Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Bandara Mopah, Merauke, pagi itu dipenuhi oleh hiruk-pikuk penumpang yang akan terbang ke bagian barat Indonesia. Aroma avtur dan kopi dari kedai kecil di sudut ruang tunggu menguar di udara, bercampur dengan embusan angin pesisir yang membawa hawa perpisahan.
Di depan pintu keberangkatan, Cia berdiri menatap suaminya.
Mayor Ren Adhyaksa telah kembali mengenakan seragam Pakaian Dinas Harian (PDH) warna hijaunya yang tanpa cela. Posturnya tegap menjulang, baret hijau terlipat rapi di bawah epaulette pundak kirinya. Wajah pria itu kembali ke setelan pabriknya jika berada di tempat umum—datar, tenang, dan berwibawa.
Namun, Cia tahu persis apa yang bersembunyi di balik sepasang mata elang yang kini menatapnya lamat-lamat itu. Ada keengganan yang sangat besar untuk melangkah melewati pintu kaca tersebut.
"Maskapainya bilang cuaca di atas sedikit berawan. Kalau terjadi turbulensi, jangan panik, baca doa," pesan Cia sambil merapikan kerah seragam Ren yang sebenarnya sudah sangat rapi. Tangannya bergerak sangat lambat, sengaja mengulur waktu.
Ren menangkap kedua tangan Cia yang berada di kerahnya, lalu menggenggamnya erat di depan dada. Ibu jari pria itu mengusap punggung tangan istrinya.
"Kamu sudah mengatakan hal itu tiga kali sejak kita turun dari mobil, Almeera," suara bariton Ren terdengar rendah, sebuah senyum tertahan berkedut di sudut bibirnya. "Saya instruktur taktik tempur, bukan anak sekolah dasar yang baru pertama kali naik pesawat."
"Iya, iya, tahu. Panglima tempur mah bebas," rajuk Cia, bibirnya mengerucut. Ia menunduk, menatap sepatu ketsnya. Tiba-tiba saja, rasanya sangat sulit untuk melepaskan genggaman tangan suaminya. "Empat bulan, Mas. Lama banget rasanya."
Ren melepaskan sebelah tangannya, mengangkat dagu Cia hingga gadis itu mau tak mau menatapnya.
"Empat bulan tidak akan terasa lama jika kamu sibuk menyelamatkan nyawa pasienmu, Dokter," ucap Ren lembut. Pria itu mengabaikan beberapa pasang mata calon penumpang yang mencuri pandang ke arah mereka. Ia mencondongkan tubuhnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan menenangkan di kening Cia.
Saat Ren melepaskan kecupannya, ia menatap lurus ke dalam manik mata Cia. "Jaga dirimu baik-baik di sini. Jangan lupa makan. Jangan pernah menembus hutan sendirian. Jika terjadi sesuatu, hubungi komandan Korem setempat. Saya sudah menitipkan namamu padanya."
Cia mengangguk pelan, air mata menggenang di pelupuk matanya namun ia menahannya sekuat tenaga. Ia sudah berjanji tidak akan menangis hari ini. "Kamu juga, Mayor. Jangan telat makan. Jangan gila kerja di Pusat Pendidikan sampai lupa istirahat. Fisioterapinya dilanjutin sendiri."
Ren mengangkat tangan kanannya, memberikan hormat militer yang sempurna kepada istrinya. Sebuah penghormatan yang hanya ia berikan pada jenderal bintang dan bendera negara, kini ia persembahkan untuk dokter kecilnya.
"Siap laksanakan, Panglima."
Ren membalikkan badan, melangkah masuk ke ruang tunggu keberangkatan tanpa menoleh lagi. Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena di dunia militer, menoleh ke belakang saat perpisahan adalah hal yang paling pantang dilakukan—itu akan meruntuhkan ketegaran hati seorang prajurit.
Cia berdiri mematung hingga punggung tegap suaminya menghilang di balik kerumunan. Tangannya meremas dog tag di balik kemejanya.
Hanya empat bulan, Cia. Kamu pasti bisa.
Dua Bulan Kemudian - Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif), Cipatat, Jawa Barat.
Matahari bersinar sangat terik memanggang lapangan aspal yang luas. Di tengah lapangan, sepeleton perwira siswa yang sedang menjalani pendidikan lanjutan berdiri dalam posisi sikap sempurna. Keringat membanjiri wajah mereka yang tegang, namun tak ada satu pun yang berani menggerakkan otot.
