NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Pelepasan dan Keberangkatan Tugas

Malam ini Baskara mulai mengepak pakaian dan barang-barang yang akan ia bawa serta saat bertugas. Seragam loreng, pakaian dalam, kaos, celana pendek, kaos kaki, beberapa setel pakaian bebas. Carger ponsel, alat mandi, dan barang pribadi lainnya. Ia memasukkan semua dengan rapi dalam ransel tempurnya. Baskara mengerutkan dahi saat menoleh ke arah Aira yang tidak kalah sibuk ikut berpartisipasi membantu Baskara menyiapkan segala sesuatunya.

"Yang itu kaosnya sudah buluk, Mas. Ganti yang ini saja. Kaos kakinya aku tambahin lagi yang baru. Terus, ini ada handuk kecil-kecil. Ada empat. Eh, itu seragamnya cuma bawa empat aja enggak kurang? Sabun, sikat gigi, bawa tambahan lagi ya?" ucap Aira seraya memberikan kaos, handuk, dan kaos kaki pada Baskara.

"Sudah cukup, Ai. Nanti tasku nggak muat.

Aira kembali berkacak pinggang seolah tidak menghiraukan ucapan Baskara. Ia pun kembali fokus pada buku agendanya. Ternyata, tanpa Baskara ketahui Aira diam-diam menulis barang-barang keperluan Baskara dan mencoretnya setelah semua telah ia siapkan.

Aira beralih pada obat-obatan yang masih tergeletak di atas meja. Ia memasukkan beberapa obat-obatan untuk Baskara ke dalam sebuah pouch khusus. Ada obat demam, obat flu, antasida, obat sakit perut, balsam, minyak kayu putih, obat memar, salep luka sampai cairan saline untuk membersihkan luka, plester, dan kassa kering. Ada lagi antibiotik, iodin, hingga lotion anti nyamuk juga ia masukkan dalam pouch. Hal itu membuat Baskara mengerutkan dahinya.

"Ai, aku mau pergi tugas, bukan buka toko obat," kelakar Baskara.

Aira menatap tajam seraya bersedekap usai meletakkan pouch obat-obatan itu di dalam ransel Baskara.

"Ck! Itu namanya persiapan!"

"Ya, tapi itu terlalu banyak, Ai."

Aira menggeleng. Wajahnya masam.

"Ini sudah yang paling ringkas, Mas! Sudah dibawa saja! Mana tahu butuh!" ucap Aira sedikit memaksa.

Baskara tersenyum melihat istrinya yang mulai ngambek. Aira masih mengecek satu per satu barang-barang Baskara dalam listnya dan memeriksa kembali untuk ketiga kalinya.

"Semua sudah, Sayang," ucap Baskara gemas seraya menangkup wajah Aira.

"Kamu ngecek udah tiga kali ini," lanjut Baskara seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

"Aku cuma nggak mau ada barang mas yang tertinggal dan akhirnya mas susah sendiri!" ucap Aira seraya kembali memeriksa tas ransel Baskara.

Baskara duduk di bibir ranjang. Ia memandang Aira dengan sorot teduh dan hangat. Senyumnya mengembang karena untuk pertama kalinya, Baskara menyadari bahwa Aira mirip seperti Sita saat Baskara hendak bertugas. Pengecekan barangnya dilakukan berulang-ulang.

Aira meletakkan catatannya dan bernapas lega saat merasa semua yang telah mereka siapkan sesuai dengan list yang dibuat. Aira pun merebahkan diri di atas ranjang seraya membuang napas kasar.

"Akhirnya selesai juga," ucapnya.

Baskara tertawa. "Harusnya bisa selesai lebih cepat."

Aira menatap tajam. Bibirnya mengerucut kesal.

"Mas, semua harus dicek berulang-ulang! Mas tu pergi nggak cuma sehari atau dua hari aja, tapi satu tahun! Hah ... aku aja nggak bisa membayangkan akan bawa sebanyak apa kalau aku yang pergi," ucap Aira.

