# YANG GA SABAR SAMA JALAN CERITANYA PASTI NYERAH DI TENGAH JALAN... #
( Bikin bingung kalo bacanya dari tengah. Saran penulis ikuti dari awal yaa. mksh...🙏😊)
Berawal dari misteri tentang kehamilan seorang gadis yatim piatu bernama Gendis akibat perbuatan seorang pria yang membuatnya terpuruk.
Dan pengalaman aneh yang dialami oleh sang adik yang bernama Patih, karena menolak cinta seorang wanita, membuatnya harus berjuang untuk bisa lepas dari pengaruh ilmu hitam.
Juga kehadiran anak indigo yang akan membantu mengungkap kisah mistis yang mewarnai perjalanan hidup para tokohnya, membuat kisah ini makin menarik.
Mau tahu...?
Simak kisahnya yuk...
( Mohon bijak dlm berkomentar. Kalo ga suka diskeep aja. Gampang kan ...? )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 ( Serangan )
Beberapa hari ini Patih merasa agak meriang. Suhu tubuhnya tinggi, pandangan juga jadi agak buram. Patih pun absen dari kuliah, karena tubuhnya tak bisa banyak bergerak. Patih pun minum obat yang dibelinya di warung semalam.
Faisal adalah teman kost Patih. Ia nampak cemas melihat kondisi Patih yang tak juga membaik.
" Gue anter ke klinik yuk Tih...," tawar Faisal.
" Ga usah Sal, Gue rebaan aja deh. Kepala Gue pusing banget...," kata Patih.
" Tapi kapan sembuhnya kalo Lo ga berobat...?" tanya Faisal risau.
" Mudah-mudahan besok udah sembuh...," kata Patih sambil memejamkan matanya dan tidur.
" Dari kemaren bilangnya gitu mulu...," gerutu Faisal sambil meninggalkan kamar Patih.
Faisal tiba di kampus disambut Erlin yang nampak menunggu di depan gerbang kampus.
" Kok sendiri, Patih mana...?" tanya Erlin.
" Iya, masih sakit...," jawab Faisal malas.
" Kok perasaan Gue ga sembuh-sembuh...," kata Erlin heran.
" Iya, tapi Patih ga mau berobat. Gue liat juga badannya tambah abis, padahal baru seminggu sakitnya...," keluh Faisal prihatin.
" Kalo Gue sama temen-temen jenguk Patih boleh ga...?" tanya Erlin ragu.
" Mmm, boleh deh. Siapa tau dia bisa ssmangat sembuh ngeliat Lo pada jenguk dia...," kata Faisal sambil mengiringi langkah Erlin menuju kelas.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di rumah makan milik Harun.
" Kenapa Patih ijin lama banget ya...?" tanya Harun pada Sumi.
" Sakit Pak. Kemaren temennya yang telephon ke Saya...," jawab Sumi.
" Kamu tau Patih kost dimana Sum. Saya kok kawatir sama Anak itu...," kata Harun cemas.
" Kalo Kamu kesana Aku ikut ya...," sela Mita manja.
" Ngapain Kamu kesana, ini kan ga ada hubungannya sama Kamu. Atau jangan-jangan Kamu naksir sama Patih...?" tanya Harun to the point.
" Apa sih Uda, dia kan karyawan Uda, jadi wajar lah kalo Aku ikut jenguk...," kata Mita lagi.
" Tapi kalo karyawan lain sakit, Kamu ga peduli kaya sama Patih...," kata Harun curiga.
" Uda, Aku ga mungkin naksir Patih lah. Patih memang masih muda, tapi biarpun Uda lebih tua, tapi masih hot lho, Aku ga suka laki-laki yang ga pengalaman...," rayu Mita di telinga Harun.
Wajah Harun memerah mendengar rayuan maut Mita. Ia memeluk Mita dan mengajaknya ke ruangannya, lalu mereka melanjutkannya dengan memadu kasih seperti biasa.
Sumi hanya mencibir menyaksikan tingkah Harun dan Mita yang menjijikkan baginya.
\=\=\=\=\=
Setelah selesai kuliah Faisal mengajak Erlin, Wayan, Arik, Maya dan Komar ke kostnya.
Saat memasuki kamar Patih, tercium bau aneh semacam dupa yang meruak dari kamar Patih.
Komar yang memiliki 'kelebihan' pun mengerutkan alisnya. Tapi untuk menghormati tuan rumah, ia hanya diam dan mendengarkan obrolan teman-temannya.
" Cepet sehat ya Tih. Ga ada Lo ga rame...," celetuk Wayan.
" Bukannya ga ada yang ngasih contekan gratis...?" sindir Maya.
" Ahh Lo ngerusak moment aja nih...," kata Wayan.
" Sakit apaan sih Patih...?" tanya Erlin penuh perhatian.
