NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal tak terkendali

Mercedes-Benz G-Class hitam itu keluar dari jalan tol dan berbelok memasuki area sebuah minimarket yang tampak biasa di pinggir jalan.

Senja mengernyit bingung.

"Pak... kita berhenti di sini?"

"Iya."

"Bukannya tadi kita lagi dikejar?"

Arsen mematikan mesin mobil, namun tatapannya tetap mengawasi kaca spion.

"Justru karena itu."

Belum sempat Senja bertanya lagi, sebuah MPV abu-abu perlahan masuk ke area parkir dari arah belakang. Mobil itu berhenti beberapa petak dari mereka.

Dua pria berpakaian kasual turun lebih dulu.

Sekilas mereka tampak seperti pelanggan biasa.

Namun salah satunya mengangguk hormat ke arah Arsen.

"Selamat pagi, Tuan."

Arsen membalas anggukan tipis.

"Genta?"

"Iya, Tuan."

Genta berjalan mendekat sambil membawa dua tas ransel hitam.

"Mobil kedua sudah siap di belakang gedung."

"Bagus."

"Sedan yang mengikuti masih berada sekitar tiga ratus meter dari sini. Mereka sengaja menjaga jarak."

Arsen mengangguk pelan.

"Sesuai rencana."

Senja hanya berdiri di samping pintu mobil dengan wajah penuh tanda tanya.

"Sebenarnya... kita mau ngapain?"

Arsen mengambil salah satu tas dari tangan Genta lalu menyerahkannya kepada Senja.

"Ganti pakaian."

"Hah?"

"Semua isi tas itu ukuran kamu."

Senja membuka resletingnya sedikit.

Di dalamnya sudah tersusun pakaian kasual, topi, masker, bahkan sepasang sepatu baru.

"Pak..."

"Kita akan menghilang."

Senja semakin bingung.

"Maksudnya?"

Arsen menatap lurus ke arah jalan raya.

"Kalau mereka mencari perempuan dengan dress putih yang turun dari G-Class..."

"...biarkan mereka terus mencarinya."

"Lalu?"

"Yang keluar dari tempat ini nanti adalah perempuan lain."

Baru kali ini Senja benar-benar memahami maksud Arsen.

Mereka bukan sedang kabur.

Mereka sedang membuat musuh kehilangan jejak.

"Ruang ganti sudah kami kosongkan, Tuan," ujar Genta.

Arsen mengangguk.

"Lima menit."

"Siap."

Beberapa menit kemudian.

Senja keluar lebih dulu dari ruang ganti karyawan minimarket.

Kini dress putih yang tadi dikenakannya sudah berganti menjadi celana jeans biru muda, sneakers putih, dan hoodie krem sederhana. Rambut panjangnya masih terurai, membuat penyamarannya terasa belum lengkap.

Dia menoleh ke kanan dan kiri.

"Pak Arsen?"

"Ada di sini."

Suara itu berasal dari ruang ganti sebelah.

Tak lama kemudian Arsen keluar.

Kemeja putihnya kini berganti kaus hitam polos yang dilapisi jaket bomber gelap. Celana jins dan topi hitam membuat penampilannya jauh lebih sederhana dibanding biasanya.

Kalau bukan karena wajahnya...

Tak akan ada yang menyangka pria itu adalah CEO Malik Media.

Senja tersenyum kecil.

"Bapak beda banget."

"Itu memang tujuannya."

Arsen memperhatikan penampilan Senja dari ujung kepala hingga kaki.

Kali ini...

Hoodie longgar dan celana jeans berhasil menyembunyikan kaki jenjang yang sejak pagi mengganggu pikirannya.

Entah kenapa...

Dadanya justru terasa sedikit lebih ringan.

"Masih ada yang kurang."

Arsen mengeluarkan sebuah jepit rambut hitam dari dalam tas.

"Rambut kamu."

"Oh iya."

Senja mencoba mengangkat rambutnya sendiri.

