Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Benih Keraguan
BAB 30: Benih Keraguan
Malam semakin larut membawa kesunyian yang kian mencekam di dalam kamar VIP Rumah Sakit Medika Sentosa. Di bawah temaram lampu selasar yang menembus celah pintu, Devano melangkah mendekati ranjang tempat Luna terbaring. Foto lama di ponselnya—yang memperlihatkan kedekatan dan senyum tulus antara almarhum ayahnya dan almarhum ayah Luna—benar-benar telah memukul mundur sebagian besar kemarahan yang membakar dadanya sejak sore tadi.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun ini, tatapan mata elang Devano ke arah Luna tidak lagi dipenuhi oleh kilat kebencian murni yang meledak-ledak. Ada keraguan yang merayap, rasa penasaran yang mengusik, dan sebersit rasa bersalah yang masih enggan diakui oleh egonya yang setinggi langit.
Devano mendudukkan tubuh tegapnya di tepi ranjang yang empuk. Dia memperhatikan wajah tidur Luna yang teramat pucat di bawah sinar lampu yang redup. Bulu matanya yang lentik tampak masih menyisakan bekas basah akibat air mata keputusasaan yang tumpah beberapa jam lalu. Tanpa sadar, digerakkan oleh dorongan aneh di dalam dadanya, tangan kekar Devano terulur perlahan. Telapak tangannya yang hangat menyentuh lembut dahi Luna, mengecek suhu tubuh gadis itu yang untungnya kini mulai berangsur turun.
Ada getaran halus yang asing merayap di dada Devano saat bersentuhan dengan kulit lembut Luna—sebuah rasa protektif yang mendalam yang tiba-tiba saja ingin bangkit. Namun, pria itu langsung menarik tangannya kembali dengan cepat, mengeraskan rahangnya seraya menepis perasaan itu jauh-jauh. Egonya kembali berbisik bahwa dia tidak boleh luluh begitu saja.
Keesokan paginya, tirai jendela besar kamar VIP sudah menembuskan semburat cahaya matahari terbit. Luna perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sosok Devano yang sedang tertidur dengan posisi bersandar di sofa kamar rawat, masih mengenakan kemeja hitam yang kusut.
Sebagai wanita yang tangguh dan tidak suka mengasihani diri sendiri, Luna tidak lantas merengek atau mengeluh sakit. Dia melirik ke arah kamar mandi yang berada beberapa meter di ujung ruangan. Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Luna memaksakan tubuhnya yang masih lemas untuk bergeser, berusaha turun dari ranjang medis seorang diri demi membersihkan diri. Tangan kanannya yang bebas memegang tiang infus besi untuk menjadikannya sandaran berjalan.
Sreeek...
Suara roda tiang infus yang bergeser di atas lantai marmer seketika memecah keheningan pagi. Devano yang pada dasarnya memiliki insting waspada yang tajam langsung tersentak bangun dari tidurnya. Mata elangnya seketika menangkap sosok Luna yang sudah berdiri dengan tubuh yang limbung, bersikeras ingin mandiri.
Melihat keras kepalanya wanita itu, Devano langsung bangkit berdiri secepat kilat. Dalam dua langkah lebar, dia sudah berada di samping Luna, menjulurkan kedua tangan kokohnya untuk menahan pinggang ramping Luna secara protektif agar gadis itu tidak jatuh menghantam lantai.
Terjadi eye contact yang teramat intens dan magnetis di antara mereka dalam jarak yang begitu dekat. Napas hangat Devano menerpa wajah Luna, membuat jantung gadis itu berdegup tidak beraturan karena kedekatan fisik yang mendadak ini. Namun, Luna segera menguasai dirinya. Dengan tatapan mata bulatnya yang tegar, dia menatap lurus ke dalam manik mata Devano.
"Saya bisa sendiri, Tuan Devano," ujar Luna dengan suara parau namun sarat akan ketegasan yang tegar. "Saya tidak ingin merepotkan Anda lebih jauh lagi. Tolong lepaskan."