Di depan mereka, Mayor Ren Adhyaksa berjalan mondar-mandir dengan langkah yang terukur.
Ren mengenakan seragam PDL, kacamata hitam aviator, dan memegang sebuah tongkat komando kecil di tangan kanannya yang kini telah sembuh total. Auranya begitu mematikan. Reputasi Ren sebagai mantan Komandan Pasukan Khusus yang lolos dari penyanderaan separatis membuat namanya melegenda di kalangan siswa pendidikan.
"Kalian menyebut itu formasi pertahanan?!" suara bariton Ren menggema, keras, tajam, dan tanpa ampun. "Jika ini medan tempur yang sebenarnya, kalian semua sudah mati di menit pertama! Kecepatan rotasi kalian lambat! Koordinasi titik buta kalian hancur! Di medan operasi, musuh tidak akan menunggu kalian selesai mengatur napas!"
Siswa-siswa itu menelan ludah. Tak ada yang berani bersuara. Mayor Ren adalah instruktur paling ditakuti. Pria itu tidak pernah tersenyum, tidak pernah memberikan toleransi, dan matanya seolah bisa membaca kelemahan setiap prajurit.
"Ulangi simulasi dari titik awal! Jika dalam lima menit kalian tidak bisa membentuk perimeter aman, lari keliling lapangan sepuluh kali dengan beban penuh! Bubar jalan!"
Siswa-siswa itu langsung membubarkan diri dengan teriakan komando yang lantang, berlari menuju titik awal simulasi.
Ren berdiri diam, mengawasi pergerakan mereka. Di saat itulah, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah nada dering khusus yang telah ia setting berbunyi.
Tanpa mengubah postur tegapnya, Ren merogoh saku dan mengambil ponselnya. Ia membuka pesan WhatsApp yang baru masuk.
Almeera Cia:
Mas!!! Aku baru aja berhasil bantu persalinan bayi sungsang darurat di Puskesmas! Ibunya selamat, bayinya nangis kenceng banget! Punggungku pegal setengah mati, tapi seneng banget rasanya! Coba tebak nama bayinya siapa? Bayinya dinamain 'Ren', soalnya ibunya ngefans sama tentara ganteng yang waktu itu nangkep ayamnya yang lepas pas banjir. Hahaha!
Diikuti dengan sebuah foto Cia yang mengenakan scrub hijau, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang sangat lelah namun tersenyum luar biasa cerah sambil mengacungkan dua jari peace.
Membaca pesan dan melihat foto itu, dinding es di wajah Mayor Ren Adhyaksa seketika mencair. Ujung bibirnya melengkung ke atas, membentuk sebuah senyum lebar yang memperlihatkan deretan giginya. Matanya menyipit bahagia. Jempolnya dengan cepat mengetik balasan.
Ren:
Kerja bagus, Dokter Hebat. Tolong sampaikan pada bayi itu, nama 'Ren' sangat berat untuk disandang. Saya bangga padamu. Istirahatlah.
Di seberang lapangan, para siswa yang sedang bersiap memulai simulasi tak sengaja melihat pemandangan itu. Mereka saling sikut dengan tatapan horor.
"Gila, Mayor Ren senyum?!" bisik salah satu siswa dengan wajah pucat. "Senyumnya lebar banget lagi. Ini pertanda apa? Kiamat?"
"Jangan-jangan dia lagi ngetik surat DO (Drop Out) buat kita sambil senyum psikopat," balas siswa lainnya bergidik ngeri.
Ren mematikan layar ponselnya, memasukkannya kembali ke saku. Saat ia mengangkat wajah, senyum hangat itu lenyap tak berbekas dalam hitungan milidetik. Wajah algojonya kembali terpasang sempurna.
"Apa yang kalian tunggu?! Waktu kalian tinggal empat menit!" raung Ren dari seberang lapangan.
Para siswa itu langsung kocar-kacir, menyadari bahwa sang instruktur memang benar-benar manusia tanpa ampun (kecuali untuk satu nama di kontaknya).
Empat Bulan Kemudian - Puskesmas DTP Merauke.
"Dokter Cia, terima kasih banyak ya untuk pengabdiannya selama satu tahun ini. Kami pasti akan sangat kehilangan tenaga dokter yang sigap dan nggak pernah ngeluh kayak Dokter."
Kepala Puskesmas mengalungkan sebuah noken (tas rajut khas Papua) ke leher Cia sebagai tanda kenang-kenangan. Di ruang rapat Puskesmas itu, sebuah acara perpisahan sederhana digelar untuk melepas Cia dan dr. Rian yang telah menyelesaikan masa internsip mereka.
