Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mancing Bersama Pak Djarot
Di rumah mewah Mas Tri dan Haura, suasana masih terasa dingin dan suram. Haura masih duduk di sudut sofa ruang tengah, punggungnya bersandar lemas, matanya menatap kosong ke arah taman di luar jendela. Pesan singkat dari ibunya kembali muncul di layar ponselnya, menuntut uang 50 juta itu dengan nada semakin mendesak dan mengancam.
[Kalau besok pagi uangnya belum ada, kami yang bakal datang ke rumahmu dan bikin keributan. Kamu sudah sukses, sudah jadi orang besar, masa tua ibu bapak masih susah begini? Tidak tahu diuntung kamu jadi anak!]
Kalimat itu tercetak jelas di layar, menusuk tepat ke ulu hati Haura. Ia melempar ponselnya ke samping dengan kasar, air matanya kembali menetes deras membasahi pipi. Sakit. Lelah. Dan yang paling menyiksa adalah penyesalan yang perlahan tumbuh menjadi duri tajam di dalam dada.
Bayangan Langit kembali melintas lagi. Wajah tampan, tatapan teduh, wibawa yang mempesona, dan kekayaan yang tersembunyi itu. Ia teringat momen saat grand opening kemarin. Saat semua orang termasuk atasan dan rekan bisnisnya, memuji-muji Langit dengan penuh hormat, memanggilnya 'Pengusaha Muda Hebat', 'Raja Laut', atau 'Rekan Berharga'.
Sementara dirinya? Ia hanya manajer operasional yang posisinya bisa diganti kapan saja. Ia hanya istri dari seorang supervisor yang gajinya pas-pasan, yang sebagian besar harus habis untuk menutupi gaya hidup mewah yang ia bangun.
"Kalau saja aku sabar, kalau saja aku tidak terlalu memandang rendah dia dulu," gumam Haura lirih, tangannya mengusap lembut perutnya yang mulai sedikit membuncit. "Kalau aku pilih Mas Langit, pasti hidupku enak. Pasti orang tuaku dihormati, pasti semua keinginan mereka terpenuhi tanpa aku harus pusing begini. Pasti aku tidak perlu dicap perusak rumah tangga. Pasti aku jadi Nyonya Besar, dihormati semua orang..."
Pikirannya makin kacau saat teringat betapa dinginnya perlakuan keluarga Mas Tri padanya. Ibu mertuanya, adik-adik iparnya, bahka keluarga besar suaminya bersikap sopan tapi dingin. Tidak ada kasih sayang tulus. Di mata mereka, ia tetaplah wanita yang merebut suami orang, wanita yang membuat Dinara harus pergi menderita. Mereka semua masih sopan karena menghargai Mas Tri semata.
Dan Mas Tri, laki-laki yang ia rebut mati-matian itu dan ia anggap piala kemenangan, sekarang justru menjadi sumber penderitaan terbesarnya. Mas Tri berubah menjadi dingin, mudah marah, sering membandingkan, dan yang paling menyakitkan, laki-laki itu sering menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah dan penyesalan, seolah-olah setiap hari ia berharap bisa memutar waktu kembali ke masa lalu.
" Bapak tadi pamit olahraga jam berapa Mbok? " tanya Haura yang sejak semalam perang dengan Mas Tri, mereka bahkan tidur di kamar terpisah karena Mas Tri pusing dengan pertengkaran terus menerus.
" Berangkat jam setengah 6 Bu" jawab si Mbok.
Tak beberapa lama kemudian pintu depan terbuka lebar. Mas Tri masuk dengan langkah berat, wajahnya berkeringat, bajunya agak kotor sedikit, dan tubuhnya terlihat lelah luar biasa. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 12 siang.
Haura buru-buru menyeka air matanya, berusaha memasang ekspresi marah dan ketus seperti biasa. Ia bangkit berdiri menatap suaminya yang baru pulang itu.
"Olahraga apa saja sampai jam segini baru pulang, Mas? Kamu pikir aku di rumah ini tidak hanya pajangan dan tidak butuh diperhatikan, jadi seenaknya saja pergi lama-lama?!" hardik Haura, meski suaranya tak sekeras biasanya karena lelah batinnya.
Mas Tri tidak menjawab. Ia hanya meletakkan kunci mobil di meja, melepas sepatunya dengan kasar, lalu berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya.
"Mas Tri! Aku bicara sama kamu!" Haura mengikuti dari belakang, berjalan cepat mengejar suaminya. "Dari kemarin sikapmu aneh sekali. Sejak ketemu Dinara semalam, kamu jadi makin kacau begini. Kamu masih sayang sama dia ya? Bilang saja kalau masih mau sama dia! Aku nggak sudi kalau terus dibayangi masa lalu kamu!"
