Dijodohkan dengan lelaki yang lebih muda 5 tahun darimu, apa kamu mau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon athania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Dewasa
Olivia menjatuhkan dirinya kasar di atas ranjang king size miliknya, ia menelungkupkan diri dan meracau, di tariknya sebuah selimut tebal dan di grogotinya.
"Arrgghhh bagaimana jadinya jika aku benar-benar menikah dengan si cebol!!" gerutuknya mulai mengomel sendiri.
"Malam pertama? aku tidak bisa membayangkannya, tidak tidak tidak! aku harus memikirkan cara untuk setidaknya menunda hal itu agar tidak cepat terjadi. Aku sungguh belum siap!! haruskah aku membuat surat perjanjian hitam di atas putih agar dia mau menungguku? tunggu! ini bukan cerita novel atau drama!! bagaimana jika nanti burung pipitnya ingin cepat terbang dan mencari sarang? sarang milikku belum bisa di tinggali dengan sempurna tapi jika aku menolaknya bagaimana jika dia malah mencari sarang yang lain? Huuwaaaa aku pusing!! aku harus bagaimana!!" Olivia berteriak-teriak dan menjambak rambutnya sendiri, memikirkan cara hanya untuk mencegahnya agar tidak melakukan hubungan suami istri dengan Rey nanti padahal hari pernikahan pun terbilang masih cukup lama, terus berpikir membuat matanya terjaga hingga pagi hari.
Tap Tap Tap
"Selamat pagi ayah dan ibu" sapa Olivia sambil menguap, ia berhenti di depan meja makan lalu menuangkan segelas air putih dan meneguknya.
"Ada apa dengan wajahmu sayang?" tanya ibu yang memperhatikan lingkar mata panda di kedua bola mata Olivia, wajahnya nampak kusut juga tidak bersemangat.
"Aku mengantuk" jawabnya lesu kemudian menuju keluar rumah, langkah kakinya terlihat gontai.
"Olivia kamu belum sarapan?" ucap ayah dengan nada meninggi.
"Aku sarapan di kantor saja yah"
Ayah dan ibu saling berpandangan dan mengangkat bahunya bersamaan, tak mengetahui apa yang sedang terjadi kepada putri semata wayangnya tapi mereka yakin Olivia dalam keadaan baik-baik saja.
Sebuah sedan hitam melaju dan berhenti tepat di depan pintu pagar di kediaman Brawijaya, Rey datang untuk menjemput tunangannya. Olivia menghela napas dan memutari mobilnya kemudian segera membuka pintu dan duduk di kursi penumpang.
"Apa kau tidak tidur semalam?" tanya Rey langsung sambil menginjak pedal gas kendaraannya.
"Eem" jawab Olivia singkat, ia menyandarkan punggungnya dan menutup matanya perlahan.
"Apa karena hari pernikahan kita?" mendengar pertanyaan itu rasa kantuk Olivia seketika sirna, ia refleks membulatkan mata dan menoleh pada kekasihnya.
"Kau sudah tahu?"
"Tentu saja, akulah yang akan menikah kenapa aku tidak tahu" senyum Rey menyeringai. "Kau tidak bermaksud untuk menunda sesuatu kan?" lagi-lagi Rey dapat menebak apa isi otak gadisnya.
"Me-menunda apa?" Olivia jadi salah tingkah, kini ia memilih membuang mukanya dan memperhatikan jalanan.
"Jangan berpikir untuk menunda apa pun setelah kita menikah! aku ingin semuanya mengalir alami begitu saja"
"A-aku tidak mengerti maksudmu!! sekarang kau fokus saja menyetir, tidak usah mengajakku berbicara!" hardiknya ingin mengakhiri pembicaraan, Olivia sendiri begitu gugup membicarakan hal ini padahal seharusnya ia dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang yang akan jadi suaminya kelak. Mungkin Olivia malu untuk menjelaskannya seperti apa, karena yang ia pikirkan adalah hal lumrah dan wajib di lakukan bagi pasangan yang sudah menikah.
Rey hanya tersenyum tipis, dia tak membalas perkataan Olivia di karenakan si gadis nampak sedikit lelah. Rey menepikan mobilnya dengan sempurna di depan lobi perusahaan.
"Nanti malam kau tidak usah menjemputku" ucap Olivia bersiap akan turun.
"Kenapa?"
"Nanti malam aku akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun pernikahan dari salah satu klien perusahaan, jadi nanti aku akan pulang cepat dan berdandan, terima kasih ya sudah mengantarku"
"Baiklah" Rey menganggukan kepalanya pelan.
Olivia menapakkan kakinya dengan sempurna kemudian berjalan menuju ke dalam kantornya. Dari kejauhan Rey hanya dapat memandangnya, ada kegusaran yang bersemayam dalam lubuk hatinya.
***
Olivia sudah meminta Rena untuk memangkas sedikit pekerjaannya, menghadiri sebuah undangan dari klien juga sebuah pekerjaan. Hal itu berguna untuk menjalin hubungan baik antar pemegang saham. Kali ini Olivia akan menghadiri pesta itu sendirian, jika biasanya sekretarisnya tersebut setia menemaninya kemana pun pergi karena suatu hal yang mendesak akhirnya Rena tak bisa mendampinginya, Olivia tak ingin memaksakan setidaknya ia bukan seorang anak kecil yang harus selalu di temani, ia jadikan ini latihan dalam memperluas jangkauan pekerjaannya.
