Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangisan Naya
Rasanya Rangga tak tega untuk mengucapakan talak kepada Naya. Naya dapat merasakan jika Rangga tengah terhimpit masalah dari raut wajahnya yang tegang sejak ia berada di rumah sakit. Rangga tak pernah tersenyum sedikitpun atau mengatakan sesuatu yang membuat hatinya terasa sejuk semenjak kecelakaan itu hingga kehilangan bayi mereka, "Ada apa?" tanya Naya akhirnya. Ia menyentuh pipi Rangga dengan tangan halusnya yang agak masih terasa lemas. Selama itu Rangga hanya memeluknya dan sesekali mencium bibirnya untuk lebih menguatkannya.
"Maafkan aku," pintanya lirih dan tak kuasa menahan tangis.
"Sebenarnya ada apa, Mas? Apa yang terjadi padamu?" tanyanya khawatir dan resah.
Rangga mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan padanya rekaman cctv perkelahiannya dengan Tias. Naya menatapnya nanar dan menyesali semua itu.
"Aku sudah memaafkanmu tetapi Tias mengancamku akan memenjarakanmu jika aku...." rasanya tenggorokan Rangga tercekat.
"Jika apa, Mas?" tanya Naya ketakutan
Rangga memejamkan matanya kuat. Ia tak sanggup mengatakannya.
"Jika apa, Mas?" paksa Naya khawatir
"Jika aku tak menceraikanmu."
Naya seketika drop. Tubuhnya langsung terasa lemas.
"Aku tak bisa melihatmu jika harus sampai di penjara," tukas Rangga dengan mata berkaca-kaca.
Naya mematung dengan tatapan nanar. Ia tak mengira jika Tias benar-benar jahat dan sangat ingin menyingkirkannya.
"Aku terpaksa menceraikanmu," tandas Rangga.
Naya terpaku menatapnya dengan air mata menetes getir. Kata talak sudah terucap dari bibir suaminya. Marni di luar kamar dapat mendengarkan percakapan mereka karena pintu kamar Naya yang sedikit terbuka. Ia membungkan mulutnya agar tangisannya tak terdengar oleh keduanya.
Bagi Naya saat ini penjara atau pun kehilangan Rangga sama saja baginya. Ia tak kuasa menahan gejolak hatinya yang amat terluka dan menangis histeris.
"Maafkan aku...." pinta Rangga sekali lagi. Ia pun memeluk Naya.
"Kenapa....?" tangis Naya.
Hingga waktu berlalu dan akhirnya Naya pasrah namun tak menerima samasekali semua yang menimpanya dan Rangga, "Aku akan membalasmu, Tias!" sumpah nya dalam hati.
Soraya keluar dari kamar putrinya dan berjalan ke kamar Naya melewati Marni dengan angkuhnya. Naya dan Rangga menatapnya murka dengan tatapan penuh amarah.
"Sesuai perjanjian. Wanita ini harus enyah hari ini juga dari rumah ini setelah kamu menceraikannya," tandas Soraya.
Naya menyeka air matanya dan mengangguk, "Baiklah."
Rangga merasa tak sanggup untuk melepaskan Naya. Dengan berat hati ia membimbing Naya untuk bangkit dan berjalan keluar dari kamar itu. Marni denagn sigap membantunya. Soraya merasakan kemenangan untuk putrinya yang terasa begitu manis.
"Naya mau kemana?" tanya Ilham terkejut.
Seluruh keluarga Fatahillah yang kini berada di ruang tamu kebingungan.
"Aku akan mengantar Naya pulang kerumah orangtuanya.
"Apa Tias mengancammu dengan video itu?" sergah Ilham seraya bangkit.
Rangga hanya terdiam. Naya sudah tak sanggup untuk berdiri dan memintanya untuk segera membawanya pergi, "Aku tak kuat," bisiknya.
"Aku antar Naya dulu," ucap Rangga dan segera membawa Naya pergi.
Abdulloh dan Susan yang telah melihat rekaman video itu melalui ponselnya kecewa berat kepada Naya hingga mereka tak berkeinginan untuk mencegah kepergiannya.
"Tunggu!" cegat Ilham berlari kepada Naya yang hendak masuk kedalam mobil. "Kenapa kalian tidak mencari jalan keluar? Aku yakin jika itu pemicunya karena kejahatan Tias! Aku yakin jika Naya tak sampai hati melakukannya jika Tias tak melakukan hal yang buruk padanya!"
