NovelToon NovelToon
Kebohongan Besar Di Balik PernikahanKu

Kebohongan Besar Di Balik PernikahanKu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:31k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Pernikahan adalah tentang kepercayaan. Setidaknya itu yang diyakini oleh Arini selama lima tahun pernikahannya dengan Galang. Namun saat kenyataan itu terungkap secara tidak sengaja, ternyata pernikahan mereka hanyalah sebuah lelucon yang dibuat oleh suami dan selingkuhannya selama ini. Dan dia hanyalah wanita bodoh yang tidak tau apa-apa, dan sudah bekerja keras untuk membangun reputasi suaminya sebagai istri yang baik selama ini.

Hancur dan merasa di bohongi sudah pasti, lalu apa yang akan dilakukan Arini setelah mengetahui semua kebohongan suaminya?
Apakah dia bisa bertahan di kerasnya hidup tanpa Galang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penerimaan

Minggu pagi, langit Jakarta tampak lebih cerah dari biasanya, namun hati Arini justru diliputi kecemasan yang luar biasa. Kevin telah memintanya untuk datang ke rumah orang tuanya untuk makan siang bersama. Bagi orang lain, ini mungkin hanya kunjungan biasa, namun bagi Arini, ini adalah langkah besar yang terasa sangat berat.

​"Vin, sepertinya ini bukan ide yang baik," ucap Arini saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju kediaman keluarga Mahendra. Arini terus merapikan blus batiknya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Aku ini janda, Kevin. Baru saja melewati skandal besar yang menghiasi semua media nasional. Apa yang akan dipikirkan orang tuamu tentang wanita yang menghancurkan mantan suaminya sendiri?"

​Kevin memperlambat laju mobilnya, lalu menoleh ke arah Arini dengan tatapan yang sangat menenangkan. Ia meraih tangan Arini yang terasa dingin dan sedikit gemetar.

​"Rin, dengarkan aku," suara Kevin berat dan penuh keyakinan. "Orang tuaku bukan orang asing bagimu. Kamu sudah mengenal mereka sejak kita masih di duduk di bangku sekolah. Mereka tahu siapa kamu sebenarnya. Mereka bukan orang yang menilai seseorang dari judul berita atau status pernikahan. Mereka merindukanmu, Rin. Mereka ingin menjalin kembali silaturahmi yang sempat terputus karena... yah, karena keadaan masa lalu."

​"Tapi aku merasa tidak pantas, Vin. Aku merasa kotor dengan semua intrik dan dendam yang baru saja kuselesaikan," bisik Arini lirih.

​"Justru karena itu kamu harus datang," balas Kevin lembut. "Rumah orang tuaku adalah tempat di mana kamu bisa menjadi Arini yang dulu. Bukan Arini sang Direktur Samudera Group, bukan Arini sang 'Iron Lady'. Hanya Arini, gadis pintar yang dulu sering membantuku mengerjakan tugas. Percayalah padaku."

​Rumah orang tua Kevin terletak di sebuah kawasan asri yang dipenuhi pepohonan besar. Jauh dari kebisingan kota, rumah itu tampak sederhana namun elegan dengan arsitektur klasik. Saat mobil memasuki halaman, Arini melihat dua sosok paruh baya sudah berdiri di teras rumah.

​Ibu Kevin, seorang wanita dengan wajah teduh dan sanggul sederhana, langsung melambaikan tangan dengan senyum lebar. Di sampingnya, Ayah Kevin yang tampak gagah dengan kemeja katunnya, mengangguk ramah.

​Saat Arini turun dari mobil, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia melangkah ragu, namun sebelum ia sempat mengucapkan kata maaf atau salam yang kaku, Ibu Kevin sudah lebih dulu menghambur ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat.

​"Ya ampun, Arini... Sayang, apa kabar?" bisik Ibu Kevin di telinganya. Aroma melati yang menenangkan dari tubuh beliau seketika meruntuhkan tembok pertahanan Arini.

​"Tante... maaf, Arini baru sempat berkunjung," suara Arini bergetar.

​"Sstt... jangan minta maaf," Ayah Kevin mendekat dan menepuk bahu Arini dengan sifat kebapakannya. "Kami mengikuti semua beritamu. Kami bangga melihatmu berdiri tegak. Ayo masuk, udara di luar mulai panas. Tante sudah masak rendang kesukaanmu, yang bumbunya persis seperti yang sering kamu minta dulu."

​Arini terpana. Mereka bahkan masih ingat makanan kesukaannya. Di dalam rumah yang penuh dengan foto-foto keluarga itu, Arini tidak menemukan penghakiman. Tidak ada pertanyaan tentang Galang, tidak ada sindiran tentang statusnya, dan tidak ada pembahasan soal bisnis.

​Suasana di meja makan terasa sangat hangat. Kevin terus-menerus melontarkan lelucon tentang masa sekolah mereka, membuat suasana menjadi cair.

​"Dulu Arini ini yang paling rajin dan selalu membantuku, Ma. Kalau tidak ada dia, mungkin aku tidak akan lulus ujian akhir," canda Kevin sambil mengambilkan nasi untuk Arini.

​"Tante sudah tahu sejak dulu kalau Arini ini pintar," sahut Ibu Kevin sambil tersenyum tulus. "Tapi Rin, sesekali kamu harus istirahat untuk dirimu sendiri. Wajahmu terlihat lelah, meski tetap cantik alami. Jangan biarkan pekerjaan mengambil seluruh kebahagiaan dan hidupmu. Belajarlah dari pengalaman"

​Arini mengangguk, merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan dari sebuah keluarga yang utuh. "Terima kasih, Tante. Belakangan ini memang banyak hal yang menguras energi. Tapi bertemu Tante dan Om hari ini rasanya seperti pulang ke rumah."