Baskara merebahkan tubuhnya. Ia menarik Aira agar tertidur di lengannya. Jari jemarinya ia tautkan pada sela-sela jari Aira dan hal itu membuat Aira tersenyum.

"Aku baru tahu kalau ternyata kamu cerewet," ucap Baskara seraya tersenyum.

Aira menepis tangan Baskara. Kesal dengan ucapan Baskara. Namun, Baskara cepat-cepat kembali meraih jemari Aira dan menggenggamnya lebih erat.

"Aku tu cuma nggak mau mas kekurangan dan pada akhirnya susah sendiri. Semua harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin!" ujar Aira.

Baskara mengangguk paham.

"Yang perlu kamu ingat, aku akan tugas di daerah pelosok mungkin juga akan susah sinyal. Jadi, jangan ngambek kalau telepon atau pesannya tidak dibalas."

"Cih! Memangnya aku anak abg. Aku juga paham kalau itu."

"Terus, nggak usah mikirin kalau disana ada dokter cantik atau apapun yang cantik-cantik. Kamu perlu tahu kalau aku akan lebih banyak masuk hutan. Yang ada ketemunya cuma sama babi hutan."

Aira pun tertawa lepas usai mendengar ucapan Baskara barusan.

"Oh, iya, besok kamu bisa ikut upacara pelepasan prajurit, kan? Istri harus mendampingi soalnya."

Aira mengacungkan jempolnya. "Aman. Besok aku sudah tukar jaga dengan Dokter Seto."

Baskara mengernyit. "Kok tumben nggak sama Dokter Sinta?"

"Dia sibuk sama teman kamu. Katanya besok dia ada acara jadi dia juga tukar jaga dengan Dokter Dimas."

Baskara mengerutkan dahi dan berpikir sejenak.

"Teman aku? Siapa?"

"Letnan Panca. Siapa lagi? Mas, kan, titip ke Dokter Sinta waktu Letnan Panca cidera. Bukannya sengaja ya?"

Baskara kembali mengerutkan dahi.

"Astaga, aku titip karena aku pikir nggak ada orang lain yang bisa dipercaya buat nemenin Panca. Karena Dokter Sinta dekat sama kamu, ya, aku asal titip saja. Nggak disengaja itu."

"Oh... aku pikir Mas sengaja mau jodohin mereka berdua."

Baskara pun tertawa. "Astaga, Aira. Mana ada waktu aku mikirin soal begitu. Aku cuma nggak mau Panca merasa sendirian. Aku tahu betapa keras usahanya untuk dapat ikut serta dalam satuan tugas ini. Dia juga jauh dari keluarga, hari-harinya pasti berat karena namanya dicoret dari daftar karena kecelakaan itu. Aku malah nggak nyangka kalau mereka bisa sedekat ini."

Aira terkikik geli. "Biarin aja. Aku juga sebenarnya kasihan sama Sinta, daripada dia menyiksa diri dengan jaga IGD berhari-hari nonstop mending ngurusin Letnan Panca. Lagipula, kalau jodoh semoga Letnan Panca bisa bikin Sinta move on dari mantannya. Kasihan dia, sampai sekarang ada aja masalahnya sama mantannya dulu."

Baskara tersenyum.

"Jadi, Panca cidera ada hikmahnya juga ya, bisa dapat jodoh."

***

Alarm ponsel Baskara berbunyi. Cepat-cepat ia meraih ponselnya diatas nakas dan mematikan alarmnya. Ia menatap Aira yang masih tampak terlelap tidur di lengannya. Baskara menarik lengannya dan bangkit dari tidurnya perlahan. Ia tidak ingin mengganggu dan pada akhirnya menbangunkan Aira karena gerakannya. Baskara bangkit. Ia segera mengganti pakaian dengan pakaian lari, mengenakan sepatu larinya, dan memasang TWS di telinganya sebelum mulai berlari pagi.

Di kamar, Aira mengerjap. Ia meraba sisi lain dari ranjangnya dan menoleh saat merasa Baskara tidak ada di kamarnya. Aira melirik ke arah nakas. Melihat kalender dengan bulatan merah di salah satu tanggalnya.

Ini harinya, batin Aira.