Namun setelah beberapa kali mencoba...

Jepitan itu tak kunjung terpasang.

"Aduh..."

Dia mendesah pelan.

"Kenapa?"

"Nggak bisa."

Arsen mengulurkan tangannya.

"Sini."

Senja berkedip.

"Bapak bisa?"

"Tidak tahu."

"Loh?"

"Tapi saya bisa mencoba."

Senja tertawa pelan sebelum akhirnya menyerahkan jepit rambut itu.

"Oke deh."

Arsen berdiri tepat di belakang Senja.

Jarak mereka begitu dekat.

Jemari panjang pria itu perlahan mengumpulkan helaian rambut hitam Senja.

Lembut.

Jauh lebih lembut daripada yang ia bayangkan.

Saat seluruh rambut berhasil diangkat ke atas...

Tengkuk putih Senja perlahan terekspos di hadapannya.

Napas Arsen tertahan sesaat.

Aroma sampo yang lembut bercampur wangi alami tubuh perempuan itu memenuhi indra penciumannya.

Sial...

Bahkan wanginya saja seperti ini...

Dengan hati-hati, Arsen menyelipkan jepit rambut itu.

Namun tepat saat Senja sedikit menoleh karena penasaran...

Jarak mereka mendadak semakin dekat.

Embusan napas hangat Arsen tanpa sengaja menyentuh tengkuk Senja.

"Ah..."

Tubuh Senja refleks menegang halus.

Bulu kuduknya meremang.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

"Pa-Pak..."

Suara Senja terdengar lirih.

Arsen membeku.

Baru saat itu dia menyadari betapa dekat posisi wajahnya dengan tengkuk perempuan itu.

Kalau saja dia maju sedikit lagi...

Arsen segera menarik napas panjang.

Mengumpulkan kembali kewarasannya.

Lalu mundur selangkah.

"Sudah."

Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

Senja perlahan menyentuh gelungan rambutnya.

"Rapi?"

"Iya."

"Terima kasih."

Senja berbalik sambil tersenyum polos.

Tidak sedikit pun menyadari...

Bahwa pria di hadapannya baru saja berjuang mati-matian melawan dorongan untuk mendekat lebih jauh.

Sementara di luar minimarket...

Sedan hitam itu masih menunggu.

Masih mengira target mereka belum pernah keluar dari mobil.

Begitu Senja selesai merapikan hoodie yang dikenakannya, Genta kembali menghampiri Arsen.

"Tuan."

"Hm."

"Tim satu sudah siap."

Arsen mengangguk tipis.

"Laksanakan."

"Baik."

Genta segera berjalan keluar minimarket sambil menempelkan earphone kecil ke telinganya.

Tak lama kemudian...

Sebuah pria bertubuh hampir sama dengan Arsen keluar dari pintu belakang.

Pria itu mengenakan kemeja putih, celana hitam, serta jam tangan yang sangat mirip dengan milik Arsen.

Bahkan dari kejauhan...

Siluetnya hampir tidak bisa dibedakan.

Senja memperhatikan dengan mata membulat.

"Itu..."

"Umpan."

Jawab Arsen singkat.

"Dia bakal naik mobil kita?"

"Iya."

"Lah terus Bapak?"

Arsen mengambil topi hitam lalu memakainya hingga sedikit menutupi wajah.

"Kita naik mobil lain."

Senja menoleh ke arah parkiran belakang.

Di sana telah menunggu sebuah MPV berwarna silver yang tampak sangat biasa.

Tidak mencolok.

Bahkan jika diparkir di tengah ratusan mobil lain pun, orang mungkin tidak akan meliriknya dua kali.

"Mobil itu?"

"Iya."

"Tapi..."

Senja masih belum percaya.

"Bapak rela G-Class semahal itu dipakai umpan?"

Arsen menatapnya datar.

"Mobil bisa dibeli lagi."

"Lalu?"

"Kamu tidak."

Deg.

Jantung Senja langsung berdebar.