Cklek!
Belum sempat Devano membalas ucapan Luna, pintu kamar VIP tiba-tiba terbuka tanpa ketukan yang sopan. Siska melangkah masuk dengan penampilan yang sangat glamor, mengenakan gaun desainer berwarna cerah dan kacamata hitam yang langsung dia angkat ke atas kepala.
Melihat pemandangan di depannya—di mana Devano sedang mendekap pinggang Luna dengan begitu intim—wajah Siska seketika berubah masam, namun dengan cepat dia memaksakan senyum manis dan langsung bergelayut manja di lengan kiri Devano, mencoba memisahkan jarak di antara mereka berdua.
"Ya ampun, Mas Devano! Jadi benar kamu seharian di sini hanya karena mengurus wanita ini?" ujar Siska dengan nada manja yang dibuat-buat, sembari melirik Luna dengan tatapan merendahkan. "Kenapa kamu repot-repot memindahkannya ke kamar VIP yang mahal ini, Mas? Dia kan cuma asisten pribadi. Lagipula, wanita lemah dan penuh drama seperti dia ini hanya akan menyusahkan pekerjaanmu di kantor!"
Mendapat sindiran tajam di depan wajahnya, ketangguhan Luna yang sebenarnya kembali diuji. Dia tidak menangis, tidak pula menunduk ketakutan seperti biasanya. Luna justru menegakkan bahunya yang sempit, menatap Siska dengan pandangan mata yang teramat tenang dan berwibawa, membuat Siska justru merasa terusik.
"Saya berada di rumah sakit ini hanya untuk memulihkan kondisi fisik saya, Kak Siska," jawab Luna dengan nada suara yang tertata rapi tanpa getaran ketakutan. "Begitu dokter menyatakan saya sembuh, saya akan langsung kembali bekerja di bawah perintah Tuan Devano untuk melunasi seluruh sisa utang yang ada. Tidak ada alasan lain, dan saya tidak berniat menyusahkan siapa pun."
Devano yang merasa tidak nyaman dengan atmosfer yang mendadak memanas di dalam kamar, memutuskan untuk mengakhiri perdebatan. Dia menarik lengannya secara perlahan dari gelayutan tangan Siska dengan dalih ingin mengambil segelas kopi di luar.
Namun, tepat sebelum melangkah keluar melewati ambang pintu bersama Siska, Devano mendadak menghentikan langkah kakinya. Pria itu berbalik, menatap perawat yang kebetulan baru saja masuk membawa nampan sarapan pagi untuk Luna.
"Pastikan dia menghabiskan seluruh makanannya pagi ini," perintah Devano pada perawat tersebut dengan suara baritonnya yang dingin, namun sarat akan perhatian kecil yang terselubung. "Dan jangan biarkan dia banyak bergerak atau kelelahan sebelum cairannya habis."
Siska yang mendengar perhatian tersembunyi dari Devano untuk Luna seketika melotot cemburu. Wajah cantiknya mengetat menahan geram, dan dia langsung menarik lengan Devano dengan kasar untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Saat pintu kayu mewah itu perlahan menutup, Devano sempat berbalik sekali lagi, menatap Luna dari balik celah kaca bening di pintu. Di dalam kamar, Luna pun rupanya sedang menatap ke arah luar.
Tatapan mata mereka kembali bertemu di udara untuk beberapa detik—sebuah tatapan yang tidak lagi dipenuhi oleh amarah, melainkan ada percikan kerinduan yang tersembunyi, gengsi yang amat tebal, dan ketegangan magnetis yang teramat kuat di antara mereka berdua. Pembaca dapat merasakan bahwa meski ego dan keadaan sedang memaksa mereka untuk saling menjauh saat ini, gesekan emosi dan gairah yang tertahan di dalam dada masing-masing justru akan segera menuntun mereka kembali ke dalam satu malam penuh kepasrahan dan gairah yang lebih membara dalam waktu dekat.