Mas Tri berhenti melangkah tepat di depan pintu kamar mandi. Ia berbalik perlahan, menatap Haura dengan tatapan kosong, tatapan yang membuat bulu kuduk Haura meremang. Tidak ada lagi kemarahan, tidak ada lagi pembelaan diri. Hanya ada kekosongan dan rasa muak yang mendalam.
"Olahraga?" Mas Tri tertawa sinis, tawanya kering dan menyakitkan. "Kamu pikir aku benar-benar lari pagi, Haura? Aku keluar rumah karena aku tidak tahan satu atap sama kamu. Aku pergi karena aku butuh udara segar, karena kalau aku diam di sini terus, rasanya aku mau gila."
Haura tertegun, tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Terus kamu ke mana saja?"
" Kamu tidak harus tau aku kemana. Yang jelas aku mencari ketenangan dimana aku dihargai sebagai lelaki. "
Jantung Haura berdegup kencang. " Apa maksud kata-katamu, Mas? "
Mas Tri menggeleng pelan, matanya menatap tajam tepat ke manik mata istrinya.
" Jawab aku Mas! apa kamu menemuinya? " tuduh Haura.
" Aku tidak punya muka untuk bertemu dengannya, Haura! Sudah cukup kamu mengungkit ini, dia tidak pernah menganggu rumah tangga kita! "
" Kamu.... "
" Aku hanya ingin tenang, Haura! aku lelah bekerja dan lelah dengan sikapmu. Setiap aku bersamamu, yang aku dapat cuma pertengkaran, cuma curigaan, cuma tuntutan, dan rasa bersalah yang makin hari makin besar."
Haura menangis terisak, dadanya naik turun tak terkendali. Kata-kata itu menghunjam jantungnya seperti pisau tajam.
"Jadi kamu menyesal menikah sama aku? Kamu menyesal punya anak ini?!" seru Haura sambil memegang perutnya erat.
Mas Tri memejamkan mata, menghembuskan napas panjang yang berat sekali. Ia tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung, tapi jawaban diamnya sudah cukup menyakitkan. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu dari dalam, meninggalkan Haura yang ambruk terduduk di lantai keramah yang dingin, menangis sejadi-jadinya di lorong rumah yang besar namun terasa begitu kosong dan sepi.
Di tengah tangisnya itu, ponselnya berdering lagi. Kali ini nama ibunya muncul kembali di layar. Haura mengangkatnya dengan tangan gemetar, suaranya parau dan terguncang.
"Apa lagi, Bu? Apa lagi?!"
"Kamu kenapa menangis, Ra? Ada apa? Sudah dapat uangnya belum? Ingat ya, besok pagi paling telat. Kalau tidak ada, ibu datangi kantor mu biar semua orang tahu kamu anak durhaka!" ancam Bu Siti dari seberang sana, tanpa sedikit pun bertanya keadaan anaknya, tanpa sedikit pun peduli apa yang sedang terjadi.
Haura mematikan sambungan telepon itu dengan kasar, melempar ponselnya hingga tergelinding jauh. Ia memeluk lututnya sendiri di lantai yang dingin, menangis sejadi-jadinya. Ia punya jabatan, punya nama baik, punya suami, punya rumah mewah, tapi ia merasa lebih miskin daripada pengemis di pinggir jalan.
Ia teringat lagi wajah Langit yang gagah, kaya, dan berwibawa. Penyesalan itu makin menjadi-jadi, berubah menjadi api yang membakar dirinya sendiri.
Andai waktu bisa diputar kembali... andai aku tidak terlalu sombong dan serakah dulu...
Haura memang selera Langit di masa lalu. Tapi. sayangnya sekarang Langit tak berselera pada Haura sedikitpun.
******
Suasana di atas kapal kayu itu terasa damai sekali, angin laut berhembus sejuk menerpa wajah. Pak Djarot tampak sangat gembira, matanya berbinar melihat hasil pancingan mereka yang menggunung di atas papan kapal. Ia begitu senang karena akhirnya punya kesempatan memancing ikan besar-besar, bukan cuma ikan nila atau emas kecil di empang.
Ya! Hari sabtu ini Langut sengaja mengajak Pak Djarot pergi memancing ikan di laut seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya.
"Alhamdulillah banyak sekali pancingan kita Mas Langit, nanti biar dibakar buat makan bersama," ujar Pak Djarot sambil tersenyum lebar, tangannya menyentuh tubuh ikan besar yang berkilauan kena sinar matahari.
