Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan buntu
Di ruang tamu rumah Catra terlihat Bu Sati ibunda Denisa beserta Bi Tati dan Kaytara anak dari Bi Tati. Denisa segera menghampiri mereka mencium tangan nya dan memeluknya.
" Ibu, mau kesini kenapa tidak telp Denisa?" tanya Denisa ke ibunya.
" Lho.. kan tadi pagi bibi telp ke ponsel kamu tapi yang angkat nak Catra" bi Tati yang menjawab pertanyaan Denisa.
Denisa melihat ke arah Catra.
Yang dilihat malah tersenyum dan berkata "Surprise"
Denisa tersenyum masam kearah Catra. Catra malah mengangkat bahunya.
" Ibu dari rumah jam berapa?. Ada tujuan apa kesini?"
" Kita kesini mau mengantar Tara ke tempat kerjanya, kamu tau kan Tara baru saja lulus SMU " lagi lagi bi Tati yang menjawab pertanyaan Denisa .
"Iya Bi, Denisa tau"
" Dan Tara itu sudah dari kelas 2 SMU diminta dan diajak kerja ke kota ini oleh pak Sadewa, Tapi bibi tak mengizinkannya. Tunggu Tara lulus SMU dulu" bi Tati berkata dengan bangga.
" Maaf, kalau Denisa boleh tau, apa pekerjaan yang ditawarkan pak Dewa?" tanya Denisa penasaran. Pak Sadewa memang orang terkaya dikampung nya. Tanahnya banyak, Rumahnya sangat mewah tapi dia punya 3 istri. Bisa dilihat Kaytara sepupunya ini adalah wanita muda berumur 18 tahunan dengan wajah yang sangat cantik juga kulit yang putih bersih. Entah mengapa Denisa merasa curiga.
" Mau dijadikan sekertaris dari salah satu perusahaan nya pak Dewa, hebat kan Tara. Lulus sekolah tidak usah repot ngelamar kerja sana sini, malah pekerjaan yang menunggu dia " Bi Tati masih berkata dengan bangga. Sementara Kaytara menunduk malu mendengar kata-kata ibunya.
" Bi, apa bibi sudah mencari tau semuanya. Kok Denisa curiga ya?"
" Kamu itu sama kaya ibu mu, curiga terus, prasangka buruk terus, apa kalian ini iri padaku?, pada Tara?" bi Tati menjawab pertanyaan Denisa dengan nada marah.
" Bukan gitu bi, Denisa cuma takut Tara kenapa-napa" ujar Denisa pelan. Catra hanya memperhatikan pembicaraan mereka dengan menyimpan kesal dalam hati.
" Kalau Tara kenapa-napa itu urusan bibi, tenang saja tidak akan menyusahkan kamu dan ibu kamu" sangat ketus bi Tati mengucapkan kalimatnya. Denisa hanya terdiam sementara Kaytara juga terdiam dengan wajah tertekan.
" Ya sudah neng, gimana keadaan kamu? kamu baik saja kan?" Bu Sati ibunda Denisa bertanya dengan lembut mengalihkan pembicaraan.
" Denisa baik Bu"
" Bagaimana kalau sekarang kita makan dulu. Ini sudah waktunya makan " Catra menyela pembicaraan mereka. Waktu Sudah menunjukkan pukul 7.20.
" Iya Bu, bi Tati, Tara ayo kita makan dulu." ujar Denisa lalu mereka menuju meja makan.
" Kalian cuma tinggal berdua disini?" tanya Bu Sati, melihat tak ada orang lain selain mereka berdua.
" Bu, maaf.. sebaiknya kita makan dulu ya, kita sudah lapar kan, tidak baik kalau makan sambil ngobrol" ujar Catra menyela Denisa yang akan menjawab pertanyaan ibunya. Catra tau kalau jawaban Denisa bisa jadi bahan omongan pedas bi Tati dan akan merusak selera makan semuanya. Semua menuruti kata-kata sang tuan rumah. Merekapun makan malam dengan tenang.
Selesai makan catra mempersilahkan tamunya untuk bersih-bersih. Sementara Denisa dan Kaytara membersihkan meja dan mencuci piring bersama.
" Tara, apa kamu benar-benar mau bekerja disana. Maaf teteh tanya ke kamu. Kamu adik sepupu perempuan teteh satu-satunya. Teteh ga mau kamu kenapa-napa" ujar Denisa di sela aktifitas mencuci piringnya.
" Teteh tau gimana ibu Tara. Walau Tara tidak mau pun mana bisa melawan ibu." ujar Tara sedih.
Denisa menatap wajah cantik adik sepupunya . " Tapi ini menyangkut masa depan mu, tolak lah kalau kamu memang tidak yakin. Teteh takut kamu malah dijadikan istri nya pak Sadewa, tau sendiri pak Sadewa kalau liat perempuan cantik. Masa ibu kamu ga tau sih?" ujar Denisa sedih.
" Ibu sudah tau teh, tapi sepertinya ini ada hubungannya dengan kejadian a'a Sena dua tahun lalu teh." ujar Kaytara.
