"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Jadi pembantu
Bab 20— Jadi pembantu
Restoran yang berada di dalam hotel mewah tersebut nampak sangat ramai sekali di pagi hari ini. Tak lama Zayn dan Varisha pun datang. Dengan Zayn yang menggandeng tangan Varisha, dan Varisha yang mengenakan gamis yang diberikan oleh Zayn.
"Kamu sakit?" tanya Nyonya Lestari cemas.
Varisha dan Zayn sudah duduk di hadapan mereka.
"Tidak, ibu. Mungkin udara di pagi hari di sini sedikit dingin," dusta Varisha sembari sedikit tersenyum.
Varisha kembali diam dan melirik ke arah Zayn yang sedang menatap dirinya. Karena takut, Varisha langsung menundukkan kepalanya lagi.
"Kau harus jadi suami yang siap siaga, Zayn," nasihat Tuan Faruq pada sang putra.
Zayn langsung mengambil tangan milik Varisha dan menciumnya.
"Tentu saja, ayah," ucap Zayn sambil tersenyum manis pada Varisha.
Tentu saja hal itu membuat Varisha jadi bersemu merah sekaligus kaget.
"Meski hanya berbohong, entah kenapa hatiku jadi senang," batin Varisha.
Tanpa Zayn ketahui jika Varisha kini tersenyum tipis. Tak lama mereka pun asyik mengobrol sembari membahas ajang balapan Zayn yang akan diadakan sore hari ini.
"Kalau begitu ayah dan ibu pamit dulu ya, sore nanti kita bertemu di sirkuit balapan," ujar Tuan Faruq.
"Iya. Dan kamu, Zayn, ajaklah Varisha untuk jalan-jalan ke sekitar sini," sambung Nyonya Lestari.
"Baik, ibu," balas Zayn.
Setelah kepergian mereka berdua, Zayn langsung melepaskan genggaman tangannya pada Varisha. Ia pun menghela napas kasar dan menatap tajam Varisha yang kini sedang menatap dirinya.
"Apa loe lihat-lihat?" tanya Zayn.
"Tidak ada." Varisha langsung menggeleng dengan cepat.
"Oh ya, lebih baik loe jangan datang sama sekali!"
"Kenapa?"
"Apa loe mau gue malu, hah?! Apa nanti ucapan orang-orang kalau tau gue punya istri pincang kayak loe ini?" tegas Zayn dengan nada pelan namun menyakitkan.
Wajah Varisha jadi murung.
"Baiklah, aku tidak akan datang," balas Varisha langsung beranjak ingin pergi.
"Loe mau ke mana?" tanya Zayn lagi yang masih duduk santai di kursinya.
Varisha hanya mengernyitkan dahi.
"Ikut aku!" Zayn langsung bangkit dari kursinya.
Varisha hanya bisa mengikuti langkah kaki Zayn dari belakang dengan tergesa-gesa, suara tongkat tersebut begitu terdengar jelas sekali.
"Sayang~" sapa Adinda dengan nada manja sembari mencium bibir Zayn singkat.
Varisha yang melihat hal itu hanya bisa terdiam saja mematung di belakang. Hatinya sakit. Namun, apalah daya ia tak punya posisi apa pun di hati Zayn.
Adinda lalu menatap Varisha dengan tatapan sinis dan benci.
"Kenapa kamu ngajak dia sih, sayang?" rengek Adinda menatap Zayn dan beralih menatap Varisha dengan tatapan jijik.
"Biarkan saja. Biar dia akan menjadi pelayanmu hari ini," ucap Zayn tersenyum sinis menatap Varisha.
Varisha hanya bisa diam saja. Ia tak mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Rasanya ia ingin menghilang saja dari sini.
Melihat mereka bermesraan membuat Varisha jadi sedih.
"Baiklah, aku izinkan," ujar Adinda, lalu memberikan tas selempang miliknya pada Varisha.
"Jangan sampai hilang ya, harganya lebih mahal daripada nyawa loe," ejek Adinda menatap Varisha dengan tatapan remeh.