" Ehm, jadi malu Gue ada disini...," kata Arik sambil menyingkir dari samping Patih.
" Ga tau nih, badanku meriang ga jelas. Pandangan juga kabur, badan terasa berat, pusing...," keluh Patih.
" Berobat yuk...," ajak Erlin lembut.
" Ga usah, makasih ya udah jenguk...," kata Patih sambil menggeser duduknya menjauhi Erlin.
" Jangan dipaksa kalo ga mau...," kata Komar menengahi.
" Ya udah, Kita balik deh Tih, biar Lo bisa istirahat...," kata Wayan sambil menyalami Patih dan Faisal.
Lalu mereka pun meninggalkan kamar Patih diantar oleh Faisal hingga ke depan pintu.
Sekali lagi Komar mengedarkan pandangan ke kamar Patih dan tersenyum sinis sebelum mengikuti langkah Faisal keluar rumah.
\=\=\=\=\=
" Ah jangan ngaco Lo...," kata Patih menyangkal ucapan Komar.
Komar datang ke kost Patih setelah beberapa jam keluar bersama temannya tadi sore.
" Gue ga bo'ong, Lo dikerjain orang nih. Untungnya iman Lo kuat, jadi cuma sakit biasa aja ga sampe gi*a...," kata Komar datar.
" Astaghfirullah, padahal ini kota besar ya, kok masih ada aja yang pake ilmu hitam buat berbuat jahat sama orang laen...," keluh Patih sambil menepuk dahinya.
" Ya ini semacem pelet sih. Lo inget pernah nolak cewek mana gitu...?" tanya Komar.
" Nolak cewek, ada sih. Gue juga nolak Erlin, apa dia yang bikin Gue kaya gini...?" tanya Patih.
" Bukan. Gue ga liat itu. Kalo orang yang ngirim tuh auranya beda...," kata Komar.
" Apa harus nemuin orangnya dulu baru bisa diobatin...?" tanya Patih.
" Ga juga. Lo kencengin aja ibadah Lo, kasih tau orang terdekat biar bisa bantuin Lo lewat doa...," saran Komar.
" Iya, makasih Kom udah ngingetin Gue. Ntar Gue kabarin keluarga Gue deh. Terus taunya tuh orang kalah gimana...?" tanya Patih bingung.
" Ntar Lo bisa liat pengaruhnya udah ga mempan lagi, sama ada perubahan di wajahnya, mungkin ada semacem bisul yang ga bisa sembuh gitu lah...," kata Komar lagi.
" Kok serem gitu sih jadinya...," kata Patih bergidik ngeri.
" Ya memang gitu resikonya kerjasama sama setan...," kata Komar santai.
Kini Patih sudah bisa duduk dan makan dengan lahap. Setelah Komar berhasil 'membaca' apa yang Patih alami, Patih semangat untuk bangkit dan tidak menyerah pasrah pada keadaan.
" Seusai sholat Isya, Patih membuka Al Qur'an dan membacanya dengan penuh penghayatan. Meski tak fasih mengaji dengan suara yang melantun merdu, tapi Patih bisa mengaji dengan benar.
Saat sedang serius mengaji, tiba-tiba jendela kamar Patih seperti dihempas dari luar. Daun jendala bergemeretak mengganggu konsentrasi Patih, seolah menyuruh Patih berhenti mengaji.
Patih tak peduli dan terus mengaji. Hingga Patih lelah dan mengantuk lalu tertidur sambil memegang Al Qur'an di atas dadanya.
Pagi hari semua penghuni kost ribut karena melihat ceceran darah di teras terus mengarah ke bawah jendela samping dekat ruang tengah tempat para penghuni kost biasa bersantai sambil ngobrol.
Mereka heran karena memang belum pernah terjadi selama ini. Darah berwarna merah kehitaman itu berbau busuk dan tetesannya seolah menandakan ada seseorang atau 'sesuatu' yang datang dan niat berbuat jahat tadi malam.
" Iiihhh, masa ada darah aneh di sini...,"
" Kayanya Gue pindah aja deh. Takut lah kalo kaya gini mah...,"
" Iya ntar kalo salah sasaran gimana...?"
" Masa tempat ini dikirimin santet, mau nyantet siapa di kost mahasiswa kaya gini...,"
" Orang g*la aja ngirim santet ke kost mahasiswa kere kaya Kita...,"
Gunjingan beberapa teman Patih sesama penghuni kost khusus cowok itu.
Patih hanya melihat sebentar tanpa
berkomentar apapun. Ia makin yakin apa yang dikatakan oleh Komar.
Patih juga memutuskan mengabari orangtua dan kakaknya. Semula mereka sangat kawatir, tapi setelah Patih memberitahu dirinya baik-baik saja, mereka pun lebih tenang.
bersambung