Rangga menggeleng, "Tak ada jaln keluar. Hanya ini cara satu-satunya menyelamatkan Naya."
Naya pun masuk kedalam mobil dan berlalu.
18.00 wita:
Keluarga Fatahillah dan kedua orangtua Tias berkumpul di ruang kerja Abdulloh membicarakan perkara Tias dan Naya. Soraya dengan gamblang mempersalahkan Naya dan membela putrinya dengan semua bukti yang ada, "Apa anda akan tetap mempertahankan seorang penjahat yang begitu mengerikan tetap tinggal di ruman Anda?" tanyanya nyolot dan membuat Abdulloh merasa di gurui oleh wanita itu karena Ilham mempersalahkan Tias.
"Aku tahu. Ini rumah ku. Aku berhak mengusir atau membiarkan siapapun tinggal di rumah ini dengan atau tanpa persetujuan siapapun!" bentaknya geram membuat Soraya dan suaminya tersentak. "Tias pun melakukan kesalahan yang tak kalah kotor dan berbahaya dari Naya! Dia pun bisa di pidana karena telah melakukan kejahatan yang akibatnya bisa lebih fatal!" sungutnya bangkit dari korsinya.
Soraya yak mengerti dan sedikit ketakutan, "Maksud Anda?"
Abdulloh memutar ulang video cctv yang merekam kejahatan Tias saat meracuni terigu milik Naya
"Apa yang sudah kamu lakukan Tias?" bentak Soraya.
"Itu hanya obat pencuci perut dan aku hanya memasukkannya sedikit," kilah Tias tak berani menatap mata siapapu.
Abdulloh menatapnya lekat, "Benarkah?" tanyanya santai.
Saat itu setelah Naya membuang terigu beracun itu kedalam bak sampah Bik Pah mengabil benda itu lalu menyimpannya sebagai barang bukti karena firasatnya mengatakan jika suatu saat nanti bukti itu dapat berguna untuk Naya. Dan siang tadi setelah kepergian Naya dari rumah itu diam-diam ia mengatakan dan menyerahkan barang bukti kejahatan Tias berharap Naya bisa kembali ke rumah itu kepada Abdulloh di ruang kerjanya.
"Takaran obat pencahar yang kamu masukkan dengan dosis tinggi itu bisa berakibat fatal pada puluhan orang!" tandasnya geram.
Tias pura-pura menangis untuk mendapatkan simpati. Ia menagis terisak seolah menyesal dengan perbuatannya.
"Tetapi apa yang telah di lakukan Naya juga sangat buruk dan itu tak bisa di toleril, Pa," sela Susan berhati-hati.
Abdulloh lantas duduk di korsinya dan memijat keningnya dengan mata terpejam.
Rangga yang sejak tadi diam ingin sekali menyeret Tias keluar dari rumahnya setelah melihat kejahatan yang ia lakukan kepada Naya, tetapi ia tahan karena takut Soraya akan melaksanakan niat buruknya untuk memenjarakan Naya jika sampai ia juga menceraikan Tias.
Di kamar ibu dan ayahnya Naya hanya menangis tanpa berucap sepatah kata pun. Ia menyesali semua perbuatnya yang bukan saja membunuh bayi Tias tapi juga membunuh darah dagingnya dan kini membuatnya berpisah dengan pria yang begitu ia cintai melebihi dirinya sendiri.
Marni sesekali menengoknya dari luar kamar. Ucapan apapun yang akan ia ucapkan kepada putrinya takkan berguna.
Detak jam dinding terus berputar hingga mendekati subuh. Rangga dan Naya tak tertidur sekejap pun. Rangga meratapi perpisahannya dengan Naya di atas ranjang mereka. Kamar itu terasa dingin dan hampa tanpa kehadiran Naya. Abdulloh pun mendatanginya dan duduk di hadapannya, "Hapus air matamu. Hari ini banyak pekerjaanmu yang harus diselesaikan semenjak cuti mu kemarin. Bangkitlah!" pintanya menepuk lengan kiri Rangga. "Lupakan cinta dan wanita!" sergahnya.
Rangga pun menuruti ucapannya. Ia berjalan gontai ke kamar mandi lalu membersihkan diri.
Azan terdengar. Rangga melaksanakan sholat subuh dalam keheningan. Tangisnya pecah seketika ketika bersujut. Ia mengiba dan memohon suatu keajaiban mengembalikan Naya kembali kedalam pelukannya.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya