NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:563
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30.

Firasat yang Tak Salah

Malam itu suasana rumah sudah hening, lampu-lampu ruangan mulai dipadamkan. Namun Aisyah masih duduk tegak di meja belajarnya, matanya menatap buku pelajaran dengan saksama. Entah kenapa sejak tadi sore ada perasaan aneh di hatinya, seolah ada bisikan halus yang menyuruhnya untuk meninjau kembali materi pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.

"Kenapa tiba-tiba aja rasanya harus belajar ya?" gumamnya pelan sambil membalik halaman buku. "Biasanya kalau ada ulangan pasti sudah diumumkan jauh hari. Tapi firasatku kok kuat banget ya besok bakal ada yang tak terduga."

Tanpa menunggu lama, Aisyah pun mulai belajar dengan sungguh-sungguh. Ia mencatat poin-poin penting, mengulang rumus yang sulit diingat, dan membaca ulang contoh esai yang pernah diajarkan Bu Ratna. Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah hampir satu jam ia tekun membaca. Perlahan matanya mulai terasa berat, kepalanya pun mengangguk pelan menahan kantuk yang tak tertahankan.

"Sudah cukup dulu ya," bisiknya sambil menutup buku perlahan. "Kalau dipaksakan malah nggak masuk ke otak. Besok semoga saja bermanfaat ya."

Ia pun segera membereskan meja, mencuci muka, lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Tak lama kemudian ia terlelap nyenyak.

Keesokan harinya, suasana kelas terasa biasa saja saat mereka masuk. Belum ada tanda-tanda ada kegiatan khusus. Namun tepat setelah doa pagi selesai, Bu Ratna masuk ke dalam kelas sambil membawa tumpukan lembar kertas berwarna putih.

"Anak-anak, duduk tenang," ucap Bu Ratna dengan wajah datar. "Hari ini kita akan laksanakan ulangan harian mendadak. Tidak ada pemberitahuan sebelumnya, kerjakan dengan jujur dan sungguh-sungguh."

Seketika ruangan itu berubah riuh rendah. Banyak siswa yang menahan napas, saling pandang dengan wajah bingung dan cemas karena belum sempat membuka buku sama sekali.

Aisyah yang awalnya terkejut, perlahan tersenyum lega. Dadanya terasa ringan dan bahagia. Firasatnya ternyata benar-benar nyata! Materi yang baru saja ia pelajari kemarin malam persis sekali dengan cakupan soal yang akan dikerjakan.

Saat lembar soal dibagikan, Aisyah melirik sekilas isinya. Ternyata bukan soal pilihan ganda seperti yang sering mereka kerjakan, melainkan soal uraian dan esai panjang. Ia menarik napas panjang, sedikit ragu apakah jawabannya sudah tepat atau belum, tapi rasa percaya diri tetap menyelimuti hatinya. Setidaknya ia sudah berusaha belajar, dan itu jauh lebih baik daripada tidak tahu sama sekali.

Bel selesai berbunyi, dan mereka pun mengumpulkan lembar jawaban. Saat jam istirahat tiba, Rara segera menghampiri Aisyah yang sedang merapikan alat tulis.

"Syah, kamu tadi nggak kaget banget kok?" tanya Rara penasaran. "Soalnya tadi soalnya esai semua, lho. Kebanyakan anak panik banget."

Aisyah tersenyum tipis sambil mengangguk. "Iya, aku juga sempat kaget kok. Tapi entah kenapa kemarin malam aku tiba-tiba aja punya firasat aneh kalau besok bakal ada ulangan. Jadi aku belajar lumayan lama sebelum tidur."

"Wah, beruntung banget deh kamu!" seru Rara kagum. "Terus gimana rasanya ngerjain soalnya? Kamu yakin nggak sama jawabannya?"

Aisyah menggeleng pelan tapi tetap tersenyum tenang. "Jujur belum yakin seratus persen benar atau tidaknya. Tapi setidaknya aku sudah berusaha menulis apa yang aku ingat dan aku paham. Jadi aku merasa cukup percaya diri saja."

"Syukurlah kalau begitu," ucap Rara lega sambil menepuk bahu Aisyah. "Paling tidak kamu nggak kosong melompong kayak aku yang cuma menebak-nebak aja."

Mereka pun tertawa pelan, lalu berjalan bersama menuju kantin. Bagi Aisyah, kejadian ini menjadi pengingat bahwa usaha kecil yang dilakukan dengan kesadaran seringkali menjadi hal yang paling berharga di saat yang tak terduga.

