"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh Guntur Aliansi
Malam yang pekat dan dingin di wilayah perbatasan itu seketika pecah oleh lolongan mengerikan dari sirine tanda bahaya yang menggema memekakkan telinga di seluruh penjuru benteng pertahanan Crimson Raven. Frekuensi suara melengking itu berbaur dengan kepanikan massal para prajurit yang berlarian tanpa arah.
Di bawah komando tertinggi sang pemimpin aliansi, Ethan Taylor, faksi aliansi raksasa sama sekali tidak melancarkan strategi gerilya atau pergerakan senyap yang perlahan. Mereka datang membawa badai pembalasan dengan kekuatan militer penuh dan masif, bergerak serentak dari segala arah mata angin untuk meratakan setiap jengkal tanah serta sisa kekuasaan Frans Raven hingga menjadi abu.
Bum! Bum! Bum!
Garis cakrawala di sepanjang wilayah perbatasan Raven menyala terang benderang oleh pendar warna merah keemasan yang mengerikan.
Artileri berat milik divisi utama faksi Johnson, yang dipimpin langsung oleh sang patriark Thomas El Johnson bersama kedua putra kembar taktisnya, Elex dan Alex Barack Johnson, mulai memuntahkan amunisi kaliber besar mereka tanpa henti.
Dentuman dahsyat meriam-meriam pembuka itu menggetarkan tanah sejauh bermil-mil, menghantam dinding pembatas beton terluar benteng kokoh Raven hingga hancur berkeping-keping menjadi puing-puing berdebu.
Serangan pembuka yang teramat masif dan terstruktur ini langsung melumpuhkan seluruh menara pengawas, jaringan komunikasi, dan pos pertahanan musuh, bahkan sebelum para prajurit garda depan Raven sempat menarik pelatuk senjata mereka atau menyadari dari mana arah datangnya maut.
"Hancurkan sayap kiri mereka! Blokade semua jalur pelarian dan jangan biarkan satu pun dari tikus-tikus Raven itu melarikan diri hidup-hidup!" seru Elex Barack Johnson dengan nada dingin penuh otoritas melalui radio komunikasi militer terenkripsi.
Dari balik kabut asap yang membubung tinggi, tank-tank baja berat bersenjata lengkap milik faksi Johnson merangsek maju secara agresif, menggilas barikade besi dan membelah puing-puing gerbang dalam yang telah runtuh total.
Di saat yang bersamaan, langit malam yang kelam mendadak berguncang hebat oleh raungan mesin jet. Dari arah udara, skuadron jet tempur faksi Beatrice yang dikomandani langsung oleh jenderal taktis Steve Adam Beatrice melesat membelah awan hitam bagai kilat mematikan.
Mereka menjatuhkan bom-bom taktis berskala besar tepat sasaran, menghancurkan pusat komando udara, melumpuhkan jalur logistik utama, dan meledakkan gudang persenjataan utama milik faksi Raven hingga menimbulkan rangkaian ledakan sekunder yang membubung ke langit.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit sejak sirine pertama berbunyi, seluruh sistem pertahanan faksi Crimson Raven yang selama puluhan tahun ini mereka banggakan di wilayah sekutu telah lumpuh total tanpa sisa.
Sementara artileri dan divisi udara menghujani musuh dari kejauhan, di garis paling depan pasukan infanteri utama, Reymond Oliver Smith bergerak maju layaknya malaikat maut berpakaian hitam.
Seragam militer kaku kebesarannya kini telah berselimut debu medan perang dan cipratan jelaga mesiu, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi keanggunan penampilannya yang mengintimidasi.
Sepasang mata elangnya berkilat mematikan, memancarkan aura membunuh yang teramat pekat saat memimpin divisi tempur infanteri khusus Smith menembus barisan pertahanan terdalam kastil.
Setiap ayunan langkah bot militernya yang mantap dan bidikan senapan serbunya dipenuhi oleh amarah yang membara dan dingin—sebuah manifestasi dari sumpah suci dan janji pelindung yang ia bisikkan tepat di pelipis Claudia sebelum ia melangkah ke medan laga.
"Tuan Reymond! Sektor tengah pertahanan mereka sudah jebol! Pasukan infanteri sisa dari Raven mulai mundur mundur ke dalam kastil utama!" lapor salah seorang komandan peleton infanteri Smith dengan napas terengah-engah di tengah desingan peluru yang saling bersilang.
"Kejar mereka tanpa ampun! Kepung kastil utama sekarang juga! Jangan berikan mereka celah untuk bernapas!" perintah Reymond, suaranya yang berat menggelegar mengalahkan kebisingan suara ledakan artileri di sekitarnya.
Bersama dengan Ethan Taylor yang memimpin taktis pergerakan pasukan faksi Taylor dari sisi kanan, aliansi raksasa itu mengunci rapat seluruh akses keluar dari kastil utama Crimson Raven tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi musuh untuk bermanuver.
Prajurit-prajurit Raven yang tersisa, yang kini telah kehilangan semangat tempur mereka, mulai melempar senjata mereka ke tanah. Mereka berlutut dan gemetar ketakutan setengah mati menyaksikan bagaimana faksi-faksi terbesar di wilayah sekutu bersatu padu membentuk dinding kematian hanya untuk menghancurkan dinasti mereka dalam satu malam tunggal.
Di saat yang sama, di dalam aula utama kastil yang terus bergetar hebat dan berdebu akibat hantaman bom taktis yang meledak di luar dinding batu, Frans Crimson Raven berdiri mematung.
Wajah keriputnya yang biasa memancarkan keangkuhan kini tampak pucat pasi bagai mayat, dengan keringat dingin yang bercucuran membasahi jubah kebesarannya. Tangannya yang gemetar menatap layar-layar monitor pengawas taktis yang satu per satu mati menjadi sinyal statis, menampilkan rekaman kehancuran total seluruh pasukannya di tangan aliansi Smith-Taylor.
Skenario licik dan konspirasi kotor yang ia susun dengan sangat rapi melalui pengiriman surat fitnah tempo hari—yang ia harapkan dapat menjebak Reymond agar mengeksekusi Claudia—kini sepenuhnya berbalik menjadi senjata makan tuan yang paling mematikan bagi dirinya sendiri.
Frans sama sekali tidak pernah menyangka, bahkan dalam mimpi terburuknya sekalipun, bahwa silsilah rahasia darah Claudia sebagai putri Montgomery dan konspirasi pembunuhan berencana terhadap Baron William Montgomery dua puluh tahun lalu akan terbongkar oleh intelijen Smith dalam waktu secepat ini.
"Ayah! Tamatlah riwayat kita! Pasukan utama Smith dan Taylor sudah berhasil menjebol pintu gerbang dalam istana!" seru Robert Crimson Raven, sang pewaris takhta palsu faksi, yang berlari masuk ke dalam aula dengan langkah tertatih-tatih.
Tubuhnya gemetar hebat dirundung kepanikan massal, dan ia memegang senjata apinya dengan tangan yang tidak lagi stabil.
Frans Raven menoleh lambat, menatap anak laki-laki kesayangannya yang selama ini ia agungkan di atas penderitaan Claudia tersebut dengan pandangan mata yang menggelap penuh keputusasaan yang gila.
"Gunakan seluruh sisa pasukan pengawal pribadimu untuk memblokade koridor, Robert! Kita harus bertahan di aula ini sampai bantuan militer dari sekutu luar kita tiba di perbatasan!" perintah Frans dengan suara serak yang memelas.
Frans tidak menyadari, atau mungkin menolak untuk menerima kenyataan pahit, bahwa tidak akan pernah ada bantuan militer yang datang menyelamatkannya malam ini. Di luar sana, di balik kabut asap koridor yang hancur, Reymond Oliver Smith telah berdiri tegap tepat di depan pintu kayu besar aula utama.
Dengan pistol taktis di tangan dan amarah Montgomery di pundaknya, sang jenderal telah siap mendobrak masuk untuk mengakhiri dinasti penuh dosa dan kebohongan yang telah menyiksa istrinya selama dua puluh satu tahun penuh.