Pernikahan itu tidak lahir dari cinta. Melainkan dari sebuah kesepakatan. Ketika keluarga Alyssa berada di ambang kehancuran, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran keluarga Maheswara. Menikah dengan Alvaro Regantara Maheswara. Pria yang terkenal dingin. Pria yang dijuluki pewaris paling berbahaya. Pria yang bahkan tidak percaya pada cinta. Bagi Alyssa, pernikahan itu seperti masuk ke dalam sangkar emas. Mewah. Indah. Tapi menyesakkan. Namun semakin lama mereka bersama, Alyssa mulai melihat sisi Alvaro yang tidak pernah diketahui siapa pun. Sisi yang terluka. Sisi yang kesepian. Dan perlahan kebencian berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya. Cinta. Tapi ketika rahasia masa lalu Alvaro terungkap dan mantan tunangannya kembali untuk merebut segalanya. Akankah pernikahan yang dimulai karena ambisi itu berakhir menjadi cinta? Atau justru menjadi kehancuran bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Fajar belum sepenuhnya merekah di langit ibu kota, namun badai informasi telah resmi mengguncang jagat maya dan cetak. Sifat taktis Alyssa yang membuatnya selalu terjaga lebih awal terpaksa dihadapkan pada kenyataan pahit begitu ia menyalakan gawai pribadinya di atas meja rias.
Keesokan harinya, seluruh lini masa media bisnis, portal berita hiburan kelas atas, hingga akun-akun gosip elite dipenuhi oleh pemberitaan masif mengenai drama yang terjadi di Gala Bisnis Tahunan Maheswara Group semalam. Judul-judul artikel utama terpampang dengan narasi yang provokatif, mengeksploitasi setiap jepretan kamera dan bisik-bisik koridor tentang hubungan segitiga antara Alvaro, Alyssa, dan Vanessa.
Berbagai spekulasi liar bermunculan tanpa bisa dibendung oleh tim humas korporasi. Beberapa analis media sosial yang skeptis secara terang-terangan menulis artikel opini yang menyebut bahwa Alyssa hanyalah pengganti sementara sebuah tameng korporat yang sengaja dipasang Alvaro untuk menyelamatkan sisa-sisa harga diri Pradipta Group sekaligus memuluskan aliansi politik. Di sisi lain, narasi yang dikembangkan oleh kubu pendukung keluarga Vanessa justru jauh lebih menyudutkan. Ada pula yang menganggap bahwa dengan kedekatan historis masa lalu mereka, Vanessa akan segera merebut kembali posisi Nyonya Maheswara dan menyingkirkan Alyssa begitu kontrak bisnis di antara kedua keluarga berakhir.
Alyssa menarik napas dalam-dalam, meletakkan gawainya dengan tangan yang sedikit bergetar. Mental bajanya memerintahkan agar ia berusaha mengabaikan semuanya. Ia tahu betul esensi dari pernikahan kontrak ini; ia tahu bahwa segala hal yang tertulis di internet hanyalah fiksi yang dirangkai oleh orang-orang yang lapar akan skandal.
Namun, logika tidak selamanya bisa menjadi tameng bagi hati. Komentar-komentar tajam yang mempertanyakan kelayakannya, kalimat-kalimat yang merendahkan silsilah keluarganya, serta spekulasi bahwa dirinya akan segera dibuang seperti hiasan usang tetap saja menembus pertahanannya dan melukai perasaannya dengan sangat telak. Ada rasa sesak yang asing yang merayap di dadanya sebuah rasa sakit yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat Pradipta Group berada di titik nadir sekalipun.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alyssa merasakan dengan sangat nyata betapa berat dan menyesakkannya hidup sebagai bagian dari keluarga Maheswara. Berada di samping sang predator berarti ia harus siap berdiri di bawah sorotan lampu yang luar biasa panas, di mana setiap napas, senyuman, dan kesalahan kecilnya akan dikuliti habis oleh publik yang kejam.