Arsen mengucapkannya begitu saja.

Tanpa nada romantis.

Tanpa ekspresi.

Seolah itu hanyalah fakta.

Namun justru karena itulah...

Kalimat itu terasa jauh lebih menghantam.

Senja buru-buru mengalihkan pandangannya.

"P-Pak..."

"Hm?"

"Bapak kalau ngomong suka bikin orang salah paham."

"Salah paham bagaimana?"

"Nggak jadi."

Senja memilih diam.

Arsen benar-benar tidak sadar kalau kalimatnya terdengar seperti pengakuan.

Di sisi lain...

Genta memberi isyarat dari kejauhan.

Pria yang menjadi umpan itu kini masuk ke kursi pengemudi Mercedes-Benz G-Class.

Beberapa detik kemudian...

Mobil hitam mewah tersebut keluar lebih dulu dari area minimarket.

Tak lama berselang...

Sedan hitam yang sejak tadi mengawasi perlahan ikut bergerak.

Senja menahan napas.

"Mereka... ngikutin."

"Iya."

Tatapan Arsen tetap tenang.

Beberapa puluh detik berlalu.

Sedan itu benar-benar terus mengikuti G-Class hingga menghilang di tikungan.

Barulah Arsen membuka pintu MPV silver di belakang.

"Masuk."

Senja masih tampak takjub.

"Berhasil ya..."

Arsen mengangguk tipis.

"Belum."

"Hah?"

"Mereka hanya kehilangan target pertama."

Arsen menunggu Senja masuk ke dalam mobil lebih dulu sebelum menutup pintu.

"Kita masih harus memastikan..."

"...tidak ada mata lain yang sedang mencari kita."

Kalimat itu membuat Senja kembali menoleh ke luar jendela.

Entah mengapa...

Ia merasa permainan ini baru saja dimulai.

Sementara MPV silver itu melaju perlahan meninggalkan minimarket melalui jalan belakang...

Tanpa satu pun orang menyadari bahwa Arsen Malik dan Senja sudah menghilang dari pandangan musuh mereka.

Tiga puluh menit kemudian.

MPV silver itu memasuki area basement sebuah hotel bisnis sederhana di pinggir Jakarta.

Hotel itu sama sekali tidak mencolok.

Jauh dari kesan mewah.

Justru itulah alasannya dipilih Arsen.

Mobil berhenti di sudut parkiran yang cukup sepi.

Senja membuka sabuk pengamannya.

"Pak, ini bukan penthouse."

"Memang."

"Kita menginap di sini?"

"Untuk sementara."

Belum sempat Senja bertanya lagi, tatapan Arsen tiba-tiba berubah tajam.

Matanya menatap ke arah kaca spion.

Di kejauhan...

Seorang pria bertopi hitam berjalan perlahan di antara deretan mobil sambil sesekali memperhatikan nomor polisi kendaraan.

Bukan tamu hotel biasa.

Gerak-geriknya terlalu teratur.

Terlalu teliti.

Arsen mengamati beberapa detik.

Lalu berbisik pelan,

"Jangan menoleh."

"Hah?"

"Jangan menoleh."

Seketika Senja membeku.

"Ada orang yang sedang mencari kita."

Jantung Senja langsung berdetak lebih cepat.

"Terus... gimana?"

Arsen memandang lurus ke depan.

"Lakukan apa yang saya bilang."

"Iya..."

"Naik ke pangkuan saya."

"...Hah?"

Senja menoleh spontan.

Wajahnya langsung memerah.

"P-Pak?"

"Cepat."

"Nggak mungkin..."

"Kalau dia melihat wajah kita sekarang, penyamaran tadi sia-sia."

Senja menggigit bibir bawahnya.

Dia masih ragu.

Namun saat melihat pria bertopi hitam itu semakin mendekat...

Dia menarik napas panjang.

Lalu, dengan gerakan canggung, Senja memindahkan tubuhnya ke arah Arsen.

Pelan-pelan ia duduk menyamping di pangkuan pria itu.