Mata Cia berkaca-kaca. Ia memeluk para perawat dan bidan yang selama setahun ini sudah menjadi keluarganya. "Saya yang makasih banyak, Bapak, Ibu. Saya banyak belajar di sini. Ilmu yang sesungguhnya ternyata bukan di buku tebal, tapi di tengah-tengah masyarakat."
Acara itu diwarnai tawa dan haru. Cia menerima lembaran Surat Tanda Selesai Internsip yang merupakan tiket emasnya untuk mendapatkan SIP. Perjuangannya membuahkan hasil. Ia bukan lagi 'koas' atau 'dokter magang'. Mulai hari ini, ia adalah dr. Almeera Cia seutuhnya.
Sore itu, setelah selesai packing di kamarnya, Cia duduk di tepi kasur. Kopernya sudah tertutup rapat. Jadwal penerbangannya ke Jakarta adalah besok pagi.
Gadis itu menatap layar ponselnya. Tidak ada pesan dari Ren sejak pagi. Suaminya itu bilang minggu ini adalah jadwal ujian akhir lapangan bagi para siswanya, sehingga Ren mungkin akan sangat sibuk dan berada di hutan latihan tanpa sinyal.
Cia menyunggingkan senyum jahil.
Sebenarnya, Ren pernah meminta jadwal detail penerbangan Cia agar ia bisa mengurus izin untuk menjemput di bandara. Namun, Cia sengaja memberikan tanggal penerbangan yang terlambat satu hari dari jadwal aslinya. Ia ingin memberikan kejutan.
Cia membuka ruang obrolannya dengan seseorang yang sangat bisa diandalkan dalam urusan 'misi rahasia'.
Cia: Bima, besok pagi jam 10 aku mendarat di Soekarno-Hatta. Kamu beneran bisa jemput, kan? Mas Ren nggak tahu apa-apa, kan?
Satu menit kemudian, balasan masuk.
Bima: Aman terkendali, Mbak Cia! Kebetulan besok jadwal dinasku libur. Mayor Ren dari kemarin uring-uringan di hutan Cipatat ngehukum siswa, dia nggak pegang HP. Nanti aku jemput langsung meluncur ke TKP. Rahasia dijamin aman!
Cia terkekeh pelan. Ia menepuk kopernya. Tunggu aku, Mas.
Keesokan Harinya - Jakarta.
Udara panas dan lembap khas ibu kota menyambut Cia saat ia melangkah keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Setelah satu tahun terbiasa dengan udara timur yang keras, menghirup aroma polusi Jakarta terasa aneh namun sekaligus membawa nuansa nostalgia rumah.
Sebuah klakson pendek berbunyi tak jauh dari lobi kedatangan.
Sebuah mobil Honda HR-V hitam menepi. Kaca pengemudi terbuka, menampilkan wajah Letnan Bima yang tersenyum lebar dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Pria itu tidak mengenakan seragam militer, melainkan kaus polo santai.
"Selamat datang kembali di peradaban, dr. Almeera Cia!" sapa Bima riang, segera turun untuk membantu memasukkan koper Cia ke bagasi.
"Bima! Ya ampun, makasih banget udah mau direpotin jemput," Cia memeluk lengan sahabat suaminya itu dengan lega. "Gimana kondisi ginjalmu? Udah seratus persen?"
"Sembilan puluh sembilan persen, Mbak! Sisanya nunggu dikasih traktir makan siang sama dokter yang baru lulus," canda Bima, membukakan pintu penumpang untuk Cia.
Setelah masuk ke dalam mobil, Bima melajukan kendaraannya membelah jalan tol menuju Bandung.
"Mas Ren beneran nggak tahu aku pulang hari ini?" tanya Cia, masih sedikit waswas kejutannya gagal.
"Nggak tahu, Mbak. Tadi pagi aku sempat kontak Provost di Pusdikif, katanya Mayor Ren baru turun gunung nanti sore. Pas banget kan? Kita meluncur sekarang, sampai sana sore," jelas Bima santai.
Cia mengerutkan kening. "Kita... ke Cipatat? Ke asrama Pusdikif?"
Bima menoleh sekilas sambil tersenyum penuh arti. "Siapa bilang kita ke asrama militer, Mbak? Mayor Ren kan waktu itu pernah bilang mau siapin rumah sesungguhnya buat Mbak Cia."
