NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlawanan Somasi Kubu Lawan

Keheningan malam di Kediaman keluarga Al-Maktoum begitu pekat, hanya diselingi oleh rinai gerimis yang mengetuk kaca jendela luar. Di dalam ruang tengah yang bernuansa kayu hangat, Shanum duduk di tepi sofa. Jemarinya yang lentik saling bertaut erat di atas pangkuan, menunjukkan ketegangan yang teramat sangat meski wajahnya berusaha tetap tenang.

Surat somasi tandingan dari kubu Devan serta ancaman gugatan pidana atas tuduhan pemalsuan dokumen yang baru diterima tadi sore benar-benar menguji daya tahannya. Di seberang meja, Aran berdiri tegap dekat pilar kayu. Pengawal pribadinya itu tidak mengenakan jas formal seperti biasa, melainkan kemeja hitam berlengan panjang yang digulung hingga siku, menampilkan ketenangan yang begitu kontras dengan badai di kepala Shanum.

"Aran..." panggil Shanum pelan, memecah keheningan. Suaranya terdengar sedikit bergetar.

Aran segera menundukkan pandangannya santun, melangkah satu tindak mendekat namun tetap mempertahankan jarak kesopanan dua meter di antara mereka. "Iya, Shanum. Ada yang bisa saya bantu?"

Shanum mendongak, menatap mata pengawalnya dengan kejujuran yang telanjang. "Jujur saja... saya takut. Selama ini saya hanya berurusan dengan neraca keuangan, rapat direksi, dan negosiasi bisnis secara profesional. Tapi Devan dan Surya Wijaya... mereka menggunakan cara-cara yang begitu kotor. Mereka membalikkan fakta seolah-olah saya yang penjahatnya."

Shanum menundukkan kepalanya, menyembunyikan mata yang mulai membasah. "Bagaimana kalau tim hukum kita gagal? Bagaimana kalau publik lebih percaya pada narasi yang mereka bangun?"

Aran tidak langsung menjawab. Ia mengambil cangkir teh hangat yang masih berasap di meja samping, lalu menggesernya pelan ke dekat Shanum tanpa menyentuh tangan wanita itu.

"Shanum, dengarkan saya," tutur Aran dengan suara rendah yang begitu stabil dan menenangkan. "Rasa takut itu wajar. Pria yang terlatih di medan tempur sekalipun akan merasakan takut ketika menghadapi hal yang baru. Tapi takut bukan berarti kita harus berhenti melangkah."

Shanum mengusap sudut matanya dengan sapu tangan, lalu kembali menatap Aran. "Tapi Devan tahu semua celah di perusahaan saya, Aran. Dia tahu cara memanipulasi laporan itu."

"Tapi dia tidak memiliki satu hal yang Anda miliki," sahut Aran mantap.

"Apa?"

"Kebenaran," jawab Aran singkat namun menghujam. Aran menatap lantai di antara mereka, menjaga ghaddul bashar dengan sangat santun sebelum melanjutkan, "Di dunia saya yang dulu, kebohongan bisa menang jika didukung oleh kekuatan senjata dan gertakan. Tapi kebenaran yang didasari oleh niat yang bersih dan tekad yang lurus memiliki kekuatannya sendiri. Kebohongan Devan disusun di atas fondasi pasir, begitu ombak hukum dihantamkan secara tepat, seluruh narasi rekayasanya akan runtuh."

Shanum tertegun. Kata-kata Aran yang lugas namun kaya akan perenungan hidup membuat beban berat di dadanya perlahan terangkat.

"Dan satu hal lagi, Shanum," tambah Aran, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang amat hangat. "Anda tidak berjalan sendirian. Ada Pak Rasyid, ada Pak Baskara, dan ada saya yang tidak akan membiarkan sehelai rambut Anda disakiti atau kehormatan Anda diinjak-injak oleh orang-orang seperti Devan."

Shanum menatap Aran dengan rona hangat yang perlahan muncul di pipinya. Rasa canggung dan getaran asing yang lembut menyusup ke relung hatinya. Perhatian dan keteguhan Aran yang dibungkus dengan adab yang begitu tinggi membuat Shanum merasa terlindungi—bukan hanya secara fisik, melainkan jiwa dan mentalnya.

"Terima kasih, Aran," bisik Shanum tulus, menyunggingkan senyum manisnya yang pertama malam itu. "Kata-katamu selalu berhasil membuat saya tenang."

"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Shanum," balas Aran pelan.

Pintu depan utama kediaman mendadak terbuka. Langkah kaki berat yang mantap terdengar mendekati ruang tengah. Baskara melangkah masuk, mengibaskan sisa air hujan dari jaket kulitnya. Wajah pimpinan keamanan senior itu tampak serius, membawa satu map tebal berisi pemetaan taktis terbaru.

