NovelToon NovelToon
Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Legenda Dewa Kesetaraan Vs Dewa Roh

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Barat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.4
Nama Author: MURADIF

*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].

SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.

[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]

⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.


*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*


✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: Bagai Pinang Dibelah Dua. (Part 2.)

Menyadari kalau Walikota Yuyu enggan menerima ajakan serta bujukan Nerta dan Inky. Inky masih tak sudi untuk ditolak begitu saja. Dirinya kembali lagi membujuk sang Walikota Yuyu secara forsir.

Segala ujaran menohok pada hati, setiap kalimat yang termuntahkan, hingga terjadi adu argumentasi. Nyatanya sama sekali belum sanggup meluluhkan hati keras Walikota Yuyu. Keteguhan hati sang walikota, bukan lain gegara berambisi melindungi putrinya yang tak dapat disembuhkan dari gangguan mental.

Hanya sebatas, seorang ibu yang berjuang melindungi putri satu-satunya dari ancaman kejahatan dunia yang tak bermoral serta menemaninya laksana pengawal setia seorang raja. Dan itulah alasan kekuatannya bertahan, itu pula titik kelemahannya.

Tiga detik sesudah sunyi merajai waktu, momen panas penuh emosi itu segera diinterupsi oleh ucapan Nerta, “Walikota Yuyu ... bagaimana kalau saya menyembuhkan penyakit mental putri nyonya, sudikah nyonya berpartisipasi dalam bersaksi?”

Sontak, Inky nampak tercengang akan pertanyaan itu, dirinya sempat menoleh keheranan pada Nerta. Sedangkan Walikota Yuyu membungkam diiringi buaian kursi goyang yang bergerak ke depan serta ke belakang.

“Bagaimana, apakah kita sepakat?” Nerta berusaha memastikan, terlalu malas berbasa-basi dan memanfaatkan kelemahan saksi.

“Tak mungkin putriku disembuhkan.” Walikota Yuyu pesimis terhadap kesepakatan Nerta.

“Nyonya tahu 'kan, perihal mitos air mata Rusa Kemurnian, bahwa satu tetes air mata kanannya dapat menyembuhkan penyakit mental karena traumatik, atau menyembuhkan gangguan mental?” tanya Nerta membeberkan obatnya secara langsung.

Mendadak, berkat ujaran tersebut, ayunan kursi goyang sang Walikota Yuyu serentak berhenti dan dalam ketidakpercayaannya pun merespons: “Itu hanya mitos, Rusa Kemurnian hanyalah kebohongan untuk menundukkan hati makhluk bernyawa seperti putriku."

Selepas mengomentari, Walikota Yuyu menggerakkan kembali kursi goyangnya ke depan dan ke belakang, dengan raut wajah hampa.

“Akan tetapi, bagaimana kalau aku berhasil mendapatkan air mata itu, dan menyembuhkan putri nyonya?” Nerta bersikukuh hendak membuat kesepakatan dan terlihat sungguh-sungguh.

“Jangan banyak berkhayal anak muda. Sungguh, jangan berkhayal terlampau tinggi.” Walikota Yuyu masih pesimis.

“Kalau begitu, izinkan saya membuktikannya.” Nerta bicara begitu percaya diri. “Izinkan saya membawa putri nyonya supaya dapat mudah disembuhkan.”

Walikota Yuyu spontan berhenti menggoyangkan kursi goyangnya dan mendadak beranjak dari kursi, menjengkit dengan kesal, darahnya mengalir dalam tensi cepat dan menatap tajam roman karismatik Nerta. “Jangan bawa putriku ke dalam bahaya! Kau tidak tahu ... kau, dan kalian tidak tahu, betapa beratnya kami menjalani hari dalam beban moral!"

"Pergilah! Ibu kalian pasti malu melihat anaknya begini," tukas Walikota Yuyu dalam muak. Lantas menggeleng-gelengkan kepala seraya mengumpat untuk diri sendiri. "Celakalah para keparat di atas langit, celakalah!"

Momen luapan marah itu Nerta biarkan melabur dalam belasan detik. Supaya dengan demikian, hati sang ibu bisa lega sejenak. Nerta tahu. Sangat tahu, terkadang seseorang butuh objek untuk pelampiasan marahnya agar dapat kembali baik.