Cia membelalakkan mata. Ia memang ingat janji Ren di bawah langit Papua waktu itu. Tapi ia pikir Ren hanya bercanda, atau setidaknya menyewa rumah biasa di dekat pangkalan.
"Maksudmu... Mas Ren beli rumah?"
"Mayor Ren itu nabung gajinya dari zaman Letnan, Mbak. Apalagi duit tunjangan tugas operasinya utuh nggak pernah dipakai. Kalau cuma buat DP rumah di perumahan sipil mah, kecil buat dia," kekeh Bima. "Dia beli rumah di kawasan cluster dekat area Bandung Utara. Jaraknya lumayan sih ke Cipatat, tapi dia milih di sana karena dekat sama salah satu Rumah Sakit Swasta besar. Katanya biar Mbak Cia gampang ngelamar kerjanya nanti."
Hati Cia bergetar hebat. Pria itu... bahkan di tengah kesibukannya menjadi instruktur yang kejam, masih memikirkan karier dan kenyamanan istrinya hingga ke detail pemilihan lokasi rumah. Cia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan rona merah dan air mata haru yang mulai menggenang.
Perjalanan memakan waktu hampir tiga jam karena macet akhir pekan. Saat mobil Bima berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan cluster yang tenang, asri, dan jauh dari kesan kaku barak militer, Cia menahan napas.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern bercat putih bersih dengan ornamen batu alam dan taman kecil di bagian depan. Di carport-nya, terparkir Jeep Wrangler hitam milik Ren.
"Lho, Jeep-nya ada? Mas Ren udah pulang?" Cia membulatkan mata.
"Kayaknya sih udah, Mbak. Mungkin selesai ujiannya lebih awal," Bima mematikan mesin mobil. Pria itu mengambil sebuah kunci dari sakunya dan menyerahkannya pada Cia. "Ini kunci cadangan yang dititipin Mayor Ren ke aku minggu lalu buat jaga-jaga. Sana, masuk duluan. Koper biar aku yang turunin."
Tangan Cia bergetar saat menerima kunci perak itu. Ia melangkah keluar dari mobil, menatap rumah barunya. Tidak ada pagar tinggi, tidak ada pos provost. Ini benar-benar rumah sipil biasa. Sebuah rumah yang dipersiapkan oleh seorang prajurit untuk istrinya.
Cia berjalan perlahan melewati taman kecil, melangkah ke teras, dan memasukkan kunci ke lubang pintu. Klik. Pintu terbuka tanpa suara.
Gadis itu melangkah masuk. Udara di dalam rumah terasa sangat bersih. Perabotannya tidak terlalu padat, khas selera Ren yang minimalis. Ada sofa empuk berwarna abu-abu, televisi besar, dan meja makan kayu jati.
Rumah itu hening.
Cia melangkah lebih dalam, menuju area ruang keluarga. Dan di sanalah langkahnya terhenti.
Di atas karpet berbulu tebal di depan televisi yang dibiarkan menyala tanpa suara, terbaring sosok tegap yang sangat ia rindukan.
Ren mengenakan kaus oblong hijau bekas lapangan dan celana training. Pria itu tertidur pulas dengan posisi telentang, sebelah lengannya menutupi mata untuk menghalau cahaya lampu sore. Wajahnya terlihat luar biasa lelah, rahangnya ditumbuhi jambang yang sedikit lebih lebat dari biasanya, menunjukkan betapa kerasnya minggu ujian di hutan yang baru saja ia lewati.
Di dada Ren, tergeletak sebuah benda.
Cia melangkah mendekat tanpa suara, berjinjit agar sepatunya tidak menimbulkan bunyi. Saat ia tiba di dekat tubuh suaminya, Cia melihat apa yang ada di dada Ren.
Bukan buku taktik militer. Bukan laporan evaluasi.
Itu adalah sebuah bingkai foto berukuran sedang. Foto mereka berdua saat berada di rumah sakit VIP dulu, di mana Ren sedang menatap Cia dengan senyum tipis, dan Cia sedang merengut karena memarahi suaminya yang susah disuruh makan bubur.
Air mata Cia tak bisa dibendung lagi. Setetes air mata jatuh membentur layar kaca bingkai tersebut.
Insting prajurit Ren yang sangat tajam seketika merespons adanya perubahan hawa di sekitarnya dan suara napas yang tak familier. Tubuh pria itu menegang dalam hitungan milidetik.
Ren menyingkirkan lengan dari matanya, siap untuk bangkit dan menyerang penyusup mana pun yang berani masuk ke rumahnya.
