Sekuel Talak di Ujung Ramadhan
Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.
Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.
Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Flashback
Langkah kaki Leo menggema tergesa-gesa di koridor sayap VIP rumah sakit yang sunyi. Napasnya memburu, berkejaran dengan gurat kecemasan di wajahnya. Kabar tentang tumbangnya Sarah hingga dilarikan ke ruang darurat tadi malam benar-benar memukulnya.
Pria itu mencengkeram erat sebundel dokumen di tangan kanannya—berkas pernikahan sah dan rekam medis Sarah. Ia melangkah cepat, bersiap mendorong pintu kamar nomor 701 demi memastikan kondisi istri dan calon bayinya.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, dua petugas keamanan tegap langsung menghadang jalurnya.
"Maaf, Pak Leo. Anda tidak diperkenankan masuk ke dalam ruangan ini," ujar salah satu petugas tegas sambil mengangkat tangan, menahan langkah Leo.
Leo tersentak dan terpaksa mundur. "Apa-apaan ini? Singkirkan tangan Anda. Saya mau melihat istri saya!"
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak," balas petugas kedua dengan posisi kukuh. "Kami hanya menjalankan tugas. Pihak keluarga pasien dan dokter spesialis yang bertanggung jawab telah memberikan amanat tertulis. Nama Anda, Bapak Leo, beserta Ibu Anisa, resmi masuk dalam daftar hitam kunjungan."
Rahang Leo seketika mengeras. Ego dan amarahnya tersulut hebat. "Daftar hitam?! Kalian tahu apa yang sedang kalian lakukan?!" bentak Leo, memecah keheningan koridor hingga memancing perhatian perawat di nurse station.
Leo mengibas-ngibaskan dokumen di tangannya tepat di depan wajah mereka. "Saya ini suami sah dari wanita di dalam! Ini buktinya! Saya ayah biologis dari anak yang dikandungnya! Hak apa yang kalian punya untuk melarang saya?!"
Leo merangsek maju, mencoba menerobos menggunakan bahunya. Namun, kedua satpam itu dengan cepat mengunci pergerakannya tanpa kekerasan berlebih.
"Kami memahami status Anda, Pak. Namun, perintah ini mutlak demi keselamatan fisik dan ketenangan psikologis pasien. Jika Anda bersikeras membuat keributan, kami harus mengawal Anda keluar dari rumah sakit ini secara paksa," ancam petugas itu tanpa gentar.
Leo mengepalkan tinju erat-erat hingga buku jarinya memutih. Menyadari ketatnya penjagaan, ia terpaksa mundur satu langkah sambil menatap pintu kamar Sarah dengan kilat mata penuh amarah.
Di tengah ketegangan itu, suara ketukan pantofel yang tegas memotong keributan. Kiara muncul dengan jubah putih dokternya yang berkibar pelan. Ia berhenti tepat di samping Leo, melipat tangan di dada dengan kening berkerut dalam.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di depan kamar pasien VIP?" tanya Kiara menginterogasi.
Melihat Kiara, kedua petugas keamanan itu seketika menundukkan kepala dalam-dalam. Mereka panik. Wanita di hadapan mereka adalah Dokter Kiara, putri tunggal pemilik yayasan sekaligus pemegang 50% saham rumah sakit ini.
"Maaf, Dokter Kiara," ujar salah satu petugas segan. "Pria ini memaksa masuk. Berdasarkan instruksi tertulis dokter penanggung jawab, Bapak Leo sudah masuk daftar hitam karena kehadirannya membahayakan kondisi psikologis pasien dan janin."
Kiara melirik Leo sekilas, lalu menatap pintu kamar Sarah dengan senyum sinis. "Tapi dia ini suaminya, wali hukumnya. Kenapa kalian mempersulit urusan domestik orang lain?"
"Maaf, Dok... tapi ini permintaan mutlak dari Ibu Sarah sendiri, dan sudah disetujui oleh direksi medis," balas petugas itu berusaha bertahan.
Senyum merendahkan terukir di wajah cantik Kiara. "Suruh dia masuk saja. Si Sarah itu mentang-mentang menyewa kamar VIP termahal di sini, jadi merasa bisa seenaknya mengatur-atur regulasi rumah sakit saya."
"Tapi, Dokter Kiara... ini instruksi langsung dari dokter spesialis yang menangani. Kami tidak berani—"
"Kalian lupa siapa yang menandatangani slip gaji kalian setiap bulan?" potong Kiara cepat. Suaranya mendadak turun, terdengar sangat rendah dan dingin.
Kiara maju satu langkah, menatap tajam kedua satpam yang mulai berkeringat dingin. "Setengah dari gedung tempat kalian berdiri saat ini adalah milik saya. Peraturan di sini bisa saya ubah dalam satu petikan jari. Singkirkan tangan kalian dari pintu itu sekarang juga, atau saya sendiri yang akan menelepon Kepala HRD untuk mengosongkan loker kalian sebelum jam makan siang."
Koridor mendadak hening. Kedua petugas keamanan itu saling melempar pandangan penuh dilema, sebelum akhirnya perlahan menurunkan tangan mereka dan mundur memberi jalan.
Di samping Kiara, Leo menarik napas panjang. Sebuah senyum kemenangan yang kejam berkembang tipis di wajahnya saat menatap pintu kamar Sarah yang kini tak lagi berpenjaga.
"Dokter Kiara?" Sarah membelalak, mengenali sosok berjas putih yang melangkah maju dengan dagu terangkat angkuh. "Apa maksud Anda? Anda tahu pria ini dilarang masuk oleh dokter penanggung jawab saya!"