Salah satu kakinya tanpa sadar melingkar di atas paha Arsen agar tubuhnya tetap seimbang.

"...Maaf."

Bisiknya pelan.

Tubuh Arsen langsung menegang.

Dia memang yang menyuruh.

Tetapi...

Dia sama sekali tidak memperkirakan reaksinya sendiri.

Tubuh Senja terasa begitu dekat.

Terlalu dekat.

Aroma sampo yang lembut kembali memenuhi indra penciumannya.

Sementara jemari Senja refleks mencengkeram bahunya agar tidak kehilangan keseimbangan.

Arsen mengepalkan rahangnya.

Tenang...

Fokus pada situasi.

Namun saat pria bertopi hitam itu semakin mendekat ke arah mobil...

Arsen tahu mereka membutuhkan sesuatu yang lebih meyakinkan.

Tanpa melepas tatapannya ke arah kaca spion, tangan kirinya perlahan meraih pinggang Senja.

Gerakannya mantap, namun tetap hati-hati.

Senja membelalak.

"Pak..."

"Percaya sama saya."

Senja mengangguk pelan.

Arsen mengangkat satu tangan, menyelipkan beberapa helai rambut yang terlepas ke belakang telinga Senja. Tatapannya turun ke bibir perempuan itu beberapa detik.

Maafkan saya, Senja...

Untuk kali ini, izinkan saya memanfaatkan keadaan.

Detik berikutnya, Arsen menundukkan wajah dan mengecup bibir Senja.

Awalnya singkat.

Cukup untuk membuat siapa pun yang melihat dari luar mengira mereka hanyalah sepasang kekasih.

Namun ketika Senja, karena gugup, tanpa sadar menggenggam kerah jaketnya lebih erat...

Arsen merasakan pertahanan dirinya goyah.

Ciuman itu bertahan sesaat lebih lama dari yang seharusnya.

Tangannya yang berada di pinggang Senja tanpa sadar menarik perempuan itu sedikit lebih dekat.

Baru ketika bayangan pria bertopi hitam menghilang dari kaca spion, Arsen memaksa dirinya berhenti.

Dia perlahan menjauh.

Napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya.

Tatapan mereka bertemu.

"Maaf..."

Suara Arsen rendah.

"Itu... lebih lama dari rencana saya."

Senja tidak menjawab.

Pipi perempuan itu sudah memerah, sementara jantung keduanya masih berdetak jauh lebih cepat daripada ancaman di luar mobil.

Beberapa detik berlalu.

Basement hotel kembali sunyi.

Pria bertopi hitam itu sudah menghilang dari pandangan.

Namun...

Tak satu pun dari mereka bergerak.

Senja masih duduk di pangkuan Arsen.

Napas mereka sama-sama belum kembali normal.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Lalu Senja buru-buru mengalihkan wajahnya.

"P-Pak..."

Suaranya nyaris seperti bisikan.

"Dia... udah pergi."

"Iya."

Jawaban Arsen tetap tenang.

Meski di dalam dirinya...

Dia baru saja menghabiskan seluruh sisa pengendalian diri yang dimilikinya.

Perlahan Arsen melepaskan tangan yang sejak tadi melingkari pinggang Senja.

"Maaf."

Senja menoleh.

"Hah?"

"Tadi..."

Arsen mengembuskan napas pelan.

"...saya sedikit kebablasan."

Wajah Senja langsung memanas.

Dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.

Yang ia tahu...

Ciuman tadi memang awalnya hanya penyamaran.

Namun di detik-detik terakhir...

Dia bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari Arsen.

Sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar sandiwara.

"Ayo."

Arsen membuka pintu mobil lebih dulu.

"Kita masuk."

Senja mengangguk pelan.

Keduanya berjalan berdampingan menuju lift hotel.

Tidak ada percakapan.

Suasana canggung justru memenuhi langkah mereka.

Lima menit kemudian...

Pintu kamar hotel tertutup rapat.