Namun, saat matanya terbuka dan fokusnya kembali, pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Di depannya, seorang gadis berambut sebahu yang sedikit berantakan akibat perjalanan, mengenakan kemeja santai, sedang berjongkok menatapnya dengan air mata yang mengalir deras di pipi dan senyum yang sangat lebar. Aroma sabun stroberi seketika memenuhi indra penciuman Ren, mengalahkan bau debu lapangan di tubuhnya sendiri.
"K-kamu..." suara bariton Ren tercekat, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengira ini hanyalah salah satu halusinasi karena terlalu kelelahan.
"Kejutan," bisik Cia dengan suara bergetar, merentangkan kedua tangannya.
Ren tidak butuh waktu satu detik pun untuk berpikir. Pria itu membuang bingkai foto di dadanya ke samping, bangkit duduk, dan langsung menarik Cia ke dalam pelukannya.
Dekapan itu begitu keras, posesif, dan sarat akan kerinduan yang membakar selama empat bulan terakhir. Ren membenamkan wajahnya di perpotongan leher Cia, menghirup aroma istrinya dalam-dalam seolah itu adalah oksigen penyambung nyawanya. Tangan besarnya meremas punggung Cia.
"Almeera..." gumam Ren serak, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang membuat dadanya sesak. "Kamu membohongi saya soal jadwal penerbanganmu."
"Kalau nggak bohong, bukan kejutan namanya, Mayor," Cia membalas pelukan itu tak kalah erat, melingkarkan lengannya di leher Ren, menangis bahagia di bahu pria itu. "Aku pulang, Mas. LDR kita udah selesai. Aku resmi jadi dokter sekarang."
Ren memundurkan wajahnya, menangkup kedua pipi Cia. Ia menatap wajah gadis itu lamat-lamat. Pria itu melihat ada kedewasaan baru di mata Cia, ketangguhan yang ditempa oleh kerasnya alam Papua. Istrinya telah kembali dengan membawa mimpi yang berhasil ia genggam.
"Selamat datang di rumah kita, Dokter Almeera Cia," bisik Ren, matanya memancarkan rasa cinta yang begitu besar dan tak lagi ia sembunyikan.
Ren menunduk, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang memabukkan. Bukan ciuman perpisahan yang terburu-buru, melainkan sebuah sambutan pulang yang panjang, hangat, dan menuntut.
Tepat di saat suasana di ruang keluarga itu semakin intens dan panas, terdengar suara koper besar yang diseret dari arah pintu depan.
"Misi, paket koper nyasar udah sampai di tuju—"
Suara Letnan Bima terputus secara mendadak. Pria yang berdiri di ambang pintu ruang keluarga itu membelalakkan matanya melihat komandannya sedang berciuman panas dengan istrinya di atas karpet.
Bima buru-buru membalikkan badan, menutup kedua matanya dengan tangan layaknya anak kecil. "Ya Allah, Gusti! Maaf, Komandan! Saya nggak lihat apa-apa! Saya cuma lalat lewat! Kopernya saya taruh di teras aja ya! Lanjutkan, Ndan!"
Bima berlari keluar rumah secepat kilat, membanting pintu depan hingga tertutup rapat.
Cia melepaskan ciumannya, terengah-engah dengan wajah semerah tomat matang. Ia memukul dada Ren dengan panik. "Mas! Bima lihat kita! Malu tahu!"
Ren, di sisi lain, sama sekali tidak terlihat peduli. Sang Mayor justru menyunggingkan seringai tipis yang luar biasa menyebalkan sekaligus tampan. Ia menarik pinggang Cia kembali merapat padanya.
"Biarkan saja Letnan Bima melapor pada seluruh batalyon jika dia berani," bisik Ren santai, ibu jarinya mengusap bibir bawah Cia yang sedikit membengkak. Pria itu mencondongkan wajahnya lagi, siap melanjutkan apa yang tadi tertunda. "Di rumah ini, tidak ada Jenderal, tidak ada Letnan. Yang ada hanya kamu, dan saya."
Sore itu, matahari terbenam dengan indah di ufuk barat kota Bandung, menyinari rumah berornamen putih tersebut. Jarak, waktu, badai, dan bahkan campur tangan petinggi militer telah mereka lewati. Perjodohan yang dimulai di meja makan itu kini telah berubah menjadi sebuah ikatan yang tak bisa diputuskan oleh apa pun. Sang Kapten yang dingin telah menemukan rumahnya, dan sang Dokter telah menemukan benteng pertahanan terbaiknya.