Novel ini kelanjutan dari Novel. " Cinta Gadis Tangguh Dari Desa."
Luna Haifa Adhitama putri sulung dari Kavindra Adhitama dengan Freya Pratiwi Adhitama. Luna mempunyai adik kembar yang bernama Aryan Zaidan Adhitama dan Aryana Zaidah Adhitama.
Luna seorang Dokter spesialis Anak. Karena pembawaannya yang lembut dan ramah. Dia menjadi Dokter yang diidolakan sama semua pasiennya.
Pada saat dia pergi ke rumah kumuh yang sudah menjadi kebiasaannya satu bulan sekali. Membantu orang-orang yang disana untuk memberikan perobatan gratis disana.
Dia bertemu dengan anggota TNI yang juga lagi membantu menyalurkan bantuannya ke orang-orang yang ditinggal di bawah Jembatan.
Akankah Luna mengenali salah satu dari anggota TNI tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
SELAMAT MEMBACA !!!
Setelah pendataan selesai, kontraktor dan para tukang dikumpulkan untuk melihat langsung denah serta rancangan bangunan rumah susun sepuluh lantai itu agar paham tata letak dan cara pembangunannya.
Pihak pengelola juga sudah menghubungi pemasok bahan bangunan terbesar di Jakarta untuk mengirimkan semua perlengkapan dan bahan yang dibutuhkan, agar pekerjaan bisa segera dimulai tanpa kendala kekurangan perlengkapan.
Mereka bekerja sama mengukur batas dan luas tanah dengan teliti, memastikan semuanya sesuai dengan ukuran pada denah rencana pembangunan.
Sementara itu, Sertu Dimas yang sedang memegang ponselnya tampak melihat pesan masuk, sebagian besar bahan bangunan yang dipesan sudah berangkat dan akan segera tiba di lokasi.
Sertu Dimas segera berjalan menghampiri Kapten William dan Arya yang sedang memeriksa denah.
"Lapor, Kapten. Tuan Arya... Baru saja ada pesan masuk, sebagian bahan bangunan yang kita pesan sudah berangkat dan sebentar lagi akan sampai di sini," ujarnya sambil menyerahkan ponsel agar mereka bisa melihat pesan itu sendiri.
"Siap, Sertu Dimas. Sebaiknya kamu dan Serma Yoga berjaga di depan pintu gerbang dan arahkan saja mereka supaya mendekat ke sini!" perintah Kapten William.
"Siap dilaksanakan, Kapten!" jawab Sertu Dimas sambil memberi hormat singkat.
Arya tersenyum ramah lalu menepuk bahu Sertu Dimas itu pelan. "Santai saja, Bang Dimas. Di sini di luar tugas dinas, tak perlu terlalu kaku. Panggil saja namaku Arya," ujarnya dengan nada akrab.
Sertu Dimas tersenyum kaku, ia belum terbiasa karena ini pertama kalinya berbicara akrab dengan orang yang begitu terpandang di kotanya.
"Baik... Ar... Arya," jawabnya terbata-bata, wajahnya sedikit memerah karena masih merasa canggung namun berusaha menuruti permintaan itu.
Kapten William yang melihat tingkah canggung dan kaku Sertu Dimas hanya tersenyum.
Rombongan truk pengangkut bahan-bahan bangunan sudah berdatangan dan Sertu Dimas, mengarahkan mereka untuk berhenti di tengah-tengah tanah lapang itu.
Hape Arya terdering, ia lalu mengambil hapenya di kantong celananya. Tertera nama Lucas di sana.
"Assalamualaikum, Bang Lucas."
"Walaikumsalam, Dek. Mommymu baru saja menghubungi Abang, beliau bilang kalau makan siang pekerja proyek akan dikirim dari Cafe. Di sana ada berapa pekerja, Dek. Tolong nanti yang bagian mengelola proyek suruh selalu laporan di jam sepuluh, ya Dek!" seru Lucas kepada Arya karena penanggung jawab Cafe sudah diambil alih oleh Lucas.
"Baik, Bang. Nanti aku sampaikan kepada bagian pengelola proyek dan akan aku kasih nomor telponnya Bang Lucas atau nomor telpon Cafe, Bang?"
"Nomor telponku saja, Dek. Takut kalau mereka beri laporan, akunya lagi di luar ruangan. Ya sudah, Dek. Tolong segera kasih laporan berapa orang yang di proyek, Assalamualaikum."
"Siap, Bang. Walaikumsalam."
Arya mengakhiri panggilan telponnya, ia berjalan ke arah Sertu Dimas dan Kapten William yang sedang memantai truk-truk yang sedang menurun barang yang akan digunakan untuk pembangunan rumah susun.
"Bang...!" panggil Arya kepada Kapten William.
Kapten William membalikkan badan ke arah belakang.
" Ada apa, Dek?" tanyanya.
"Baru saja, Bang Lucas menghubungiku. Bertanya ada berapa orang yang berada di sini. Beliau juga bilang kalau untuk makan siang pekerja, akan disediakan dari Cafe itu perintah Mommy," ucap Arya dengan tersenyum bangga, Mommy juga ikut bergabung dengan pembangun proyek.
"Benarkah?! Tante memang the best deh, jadi aku bisa numpang makan di sini terus deh hehehe. Sertu Dimas, Serma Yoga kalian berdua dengar kan, jadi kalian juga bisa numpang makan siang di proyek terus selama proyek ini belum selesai!" seru Kapten William dengan penuh kebahagiaan.
Sementara itu, Arya langsung kirim chat ke hape Lucas. " Bang Lucas, tolong siapkan dan kirimkan tiga puluh lima bungkus nasi kotak dan jajanan ke lokasi proyek," ucap Arya kepada Lucas.
Tanpa menunggu lama, mobil yang dikendarai oleh Lucas sendiri sudah tiba di lokasi proyek, ia membawa mobilnya menuju ke arah Arya dan Kapten William.
"Assalamualaikum semua," sapa Lucas setelah sampai di dekat kedua adiknya itu.
"Walaikumsalam, Bang," jawab mereka.
Kapten William dan Arya pun langsung menundukkan badan untuk mencium tangan pria itu dengan penuh takzim. Sungguh pemandangan yang sulit dipercaya bagi siapa saja yang melihatnya, bagaimana Arya Zaidan Adhitama maupun Kapten Jonathan William Abraham, pengusaha muda dan seorang Kapten yang disegani banyak orang, justru bersikap sangat sopan kepada seorang manajer Cafe milik keluarga mereka sendiri.
"Aku baru tau, kalau kalian akan membangun rumah susun untuk warga yang kurang mampu, Dek. Hebat...kalian hebat!" seru Lucas yang memandang sekeliling tanah lapang yang akan digunakan untuk proyek pembangunan rumah susun.
"Ya, Bang. Aku miris sekali melihat warga yang tinggal dibawah jembatan sana, Bang. Saat bercerita dengan keluarga, pas kebetulan Dek Arya menangkap karyawan yang sedang korupsi. Ia punya rencana setengah uang dari hasil korupsi akan di sumbangkan ke warga yang kurang mampu. Ya jadilah seperti ini, Bang," jawab Kapten William dengan sopan.
Sedangkan dua prajurit yang berdiri di dekat mereka bertambah lagi kagumnya, melihat atasannya berbicara lembut dan sopan kepada Lucas.
"Sertu Dimas! Tolong panggil yang lain. Kita makan siang dulu. Baru lanjutkan mengukur lahannya!" perintah Kapten Dimas.
"Siap laksanakan, Kapten William!" seru Sertu Dimas sambil terkekeh, dia masih kaku kalau disuruh berbicara santai kepada Kapten William. Merasa kayak nggak sopan begitu.
Mereka semua berkumpul dan duduk melingkar setelah selesai mencuci tangan dari air gelas.
"Ayo, kita makan dulu. Baru kita lanjutkan mengobrolnya!" perintah Kapten William, anggota prajurit yang lain membagikan nasi kotak yang dibawa oleh Lucas tadi. Lucas sendiri langsung izin untuk kembali ke Cafe, karena ada janji dengan pihak yang akan memasan catering untuk acara ulang tahun anaknya.
"Begini Bapak-bapak! Untuk makan siang kalian akan kami sediakan dari Cafe Tiga Saudara. Jadi kalian yang datang harus langsung absen ya, kami akan mudah memberi laporan ke pihak Cafe. Untuk bayaran kalian akan kami bayar mingguan dan kalau ada waktu lembur juga akan kami bayar sesuai dengan waktu kalian lembur. Semoga pembangunan ini bisa selesai sebelum waktu sebulan!" seru Arya kemudian.
Ia lalu menyerahkan tumpukan amplop kepada Sertu Dimas yang duduk di dekatnya.
"Ini sedikit bantuan uang saku untuk kebutuhan keluarga masing‑masing, sambil menunggu gaji pertama dibayarkan," ujar Arya tenang dengan ramah.
Sertu Dimas segera berdiri dan membagikan amplop itu satu per satu kepada setiap warga yang hadir. Warga tampak terkejut namun sangat berterima kasih atas kebaikan itu, tak menyangka akan mendapat bantuan tambahan di awal seperti ini.
"Terima kasih banyak, Tuan Arya. Semoga Tuan dan keluarga selalu diberikan kelancaran dan keberkahan," ujar salah satu warga mewakili yang lain sambil merangkul amplop itu dengan hati haru.
"Amin amin ya robbal'alamin!" seru mereka serempak.
alhamdulillah smoga apapun kedepannya nanti tak merubah ksh sayang dan kluarga besar mereka