Judul:
Dijual 500 Juta: Istri Kontrak CEO Dingin
Deskripsi/Sinopsis:
Liana dijual bapak tirinya seharga 500 juta untuk jadi istri kontrak Arka Wijaya, CEO dingin yang lumpuh dan membenci semua orang.
Di rumah mewah itu, dia dipermalukan setiap hari. Disiram comberan, diusir ke gudang, dianggap sampah oleh Keluarga Wijaya.
Tapi yang tidak mereka tahu, di dalam tas lusuh Liana ada surat wasiat Ibu yang bisa mengguncang seluruh Keluarga Wijaya.
Surat yang menyebut nama Arka sebagai kunci atas kematian ayahnya 5 tahun lalu.
Dari gadis desa yang dihina, Liana akan berubah menjadi wanita yang ditakuti.
Dia datang bukan untuk tunduk. Dia datang untuk membalas dendam.
Pertanyaannya:
Apakah balas dendam itu akan membuat Arka jatuh cinta padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TheDee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Siap kk 🙌 Ini Bab 3 yang udah aku rapikan biar alurnya mulus, bahasanya rapi, dan siap salin:
---
BAB 3: UJIAN PERTAMA
Seminggu berlalu sejak pertemuan di taman belakang.
Liana dan Arka kini resmi menjadi pasangan suami istri di atas kertas. Mereka tinggal di rumah besar Wijaya di kawasan elit, tapi di dalam rumah itu, jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari Jakarta ke Surabaya.
Tidak ada sarapan bersama. Tidak ada obrolan malam.
Aturan kedua masih dijaga ketat: tidak ada perasaan pribadi yang terlibat.
Tapi aturan pertama… mulai berjalan.
Pagi itu, Liana mendapat undangan makan malam keluarga besar Wijaya. Acara tahunan yang katanya wajib dihadiri semua anggota keluarga, termasuk menantu baru.
"Ini ujian pertamamu, Nyonya," kata Rina, asisten pribadi Arka, sambil menyerahkan gaun biru tua ke kamar Liana. "Tuan Muda sudah bilang, kau harus datang. Sebagai istrinya."
Liana memegang gaun itu. Bahannya halus, warnanya dalam.
"Dia bilang sendiri?" tanyanya pelan.
Rina mengangguk. "Iya. Dia bilang, kalau kau tidak datang, gosip di luar akan lebih buruk."
Liana menghela napas. Jadi ini bagian dari peran itu. Menjadi istri sempurna di depan kamera keluarga dan media.
Malam harinya, ballroom rumah Wijaya penuh dengan cahaya kristal dan suara biola. Para tamu berbisik-bisik saat melihat Liana berjalan masuk bergandengan dengan Arka.
"Cantik. Tapi siapa dia sebenarnya?"
"Baru dengar namanya minggu lalu. Tiba-tiba jadi Nyonya Wijaya?"
Liana tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa dengan bisikan seperti ini.
Arka menggenggam tangannya sedikit lebih erat, seolah memberi kode: bertahanlah.
Makan malam berjalan formal. Tuan Wijaya memberikan pidato singkat tentang kelanjutan bisnis keluarga. Nama Arka disebut berkali-kali sebagai penerus utama.
Sampai akhirnya, seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Wajahnya familiar.
Itu Ibu Clara Wijaya, tante Arka. Orang yang disebut-sebut sebagai dalang di balik jatuhnya perusahaan ayah Liana lima tahun lalu.
"Jadi ini istri baru Arka," ucapnya sambil menatap Liana dari atas ke bawah. "Cantik. Tapi aku dengar, keluargamu… bermasalah dulu, ya?"
Suasana langsung hening. Beberapa tamu melirik ke arah mereka.
Liana merasakan dadanya panas. Ini dia. Serangan pertama.
Tapi sebelum ia bisa menjawab, Arka sudah lebih dulu bicara.
"Cukup, Tante," suaranya rendah tapi tegas. "Liana adalah istriku. Apa pun masa lalunya, itu tidak relevan di meja makan ini."
Clara terdiam. Wajahnya memerah, tapi ia tidak bisa membantah di depan semua orang.
Liana menoleh ke Arka. Tatapan mereka bertemu sebentar.
Ada sesuatu di mata pria itu. Bukan cinta, tapi… perlindungan?
Aturan kedua bilang tidak boleh ada perasaan.
Tapi kenapa rasanya, Arka baru saja melanggar aturan itu untuknya?
Setelah acara selesai, mereka pulang dengan mobil dalam diam.
Sampai di depan kamar Liana, Arka berhenti.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya tiba-tiba.
Liana mengangguk. "Kenapa kau membelaku? Itu bukan bagian dari kontrak."
Arka menatapnya lama. "Karena kalau aku tidak melakukannya, mereka akan terus menginjakmu. Dan aku tidak suka melihat orang yang bekerja sama denganku dipermalukan."
Itu saja. Tidak ada penjelasan lebih panjang.
Ia berbalik dan berjalan pergi.
Liana berdiri di depan pintu kamarnya, memegang gagang pintu tapi tidak langsung masuk.
Kata-kata Arka terngiang di kepalanya.
Orang yang bekerja sama denganku.
Jadi untuknya, ini masih soal kerja sama. Bukan soal perasaan.
Tapi entah kenapa, hatinya terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Di lantai bawah, Arka duduk di ruang kerjanya. Di tangannya ada foto lama, foto keluarga Saraswati sebelum skandal itu terjadi.
Ia menatap wajah Dimas Saraswati, lalu bergumam pelan,
"Aku akan cari tahu kebenarannya, Pak Dimas. Apa pun yang terjadi."
Di luar, hujan turun lagi.
Dan di antara Liana dan Arka, garis antara kontrak dan kenyataan mulai kabur.
Bersambung...