Kiara mendengus, menatap ketakutan Sarah dengan pandangan meremehkan. "Dokter penanggung jawabmu hanyalah pekerja di sini, Sarah. Sementara saya? Saya pemilik setengah dari aset rumah sakit ini. Jadi, aturan siapa yang menurutmu punya kuasa lebih tinggi di gedung ini?"
Jantung Sarah berdegup kian kencang. Ia menatap Leo dan Kiara bergantian, menyadari dirinya terjebak dalam ruang rawatnya sendiri.
"Sarah, tolong dengarkan aku dulu," potong Leo, suaranya tetap diatur selembut mungkin, kontras dengan ketegangan yang dibangun Kiara. "Aku tahu aku salah. Ibu juga salah karena emosi kemarin. Tapi tolong, jangan pisahkan aku dari anak kita. Aku suamimu."
"Suami?" Sarah tertawa getir, meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Keadaan Leo yang berantakan sempat membuat hatinya goyah, namun ingatan tentang perlakuan pria itu seketika membakar kesadarannya.
"Suami mana yang lebih percaya ibunya daripada istrinya?! Suami mana yang menolak jenis kelamin bayinya, hanya karena dia perempuan?!" cecar Sarah dengan suara bergetar hebat karena emosi yang meluap.
Leo tersentak. Kelembutan di wajahnya sempat goyah mendengar telanjangan kalimat Sarah, namun ia buru-buru menguasai diri. "Sarah, itu hanya kesalahpahaman. Aku tidak maksud begitu—"
"Jangan kekanak-kanakan, Sarah," sela Kiara dingin, melipat tangan di dada. "Leo datang dengan niat baik. Sebagai dokter, saya sarankan kamu turunkan egomu. Stres yang kamu buat-buat ini justru yang akan membahayakan anakmu."
"Saya yang buat-buat?!" Dadanya naik turun, merasakan nyeri yang perlahan mulai menjalar kembali di perut bagian bawahnya. "Kalian berdua... benar-benar tidak punya hati."
Leo yang melihat Sarah mulai kesakitan segera memajukan badannya, mencoba meraih tangan istrinya. "Sarah, tenang, tolong jangan begini—"
"Jangan sentuh aku!" jerit Sarah histeris, menarik tangannya menjauh hingga kabel infus di pergelangan tangannya menegang.
...*****...
Ponsel Gema yang terhubung ke headset di telinganya tiba-tiba berdering nyaring di tengah ruang tamu rumah Chandra. Ia langsung menekan tombol terima.
"Halo, dengan Gema di sini," ucap Gema tegas.
"Halo, Dokter Gema," suara Suster Lina di seberang telepon terdengar panik, diiringi latar belakang suara gaduh yang samar.
"Iya, Suster Lina. Ada apa?"
"Saya baru saja mendapat laporan dari perawat jaga. Pengawal di depan kamar Ibu Sarah dipaksa mundur oleh Dokter Kiara. Sekarang Pak Leo sudah berhasil masuk ke dalam ruang rawat."
"Apa?!" Gema berteriak, membuat Chandra, Kayla, dan Cantika spontan tersentak ikut penasaran. Rahang Gema mengeras seketika, tangannya mengepal kuat. "Bagaimana bisa seorang dokter mengintervensi keamanan yang sudah saya pesan?"
"Pak Dokter tahu kan posisi Dokter Kiara seperti apa? Beliau memegang kendali penuh atas regulasi internal dan mengancam memecat petugas keamanan jika tidak membuka pintu," jelas Suster Lina dengan nada serbasalah. "Saat ini saya sedang berada di kamar Ibu Sarah, tapi saya khawatir kondisi psikologis pasien akan drop mendadak jika ditekan oleh mereka."
"Tahan mereka! Jangan biarkan Leo menyentuh atau mengintimidasi Sarah sampai saya tiba!" bentak Gema, napasnya memburu menahan amarah yang meledak. "Saya segera ke sana. Jika terjadi sesuatu pada Sarah dan janinnya sebelum saya tiba, saya tidak akan segan menuntut pihak rumah sakit!"
Tanpa menunggu jawaban, Gema langsung memutuskan sambungan sepihak. Ia menatap tiga orang di hadapannya dengan tatapan menegang.
"Sepertinya saya harus ke rumah sakit sekarang. Sarah dipaksa keluar oleh dokter yang memiliki wewenang kuat di rumah sakit."
"Mas..." Cantika seketika cemas, mengalihkan pandangannya ke arah sang suami, meminta kepastian.
Chandra mengalihkan pandangan ke lain arah, berpikir cepat mengambil keputusan demi keamanan Sarah ke depan. Berada di rumah sakit itu sudah tidak lagi aman selama Kiara berkuasa.
"Bibi..." panggil Chandra lantang ke arah area belakang rumah.
"Iya, Tuan," sahut seorang wanita paruh baya, bergegas menghampiri.
"Bersihkan kamar tamu, karena kami akan bawa saudara istriku ke sini. Kasurnya pakai spring bed lantai, karena dia sedang hamil besar," perintah Chandra tanpa ragu.
"Baik, Tuan," jawab si Bibi, langsung berbalik untuk melaksanakan tugasnya.
Chandra kemudian menatap Gema dan bersiap berdiri. "Ayo bergerak. Kita jemput Sarah sekarang."
dosa bu dosaaa...
bahkan uang ny Sarah bakal ditilep sama ibu matre ini jangan2...