Aira pun bangkit dari tempatnya. Ia merapikan tempat tidurnya, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Beberapa hari lalu, Aira menelpon Sita untuk bertanya resep membuat masakan kesukaan Baskara, tapi keesokan harinya, salah seorang pengawal Gunawan datang ke rumah mengantarkan beberapa box berisi lauk pauk.

"Aira, itu bunda kirim ayam bumbu kuning. Kamu tinggal goreng saja. Ada tongkol suwir pedas, itu favorit Baskara, dan serundeng paru."

Aira mengulas senyum saat melihat isi kulkasnya penuh dengan makanan. Ia memanaskan tongkol suwir yang sengaja sudah ia simpan per porsi di dalam freezer. Aira juga menggoreng empat potong ayam dan menggoreng dua butir telur dadar untuk sarapan.

Aira mendongak saat pintu terbuka dan menampilkan Baskara berdiri di sana.

"Lho, kamu masak?"

Aira tersenyum usai mengambil segelas air mineral untuk Baskara.

"Enggak, dong! Itu bunda yang masak. Aku cuma tinggal goreng sama manasin doang," jawab Aira seraya meringis.

Mereka pun akhirnya menyantap sarapan bersama. Meskipun Aira tidak terbiasa sarapan, tapi khusus hari ini ia ingin menghabiskan waktunya sarapan berdua dengan Baskara.

"Besok selama aku tugas, kamu lebih baik menginap di rumah mama atau bunda aja. Biar ada yang jagain."

Aira mengangguk.

Selesai santap pagi, Baskara pun mandi. Sementara itu, Aira menyiapkan seragam loreng Baskara yang nanti akan digunakan pria itu.

Aira mengembuskan napas kasar. Ia meraba seragam itu dan tangannya berhenti pada nametag yang tertulis di bagian depan seragam.

Baskara W.

Aira membuang napas berat.

Akhirnya hari ini tiba juga, batin Aira.

Selesai Baskara mandi, Aira pun segera mempersiapkan diri. Ia mandi cepat dan sudah mengenakan seragam hijau pupus khas Persit. Aira menatap pantulan dirinya di cermin seusai ia berdandan tipis dan menggelung rambut panjangnya.

Aira menoleh saat Baskara membuka pintu.

"Sudah siap, Ai? Upacaranya jam 7."

Aira menatap jam dinding di sampingnya. Masih pukul 06.15, tapi Aira memilih mengakhiri waktu bersoleknya. Ia keluar dengan seragam Persit lengkap. Di luar, Baskara sudah mengenakan tas ransel besarnya. Mungkin beratnya bisa mencapai tiga puluh kilo lebih.

"Udah siap?"

Raut wajah Aira tampak sedih. "Pengennya jawab enggak," gumam Aira yang masih dapat didengar oleh Baskara.

Baskara mengulum senyum, lalu mengusap lembut puncak kepala Aira. Ia pun menautkan jarinya dan menggandeng Aira menuju lapangan batalyon untuk mengikuti apel sekaligus upacara pelepasan tugas.

Para prajurit sudah berkumpul di lapangan usai mereka mendapat senjata, rompi anti peluru, dan helm tempur. Sementara itu para istri berbaris di samping mereka. Membentuk barisan terpisah.

Upacara pun dimulai. Upacara kali ini dipimpin langsung oleh Kolonel Haryo selaku komandan batalyon.

"Enam puluh orang rekan kita terpilih mewakili batalyon untuk mengemban tugas negara. Mereka meninggalkan orang tua, istri, anak, kekasih, dan keluarga lainnya untuk membela kehormatan bangsa dan negara. Tidak ada tugas yang tidak bisa diselesaikan. Harapan saya, kalian berangkat 60 orang dan akan kembali dengan jumlah yang sama. Jaga diri kalian, jaga nama baik satuan, dan selamat bertugas!"

Aira menahan napas saat upacara pelepasan selesai. Ia melihat sekeliling, banyak dari istri-istri lain yang menangis. Ada yang sedang menggendong bayi yang masih merah, ada yang menggandeng tiga orang anak yang masih kecil-kecil, ada yang sedang hamil besar, dan ada pasangan yang baru saja menikah. Aira sadar jika ia tidak sendirian. Ada puluhan ibu-ibu lain yang juga mengalami hal yang sama.

Aira menatap mereka satu per satu. Ada rasa haru di sana. Ia menyadari jika tugas seorang perempuan itu sangatlah berat, tapi mereka harus ditakdirkan untuk tetap kuat.

Aira menghampiri Baskara saat ia diberi waktu sejenak berpamitan dengan keluarga sebelum keberangkatan. Baskara tersenyum melihat Aira diantara kerumunan orang. Aira mungkin adalah perempuan satu-satunya di tempat itu yang tidak menangis.

"Aku pamit, Ai," ucap Baskara seraya mengecup punggung tangan Aira. "Kamu jaga kesehatan, jangan lupa makan, dan jaga diri baik-baik," lanjut Baskara.

Aira menatap Baskara lekat-lekat seraya mengangguk.

"Mas juga. Jangan telat makan. Jaga kesehatan, jangan sampai terluka. Aku nunggu mas di sini," ucap Aira seraya tersenyum.

Mata mereka beradu. Ada banyak kata yang ingin ia ungkapkan, tapi semua tertahan di tenggorokan. Baskara tersenyum, lalu menarik Aira dalam dekapannya. Aira menahan napasnya sejenak, mati-matian ia menahan tangisnya. Ia sudah bertekad jika ia tidak akan melepas Baskara dengan tangisan.

"Selamat bertugas, Letnan Baskara."

Baskara melepas pelukannya. Ia menoleh saat ia mendengar suara Panca di belakangnya.

Pria itu masih mengenakan krug untuk menopang kakinya. Sedetik kemudian, Baskara menepuk dada bidang Panca.

"Titip nyonya!" ucap Baskara

Panca memberi hormat. Matanya berkabut seketika.

"Selamat bertugas, Letnan Baskara."

Baskara mengerutkan dahi saat melihat Sinta ada di samping Panca. Ia tersenyum, seraya menyambut tangan Sinta.

"Terima kasih. Gantian saya titip Aira," ucap Baskara sambil tersenyum.

Baskara menatap lurus kedepan. Fokus pandangannya ada pada seorang gadis yang berjalan ke arahnya sembari sesekali mengusap air matanya.

"Bang Ibas ... Selamat bertugas."

Baskara mengangguk.

"Terima kasih, Jelita."

Jelita mengangguk seraya menangis sebelum akhirnya ia berjalan menjauh.

Baskara masih menggenggam tangan Aira saat perintah masuk ke truk berkumandang. Aira menahan napas saat mendengar perintah itu. Ia merasakan genggaman tangan Baskara bertambah erat begitu juga dirinya.

"Aku pergi, Ai."

Aira mengangguk.

"Sampai ketemu lagi tahun depan."

Baskara mengangguk.

Baskara mengusap lembut wajah Aira dan mendaratkan ciuman hangat di dahi Aira. Baskara melambaikan tangan sebelum berjalan menuju truk yang akan membawanya ke pelabuhan.

Aira terdiam. Ia menatap punggung Baskara yang mulai menjauh. Setiap gerakan pria itu tidak luput dari perhatiannya. Baskara sengaja duduk dekat dengan pintu dan menatap Aira sesaat setelah ia duduk. Tatapannya penuh makna.

Napas Aira terasa sesak saat truk-truk itu mulai bergerak diiringi ucapan selamat tinggal dan isak tangis. Tangannya melambai, matanya menatap Baskara yang juga terus melambai ke arahnya. Aira terus memperhatikan truk Baskara yang melaju perlahan meninggalkan halaman batalyon.

Napas Aira tercekat. Matanya menatap nanar. Akhirnya hari ini tiba. Hari yang paling ia takutkan. Hari dimana ia harus melepas Baskara demi mengabdi pada negara.

Jangan terluka. Aku tunggu mas pulang, batin Aira seraya melambaikan tangan sebelum truk itu benar-benar hilang dari pandangannya.

_________________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!