​Ayah Kevin berdehem pelan, meletakkan sendoknya, lalu menatap Arini dengan serius namun lembut. "Arini, Om ingin memberikan sebuah nasehat. Hidup itu seperti kapal. Kadang kita bertemu badai, kadang kapal kita hampir karam karena nahkoda yang salah. Tapi yang paling penting adalah kamu berhasil membawa kapalmu ke pelabuhan yang aman. Jangan pernah merasa malu atas apa yang sudah terjadi. Kamu adalah korban yang memilih untuk bangkit, dan itu sangat terhormat di mata kami."

​Mendengar itu, Arini tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis, namun kali ini bukan tangis kesedihan. Ini adalah tangis kelegaan. Selama ini ia merasa seluruh dunia menghakiminya, namun di sini, di rumah Kevin, ia diterima sepenuhnya sebagai manusia, bukan sebagai penghancur.

​Setelah makan siang, Kevin mengajak Arini duduk di taman belakang yang asri. Orang tua Kevin memberikan mereka ruang untuk berbicara berdua.

​"Bagaimana? Benar kan kataku?" tanya Kevin sambil menyodorkan segelas jus jeruk dingin.

​Arini mengangguk, menghapus sisa air mata di pipinya. "Aku tidak menyangka mereka akan sebaik ini, Vin. Dan masih menerimaku. Aku merasa sangat... dicintai."

​"Karena kamu memang layak dicintai, Rin," Kevin duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan namun terasa dekat. "Orang tuaku sudah lama berharap silaturahmi ini terjalin lagi. Mereka selalu menyayangimu, terlepas dari siapa suamimu dulu."

​Arini menatap Kevin dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. "Terima kasih, Vin. Kamu sudah membawaku kembali ke tempat yang benar. Kamu membuktikan padaku bahwa tidak semua hubungan harus didasari oleh kepentingan atau pengkhianatan."

​Kevin tersenyum, hatinya membuncah melihat gurat kebahagiaan mulai kembali di wajah Arini. "Ini baru permulaan, Rin. Aku ingin kamu tahu bahwa pintu rumah ini, dan pintu hatiku, akan selalu terbuka untukmu. Tanpa syarat."

​Sore itu, saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, Arini menyadari sesuatu. Dendamnya pada Galang mungkin telah memberinya kemenangan materi dan nama baik, namun kasih sayang tulus dari Kevin dan keluarganya lah yang memberinya kemenangan atas jiwanya sendiri.

​Ia pulang dari rumah itu bukan lagi sebagai wanita yang waspada terhadap setiap pria, melainkan sebagai wanita yang mulai berani bermimpi tentang masa depan. Arini tahu, perjalanan cintanya mungkin tidak akan instan, namun dengan Kevin di sisinya, ia tidak lagi takut menghadapi ombak setinggi apa pun. Ia telah menemukan pelabuhan yang sesungguhnya, sebuah tempat di mana ia tidak perlu menjadi kuat sepanjang waktu. Tempat di mana ia bisa menjadi Arini, wanita yang dicintai apa adanya.

1
Ade Chubi
pede banget si Galang
partini
nipu kamu aja yg gampang jadi laki 50/50 lah kalian berdua
Mefiani
semoga galang mau sembuh biar bisa membalas perbuatan dita...
Anita Rahayu
Thor karma dita kapan nich di tuli penasaran kali
Eys Resa: hehehe, nanti kak.
total 1 replies
I Love you,
mati ajah biar 🤔😤ga siksa
Ma Em
Selamat untuk Arini ternyata Arini tdk mandul dan sekarang Arini sdh hamil , vonis mandul itu ternyata hanya kebohongan dari Galang agar Arini mau merawat anak Galang bersama perempuan lain dan sekarang Galang nya sdh dapat balasan nya .
Eys Resa: nanti kejutannya di bab 41 kak
total 1 replies
Mefiani
rasane q melu terharu n bahagia..😘
Mefiani: ok...gak sabar nunggu..
total 2 replies
I Love you,
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰🥰 sehat sehat ya .!
Eys Resa: aamiin❤
total 1 replies
Mefiani
selamat...selamat...arini dan kevin...calon ortu baru..😘
Mefiani
tanda2 hamidun itu...semoga saja
Mefiani: sorry...sorry..baru tau q...q kira sama aja artine sama hamil biasa...terima kasih dah beritau..😘
total 2 replies
Ayudya
mampir kak
Eys Resa: makasih kak🌹
total 1 replies
Titien Prawiro
Kevin, Arini. selalu bahagia ya
Titien Prawiro
Senjata makan tuan.
Titien Prawiro
Enak Lang jadi miskin, kembali ke asal.
Titien Prawiro
Tunggu tgl mainnya Galang, kamu bisa menikmati kemiskinnanmu
Titien Prawiro
tulllll
Titien Prawiro
Galang kamu jgn kaget kalau kamu gk punya apa2 lagi ya. selamat Galang.
Titien Prawiro
perusahaannya Galang diambil alih ke Arini, Galang jadi miskin.
Titien Prawiro
Hancurkan perusahaan Galang Arini, balas dendam dengan elegan.
Titien Prawiro
Kalau Galang minta gono gini gk perlu soalnya gk ada surat nikahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!