"Shanum, kamu beristirahatlah di kamar," ujar Baskara dengan nada tegas namun penuh kepedulian. "Biar aku dan Aran yang merancang strategi pertahanan dan langkah taktis kita selanjutnya."

Shanum mengangguk paham. Ia berdiri dari sofa, merapikan jilbabnya, lalu menatap Aran dan Baskara bergantian. "Tolong jangan bekerja sampai terlalu larut, Mas Baskara, Aran. Terima kasih untuk malam ini."

Setelah Shanum melangkah naik ke lantai dua dan pintu kamarnya tertutup rapat, suasana di ruang tengah seketika berubah. Aura kehangatan meluap, berganti menjadi atmosfer profesional yang dingin dan taktis.

Baskara membentangkan peta kawasan perumahan safehouse serta jalur utama menuju kantor pusat di atas meja kayu. Aran melangkah mendekat, berdiri di sisi meja seraya memperhatikan setiap titik koordinat yang ditandai warna merah.

"Tim hukum Paman Rasyid sudah menyusun lembar sanggahan atas somasi Devan," Baskara membuka perbincangan, suaranya berat. "Tapi seperti yang kamu duga, Aran... ini cuma gertakan untuk mengulur waktu. Devan tahu laporan audit fisik Shanum sangat mematikan."

"Mereka ingin memicu kepanikan mental Shanum agar dia mengambil keputusan yang terburu-buru," sahut Aran dingin, matanya tertuju pada tiga rute jalan utama keluar dari kompleks. "Musuh tahu bahwa Shanum adalah jantung dari perlawanan ini. Jika mental Shanum runtuh, seluruh perlawanan Al-Maktoum Group akan goyah."

"Lalu apa langkah kita selanjutnya?" tanya Baskara, menatap Aran dengan pandangan penuh rasa hormat yang baru. "Kubu Surya Wijaya punya akses ke oknum aparat dan jaringan eksekutor jalanan. Jika jalur hukum tandingan mereka tertahan, mereka tidak akan ragu menggunakan cara kasar."

Aran mengusap dagunya, pikiran taktisnya bekerja cepat membayangkan segala kemungkinan buruk.

"Kita harus membagi strategi menjadi dua baris," papar Aran presisi. "Pertama, biarkan tim hukum resmi berjalan di jalur hukum secara tertutup tanpa perlu mengumbar pernyataan apa pun ke publik. Jangan beri Surya dan Devan panggung untuk membaca pergerakan dokumen kita."

"Setuju," potong Baskara. "Lalu baris kedua?"

"Baris kedua adalah pertahanan total di lapangan," tegas Aran, menunjuk titik-titik rawan pada peta. "Surya dan Devan sedang terdesak kebutuhan dana kampanye Walikota. Begitu mereka menyadari sanggahan hukum kita kokoh, mereka akan beralih dari meja perundingan ke serangan fisik langsung. Mereka akan mencoba mengisolasi Shanum, mengintimidasi kediaman ini, atau bahkan mencoba menculiknya untuk dijadikan posisi tawar."

Baskara mengepalkan tangannya di atas meja. "Aku sudah menempatkan delapan personel terbaik di perimeter luar area ini."

"Tambah dua personel lagi di titik buta sebelah barat, Pak Baskara," koreksi Aran cermat. "Pohon-pohon rindang di area itu terlalu rimbun, sangat cocok untuk penyusupan jarak dekat. Mulai besok pagi, seluruh pergerakan Shanum, baik untuk menemui tim hukum maupun peninjauan lapangan harus menggunakan dua mobil pengawal cadangan dengan rute acak."

Baskara menatap Aran dengan decak kagum yang tak disembunyikan. Ketajaman analisis pengawal muda itu benar-benar menutup setiap celah keamanan yang sempat terlewat olehnya.

"Baik, aku akan atur penambahan personel dan pengacakan rute malam ini juga," ujar Baskara seraya menggulung kembali petanya. Ia menatap Aran lurus-lurus. "Malam ini Shanum tampak jauh lebih tenang setelah bicara denganmu. Terima kasih, Aran."

"Saya hanya menjalankan tugas, Pak Baskara," sahut Aran rendah hati.

"Bukan cuma tugas," bisik Baskara tipis seraya menepuk bahu Aran kokoh. "Kamu memberinya keberanian. Dan di tengah badai yang sedang datang ini, keberanian Shanum adalah kunci keselamatan kita semua."

Aran mengangguk pelan. Setelah Baskara melangkah keluar untuk memeriksa pos pengawasan luar, Aran berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menatap rintik hujan yang membasahi kegelapan malam. Di atas lantai dua, Shanum sedang beristirahat dengan aman. Aran mengepalkan tangannya di balik saku, menyatukan tekad dan janjinya, badai apa pun yang akan dikirimkan oleh Devan dan Surya Wijaya besok, ia akan berdiri paling depan sebagai perisai yang tak akan pernah bisa ditembus.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!