
"Masuklah! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita!"
Aina mengangguk, kemudian ia berjalan bersamaan dengan Davian menuju ke meja makan.
"Ini Bi Inah yang menyiapkan," kata Aina sembari duduk di kursi yang baru ia tarik.
"Hmmm, tapi aku yang menyuruhnya!" Davian mendekati Aina dan mendekatkan kue ulang tahun di depannya.
"Ucapkan harapanmu, dan mungkin salah satu diantaranya akan terkabul hari ini!"
"Kau yakin sekali!" ucap Aina sebelum ia memejamkan mata dan berdoa dalam hati. Sekitar satu menit, Aina membuka mata kembali dan meniup api lilin yang menyala.
"Sekali lagi selamat ulang tahun!" Dav memagut bibir Aina kemudian duduk di sebelahnya.
"Terima kasih, Vi!"
Mereka berdua kemudian menikmati makan malam romantis dengan hiasan lilin menyala di atas meja.
Kemudian Davian menyalakan music romantis dari ponselnya dan mengulurkan tangan pada Aina untuk mengajak wanita itu berdansa.
Awalnya Aina menolak, namun akhirnya tatapan tajam Davian membawanya berdiri dan mengalungkan tangannya di leher suaminya. Begitu juga tangan Davian yang melingkar di pinggang mungil Aina.
Mata coklat Aina terpatri menatap mata Davian yang berpendar terkena cahaya lilin.
Detak jantung keduanya kembali tak beraturan seperti seminggu yang lalu. Aina sesekali mengalihkan pandangan namun Davian tahu apa yang dirasakan istrinya itu. Ia pun mencari obrolan kecil untuk mencairkan suasana keduanya.
"Apa aku sudah membuat suasana yang romantis?"
"Ini bukan dirimu. Siapa yang mengajarimu, Vi?"
Davian terkekeh." Otakku cerdas, jadi aku bisa jika hanya membuat ini saja."
"Astaga, kau pasti memikirkannya selama satu minggu,"
"Hmmm," ucap Davian singkat.
Keheningan kembali terjadi. Aina berpikir ini semua karena dirinya yang tak bisa mengikuti obrolan yang dibuat oleh Davian, atau mungkin Davian yang tidak lihai membuat obrolan?
Kini pikiran Aina berputar untuk mencari obrolan yang sesuai dengan tema malam ini.
"Hmmm, apa kau punya hadiah untukku?"
"Ada, selain hadiah yang sudah aku sediakan, apakah kau punya permintaan lain?" tangan Davian mengeratkan tubuh Aina pada tubuhnya, membuat Aina mulai menahan napas sejenak.
"A-ada," jawabnya terbata-bata.
"Apa?" aroma mint dari mulut Davian menerpa wajah Aina, membuat wanita itu semakin gugup.
"Hmmmm, be-berikan dulu hadiah darimu!"
Astaga Aina kehilangan fokus sekarang. Pikiran jernihnya menghilang seketika karena tatapan Davian terus tertuju padanya.
"Ok. Hadiah dariku adalah, besok papamu akan tinggal di sini!"
Aina membelalak tak percaya. Napasnya tercekat dan ia membuka mulut namun tak ada suara yang keluar dari sana.
"Hmmm, tidak perlu berterima kasih, aku tahu aku suami yang paling baik di dunia ini, jadi kau cukup,"
Belum selesai Davian berucap, Aina sudah memeluknya erat tanpa ada kata apa-apa selain tangisan kebahagiaannya.
Mengetahui istrinya bahagia, Davian tersenyum dan memeluk istrinya dengan begitu erat.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..