NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Pak, kayaknya seru kalau kita ikut mandi juga..." ucapku sambil menatap pemandangan orang-orang yang bermain air dengan riang.

​"Apa kamu mau mandi juga?" tanya Jalal sembari bangkit dan menatapku lekat.

​Aku melihatnya sejenak lalu mengangguk pelan. "Tapi nanti bajunya basah semua, tidak apa-apa kah? Mobil Bapak nanti bisa kotor," ucapku sedikit khawatir memikirkan interior mobil mewahnya.

​Jalal menarik napas panjang, lalu menatapku tegas. "Sst... itu bukan cuma mobil saya, Yas. Itu mobil kamu juga," ucapnya menegaskan kepemilikan. Dia kemudian bangkit dari duduknya. "Kalau kamu memang mau mandi, ayo! Soal mobil kotor, itu urusan gampang, nanti bisa dicuci lagi."

​Dia menggandeng tanganku, lalu kami bersama-sama berjalan menuju pusat air terjun. "Kita ke bagian atas saja ya, Pak!" ucapku sedikit berteriak agar terdengar di tengah gemuruh air yang riuh. Suamiku hanya mengangguk setuju.

​Kami berjalan dengan ekstra hati-hati melewati pijakan batu-batu kapur yang tertutup lumut kasar. "Hati-hati, Sayang, jalannya licin," katanya lembut sembari mempererat genggaman tangannya.

​Setelah cukup lama mencari posisi yang pas, akhirnya kami sampai di bendungan pertama air terjun ini—tempat yang sengaja disemen untuk menampung air hingga menyerupai kolam. Karena lokasinya yang agak tersembunyi, tempat ini cukup sepi. Aku segera masuk ke dalam kolam, disusul oleh Jalal.

​"Segar sekali, Pak!" ucapku senang.

​Aku menyandarkan punggung pada dinding pembatas bendungan. Jalal berdiri tepat di depanku, lalu dengan sengaja mencium keningku dengan lembut.

​"Umm, Bapak... nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" ucapku manja.

​"Tidak ada siapa-siapa, Yas. Di sini cuma ada kita berdua," ucapnya rendah menggoda.

​"Tapi bagaimana nanti kalau tiba-tiba ada yang datang?" desakku khawatir.

​"Tidak akan," ucapnya meyakinkan, lalu dia memelukku kembali dengan erat. Aku menikmatinya—jujur, berendam dalam air dingin ini terasa begitu nyaman saat berada dalam dekapannya. Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang mendekat. Tubuhku mendadak tegang.

​"Pak, lepas! Ada orang yang datang!" bisikku panik.

​Jalal malah terkekeh santai. "Kenapa takut sekali sih, Yas? Kita kan suami istri," ucapnya lagi, masih enggan melepaskan pelukannya.

​Sampai akhirnya, suara seorang pria membuat kami refleks menoleh. "Permisi, Om. Kami ikut mandi boleh?" tanyanya. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang mungkin kekasihnya, dan lima orang lainnya—tiga pria serta dua wanita—menunggu di belakang mereka.

​Jalal mengangguk mengiyakan dengan ramah, sedangkan aku hanya bisa terdiam malu, masih berada dalam dekapannya.

​'Ish, si Bapak ini... kalau bermesraan kok tidak tahu tempat sekali sih,' batinku merasa gemas sendiri.

Kami akhirnya mandi bersama di bendungan itu, ditambah dengan tujuh orang anak muda yang baru datang bergabung. Air pegunungan yang jernih ini lambat laun terasa makin menusuk tulang, sampai kurasa tubuhku mulai menggigil hebat karena kedinginan.

​"Sayang, ayo kita naik... Aku sudah kedinginan," ucapku refleks, merapatkan tubuh pada suamiku.

​Jalal menatapku lekat selama beberapa saat, lalu mengangguk paham melihat bibirku yang mulai memucat. Kami perlahan naik dari kolam bendungan dan memutuskan untuk turun kembali ke area bawah air terjun, meninggalkan anak-anak muda tadi yang masih asyik berendam.

​Sesampainya di area bawah, rupanya rombongan yang lain sudah berkumpul menunggu kami. Aku melihat Jayan sudah tampak rapi dan wangi, rupanya sudah digantikan baju kering oleh Rudi. Asisten suamiku itu sendiri pun sudah berganti pakaian santai.

​"Pak, Bu, ganti baju dulu. Ini saya ada bawakan baju ganti di dalam mobil," ucap Rudi santai sembari menyodorkan sebuah bingkisan paper bag.

