“Apa yang ada di dalam fikiran kamu, dia itu adikmu?”
Sakti menundukkan kepalanya saat bentakan itu datang dari sang Bunda. Tak pernah sekalipun ia mendapat hal seperti ini dari kedua orang tuanya. Ia adalah seorang pemuda yang patuh, tak sekalipun ia membantah perintah dan keinginan orang tuanya. Termasuk memilih jalan hidupnya, ia pasrahkan pada kedua malaikat tak bersayapnya itu. Tetapi untuk masalah jodoh, entah kenapa ia sendiri pun tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada Ayra. Gadis yang menyandang predikat resmi sebagai adik kandungnya sendiri.
Apakah yang Sakti fikirkan sehingga ia mencintai adiknya sendiri?
Bagaimanakah kisah cintanya akan berakhir?
Dapatkah semua orang menerima perasaannya yang tak lazim ini?
A story by : Myhani
Ig : Srihani.92
Fb : Srihani
Tg : Srihani.92
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumit
“Ay, bangun! Sudah jam lima, kamu tidak salat sub-uh?” pertanyaan Bunda menggantung saat tak mendapati Ayra di kamarnya. Hanya selimut yang terbuka, seperti telah di gunakan sebelumnya.
Kaki Bunda melangkah masuk lebih dalam. Bubda memasang telinga lebih tajam, siapa tahu Ayra sedang wudu di kamar mandi. Tapi sekian lama menunggu ternyata Ayra tidak kunjung keluar. Akhirnya Bunda berinisiatif membuka pintu kamar mandi, namun ternyata Ayra tidak ada juga di sana.
Dengan wajah panik Bunda keluar dari kamar Ayra. Kini ia berjalan menuju kamar Sakti yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Ayra. Bunda berfikir siapa tahu Sakti mengetahui keberadaan Ayra, atau mungkin Ayra tengah membangunkan Sakti seperti kebiasaannya.
Tok Tok Tok
“Bang! Sudah bangun belum?” namun karena Sakti tak kunjung menjawab seruan Bunda. Bunda berinisiatif membuka pintu kamar dan masuk ke sana.
Bunda maraih tombol lampu yang terdapat di samping pintu. Melihat kamar Sakti yang masih gelap, pasti putranya itu belum bangun.
Ceklek
Lampu menyala dan betapa terkejutnya Bunda saat melihat kedua anaknya tidur di atas satu ranjang, walau tidak saling berpelukkan. Tapi tetap saja rasanya itu tidak wajar terlebih keduanya sudah dewasa.
Kaki Bunda terasa lemas seketika, ia berpegangan pada tembok agar tak jatuh. Beberapa saat Bunda masih berdiri berusaha menormalkan detak jantungnya. Setelah merasa lebih tenang Bunda akhirnya mengampiri kedua anaknya tersebut.
“Bangun! Bangun! Abang, adek. Kalian ini, kenapa tidur satu kamar? Bukannya Bunda dan Ayah sudah melarang kalian untuk tidur saktu kamar, kalian itu sudah dewasa seharusnya mengerti.” Seru Bunda dengan nada tinggi. Ia tak tahan lagi, jika harus membiarkan dua anaknya itu terus-terusan berbuat seperti itu.
Sakti mengerjapkan matanya. Begitu pula Ayra yang bangun dengan kedua tangan terus mengucek matanya.
“Ada apa sih, Bun. Kok subuh-subuh, sudah teriak-teriak aja?” tanya Sakti yang bersiap ingin merebahkan tubuhnya kembali.
“Tahu nih, Bunda. Tadi malam tuh Abang mimpi buruk lagi, nah Ayra 'kan habis salat tahajud tuh pas dengar Abang teriak-teriak. Ya udah Ayra temanin Abang tidur deh.” jelas Ayra, ia turun dari tempat tidur Abangnya dan bergerak menuju pintu.
Bunda menghela napas pelan, setidaknya tidak terjadi apa-apa. Tapi ucapan Ayra tadi yang mengatakan tentang mimpi Sakti, kini berganti memenuhi isi kepalanya. Tak mau di sana terlalu lama, Bunda kembali membangunkan Sakti dan segera keluar, menuju musola kecil yang berada di lantai satu rumah mereka.
Seusai salat subuh berjamaah. Mereka berempat masih duduk di dalam musola dengan perbincangan santai seperti biasanya.
“Tadi, Bunda cerita ke Ayah. Kalau kalian tidur satu kamar lagi?” Tanya Ayah pada kedua anaknya.
Sakti dan Ayra saling pandang sebelum mengangguk bersamaan. Ayah kembali menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
“Bukannya Ayah dan Bunda sudah melarang kalian untuk melakukan itu? Kalian ini sudah dewasa, tidak baik jika kalian masih seperti itu.”
“Tapi, Yah. Bukannya tidak apa-apa karena kita 'kan adik kakak?” tanya Ayra, ia memang sering aneh dengan larangan-larangan kedua orang tuanya.
Mereka bukan hanya melarang Ayra dan Sakti tidur bersama, tapi juga melarang Ayra untuk membuka auratnya di hadapan Sakti. Seolah menegaskan jika Sakti itu bukan mahramnya, padahalkan jika mereka memang saudara kandung, seharusnya itu wajar-wajar saja.
“Walaupun kalian itu adik kakak, tapi tetap saja itu tidak baik. Ingat setan itu di mana-mana dan setan menggoda tanpa melihat status kalian.”
Sakti dan Ayra akhirnya mengangguk faham. Walau masih merasakan ada sesuatu yang ganjil, tapi mereka memilih memendamnya dan tak ingin menanyakannya.
hubungan sakti sama ayra tu sesungguhnya apa..