”Sebenarnya Anda tahu, kalau nyonya adalah buronan negara.“ Nerta berusaha mencari celah menarik hati Walikota Yuyu. ”Apakah nyonya yakin dapat bertahan hidup dengan kondisi seperti ini? Padahal saya hendak menawarkan jalan lebih baik.“

Seluruh figur terpaku, khususnya Inky serta Walikota Yuyu yang menyimak.

”Nyonya akan kami jaga, dijaga oleh para penyihir andal, lebih lagi, di sana telah banyak saksi yang berpatrisipasi dan pastinya akan saling menjaga sehingga momentum kehidupan dapat terjaga lebih panjang.“ Nerta lambat laun mulai membujuk secara persuasif dan rasionalisasi. ”Sebentar lagi, para intelijen negara akan menangkap nyonya. Sedangkan pertahanan di sini cukup lengang. Cobalah, nyonya renungkan kesepakatan saya.“

Tak disangka, Walikota Yuyu benar-benar diam dalam renungan. Dirinya mulai meredakan gejolak emosinya. Menjernihkan pikirannya, sekaligus berusaha berpikir positif. Ucapan Nerta memang ada benarnya dan cukup rasional.

Tak mungkin dirinya sanggup menjaga putrinya dengan keterbatasan kemampuan serta kesendiriannya di sini. Para ajudannya sudah tewas. Sedangkan pasukan negara pasti sangat kuat. Oleh karena itu, Walikota Yuyu menoleh ke kiri pada putri semata wayangnya. Memandangnya dalam penuh pertimbangan.

Putrinya sendiri nampak memaku bersama pandangan kosongnya ke depan dan sekilas sempat tersenyum lebar lalu kembali berwajah datar.

Barangkali, kesembuhan putrinya dapat diraih. Barangkali juga, kesempatan kedua itu selalu ada. Atau barangkali, inilah satu-satunya cara untuk membuat putrinya dapat hidup normal dan bisa meraih kebahagiaannya sendiri. Walikota Yuyu hanyut dalam perenungan terdalam. Mungkin, kesempatan kedua itu adalah sekarang. Mungkin.

Rasa iba serta prihatin pada putrinya semakin mengekang hati sang ibu. Menggugahnya untuk mengambil keputusan cepat, maka secara pasrah penuh pengharapan, Walikota Yuyu menatap intens pada muka Nerta. ”Bagaimana kalau kau gagal? Bagaimana kalau itu hanyalah mitos belaka?“

”Nyawaku jaminannya,“ balas Nerta dengan tegas dan lantang tanpa ragu. Seakan Nerta tahu pasti bila takdir mewariskan kesuksesan padanya.

Untuk sesaat, Walikota Yuyu sengap beberapa detik, tatapannya mengobservasi pada wajah Nerta, takut-takut ada dusta di sana. Kemudian berujar, ”Baiklah. Tetapi aku akan ikut bersama putriku.“

”Oke. Kita sepakat.“

Pada akhirnya Nerta serta Inky suka tidak suka mesti mencari terlebih dulu keberadaan makhluk legenda Rusa Kemurnian.

Rusa Kemurnian adalah rusa hadiah dari tabik Dewa Roh yaitu Tahget untuk sang Athius yakni Dewi Inteligensi. Rusa sakral ini hidup di hutan Kirentia, di alam ras Syin. Rusa ini memiliki tanduk berlian dan kuku emas, serta sanggup berlari lebih cepat ketimbang lesatan anak panah. Makhluk sakral ini pun dikabarkan sanggup menyembuhkan mental seseorang, namun juga sanggup merusak mental seseorang.

Pada zaman Dewadewi, Dewa Kesetaraan suatu hari memerintah tabiknya yaitu, Selkar untuk menangkap Rusa Kemurnian guna menebus segala kesalahan sang tabik, sayangnya, tatkala ia berhasil menangkap rusa tersebut, Dewi Inteligensi menangkap Selkar dan membuatnya menelan air mata kiri sang Rusa Kemurnian. Mengakibatkan mental Selkar terganggu hingga terjebak selamanya dalam hutan Kirentia.

Berbekal sedikit informasi dari mitos mengenai koordinat hutan Kirentia. Nerta, Inky serta Walikota Yuyu dengan putrinya hari itu juga berangkat menuju hutan Timur benua netral.