Melihat Adinda yang semena-mena padanya, Varisha langsung saja melemparkan tas tersebut ke lantai. Ia begitu marah.
"Tas mahal gue!" histeris Adinda.
Zayn menatap Varisha dengan tajam.
"Apa yang loe lakukan, hah?!"
"Aku bukan pembantu kalian!" tegas Varisha menatap Zayn begitu marah. Ia langsung saja pergi meninggalkan mereka berdua. Kekesalannya sudah berada di ubun-ubun sejak tadi.
Varisha berjalan pelan masuk ke dalam lift. Ia akan lebih memilih berdiam diri di dalam hotel saja.
Baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar hotel, tubuh Varisha tiba-tiba terdorong ke depan hingga ia jatuh ke karpet.
"Akh!" ringisnya kesakitan di kedua lutut. Ia segera menoleh ke belakang.
Di sana Zayn berdiri dengan wajah tegangnya.
"Dasar pincang sialan!" ujar Zayn kesal sembari menutup pintu hotel dengan kencang.
Brak!
Suara pintu tersebut membuat Varisha jadi kaget bukan main. Ia jadi takut, ekspresi Zayn begitu menakutkan sekali. Sama seperti tadi malam.
Varisha berusaha mundur dengan menatap Zayn takut. Pria itu kini malah melepas jam tangannya dengan cepat, bahkan membuka jaket kulit serta kaos yang ia kenakan.
"Kamu mau apa mas?" tanya Varisha takut.
"Tentu saja memberimu pelajaran!" ujar Zayn langsung mendekati Varisha.
"Tidak, aku mohon, Zayn. Jangan!" geleng Varisha dengan cepat mencoba merangkak.
Namun, pinggangnya langsung diraih Zayn dengan mudahnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
Varisha dengan cepat berusaha menghindar. Ia tak akan membiarkan Zayn melakukan pelampiasan pada tubuhnya lagi.
Namun, Zayn lebih kuat. Ia kembali meletakkan tubuh Varisha di atas ranjang dan langsung menindihnya dengan tubuhnya yang besar.
"Lepasin, mas! Aku tidak mau!" Varisha terus saja memberontak.
"Loe harus mau!" tegas Zayn.
Varisha bahkan sampai menangis, tapi Zayn seolah tak peduli.
"Tidak! Aku tidak mau!" tolak Varisha dengan tegas dan dengan cepat ia langsung membenturkan kepalanya ke kepala Zayn dengan keras.
"Akh!" ringis Zayn yang merasa kesakitan.
Melihat kesempatan ini, Varisha langsung berusaha turun dari ranjang dengan cepat. Meski dengan langkah pincang, ia berusaha bergerak secepat mungkin. Matanya menatap sebuah vas bunga dan langsung meraihnya.
Zayn melihat itu jadi tersenyum sinis.
"Loe pikir loe bisa menyerangku, hah?!" ancam Zayn semakin mendekat.
Varisha nampak kacau sekali dengan rambut yang acak-acakan saat ini.
"Jangan mendekat atau aku akan memukulmu dengan ini," ancam Varisha dengan tangan gemetar.
Zayn semakin menyeringai. Ia langsung berjalan cepat ke hadapan Varisha dan mengambil vas bunga tersebut dari tangannya.
"Nah, lihat kan? Loe itu lemah, jangan sok jadi jagoan di hadapan gue," ucap Zayn.
Kini, terlihat jelas sekali area leher Varisha yang masih memerah akibat ulah Zayn sendiri.
"Katanya dia jijik menyentuhku karena bekas orang lain. Namun, saat ini apa?" batin Varisha memalingkan wajahnya menatap kaca jendela besar yang menampilkan cuaca yang begitu cerah sekali.
Sedangkan Zayn sibuk dengan pembalasannya pada Varisha.
‘Kau bodoh Varisha!’ kesal Varisha pada dirinya sendiri.
To be continue ...
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya