JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Provokasi
"Naya, saya ngga mau bubur," ucap Dante, suaranya masih agak serak tapi nadanya sudah kembali dingin dan keras kepala. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela, menolak menatap mangkuk putih yang dipegang gadis itu.
"Tapi kamu harus makan!" balas Nayara, menaruh mangkuk itu dengan hentakan kecil di atas meja nakas rumah sakit.
"Iya, tapi saya ngga mau bubur, NA-YA-RA." Dante menoleh kembali, menatapnya tajam, menekankan setiap suku kata nama gadis itu dengan gemas.
"Tapi ini disuruh dokternya, DAN-TEE...!" Nayara tidak mau kalah. Dia berkacak pinggang, meniru cara Dante menekankan namanya. "Punggungmu itu baru saja dijahit, lambungmu juga harus diisi makanan yang lembut dulu supaya obat-obat berdosis tinggi itu tidak merusak perutmu! Mengerti?!"
"Saya ini Don Mafia, bukan balita yang baru tumbuh gigi," cibir Dante, melirik jijik ke arah bubur ayam rumah sakit yang tampak pucat tanpa gairah itu. "Bawa pergi makanan menjijikkan itu dari hadapanku."
"Kau mau mati karena ususmu melilit, hah? Pilih makan bubur ini atau aku panggil dokter untuk memasukkan makanan lewat selang hidungmu lagi?!" ancam Nayara, matanya yang masih agak bengkak melotot galak.
Dante mendengus kasar, rahangnya mengatup rapat. "Kau berani mengancamku, Kucing Liar?"
"Aku tidak mengancam, aku sedang menjalankan tugas kemanusiaan! Cepat buka mulutmu!" Nayara kembali mengambil mangkuk bubur, menyendoknya sedikit, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Dante dengan paksa.
Dante baru saja akan memaki dan mengusir Nayara dari hadapannya, namun ekor mata elangnya mendadak menangkap sebuah pergerakan dari arah balik kaca pintu kamar ICU. Sesosok pria tinggi berwibawa berusia 43 tahun dengan pakaian rapi tengah berdiri diam di sana.
Itu Lorenzo. Ayahnya.
Seketika, kilat kelicikan melintas di benak Dante. Dia tahu betul siapa Nayara sebenarnya—anak kandung dari Emily, wanita yang merupakan cinta pertama sekaligus kelemahan terbesar seorang Lorenzo Moretti. Dante tahu ayahnya pasti akan merasa sangat tidak nyaman, cemburu, sekaligus marah melihat kedekatan ini, tetapi sang papa tidak akan bisa berbuat apa-apa demi menjaga gengsinya.
Dante sengaja memanfaatkan momen ini untuk memprovokasi ayahnya. Tatapan matanya yang semula dingin mendadak berubah menjadi sayu yang dibuat-buat, menatap Nayara dengan pandangan yang dalam.
"Tapi tangan saya kaku, Naya. Tidak bisa memegang sendok," ucap Dante, suaranya sengaja dilembutkan beberapa tingkat agar terdengar begitu manja dan tak berdaya.
Nayara menghela napas panjang, mengira pria ini akhirnya melunak karena lemas. "Ya tahu! Makanya ini aku suapi, Tuan Muda yang Terhormat! Ayo, buka mulutmu!"
"Kau ikhlas?" tanya Dante lagi, nadanya terdengar sangat intim, matanya sengaja melirik ke arah pintu untuk memastikan Lorenzo melihat posisi mereka yang sangat dekat.
"hmm,, cepatlah" jawab Nayara yang polos dan tidak tahu apa-apa tentang rencana licik di kepala Dante, akhirnya menyodorkan sendok berisi bubur itu. Dante membuka mulutnya perlahan, menerima suapan pertama dari Nayara dengan pandangan mata yang terus mengunci wajah gadis itu dengan lekat.
"Nah, begitu, kan pintar," gumam Nayara tanpa sadar, seolah sedang membujuk keponakan kecilnya.
"Jangan menyamakanku dengan peliharaanmu," potong Dante setelah menelan bubur itu dengan susah payah karena tenggorokannya masih terasa kering.
"Kau memang lebih melelahkan daripada peliharaan," balas Nayara, kembali menyendok bubur dari mangkuk. "Ayo, lagi."
Dante kembali menerima suapan kedua, lalu ketiga.
Setiap kali Nayara menyodorkan sendok, gadis itu tanpa sadar ikut membuka mulutnya sedikit, sebuah kebiasaan refleks yang membuat Nayara tampak sangat telaten merawat Dante. Nayara begitu fokus memastikan bubur itu tidak tumpah, hingga dia sama sekali tidak menyadari manipulasi yang sedang dilakukan pria itu.
Tanpa diketahui oleh Nayara, sudut bibir Dante yang bebas dari selang oksigen terangkat sedikit. Sebuah senyuman miring tipis, sinis, dan penuh kemenangan terukir di wajah tampannya. Dari pantulan kaca pintu, Dante bisa melihat rahang Lorenzo mengeras sempurna dan kepalan tangan sang papa mengencang di balik saku celananya. Lorenzo tampak sangat marah melihat anak dari wanita yang dicintainya melayani putra kandungnya sendiri seperti itu, namun Lorenzo terikat oleh harga diri untuk tidak mendobrak pintu.
Setelah beberapa detik menahan amarah di balik pintu, bayangan Lorenzo akhirnya berbalik arah dengan langkah kaku dan pergi meninggalkan koridor rumah sakit karena tidak sanggup menyaksikan lebih lama lagi.
Begitu bayangan ayahnya menghilang sepenuhnya, senyuman kemenangan di bibir Dante langsung lenyap seketika. Misi provokasinya malam ini sudah selesai, dan dia tidak lagi membutuhkan drama suap-menyuap ini. Dinding es yang dingin kembali membeku kokoh di wajahnya.
Nayara yang baru saja meniup sendok suapan berikutnya, kembali menyodorkannya ke depan mulut Dante. "Ayo, suapan kelima. Buka mulutmu."
Dante memalingkan wajahnya dengan sentakan dingin, membuat sendok di tangan Nayara melayang di udara kosong. "Sudah. Singkirkan itu."
Nayara mengernyitkan alisnya, merasa heran dengan perubahan sikap Dante yang mendadak ketus lagi dalam sekejap mata. "Lho? Ini baru empat suap, Dante. Mangkuknya masih penuh. Sedikit lagi, ya?"
"Saya bilang sudah, Nayara," desis Dante, suaranya kembali datar, dingin, dan sarat akan perintah yang tak boleh dibantah. Dia menarik masker oksigennya ke atas, menutupi kembali sebagian wajahnya dan memejamkan mata, memutus kontak visual dengan gadis itu. "Bawa makanan itu keluar. Saya mau istirahat."
Nayara menatap mangkuk bubur di tangannya, lalu menatap tubuh Dante yang kini kembali memunggunginya dengan kaku. Gadis itu menghela napas pendek. Kali ini, dia tidak berniat memaksa atau membalas dengan kata-kata ketus.
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Nayara lirih. Dia menaruh kembali mangkuk bubur itu ke atas meja nakas dengan pelan, lalu merapikan tisu di sekitarnya. "Aku tidak akan memaksamu. Istirahatlah."
Nayara melangkah mundur, berniat kembali duduk di kursi besi di sudut ruangan untuk menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi bayangan mengerikan dari hutan tadi, meninggalkan Dante yang kembali tenggelam dalam keheningan dan rencana gelap di kepala mafianya.