Langit yang sedang membereskan tali pancing ikut tersenyum ramah menatap bapak tua itu.
"Nggih Pak, alhamdulillah kalau Bapak senang," jawabnya lembut.
Pak Djarot mengangguk puas, lalu menoleh lagi ke arah Langit dengan rasa penasaran.
"Oh ya, Mas Langit nggak bawa buat orang rumah?"
Langit tersenyum sambil menggeleng pelan, pandangannya kembali tertuju ke arah lautan luas di depan sana.
"Saya tinggal sendiri, Pak. Paling ada si Ahmad suka nginep di rumah kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan sampai malam. Orang tua sudah lama meninggal, jadi memang cuma saya saja yang ada di rumah."
Pak Djarot terdiam sejenak, ia menghela napas pelan. Rasa hormat makin tumbuh di hatinya melihat kemandirian pemuda di hadapannya ini. Ia memberanikan diri bertanya hal yang sejak tadi ada di pikirannya.
"Mas Langit nggak kepikiran cari istri lagi? Maaf sebelumnya jika pertanyaan Bapak sedikit tidak sopan, jika keberatan tidak usah dijawab ya Mas," ucap Pak Djarot hati-hati.
Langit menatap wajar wajah Pak Djarot yang tampak sederhana dan tulus itu. Tidak ada rasa tersinggung sedikit pun di matanya, malah ada ketenangan yang mendalam.
"Insya Allah saya mau memulai rumah tangga lagi, tapi harus cari perempuan yang mau to Pak? Maklum saya cuma penjual ikan, yang kerjaannya kotor-kotoran. Takutnya nanti kalau dapat istri yang manja atau tinggi selera, malah nggak betah," jawab Langit santai, sedikit merendahkan diri seperti biasa.
Pak Djarot langsung menggeleng kuat, ia tidak setuju dengan anggapan pemuda itu.
"Kamu harus berusaha lebih keras lagi Mas, kasihan kalau perempuan dinikahi lalu dipaksa mengerti keadaan lelaki. Anak Bapak menemani mantan suaminya dari nol, susah senang bareng, banting tulang juga, tapi apa yang didapat sekarang? Sebuah luka yang akan ia kenang seumur hidupnya. Padahal dia tidak pernah minta macam-macam, dia cuma minta setia."
Pak Djarot berhenti sejenak, menatap tajam ke cakrawala, lalu melanjutkan nasihatnya dengan nada serius.
"Kita sebagai lelaki harus bisa bertanggung jawab terhadap istri. Jangan biarkan ia susah. Wanita butuh uang itu bukan matrealistis, tapi itu sebuah kebutuhan. Bukankah lelaki wajib menafkahi istrinya? Entah berapa nominalnya yang penting cukup untuk sandang, pangan, papan. Rejeki memang sudah diatur sama Gusti Allah, tapi harus ikhtiar juga to? Jangan sampai istri kita harus ikut memikirkan nafkah, itu tugas kita laki-laki."
"Nggih Pak," jawab Langit pelan, mendengarkan saran itu dengan sungguh-sungguh.
"Kalau hanya urusan primer, Bapak yakin Mas Langit bisa mencukupinya. Yang penting mau usaha dan rajin berdoa. Yang terpenting hargai dan sayangi wanita yang jadi pendamping Mas Langit kelak. Jangan tiru mantan suami Dinara ya Mas. Laki-laki itu kalau sudah dikasih enak, jangan malah lupa daratan dan cari yang lain," pesan Pak Djarot tegas.
Perkataan Pak Djarot adalah saran dari sudut pandang lelaki. Dia benar, tidak seharusnya lelaki membiarkan wanita ikut susah. Sebagai lelaki harusnya ia bisa bertanggungjawab sepenuhnya.
Langit diam, ia jadi ingat sama almarhum Wening. Mereka menikah dengan segala keterbatasan ekonomi, pelan-pelan mereka bangun usaha, pelan-pelan mereka sukses. Namun berbeda dengan Mas Tri dan Dinara, Langit dan Wening punya cerita sendiri. Saat sukses bukan Langit yang meninggalkan istrinya karena kepincut pelakor, tapi Wening pergi menghadap Ilahi untuk selama-lamanya, meninggalkannya sendirian di tengah kekayaan yang terkumpul.
"Saya janji tidak akan membuat wanitaku menderita Pak. Kalau saya dapat istri lagi, saya akan berikan segalanya, saya jaga mati-matian, tidak akan saya biarkan dia menangis sedih sedikit pun," ucap Langit tegas, matanya menatap lekat bapak tua itu.