Pipi seorang gadis tengah selesai di poles, memakai gaun berwarna merah muda dengan ekor gaun bagian belakang yang memanjang juga dengan atasan yang terbuka memperlihatkan hampir seluruh kulit bahunya yang putih mulus membuat Olivia nampak anggun dan bersinar. Ia sempat memandang pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya, rasanya hampir tidak percaya. Ini pertama kalinya ia berpakaian elegant untuk datang ke sebuah acara, biasanya Olivia tidak mau mengikuti kegiatan seperti ini sebelumnya.
Dirinya kini berada di dalam sebuah gedung mewah, nampak bunga-bunga mawar putih mendominasi hiasan pada dekorasi ruangan, semua tamu undangan berpakaian formal, syukurlah ia tidak sampai salah kostum menurutnya.
Olivia nampak canggung, kebanyakan tamu memang ramah dengan tersenyum manis kepadanya meski sebenarnya ia tidak mengenal satu pun yang ada di sana.
Olivia jadi terkesiap ketika tangan seseorang menyentuh bahu perlahan.
"Selamat malam" sapa pria yang penampilannya serba hitam tersebut.
"Kak Rico" serunya sedikit tenang, akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa di ajaknya berbicara.
"Kamu cantik sekali malam ini Olivia" pujinya.
"Kak Rico juga seperti biasa selalu tampan" mereka berdua berbalas senyuman.
"Bagaimana kak Rico ada di sini?" tanya Olivia heran, setahunya dirinyalah yang di tunjuk oleh ayahnya langsung selaku CEO untuk menghadiri undangan pesta ini sebagai wakil perusahaan.
"Kebetulan aku berteman baik dengan tuan rumahnya, jadi dia mengundangku secara pribadi, kamu sendirian?"
"Iya, Rena ada keperluan mendadak sehingga tidak bisa datang" jelasnya.
"Oh kalau begitu biar aku saja yang menemanimu malam ini, boleh kan?" tanya Rico.
"Tentu saja"
"Tidak boleh!!" ujar suara bariton seseorang, datang lagi seorang pria yang mengenakan jas kotak-kotak menghampiri keduanya yang sedang bercengkrama.
"Rey?" Olivia terkejut bisa bertemu dengan calon suaminya di tempat ini, Rey seolah menebarkan pesonanya dengan berjalan pelan dan sedikit bergaya.
"Bagaimana kau juga bisa ada di sini?" tanya Olivia langsung melontarkan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaannya untuk Rico tadi.
"Aku menemani kakakku" jawabnya jujur kemudian berdiri di samping Olivia.
"Oh"
"Olivia, bisakah kau mengambilkan air minum untukku?" perintah Rey tiba-tiba.
"Kau bisa mengambilnya sendiri!"
"Eh kau mau melawan calon suamimu?" nada bicara Rey berubah banyak penekanan.
"Iiishhh, iya aku ambilkan, kak Rico aku permisi dulu" Olivia berjalan gusar meninggalkan Rico dan Rey berdua.
"Hey kumis" panggil Rey, Rico yang merasa tidak di panggil malah menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tidak ada orang selain mereka berdua, tamu lain jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri.
"Kau apa kau memanggilku?" satu jarinya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya"
"Cihh!!" Rico membuang wajahnya ke arah lain.
"Jangan dekati Olivia, kami sudah bertunangan" Rey mengangkat tangannya sedang memamerkan cincin perak yang melingkar di jari manisnya.
"Aku sudah berteman lama dengan Olivia"
"Aku tidak peduli, aku tidak suka kau ada di dekatnya, mulai sekarang jaga jaraklah dengannya" ucap Rey dengan sorot mata tajam sedangkan Rico hanya bersikap santai dengan terus mengulas senyuman.
Tak lama kemudian Olivia pun datang.
"Ini untukmu" gadis cantik itu menyodorkan sesuatu pada kekasihnya.
"Olivia sebaiknya aku pergi dulu, aku akan menyapa temanku" pamit Rico merasa tak nyaman jika berlama-lama.
"Iya kak, terima kasih ya" Rico pun menjauh.
"Kenapa kau membawakanku susu coklat?" protes Rey saat memperhatikan minuman yang di bawakan Olivia.
"Di sini banyak minuman beralkohol, aku tadi sengaja memesannya langsung pada pelayan beruntung di dapur mereka ada susu sachet" jelas Olivia sambil berbisik.
"Kau!! aku sudah besar aku tidak mau minum susu!!" rengek Rey tak terima di perlakukan seperti anak kecil, padahal dia juga sudah berupaya membuat penampilannya agar terlihat seperti pria dewasa, namun kekasihnya ini. .
"Sudah cepat minum ini bagus untuk kesehatanmu!"
"TIDAK MAUUUU!!" Rey menjejakan kakinya beberapa kali ke lantai.
Rico sempat mendengar rengekan yang terlontar dari mulut Rey.
"Dasar bocah!!" dia tersenyum smirk seperti meledek.
***
Ini visual Rico ya teman-teman
Dewasa dan bijaksana
Kalo ada yang punya ig silahkan di follow ya ig author @athania208 😄
kangen sma pasangan ini
keknya seru
seru soalnya
senangnya..
see u Rey dan Oliv...🥰🥰🙏💪
cukup. Rey dan Oliv aza
Daniel di novel lain aj kak