Nilai yang Membuktikan Segalanya

Bel istirahat baru saja selesai, Bu Ratna sudah masuk ke kelas membawa tumpukan lembar jawaban yang sudah dinilai. Suasana kelas seketika hening, semua mata tertuju pada kertas di tangan guru itu.

"Baiklah anak-anak," ucap Bu Ratna tenang. "Karena ini ulangan mendadak soal esai, hasilnya memang belum seperti yang diharapkan. Tapi ada satu nama yang berhasil menonjol dan menjadi satu-satunya siswa yang lolos dengan nilai tertinggi."

Ruangan itu bergumam pelan, penuh rasa penasaran. Bu Ratna mulai memanggil nama satu per satu, dan wajah siswa yang menerima kertas kebanyakan tampak kecewa. Hingga akhirnya sisa lembar terakhir di tangannya.

"Dan nilai tertinggi diraih oleh... Aisyah," ucap Bu Ratna tegas sambil menyodorkan kertas itu. "Nilai 92, satu-satunya yang tuntas."

Aisyah tertegun sejenak sebelum maju mengambil kertasnya. Sepuluh jari semua mata tertuju padanya, campuran rasa kagum dan tak percaya. Rara yang duduk di sebelah langsung memeluk lengan Aisyah dengan antusias.

"Wah hebat banget kamu, Syah! Satu-satunya lho!" seru Rara kagum.

Laras, Arga, dan Bima pun ikut mendekat, mengangguk bangga. Namun di sudut lain, Dimas menatap Aisyah lekat-lekat. Hatinya bergetar pelan. Selama ini ia hanya mengagumi ketenangan dan kesederhanaan gadis itu, tapi hari ini ia sadar ada hal lain yang jauh lebih hebat: ketekunan dan kecerdasan yang tak pernah dipamer-pamirkan.

"Gue nggak salah menilai dia," batin Dimas dalam hati. "Dia memang bukan sekadar tenang, tapi juga punya isi kepala yang luar biasa."

Dimas pun berjalan mendekat, tersenyum tulus.

"Selamat ya, Syah," ucapnya lembut namun jelas. "Gue kagum banget sama kamu. Di saat orang lain panik, kamu tenang, dan ternyata persiapanmu matang banget. Benar-benar mengagumkan."

Aisyah tersipu malu, pipinya merona pelan. "Terima kasih, Dimas. Aku cuma beruntung kemarin sempat belajar, itu saja kok."

"Bukan sekadar beruntung," potong Dimas pelan. "Itu karena kamu teliti dan tidak meremehkan hal kecil. Gue makin sadar kalau sikap tenang dan rajin kamu itu memang langka."

Aisyah hanya tersenyum simpul, tapi hatinya terasa hangat. Di depan teman-temannya yang kini memuji dengan tulus, ia sadar: kebaikan dan ketulusan yang dibarengi usaha sungguh-sungguh tak akan pernah mengecewakan.

Aisyah memegang erat lembar kertas itu, lalu menatap teman-temannya satu per satu dengan wajah yang masih terlihat tak percaya.

"Jujur ya," ucapnya pelan tapi jelas, "ini benar-benar hanya kebetulan saja kok. Bukan sesuatu yang aku rencanakan atau aku duga bakal terjadi begini. Entah kenapa tiba-tiba saja ada firasat aneh di hatiku kemarin malam, seolah menyuruh aku untuk membuka buku sebentar. Jadi aku belajar sebentar saja sebelum tidur, aku sendiri juga tidak menyangka kalau materinya pas sekali dan bisa mendapatkan nilai setinggi ini."

Dimas tersenyum makin lebar mendengar penjelasan itu. Justru kerendahan hati Aisyah yang menganggapnya sekadar keberuntungan itu makin membuatnya merasa kagum.

"Itu bukan sekadar kebetulan semata, Syah," timpal Dimas lembut. "Firasat itu muncul karena kamu memang terbiasa disiplin dan tidak pernah lengah. Kalau kamu orang yang malas, sekalipun diberi firasat, pasti juga tidak akan mau berusaha. Jadi ini gabungan antara kepekaan hatimu dan kerajinanmu sendiri."

Rara mengangguk setuju sambil menepuk pundak Aisyah. "Bener kata Dimas. Kamu nggak perlu merasa sungkan atau menganggap ini cuma nasib baik. Usahamu kemarin malam yang bikin kamu berhak dapat nilai ini."

Aisyah tersenyum lega, rasa canggung di hatinya perlahan hilang. Ia sadar, mungkin memang ada hal tak terduga yang membawanya ke sini, tapi setidaknya ia sudah berusaha sebaik mungkin.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!