Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Di Balik Meja Kerja dan Janji Senja
Gedung pencakar langit Wijaya Group yang berdiri megah di kawasan pusat bisnis Jakarta tampak sibuk seperti biasa.
Di lantai tertinggi, di dalam ruang rapat utama yang berdinding kaca transparan dengan pemandangan lanskap kota, ketegangan terasa begitu pekat.
Rapat umum pemegang saham tahunan baru saja selesai sepuluh menit yang lalu, meninggalkan beberapa direksi yang masih saling berbisik dengan raut wajah segan.
Renard Wijaya duduk di kursi kebesarannya di ujung meja oval.
Jas abu-abu gelapnya yang rapi membungkus bahu tegapnya, memancarkan aura dominasi yang mutlak. Pria itu baru saja memimpin rapat krusial dengan ketegasan yang tak terbantahkan, memotong setiap argumen tidak efisien dari para investor dengan logika bisnisnya yang tajam selayaknya pisau bedah.
Tok, tok.
Sekretaris pribadinya, Johan, melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk, membawa sebuah map kulit berwarna hitam. "Tuan Renard, ini laporan mengenai pergerakan likuiditas Dirgantara Group yang Anda minta tadi pagi."
Renard menerima map tersebut, membukanya perlahan, dan memindai deretan angka di dalamnya dengan sepasang mata elang yang dingin.
Sebuah senyuman miring yang sarat akan kepuasan taktis terukir di sudut bibirnya.
"Bagaimana respons dari ketua konsorsium?" tanya Renard, suara baritonnya terdengar berat dan bergaung pelan di ruang rapat yang kini sudah sepi.
"Sesuai perintah Anda, Tuan. Begitu kami memberikan sinyal mengenai ketidakstabilan reputasi pewaris mereka akibat insiden semalam, pihak konsorsium langsung menangguhkan evaluasi pendanaan proyek reklamasi pesisir milik mereka. Pihak Dirgantara Group saat ini sedang panik dan mencoba menghubungi kantor kita sejak pukul delapan pagi tadi," jelas Johan dengan profesional.
Renard menutup map tersebut dengan bunyi debuman pelan, lalu menyandarkan punggungnya. "Biarkan mereka menunggu. Katakan aku sedang sibuk dan tidak menerima interupsi dari pihak mana pun. Biar itu jadi pelajaran berharga bagi siapa pun yang tidak bisa menjaga mulutnya di depan umum."
"Baik, Tuan. Ada hal lain?"
Renard terdiam sejenak.
Ia mengangkat tangan kirinya, melirik jam tangan kronograf mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam baru menunjukkan pukul dua siang. Masih ada waktu lima jam sebelum waktu perjanjiannya dengan Arumi.
Entah mengapa, bagi seorang pria gila kerja yang biasanya merasa waktu dua puluh empat jam selalu kurang, hari ini waktu terasa berjalan teramat lambat, nyaris membosankan.
Pikiran Renard mendadak melayang kembali pada kejadian tadi pagi di ruang makan.
Bayangan wajah Arumi yang merona merah, tawa renyahnya yang memenuhi ruangan, serta bagaimana jemari lentik perempuan itu merapikan simpul dasinya dengan penuh perhatian, seketika membuat ketegangan di pundak Renard mencair begitu saja.
Ia menghela napas panjang, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus tanpa sadar terkembang di wajahnya.
Johan yang menyadari perubahan ekspresi drastis dari bosnya yang biasanya berwajah sedingin es itu sempat tertegun sekilas, namun buru-buru memalingkan wajah demi menjaga kesopanan.
"Kosongkan seluruh agendaku setelah pukul lima sore, Johan. Aku tidak menerima rapat darurat atau panggilan bisnis apa pun setelah jam itu," perintah Renard tegas, tidak menerima bantahan.
"Dimengerti, Tuan. Saya akan menjadwal ulang beberapa pertemuan kecil ke besok pagi." Setelah membungkuk hormat, Johan melangkah keluar, meninggalkan Renard sendirian di dalam ruangan luas tersebut.
Pria itu meraih ponsel pintarnya, menatap layar datar itu selama beberapa detik sebelum jemarinya mulai mengetikkan sebuah pesan singkat.
Sementara itu, di Mansion Wijaya, atmosfer ketenangan musim penghujan masih terasa begitu kental.
Arumi sedang berada di dalam kamarnya, duduk di tepi tempat tidur sembari menatap deretan pakaian di dalam lemari besarnya yang terbuka lebar. Ia menggigit bibir bawahnya, merasa bingung dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Malam ini adalah kencan pertama mereka.
Kencan yang sesungguhnya, tanpa embel-embel sandiwara di hadapan keluarga besar atau kolega bisnis. Dan fakta itu sukses membuat perut Arumi terasa dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan liar.
Bzzz... Bzzz...
Ponsel di atas nakas bergetar, memutus kepanikan kecil Arumi.
Ia segera meraihnya dan mendapati sebuah pesan teks dari nama yang sukses membuat jantungnya berdesir hebat.
Renard: Selesaikan persiapanmu sebelum pukul tujuh malam. Aku akan pulang untuk menjemputmu secara pribadi. Jangan memakai gaun yang terlalu tipis, udara di luar masih cukup dingin setelah hujan.
Arumi tidak bisa menahan senyum manisnya yang merekah lebar membaca pesan yang terkesan bossy namun sarat akan perhatian terselubung itu.
Ia mengetikkan balasan pendek: Baik, aku akan bersiap tepat waktu. Hati-hati di jalan.
"Wah, wah, sepertinya ada yang sedang berbunga-bunga sampai tidak mendengar suara pintu diketuk," sebuah suara lembut yang familier terdengar dari ambang pintu kamar.