​Aku mengernyitkan dahi, lalu menatap suamiku dengan pandangan bingung. Seingatku, kami tadi tidak ada mengemas baju ganti ke dalam mobil putih.

​"Saya yang menyuruh Rudi menyiapkannya tadi sebelum berangkat, Sayang," bisik Jalal menenangkan.

​Mendengar itu, wajahku mendadak langsung suram. Pikiranku seketika traveling ke mana-mana. Kalau Rudi yang membelikan atau membawakan baju ganti, lalu bagaimana dengan pakaian dalamku? Apa jangan-jangan Rudi juga yang...? Ah, aku langsung menggelengkan kepala cepat, berusaha mengusir pikiran aneh itu.

​Sembari menjinjing bingkisan dari Rudi, aku berjalan beriringan bersama Jalal menuju bilik kamar mandi umum. Karena sepi, kami memilih masuk bersama ke dalam satu bilik besar agar lebih cepat. Begitu pintu dikunci, aku langsung menoleh heboh pada suamiku.

​"Pak, Rudi yang membawakan baju ganti ini... terus pakaian dalam saya bagaimana? Memangnya ada dia bawakan?" tanyaku dengan suara mencicit bingung.

​Jalal seketika terdiam pelan. Detik berikutnya, dia menepuk jidatnya sendiri dengan ekspresi pasrah. "Aduh, Yas... saya lupa! Sepertinya saya tadi cuma menyuruh Rudi membelikan setelan baju saja, tidak terpikir sampai ke sana," jawab Jalal jujur.

​Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepolosan dua pria ini. Untungnya, setelah kuperiksa, Rudi membawakan setelan celana panjang dan sweter rajut longgar yang panjangnya menjuntai sampai ke paha. Mau tidak mau, aku terpaksa memakainya langsung tanpa lapisan dalaman.

​Di sisi lain bilik, Jalal pun telah selesai mengganti pakaian basahnya dengan kaus hitam polos dan celana chino pendek. Aku yang sedang merapikan rambut di depan cermin kecil mendadak menyadari pergerakan suamiku yang mendadak terkunci. Pandangannya menatap lurus ke arah siluet tubuhku dari belakang, dengan jakun yang tampak bergerak naik turun menahan sesuatu.

​"Kenapa, Pak?" tanyaku bingung, membalikkan badan menghadapnya.

​Jalal tersadar dari lamunannya. Sorot matanya mendadak berubah menjadi sangat dalam dan menggelap. "Ah, Sayang... kamu benar-benar kelihatan menggemaskan dan menggoda sekali dengan baju itu," ucapnya dengan suara rendah yang serak.

​Pria matang itu melangkah lebar mendekatiku. Tubuh besarnya dengan sengaja memepetku hingga punggungku membentur dinding bilik kamar mandi. Sebelum aku sempat memprotes, Jalal menundukkan kepalanya, menyusupkan wajahnya di balik kerah sweter rajut longgarku yang sedikit melorot.

​"Ah, Pak... jangan di sini, nanti ada yang dengar," ucapku menahan dada bidangnya dengan tangan bergetar, merasakan deru napas hangatnya yang menyapu kulit leher dan bahuku.

​"Sebentar saja, Yas. Saya benar-benar tidak tahan ingin mencicipi wanitaku sendiri," bisiknya serak di sela-sela kecupan intimnya.

​Sentuhan dan sesapan lembutnya di ceruk leher serta tulang selangkanganku seketika membuat rasa panas yang menjalar hebat ke seluruh tubuh. Napasku mendadak memburu, berkejaran dengan rasa gelisah yang terasa nikmat sekaligus menegangkan karena takut ada pengunjung lain yang mengetuk pintu dari luar.

​"Pak, sudah... nanti orang di luar curiga," bisikku lirih dengan sisa-sisa kesadaran.

​Setelah memberikan satu sesapan tegas terakhir yang meninggalkan tanda kemerahan samar di kulitku, Jalal akhirnya perlahan menarik kembali kepalanya. Dia menatap wajahku yang memerah, lalu menyunggingkan senyuman manis yang dipaksakan demi menahan gejolak hasratnya yang belum tuntas. Ditata kembali kerah sweterku dengan rapi.

​"Ayo kita keluar," ajaknya sembari menggenggam jemariku lagi, seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

​Kami pun bersama-sama keluar dari bilik kamar mandi. Begitu melangkah di area luar, beberapa pasang mata pengunjung lain sempat menatap ke arah kami dengan pandangan penuh selidik karena kami keluar dari satu bilik yang sama. Namun, kami berdua memilih acuh dan tidak peduli. Dengan langkah santai, kami berjalan turun menuju area terminal parkir bawah untuk kembali ke mobil.

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!