Saat ia melangkah keluar kamar menuju ruang makan dengan jubah tidurnya, atmosfer di dalam terasa jauh lebih mencekam dari biasanya. Para pelayan bekerja dengan kepala tertunduk, tidak berani membuat suara sekecil apa pun, seolah mereka tahu bahwa sang tuan muda sedang menyelimuti rumah megah itu dengan aura kemurkaan yang luar biasa akibat berita-berita yang beredar pagi ini.
...****************...
Di ujung selasar menuju ruang makan utama, Alyssa melihat Xavier sedang berdiri dengan dokumen tebal di tangannya, berbicara setengah berbisik dengan asisten rumah tangga senior. Begitu menyadari kehadiran Alyssa, Xavier segera menegakkan tubuhnya dan membungkuk hormat, mencoba menyembunyikan raut cemas di wajahnya.
"Selamat pagi, Nyonya Alyssa," sapa Xavier formal.
"Selamat pagi, Xavier. Di mana Alvaro?" tanya Alyssa. Sifat cerdasnya langsung menangkap bahwa ketegangan di rumah ini bersumber dari satu titik: ruang kerja pribadi Alvaro.
"Tuan Besar sedang berada di dalam ruang kerjanya sejak pukul lima pagi. Beliau... sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun terkait pemberitaan hari ini," jawab Xavier dengan nada penuh kehati-hatian. "Tim legal dan divisi humas sedang berusaha menekan peredaran artikel-artikel tersebut, namun pergerakannya terlalu masif di media sosial."
Alyssa mengangguk paham. Mental bajanya menolak untuk bersembunyi di dalam kamar. Ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja Alvaro di sayap kiri. Sebagai mitra aliansi, ia harus tahu sejauh mana dampak gosip ini terhadap rencana bisnis mereka, terlepas dari fakta bahwa hatinya sendiri masih terasa perih akibat komentar publik.
Tanpa mengetuk pintu, Alyssa mendorong pintu kayu ek besar itu perlahan.
Suasana di dalam ruangan sangat kontras dengan cerahnya matahari pagi yang mulai menembus jendela. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu meja kerja. Alvaro duduk di balik meja mahoninya dengan kemeja hitam yang lengannya sudah digulung hingga siku. Di hadapannya, tiga layar monitor menampilkan grafik saham Maheswara Group dan puluhan tajuk berita utama yang memajang foto Alyssa dan Vanessa semalam.
Aura angkuh pria 28 tahun itu kini tampak pekat oleh kemurkaan yang dingin. Saat menyadari siapa yang masuk, ketegangan di bahu Alvaro sedikit mengendur, namun sepasang mata elangnya masih memancarkan kilat berbahaya.
"Kau seharusnya tetap di kamarmu, Alyssa. Berita di luar sana sedang tidak ramah untukmu," ucap Alvaro, suaranya baritonnya terdengar rendah dan serak, menyiratkan bahwa ia tidak tidur semenit pun sejak mereka pulang dari gala.
Alyssa melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Ia berjalan mendekati meja kerja Alvaro, menolak untuk terlihat lemah di hadapan sang predator. "Melarikan diri ke dalam kamar bukan gaya saya, Tuan Alvaro. Saya adalah bagian dari aliansi ini, dan gosip murahan itu tidak akan mengubah fakta bahwa kita memiliki kontrak yang harus diselesaikan."
Alvaro bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan memutari meja hingga kini ia berdiri tepat di hadapan Alyssa. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya, mencari tanda-tanda kerapuhan di balik topeng ketenangan wanita itu. Ketika ia melihat binar lelah dan sisa rasa sakit yang tertahan di mata jernih Alyssa, sesuatu di dalam dada Alvaro terasa tercubit.
"Mereka menyebutmu pengganti," desis Alvaro, suaranya mendadak berubah berat dan sarat akan emosi yang tertahan. "Dan mereka pikir Vanessa bisa mendikte hidupku lagi."
