Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Aku Tidak Diinginkan
Tanpa mereka tahu anak kecil itu pergi diam-diam sambil membawa kotak bekalnya. Ia berjalan menuju arah pantai dengan langkah yang cepat seolah ingin berteriak.
Kenapa ia dilahirkan tanpa ayah, kenapa hidup Kai berbeda dengan anak-anak lainnya dan hari ini. Ternyata sebuah jawaban ia dengar dari mulutnya sendiri.
"Kau yang dulu suruh aku gugurkan kandungan ini!"
Kalimat itu masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya, meskipun secara keseluruhan ia masih belum sepenuhnya memahami akan tetapi ia mengerti satu hal.
Ternyata Kai memang anak yang tidak pernah diinginkan lahir ke dunia ini, bahkan ia mendengar sendiri dengan jelas bagaimana pria itu berucap. Padahal ia baru saja merasa diperhatikan, diawasi meskipun dengan cara diam-diam.
Dan sekarang anak itu seolah tahu kenapa selama ini ibunya selalu menghindar jika bertemu dengan pria itu, ternyata dibalik itu semua ada rahasia besar yang selama ini ditutup rapat-rapat darinya.
"Jadi itu alasan Mama," gumamnya pelan.
Dan saat ini anak itu seolah sadar jika tindakan sang ibu sangat tepat, karena tidak mudah membesarkan anak seorang diri tanpa peran dari seorang ayah.
Kai tidak menangis. Ia hanya berjalan semakin jauh dari keramaian sambil memeluk kotak bekalnya erat-erat. Namun rasa sesak itu terus menghantam dadanya tanpa ampun.
Langkah Kai berhenti di bibir pantai, untuk pertama kalinya anak itu tidak main layang-layang, ia duduk di diatas pasir, lalu tatapannya melirik ke arah pohon kelapa. Di mana setiap hari seseorang selalu memperhatikannya dari kejauhan.
Namun entah kenapa saat ini ia begitu benci melihat pohon itu.
Tangannya perlahan menggenggam pasir itu dengan begitu erat lalu dihempaskan begitu saja.
"Jadi benar... Kai memang tidak diinginkan sejak awal."
Kai bangkit dari duduknya anak itu pergi menyusuri arah pantai. Entah tempat mana yang hendak di tuju yang jelas anak itu tahu di mana tempat yang paling aman untuk menenangkan hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu di rumah makan perdebatan Alena dan Kael akhirnya berhenti keduanya sama-sama terdiam. Emosi yang sejak tadi meluap perlahan mulai mereda hingga tanpa sengaja pandangan Kael jatuh ke arah lantai dekat pintu masuk.
Sebuah botol minum kecil tergeletak di sana, entah dapat dorongan dari mana, pria itu langsung menghampiri dan mengambil botol tersebut, dan di sisi atas botol tersebut bertuliskan nama Kailan Elvaro.
Jantung Kael langsung berdetak keras.
"Itu..."
Alena spontan menoleh. Dan dalam sekejap wajah wanita itu langsung pucat.
Botol minum milik Kai yang tadi ia sandingkan bersama kotak bekalnya. Kenapa bisa ada di sini? Tubuh Alena mendadak gemetar. Perlahan ia menoleh ke arah pintu.
Lalu ke arah Kael. Mata keduanya membesar hampir bersamaan. Mereka memikirkan hal yang sama.
Tangan Kael mendadak gemetar saat membaca nama yang tertera di botol itu. Kai mendengar semuanya.
"Kai..." bisik Alena dengan napas bergetar.
Detik berikutnya wanita itu langsung berlari keluar.
"KAI!"
Suara teriakannya menggema sampai ke bibir pantai. Senna dan Anne yang baru menyadari keadaan langsung ikut panik.
"Ada apa?"
"Kai ke mana?"
Namun Alena sudah terlalu panik untuk menjawab.
"Kai dengar semuanya!"
Deg.
Kalimat itu membuat wajah Senna dan Anne langsung berubah. Bahkan Kael membeku di tempatnya dan untuk pertama kalinya sejak menemukan Kai, pria itu benar-benar merasa takut.
Mereka mencari ke seluruh area pantai. Tempat bermain layang-layang. Dermaga kecil. Warung-warung nelayan.Namun tidak ada. Kai seolah menghilang.
Setiap menit yang berlalu membuat Alena semakin panik. Sementara Kael terlihat jauh lebih tenang dari luar. Padahal di dalam dirinya, semuanya sudah kacau.
Karena jika benar Kai mendengar percakapan tadi. Maka anak itu juga mendengar semua kesalahannya.
"Ke mana dia pergi..." gumam Kael.
Lalu tiba-tiba salah seorang nelayan tua menunjuk ke arah timur.
"Tadi saya lihat anak kecil jalan ke sana."
"Sana?"
"Itu pantai lama."
Wajah Senna langsung berubah. "Itu pantai yang jarang didatangi orang."
Tanpa menunggu lagi, mereka langsung berlari ke sana. Pantai itu jauh lebih sepi.
Tidak ada warung ataupun wisatawan yang mengunjungi. Hanya pasir putih dan suara ombak yang saling berkejaran.
Dan di sanalah mereka melihatnya. Seorang anak kecil duduk sendirian membelakangi dunia. Kotak bekal itu masih berada dalam genggamannya.
Tubuh kecil itu tampak begitu kesepian di tengah luasnya lautan.
Langkah Alena langsung terhenti. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Sedangkan Kael membeku beberapa meter di belakangnya. Untuk pertama kalinya, pria itu melihat wujud nyata dari luka yang pernah ia ciptakan sendiri.
Dan luka itu... sedang dipikul oleh seorang anak berusia delapan tahun.
Bersambung ...
Maaf hanya sedikit.