Arumi tersentak pelan, buru-buru mematikan layar ponselnya dan menoleh. Mama Sofia berdiri di sana dengan senyuman hangat, ditemani oleh Bi Sumi yang membawa secangkir teh herbal hangat.
"Mama," ucap Arumi tersipu, beranjak berdiri untuk menyambut ibu mertuanya.
Mama Sofia melangkah masuk, memandangi lemari pakaian Arumi yang terbuka, lalu beralih menatap wajah menantunya yang tampak bersemu merah. "Bi Sumi tadi bilang pada Mama kalau kamu sedang kebingungan memilih baju sejak satu jam yang lalu. Jadi, anak kaku itu benar-benar mengajakmu berkencan malam ini?"
Arumi menunduk kaku, memainkan ujung jarinya karena malu. "Iya, Mama. Renard bilang kami akan makan malam di luar berdua saja."
Mama Sofia terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu menggenggam kedua tangan Arumi dengan kelembutan seorang ibu.
Matanya tampak berkaca-kaca, namun dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa dalam.
"Arumi, Sayang... Mama ingin berterima kasih kepadamu," ujar Mama Sofia dengan suara yang sedikit bergetar halus.
"Selama bertahun-tahun sejak ayahnya tiada, Renard mengunci dirinya sendiri di dalam dunia bisnis yang dingin. Dia mengorbankan seluruh masa mudanya demi melindungi Mama dan Wijaya Group, hingga Mama lupa kapan terakhir kali melihatnya bersikap seperti pria normal yang memiliki emosi."
Wanita paruh baya itu mengusap pipi Arumi dengan penuh kasih. "Tapi melihat bagaimana dia menatapmu tadi pagi, melihat bagaimana dia mengkhawatirkanmu... Mama tahu, kamu adalah keajaiban yang selama ini Mama doakan untuknya. Terima kasih karena sudah meruntuhkan dinding es di hatinya, Arumi."
Air mata haru mendadak menggenang di pelupuk mata Arumi.
Ia membalas genggaman tangan Mama Sofia dengan erat. "Saya yang harus berterima kasih, Mama. Di saat dunia luar merendahkan saya karena masa lalu keluarga saya, Renard dan Mama justru memberikan saya sebuah rumah yang sesungguhnya. Saya... saya sangat mencintainya."
"Mama tahu, Sayang. Mama sangat tahu," ucap Mama Sofia sembari memeluk Arumi hangat.
"Sekarang, berhentilah menangis atau riasanmu nanti malam akan rusak. Bi Sumi, tolong bantu menantuku yang cantik ini memilih pakaian terbaiknya. Kita harus membuat si kanebo kering itu bertekuk lutut malam ini!"
Tawa renyah kembali pecah di dalam kamar tersebut, mengusir sisa-sisa kegugupan yang sempat melanda hati Arumi.
Waktu bergerak cepat membelah senja, hingga jarum jam tepat menunjuk pada pukul enam lewat empat puluh lima menit.
Langit Jakarta malam itu tampak bersih setelah diguyur hujan, menyisakan pendar lampu-lampu kota yang memantul indah di atas permukaan jalanan yang basah.
Arumi berdiri di lobi utama mansion, menatap pantulan dirinya di dinding kaca.
Malam ini, atas saran Bi Sumi, ia memilih mengenakan sebuah gaun rajut premium berwarna putih tulang dengan potongan jatuh yang elegan, dipadukan dengan mantel wol tipis berwarna cokelat muda.
Rambutnya dibiarkan tergerai alami dengan gelombang lembut di ujungnya, memancarkan aura kesederhanaan yang berkelas.
Suara deru mesin mobil yang halus terdengar berhenti di halaman depan.
Tak lama kemudian, pintu kaca besar lobi terbuka, menampilkan sosok Renard Wijaya yang melangkah masuk.
Pria itu telah menanggalkan jas formal dan dasinya, kini hanya mengenakan kemeja hitam yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, dibalut dengan jaket kasual berpotongan tegas yang membuatnya tampak jauh lebih muda dan luar biasa tampan.
Langkah kaki Renard mendadak terhenti di tengah lobi saat matanya menangkap sosok Arumi yang sedang berdiri menantinya.
Selama beberapa detik, keheningan yang manis kembali mengunci gerakan mereka.
Renard menatap Arumi dengan pandangan yang begitu dalam, seolah sedang merekam setiap detail kecantikan istrinya malam ini ke dalam memorinya. Ada riak kekaguman yang tak bisa ia sembunyikan di balik manik mata elangnya.
Renard berdeham pelan, mencoba menguasai diri, meski semburat merah tipis di ujung telinganya kembali mengkhianati topeng tenangnya.
Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Arumi bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang familier.
"Kamu... tidak pernah gagal membuatku menunggu, Arumi," ucap Renard dengan nada suara yang rendah dan parau, namun ada binar kehangatan yang begitu nyata di matanya.
Pria itu mengulurkan tangan kanannya, membuka telapak tangannya di hadapan Arumi. "Ayo berangkat. Tempatnya sudah siap."
Arumi menatap telapak tangan besar yang hangat itu, lalu dengan senyuman manis yang mengembang indah, ia meletakkan jemari lentiknya di sana, membiarkan Renard menggenggamnya dengan begitu erat dan posesif.
Malam itu, saat mereka melangkah bersama keluar menembus dinginnya malam, Arumi tahu bahwa kencan ini bukanlah akhir dari sebuah kontrak, melainkan babak pertama dari sebuah kisah cinta yang sesungguhnya.