"Bagus! Lalu sudah ada calonnya?" tanya Pak Djarot, matanya berbinar penuh selidik.
"Ada Pak," jawab Langit singkat namun mantap, tersenyum misterius.
"Kalau begitu ajak dia ke kontrakan untuk makan bersama. Biar Bapak sama Ibu lihat seperti apa wanita beruntung itu," ujar Pak Djarot memancing, ia bisa melihat jelas di sorot mata Langit bahwa pemuda ini tertarik besar pada putrinya, Dinara.
"Insya Allah. Nanti kalau waktunya sudah pas, saya pastikan Bapak dan Ibu jadi orang pertama yang tahu," jawab Langit lembut.
Tak lama kemudian kegiatan memancing selesai. Kapal mereka kembali merapat ke dermaga. Langit sibuk mengeluarkan hasil pancingan mereka ke dalam peti-peti besar yang sudah disiapkan anak buahnya. Sementara itu Pak Djarot pamit untuk bersih-bersih diri di kamar mandi umum yang tidak jauh dari area dermaga itu.
Di sana ada Ahmad, orang kepercayaan Langit yang kebetulan juga mau cuci kaki dan tangan usai membantu bongkar muat barang.
Pak Djarot mendekat, tersenyum ramah menyapa pemuda itu.
"Mas ini teman Mas Langit ya?" tanya Pak Djarot memulai obrolan.
Ahmad langsung berhenti sejenak, membalas senyum itu dengan sopan.
"Saya anak buahnya Mas Langit, Pak," jawabnya hormat.
"Anak buah?" ulang Pak Djarot sedikit kaget, ia kira mereka teman akrab.
"Nggih Pak, saya karyawan beliau, yang biasa ngurus urusan di lapangan sama di pelabuhan ini," jelas Ahmad.
"Oo begitu, kalau bosnya Mas Langit itu orang Pemalang juga to? Pasti orangnya kaya raya juga ya sampai bisa punya anak buah banyak begini?" tanya Pak Djarot penasaran, ia membayangkan siapa majikan Langit yang bisa menggaji pemuda sebaik ini.
Ahmad malah tampak bingung, ia mengerutkan kening menatap Pak Djarot.
"Bosnya Mas Langit?" tanyanya ulang untuk memastikan pendengarannya benar.
"Iya, majikan kamu itu kan Mas Langit, berarti Mas Langit kerja sama siapa? Punya siapa usaha besar ini?" tanya Pak Djarot lagi.
Ahmad malah tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mendekat sedikit menjelaskan pada bapak tua yang polos itu.
"Mas Langit itu bosnya Pak, dia yang punya puluhan kapal nelayan itu. Dia yang punya bisnis ikan dan olahan hasil laut ini, dia kaya raya Pak, pengusaha yang sudah ekspor produk ke luar negeri. Tapi memang kelihatannya seperti itu, karena dia low profile alias membumi. Beliau tidak pernah pamer kekayaan, malah suka sekali dibilang cuma penjual ikan biasa supaya orang mendekat karena ketulusan, bukan karena hartanya," jelas Ahmad panjang lebar.
Mulut Pak Djarot perlahan terbuka lebar, matanya melotot tak percaya. Ia terpaku di tempatnya berdiri, kakinya serasa lemas mendengar penjelasan itu.
Jadi... jadi pemuda yang tadi ia nasihati agar berusaha lebih keras, pemuda yang ia kira cuma penjual ikan pas-pasan yang harus capek-capek cari makan, ternyata adalah pemilik segalanya? Ternyata dia orang terkaya di sini?
Pak Djarot diam membisu, rasa kagum dan rasa hormat bercampur jadi satu di dadanya. Ia teringat janji Langit di atas kapal tadi, bahwa dia sudah punya calon istri dan berjanji tidak akan membuat wanitanya menderita. Dan Pak Djarot tahu persis siapa calon itu.
kok udh tamat aj kk othor?😔☹️
Terimakasih ya sudah membersamai Dinara dan Langit dari awal sampai akhir.
Sampai bertemu lagi di buku selanjutnya.
Sekarang saia sedang mempersiapkan buku baru di Tatangga Oren. love you all 🥰
"Semoga Allah memberkahimu atas anugerah yang diberikan kepadamu, kamu mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga anak ini mencapai usia dewasa, dan kamu diberi rezeki berupa baktinya anak tersebut."
Aamiin 🤲 Selamat utk Dinara, mas Langit & kedua ortu atas kelahiran anak pertamanya 🙏💐🎊
Selamat u Dinara n mas Langit dah resmi jadi Ortu... 🥰🥰