NovelToon NovelToon
Balas Dendam Sang Putri Buangan

Balas Dendam Sang Putri Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: novi niajohan

Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.

Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.

Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.

Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Berjalan keluar.

Disaat lengah Wu San tidak sempat menghindar, beruntung Qian segera menahan anak panah dari arah belakang Wu San dengan pedang miliknya.

"Qian," ucap Wu San merasa beruntung melihat kehadiran Qian.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Qian pada Wu San.

"Ya," sahut Wu San mencoba membuka kembali tali baja yang menjerat kakinya.

Belum selesai sampai disitu, beberapa anak panah kembali muncul dari sisi lain dengan irama dan kecepatan lebih tinggi. Sehingga Qian dan Wu San harus menghindari anak panah yang melesat secara liar dan menangkis serangan anak panah yang datang tersebut secara bertubi-tubi.

Sementara itu, Guan Yu dan para anak buahnya telah keluar dari kota bawah tanah. Menyusun kembali rencana menyelusuri kota bawah tanah di daerah lainnya demi menemukan keberadaan ketua organisasi tersebut.

Namun ketika melihat anak buahnya berkurang, Guan Yu memutuskan kembali masuk ke dalam terowongan panjang nan gelap untuk menemukan Wu San dan Qian.

Di dalam terowongan gelap yang berbentuk labirin itu, Guan Yu memejamkan kedua matanya dan mencoba memfokuskan telinganya. Berusaha menangkap gelombang suara asing yang berada di dalam terowongan dan berharap menemukan sesuatu melalui indera pendengarannya.

Perlahan tapi pasti, Guan Yu berhasil menangkap suara-suara dentingan dari senjata tak beraturan. Ia pun bergegas mendatangi asal suara itu dan menemukan Qian dan Wu San tengah berusaha menahan serangan senjata dari berbagai arah.

Guan Yu bergegas membantu Wu San keluar dari jeratan tali baja selama Qian membantu menghalau serangan senjata disekitar.

Pria itu melapisi pedangnya dengan sedikit tenaga dalam, lalu memotong tali baja dengan satu kali tebasan. Kemudian mendorong tubuh Wu San dan Qian agar menjauh dari lokasi serangan ketika satu lubang dinding menyemprotkan cairan beracun.

"Tuan muda!" pekik Wu San dan Qian bersamaan ketika melihat ketua mereka sedang dikepung asap dan cairan beracun.

Guan Yu menutup wajahnya dengan lengan, menahan cairan dan asap beracun agar tidak terkena wajah dan terhirup olehnya. Lalu segera terbang keluar dari lingkaran berbahaya itu dan bergabung dengan Wu San dan Qian di zona aman.

"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Wu San memastikan.

"Aku baik-baik saja," balas Guan Yu. "Ayo kita keluar dari tempat berbahaya ini!" ajaknya kemudian.

Setelah beberapa menit berjuang melawan senjata rahasia, mereka akhirnya berhasil keluar dari labirin dan berkumpul kembali bersama dengan yang lainnya.

Wu San secara sadar menghampiri Guan Yu dan meminta maaf atas tindakannya yang gegabah. "Maaf Tuan, hamba telah bertindak gegabah dan tidak mengindahkan larangan yang ada berikan," ucapnya menyesal.

"Sudahlah, anggap kecelakaan ini sebagai latihan tambahan untukmu," balas Guan Yu.

"Terima kasih Tuan," balas Wu San.

Guan Yu mengangguk sebagai balasan permintaan maaf Wu San dan berpikir-pikir kembali mengenai labirin yang baru saja ia lalui.

Berkat kecerobohan Wu San kali ini, pikiran Guan Yu akhirnya terbuka. Kemungkinan besar bila ketua kota bawah tanah ada didalam labirin tersebut.

...----------------...

Beberapa hari kemudian.

Kediamanan Guan Yu.

Merasa bosan sendirian di dalam kamar selama beberapa hari ini, aku memutuskan untuk keluar dan berkeliling sejenak disekitaran kediaman. Walau tabib Min melarang keras karena luka ditubuhku ini masih belum mengering sempurna, namun aku merasa butuh berjalan-jalan sebentar untuk menyegarkan pikiranku.

Aku berjalan perlahan-lahan dengan menyentuh dinding kayu agar bisa sampai ke depan pintu kamar, dan terus berjalan mengarah ke tempat dimana ada taman dan juga kolam ikan cukup luas dibawah jembatan merah.

Sesekali aku berhenti karena rasa sakit pada perutku, dan melanjutkan kembali setelah rasa sakitnya berkurang.

Setibanya diatas jembatan merah, aku terdiam sejenak menatapi sekeliling taman dan mencoba menarik udara segar disekitar. Rasa hangat dari sinar mentari pagi membuat tubuhku terasa sehat dan aku sangat menikmatinya.

Gemericik air terjun buatan membuatku merasa damai, ditambah harumnya bunga-bunga osmanthus yang baru saja bermekaran di musim gugur. Membuatku ingin menghirup aromanya dan memejamkan kedua mata hanya untuk sekedar menikmati baunya.

"Ah harum sekali," ucapku merasa tenang sekali.

"Nona, kenapa anda datang kesini. Harusnya anda beristirahat di kamar," ucap seorang pria memergokiku ketika berkeliaran diluar kamar.

"Anda siapa ya?" tanyaku ingin tahu.

"Oh perkenalkan hamba adalah koki Xuan, hamba adalah koki di kediaman ini." Koki Xuan menunjukkan lengannya yang berotot dengan sedikit gaya, membuatku tertawa ketika melihat tingkah lucunya.

"Aduh ..." ringisku karena tertawa menekan otot yang luka pada perutku.

"Nona, anda tidak apa-apa?" ucap Koki Xuan cemas dan meminta maaf karena telah menbuat perutku sakit.

"Tidak apa paman Xuan, aku baik-baik saja."

"Syukurlah," balas Koki Xuan.

"Jadi anda yang selalu menyiapkan makanan dikediaman ini dan juga makanan untukku ya?"

"Benar sekali, Nona. Dan kenapa anda keluar kamar seorang diri? Apa anda perlu sesuatu?"

"Tidak ada, aku hanya merasa bosan di kamar terus dan butuh sedikit udara segar saja," jawabku.

"Hmm... Bagaimana kalau Nona duduk disini saja dan kebetulan hamba ingin memasak makan siang untuk anda," ucap Koki Xuan memberi saran.

"Boleh kah?"

"Tentu saja boleh, tunggu disini sebentar ya. Hamba akan kembali," balas Koki Xuan lantas pergi ke dapur dan membawa beberapa peralatan memasak hingga tungku tanah liat dan juga beberapa batang kayu bakar.

Lalu membawakanku kursi kayu agar aku duduk disana seperti sedang menonton pertunjukkan memasak.

"Duduklah disini, Nona. Dan lihat bagaimana caraku memasak," ucap koki Xuan memulai dengan mencincang daging dengan kedua goloknya menjadi halus.

Aku terkesima dengan kegesitan koki Xuan, walau tubuhnya terlihat gempal dan juga banyak lemak yang menumpuk, namun gerakannya sangat cepat dan terarah dengan baik.

"Wah, hebat sekali!" seru-ku ketika koki Xuan memainkan pisau dan mengiris beberapa batang daun bawang dengan cepat.

"Anda terlalu cepat kagum Nona," ucap Koki Xuan semakin gencar memamerkan kelihaiannya. "Lihatlah ini!" ucapnya kemudian menutup kedua matanya dengan kain. Lalu mengiris bawang dan bumbu lain dengan mata tertutup.

Aku bertepuk tangan dan memuji kemampuannya, disaat api dari tungku menyambar panci pengorengan. Koki Xuan mengaduk cepat daging cincang yang baru saja ia goreng bersama dengan minyak bawang putih, lalu memberikan beberapa bumbu kering serta kecap dengan gaya seperti bela diri.

Meloncat dan terbang kesana kesini, hingga aku sulit membedakan jika dia itu sedang masak atau sedang beratraksi.

Lalu di bagian akhir koki Xuan menaburkan sedikit daun bawang diatas masakannya sebagai penutup atas satu menunya hari ini.

"Silahkan dicicipi Nona," ucap Koki Xuan meletakkan sepiring daging cincang tumis kecap diatas meja untuk ku cicipi.

"Hmm... Ini benar-benar enak!" pujiku berkali-kali.

"Tentu saja masakan buatanku selalu enak," ucap koki Xuan bangga dan aku menyetujuinya.

Tidak hanya satu, koki Xuan memasak menu lainnya, seperti sayur lobak dan tumis pare.

Merasa makanan dimeja terlalu banyak dan aku tidak sanggup menghabiskannya, aku kemudian mengajak Paman Xuan agar makan bersamaku. "Ayo Paman, kau juga cobalah dan makanlah bersamaku," ajakku.

"Tidak Nona, anda makanlah lebih dulu." koki Xuan menolak karena statusnya rendah sebagai pelayan.

"Tidak apa, mari sini duduk bersamaku. Kita sama-sama dari kalangan rakyat biasa jadi tidak perlu takut seperti itu," Aku menarik lengan koki Xuan agar duduk bersamaku dimeja yang sama. Akan tetapi koki Xuan merasa ragu-ragu, mungkin karena takut sang majikan memergoki kami sedang makan bersama.

"Ayo dimakanlah selagi hangat, Paman pasti sangat lelah karena menyiapkan makanan untuk semua orang di kediaman ini setiap harinya kan," ucapku menyendok nasi baru dan daging ke dalam mangkuk untuk selanjutnya kuberikan pada koki Xuan. "Ayo kita makan!"

Koki Xuan tersenyum padaku dan merasa terharu karena ini pertama kalinya ia mendapatkan perhatian dari seseorang.

Ia pun mulai memakan masakannya sendiri, sesekali bersenda gurau sambil menikmati masakan yang tersaji.

Lalu dikejauhan sana, Guan Yu dan Xin yang baru saja tiba dikediamannya menatap kearah taman dimana Qiuye dan koki Xuan tengah makan bersama dimeja yang sama.

Guan Yu berjalan menuju mereka berdua dengan tatapan dinginnya, namun alih-alih menendang meja itu, Guan Yu malah duduk diantara keduanya, sehingga menciptakan suasana mencekam disekitaran meja itu.

Koki Xuan yang panik segera berdiri dan undur diri, tidak lupa meminta maaf sebelum pergi.

"Paman," panggilku. Namun koki Xuan terus berjalan menuju dapur dan membereskan semua bekas peralatan masaknya.

"Siapa yang menyuruhmu keluar kamar dan makan disini?" tanyanya datar.

Aku menelan ludahku kasar dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena lidahku tiba-tiba saja membeku.

"Baru di tinggal beberapa hari tapi sepertinya ada yang lupa kalau aku adalah pemilik kediaman ini," ucap Guan Yu kemudian.

...Bersambung....

1
Joan
guan yu meriang itu, 🤣
Joan
makin seru kk
Joan
waduh percaya diri bener anak gundik satu ini
Joan
ya pelakunya si qiuye itu🤣
Joan
guan yu cuma milik Qiuye seorang. titik gk pake koma
Noviyanti
terima kasih sudah membaca karyaku, jangan lupa berikan like dan komen ya.
Joan
keren thor satu persatu mulai terungkap. gk sabar sama reaksi qiuye pas dia tahu guan yu ngerawat dia🤣
Joan
semakin seru lanjut thor
Joan
semakin pnasran. lanjut thor💪
Joan
parah banget kaisarnya /Panic/
Joan
makin seru thor, lanjutkan💪
Joan
lanjut thor
Noviyanti
Selama menunggu kelanjutan cerita ini, kalian bisa baca karya yang lain dulu ya
Lina Zascia Amandia: Sama2 Kak Nov.... selamat aktif menulis kembali ya.
total 3 replies
Joan
ceritanya bagus dan cukup menarik. terus semngat
Noviyanti: terima kasih semangatnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!