Perjalanan mereka dilakukan dengan terbang. Melintasi bermacam struktur geografi di bawah mereka.

Dalam perjalanan, Inky yang meragu sempat komplain pada Nerta: ”Kita tak punya banyak waktu untuk ekspedisi.“

”Untuk itulah kita sekarang berangkat.“ Nerta tak berminat untuk berdebat dan enggan mempermasalahkan persoalan yang sebenarnya tak perlu diambil pusing ini. ”Kalau pun kau mau, kau langsung menuju saksi selanjutnya, dan urusan ini biar aku yang tangani.“

Meskipun Nerta memberikan saran cukup rasional, Inky yang berteguh terhadap pendiriannya menolak mentah-mentah: ”Tidak, kita mesti menjalankannya bersama-sama.“

”Hanya saja ... apakah bisa kita menemukan rusa itu? Sedangkan sudah ribuan tahun bahkan ratusan ribu tahun, rusa itu tak pernah lagi terdengar.“ papar Inky agak pesimis. ”Lebih lagi, ada yang mengatakan kalau rusa tersebut hanya mitos, dan banyak dari para ekspeditor tak pernah berhasil menemukannya.“

Nerta sangat memahami kecemasan tersebut, dirinya juga memiliki noda keraguan. Namun demikian, mengingat legenda tersebut berkaitan erat dengan Dewa Kesetaraan, yang mana digadang-gadang Nerta adalah perwujudan ke tiga belasnya, menjadikan Nerta optimis, bahwasanya, dia akan menemukan Rusa Kemurnian secara cepat, atau mungkin secara instan.

”Nanti, aku akan coba untuk berkomunikasi dengan Dewa Kesetaraan, siapa tahu ada info penting yang bisa aku dapatkan,“ ungkap Nerta dengan sedikit memberi solusi dan harapan besar secara sintesis.

Sesudahnya, tak ada respons berarti lagi dari Inky, dirinya hanya diam dalam rona muka cuek nan masa bodoh.

Sedangkan Walikota Yuyu nampak cukup was-was serta ketat dalam menjaga putrinya. Dirinya memegang tangan kanan putrinya selama mengudara, tak banyak bicara, akan tetapi, setiap beberapa detik berlalu, secara intensif nan protektif, dia tak sungkan untuk menoleh pada putrinya, demi menganalisis kondisi sang anak semata wayangnya itu.

Mereka terbang lebih rendah di bawah Nerta serta Inky. Walau telah diberi tahukan kalau putrinya akan dijaga ketat oleh mereka, sang ibu tak lantas menyerahkan sepenuhnya putrinya begitu saja. Jiwa keibuannya yang megah membuatnya terus berada di sisi anaknya itu.

Setidaknya, Walikota Yuyu telah memberikan kesempatan Nerta untuk membuktikan tekadnya.

Perjalanan menuju hutan Timur benua netral membutuhkan waktu 7 hari dalam keadaan terbang seperti ini, dan itu pun mesti tanpa tidur. Selama berlangsungnya perjalanan, dalam momen ini tak ada yang begitu berarti untuk dibahas, kecuali menikmati suasana dan suguhan pemandangan alam yang asri.

______________________________________________________________________

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

✅Demi mendukung /menghargai kinerja Author, cukup dengan hanya memberikan Like/Vote poin/koin.

(Bila ada kritik/kesan enggak perlu sungkan untuk menuliskannya dalam kolom komentar. Terima kasih.)

1
Kinia
semangat ya (:
setiyowati b
lg mau baca nih thor... moga asyik
Harman LokeST
njuuuuuuuuuut author
Fahrur Rozi
seperti filem sinetron ajh
🍾⃝ʙͩaᷞiͧ ǫᷠiͣɴƓǫɪɴƓ 💞🇵🇸
baru mulai baca..semgat ka
arfan
up
zien
hadir 🌹🌹❤❤
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
zien
Hadir ❤❤
zien
Hadir 💗💗
zien
hadir ❤❤
Si Autor (IG: Anterta.): 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
zien
hadir 🌹🌹
zien
hadir 💗💗
Gyatsa Dzaky
bahasanu tinggi nian
Dave19
👍
Botha Hantu
ikut
zien
Semoga sukses selalu💗💗🌹🌹
zien
Hadir 💐💐
zien
hadir💗💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!