"Biarkan saja mereka bicara," sahut Alyssa, mencoba mempertahankan logika taktisnya meskipun debaran di dadanya kembali bergejolak karena jarak mereka yang terlalu dekat. "Publik hanya melihat apa yang ingin mereka lihat."
"Tapi aku tidak akan membiarkan mereka merendahkanmu, Alyssa," potong Alvaro dengan cepat dan mutlak. Ia mengulurkan tangannya, mencengkeram lembut kedua bahu Alyssa, memaksa wanita itu untuk menatap lurus ke dalam manik matanya yang hitam pekat. "Di rumah ini, di dalam perusahaan ini, dan di hadapan hukum, kau adalah satu-satunya Nyonya Maheswara. Tidak akan ada pengganti, dan tidak akan ada masa lalu yang bisa merebut posisimu."
Pernyataan tegas dari Alvaro menggema di dalam ruangan yang sunyi itu, meruntuhkan sisa-sisa keraguan di hati Alyssa dan mempertegas bahwa di tengah badai gosip yang menerpa, sang predator telah memilih untuk berdiri sebagai perisai terdepan demi melindunginya.
...****************...
Sentuhan tangan Alvaro pada bahunya terasa hangat dan kokoh, seolah menyalurkan sebagian dari kekuatan besar pria itu ke dalam tubuh Alyssa. Untuk beberapa saat, Alyssa terdiam, membiarkan sepasang mata elang Alvaro mengunci seluruh dunianya. Kata-kata tegas itu bukan sekadar bualan untuk menenangkannya; Alyssa bisa melihat kesungguhan yang teramat pekat di balik manik mata suaminya.
"Anda melakukannya lagi, Alvaro," bisik Alyssa, suaranya sedikit bergetar namun tetap terdengar jernih. "Anda melanggar batas profesionalitas kita dengan memedulikan perasaan saya."
Alvaro menarik sudut bibirnya tipis sebuah senyuman getir yang sarat akan kepasrahan atas kekalahannya sendiri. "Batas itu sudah hancur sejak sore itu di depan kantor, Alyssa. Dan semakin aku mencoba membangunnya kembali, semakin aku menyadari bahwa aku tidak bisa membiarkanmu menghadapi dunia ini sendirian."
Alvaro melepaskan cengkeramannya di bahu Alyssa, lalu beralih mengambil gawai pribadinya yang tergeletak di atas meja. Dengan beberapa ketukan taktis di layar, ia menyambungkan panggilan telepon ke nomor pribadi Xavier.
"Xavier, masuk ke ruanganku sekarang. Bawa tim humas dan kepala divisi legal," perintah Alvaro dingin tanpa menunggu jawaban, lalu langsung mematikan sambungan.
Ia kembali menatap Alyssa dengan aura kepemimpinan yang mutlak. "Hari ini, kita tidak akan diam. Arsen dan Vanessa berpikir mereka bisa menggunakan opini publik untuk mengguncang posisi kita. Kita akan membalas mereka dengan cara yang paling bersih dan mematikan di dunia korporasi."
Sifat cerdas Alyssa seketika menangkap arah taktik Alvaro. Rasa sakit akibat komentar-komentar miring di internet itu perlahan menguap, digantikan oleh adrenalin yang membakar dada. Ia menegakkan tubuhnya, menyejajarkan pandangannya dengan sang suami.
"Apa rencana Anda, Tuan Alvaro?" tanya Alyssa, senyuman taktisnya kini kembali terkembang di wajah cantiknya.
"Kita akan merilis laporan restrukturisasi resmi Pradipta Group hari ini, bersamaan dengan pengumuman proyek siber bernilai triliunan rupiah yang akan dipimpin langsung olehmu di bawah bendera Maheswara," jawab Alvaro, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kita akan membungkam mulut mereka bukan dengan klarifikasi murahan, melainkan dengan pencapaian yang membuktikan bahwa kau berada di sampingku karena kau adalah satu-satunya wanita yang setara untuk memimpin dinasti ini."
Mendengar rencana besar itu, Alyssa tahu bahwa badai gosip pagi ini bukan lagi sebuah ancaman, melainkan batu loncatan. Beratnya hidup sebagai bagian dari keluarga Maheswara memang nyata, namun memiliki sang predator yang berdiri di garda terdepan sebagai pelindungnya membuat Alyssa yakin bahwa tidak akan ada satu pun musuh yang bisa menjatuhkannya. Pagi yang semula dipenuhi ketegangan itu pun ditutup dengan kesepakatan baru yang jauh lebih kuat, mempersiapkan mereka untuk serangan balik yang akan mengguncang seluruh musuh di luar sana.
...****************...
Xavier mengetuk pintu dengan ketukan tiga kali yang teratur, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan bersama kepala divisi legal dan humas Maheswara Group yang tampak tegang. Mereka membawa tablet dan beberapa berkas fisik berisi draf siaran pers yang sudah disiapkan sejak subuh tadi.
"Tuan Alvaro, Nyonya Alyssa," sapa kepala divisi humas, membungkuk hormat. "Kami sudah memetakan persebaran rumor di media sosial. Akun-akun yang menyebarkan narasi mengenai Nona Vanessa sebagian besar berafiliasi dengan agensi humas gelap yang sering digunakan oleh keluarga mereka untuk pembentukan opini publik."
Alvaro berjalan kembali ke balik meja kerjanya, aura dinginnya kian pekat. "Aku tidak peduli siapa di balik agensi itu. Berikan mereka pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan."
Ia beralih menatap kepala divisi legal. "Tuntut setiap media dan akun yang menyebarkan fitnah merendahkan terhadap nama baik istriku dengan pasal pencemaran nama baik dan pelanggaran privasi korporasi. Pastikan nilai tuntutannya cukup besar untuk membuat mereka bangkrut dalam semalam."
"Dimengerti, Tuan," jawab kepala divisi legal dengan tegas, mencatat instruksi mutlak tersebut tanpa bantahan.
Alyssa melangkah maju, sifat taktisnya melengkapi rencana agresif Alvaro. "Xavier, untuk pengumuman proyek siber baru Pradipta Group, pastikan rilisnya dikirim langsung ke meja redaksi media bisnis utama seperti Bloomberg dan CNBC. Kita tidak ingin ini terlihat seperti pengalihan isu personal, melainkan sebuah manuver korporasi strategis yang sudah direncanakan jauh-jauh hari."
Xavier mengangguk takzim, matanya memancarkan rasa kagum atas ketenangan Alyssa di tengah badai. "Sangat cerdas, Nyonya. Dengan begitu, spekulasi tentang Anda sebagai pengganti sementara akan patah dengan sendirinya ketika publik melihat nilai investasi triliunan yang Anda kendalikan."
Setelah tim eksekutif tersebut keluar dari ruangan untuk mengeksekusi perintah, keheningan kembali menyelimuti ruang kerja. Alvaro bersandar pada tepi meja mahoninya, menatap Alyssa yang kini berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman.
"Kau benar-benar tidak pernah gagal membuatku takjub, Alyssa," ucap Alvaro, suaranya melunak, kehilangan sisa-sisa nada tajam yang tadi ia gunakan pada bawahannya.
Alyssa menoleh, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari separuh wajahnya yang anggun. "Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang mitra yang setara, Alvaro. Jika mereka ingin bermain kotor di ruang publik, kita hanya perlu menunjukkan kepada mereka bagaimana cara menguasai papan permainan yang sesungguhnya."
Alvaro melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan embusan napas Alyssa yang teratur. Untuk pertama kalinya sejak badai gosip itu pecah, ketegangan di wajah Alvaro sepenuhnya sirna, digantikan oleh tatapan penuh pengakuan mutlak yang mengunci hati Alyssa. Di tengah dunia yang sedang berusaha meruntuhkan mereka, di dalam ruangan remang itu, mereka tahu bahwa aliansi ini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sekadar tinta di atas kertas kontrak.