Kamar itu tidak besar.

Hanya sebuah kamar standar dengan satu tempat tidur ukuran queen, sofa kecil di dekat jendela, dan meja kerja sederhana.

Arsen langsung memeriksa seluruh sudut ruangan.

Kamar mandi.

Lemari.

Jendela.

Hingga jalur darurat.

Baru setelah memastikan semuanya aman, dia mengembuskan napas pelan.

"Kamu istirahat dulu."

"Kalau Bapak?"

"Saya masih ada pekerjaan."

Belum sempat Senja menjawab...

Ponsel khusus Arsen bergetar.

Nama Genta muncul di layar.

Arsen langsung mengangkatnya.

"Lapor."

Suara Genta terdengar serius.

"Tuan."

"Mobil umpan berhasil membuat mereka menjauh."

"Bagus."

"Tapi..."

Arsen langsung menangkap nada bicara bawahannya.

"Ada apa?"

"Kami berhasil menangkap salah satu orang yang mengikuti tadi."

"Dan?"

"Dia tidak banyak bicara."

"Namun sebelum pingsan..."

"...dia sempat menyebut satu nama."

Tatapan Arsen berubah tajam.

"Siapa?"

Beberapa detik hening.

Lalu suara Genta terdengar pelan.

"...Devan."

Ruangan mendadak terasa sunyi.

Senja yang sejak tadi hanya duduk di tepi tempat tidur ikut menoleh ke arah Arsen.

Ekspresi pria itu...

Berubah dingin.

Sangat dingin.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kepanikan.

Justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Senja meremang.

Arsen mematikan sambungan telepon.

Tatapannya perlahan beralih ke luar jendela kamar hotel.

"Pak?"

Suara Senja membuyarkan lamunannya.

Arsen tidak langsung menjawab.

Justru satu nama itu terus berputar di kepalanya.

Devan.

Mustahil.

Devan bukan orang yang bekerja untuk Viper.

Lalu...

Kenapa namanya muncul?

Kalau memang Devan berada di balik semua ini...

Apa tujuannya?

Arsen memejamkan mata sesaat, mengingat kembali setiap interaksi Devan dengan Senja selama beberapa minggu terakhir.

Tatapan pria itu.

Cara dia berbicara kepada Senja.

Dan bagaimana dia beberapa kali sengaja muncul di waktu yang tidak tepat.

Rahang Arsen perlahan mengeras.

"Jangan bilang..."

Sebuah kemungkinan yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya mulai muncul di benaknya.

Apa Devan... tertarik pada Senja?

Kalau memang itu alasannya...

Berarti semua yang terjadi bukan sekadar urusan bisnis.

Melainkan...

Persoalan pribadi.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal Devan, Arsen merasa nama pria itu terdengar begitu mengganggu.

Sangat mengganggu.

"Pak Arsen?"

Senja kembali memanggilnya.

Arsen menoleh.

Ekspresinya kembali datar seperti biasa.

"Tidak apa-apa."

"Tapi wajah Bapak..."

"Saya hanya sedang berpikir."

"Berpikir apa?"

Arsen terdiam sejenak.

Lalu menjawab pelan.

"Kalau dugaan saya benar..."

"...Devan mungkin mempunyai alasan yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar ingin menjatuhkan saya."

Senja mengernyit.

"Maksud Bapak?"

Arsen menatap lurus ke arah Senja.

Tatapannya begitu dalam hingga membuat Senja ikut menahan napas.

"Saya harap..."

"...dugaan saya salah."

Namun jauh di dalam hatinya...

Arsen justru berharap instingnya kali ini keliru.

Karena jika benar Devan mengincar Senja...

Maka mulai hari ini...

Arsen bukan lagi menghadapi musuh bisnis.

Dia menghadapi seorang pria yang menginginkan perempuan yang sama dengannya.

Dan Arsen tahu satu hal tentang dirinya sendiri.

Dia tidak pernah rela berbagi.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!