Pikiran Denisa melayang pada kejadian dua tahun lalu saat Kaysena kakak laki-laki Kaytara meninggal dunia. Polisi mengatakan kalau Kaysena tewas karena penganiayaan Genk motor, namun disamping itu beredar pula berita kalau Kaysena terlibat dengan gangster narkoba.
Denisa kurang mengetahui berita dikampung karena ketika Kaysena meninggal dunia, Denisa hanya 2 hari dikampung. Tidak terlalu mengikuti beritanya. Karena Bi Tati pasti akan menjadi galak ketika siapapun ada yang bertanya masalah Kaysena.
" Memang hubungan nya apa?" tanya Denisa tak mengerti.
" Tara juga kurang tau teh, yang pasti setelah a'a Sena meninggal, Ibu beberapa kali dipanggil polisi. Pak Sadewa sering bantu ibu, dan jadi sering kerumah dan sering ibu dan pak Sadewa ngobrol serius masalah a'a Sena. " ujar Tara.
" Jadi itu tadi yang ibu kamu bilang dari kelas 2 SMU itu sudah diminta untuk kerja? " tanya Denisa. Kaytara mengangguk pelan.
" Pasti ada yang tidak beres". ujar Denisa "Dan sekarang ibu kamu mau mengantar kan anaknya sendiri ke tangan orang yang mencurigakan" ujar Denisa sambil berbisik ketika melihat Catra masuk kedalam dapur.
" Ada masalah?" tanya Catra melihat Denisa dan sepupunya berhenti ngobrol ketika dia datang.
" Tra, nanti mereka tidur dimana? " tanya Denisa tidak memperdulikan pertanyaan Catra.
" Dikamar kamu "
" Berempat?"
" Kalau sempit ya sebagian di sofa ruang tv, aku tidak sempat membenahi kamar tamu"
" Oke," ujar Denisa tak ingin semakin merepotkan Catra lagi.
Selesai membenahi meja dan mencuci piring mereka kembali berkumpul di teras samping.
" Gimana urusan kamu dengan tempat kost kamu neng?" tanya Bu Sati
" Jalan kekeluargaan Bu, Sudah cabut laporan" Jawab Denisa.
" Syukur lah, akhirnya kamu bisa memaafkan, sudah seharusnya saling memaafkan" ibu Denisa tersenyum menatap anak semata wayangnya.
" Lagian dari pertama juga bi Tati sudah bilang, damai aja damai, kamu masih ngeyel" bi Tati ikut bicara dengan nada yang tak menyenangkan. Catra menyipitkan mata menatap bi Tati. Catra semakin tidak menyukai bi Tati.
" Yang berlalu biar lewat saja biar dijadikan pelajaran hidup ya neng " Bu Sati kembali menasihati Denisa.
" Oh ya, jadi sekarang kamu kost dimana ?" tanya Bi Tati kepada Denisa.
Denisa diam seribu basa, tadi dia lupa menanyakan kepada Catra. Harus jawab apa kalau ditanya Seperti ini.
" Denisa sementara tinggal disini?" ujar Catra menjawab mewakili Denisa.
Denisa menyesali jawaban Catra tapi sekali lagi dia tak mampu berkata apapun.
"Apa? kamu tinggal disini berduaan lagi, bagaimana sih kamu? Mau saja tinggal berdua dengan laki-laki tanpa ikatan. Ini sama saja kumpul kebo. Kamu tau itu Denisa " bi Tati tanpa rem mengomel pada Denisa.
" Bu. Mohon hati-hati dalam berbicara. Keponakan ibu dan saya tidak serendah yang ibu pikir" Catra sangat tidak bisa menerima kata-kata bi Tati yang merendahkan Denisa.
Bi Tati memandang Catra dengan galak. " Dikampung kami, malam-malam berani berduaan saja akan dinikahkan. Apalagi yang tinggal seatap berdua. Siapa yang tau apa yang sudah kalian berdua lakukan disini?"
" Tapi kami tidak berdua saja disini, ada ibu saya dan supir saya tinggal disini " ujar Catra membela diri.
" Terus sekarang dimana?"
" Dua hari yang lalu sedang ke Bandung mengunjungi papa saya.'' jawab Catra
" Berarti dua malam cuma berduaan kan?" Desak bi Tati.
Denisa dapat melihat ibunya menangis mendengar pembicaraan ini.
"Bu, Denisa minta maaf. Sebenarnya Denisa tinggal disini setelah diselamatkan oleh Catra dari warga yang marah. Tapi memang sudah diniatkan untuk pindah dari sini juga. Cuma masih terkendala waktu untuk mencari tempat kost baru" ujar Denisa berusaha meyakinkan ibunya.
" Bikin malu saja kamu, apa kata orang dikampung kalau tau kelakuan hidup bebas kamu disini. Kami harus ingat Denisa. Umur kamu sudah lewat jauh untuk menikah." ujar bi Tati mengiris hati Denisa. Sangat menyakitkan buat Denisa.
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