NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:405
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama

Bu Ratih duduk sendirian di ruang keluarga. Sejak pagi, pikirannya tidak pernah lepas dari Raffi. Anak itu masih begitu polos, belum mengetahui bahwa ibunya telah pergi untuk selamanya.

Sesekali Bu Ratih memandang ke arah tangga, tempat kamar Raffi berada. Hatinya terasa semakin berat.

Sepuluh tahun lalu, dialah orang yang meminta Maya pergi. Dialah yang menganggap kehamilan Maya sebagai masalah yang harus diselesaikan. Bahkan ia pernah memintanya menggugurkan kandungan dan meninggalkan keluarga Pratama.

Saat itu Bu Ratih hanya memikirkan nama baik keluarga.

Sekarang, semua terasa berbeda.

Maya sudah tidak ada. Dan anak yang dulu tidak ia inginkan justru berada di rumahnya sebagai cucu kandungnya.

Bu Ratih mengusap wajahnya yang mulai basah.

"Maafkan Ibu, Maya..."

Suaranya bergetar.

Ia membayangkan bagaimana Maya menjalani sepuluh tahun hidupnya seorang diri, membesarkan Raffi tanpa keluarga Pratama. Tidak peduli seberapa besar kesalahan Maya di masa lalu, Bu Ratih mulai menyadari bahwa dirinya juga memiliki bagian dalam luka perempuan itu.

Yang paling menyakitkan adalah ia tidak sempat meminta maaf.

Kini hanya Raffi yang tersisa.

Bu Ratih menatap foto keluarga yang berada di atas meja. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Raffi sebagai anak dari perempuan yang pernah ia tolak.

Ia melihatnya sebagai cucunya.

Darah daging keluarga Pratama.

"Kasihan kamu, Nak..."

Bu Ratih menarik napas panjang.

Ia tahu Raffi mungkin belum bisa memahami semua yang terjadi. Anak itu baru saja kehilangan ibunya, kemudian harus tinggal di rumah yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan mungkin selama ini, rumah mewah itu terasa lebih menakutkan daripada nyaman.

Bu Ratih menggenggam tongkatnya erat.

Kali ini ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Jika dulu ia mengusir Maya karena takut nama keluarga tercemar, sekarang ia tidak akan membiarkan Raffi merasa tidak memiliki keluarga.

Meskipun terlambat, Bu Ratih ingin menjadi seorang nenek bagi anak itu.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu penyesalan yang tidak akan pernah bisa diperbaiki.

Ia tidak pernah memberi Maya kesempatan untuk mendengar kata maaf secara langsung.

Pagi itu, Raffi terbangun lebih awal. Ia membuka mata perlahan dan mendapati Mahesa tertidur di sofa di samping tempat tidurnya. Entah sejak kapan ayahnya berada di sana, tetapi melihat sosok itu membuat Raffi merasa sedikit lebih tenang.

Raffi turun dari tempat tidur tanpa membangunkan Mahesa. Ia kemudian keluar kamar dan berjalan menuju halaman depan.

Udara pagi terasa sejuk. Namun langkahnya mendadak berhenti ketika sampai di dekat gerbang.

Raffi menoleh ke belakang.

Rumah besar keluarga Pratama berdiri megah di hadapannya. Kemarin ia masih merasa kagum melihat bangunan itu. Sekarang, entah mengapa, rumah tersebut terasa begitu sepi.

Ia teringat rumah kecil yang selama ini ditinggalinya bersama Maya.

Dulu, setiap kali ia bangun, selalu ada suara ibunya di dapur. Ketika pulang sekolah, Maya selalu menunggunya. Bahkan ketika Raffi sedang sakit, ibunya tidak pernah meninggalkannya sendirian.

Raffi menundukkan kepala.

"Ibu..."

Dadanya terasa sesak.

Ia kemudian duduk di salah satu kursi di halaman sambil memeluk lutut.

Rumah ini jauh lebih besar daripada rumah mereka dulu.

Ada kamar yang luas, makanan yang berlimpah, taman yang indah, bahkan orang-orang yang siap melayaninya.

Tetapi tidak ada satu pun yang bisa menggantikan Maya.

Raffi mengusap matanya yang mulai basah.

"Kalau Ibu masih ada, aku pasti lebih senang..."

Ia memandang rumah mewah itu sekali lagi.

Di dalam rumah tersebut ada ayahnya, neneknya, Julian, dan orang-orang yang perlahan akan menjadi keluarganya.

Namun bagi Raffi, semuanya masih terasa asing.

Ia tidak tahu bahwa di balik jendela lantai atas, Mahesa ternyata sudah terbangun dan sedang memperhatikannya.

Mahesa melihat putranya duduk sendirian di halaman.

Saat itu ia sadar, memberikan Raffi rumah mewah ternyata tidak cukup.

Anak itu tidak sedang mencari kemewahan.

Ia sedang mencari ibunya.

Mahesa menundukkan kepala.

Dan untuk pertama kalinya, ia berharap bisa memutar waktu, agar Maya masih berada di sana untuk memeluk anak mereka.

Bertahun-tahun berlalu.

Raffi kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Tubuhnya jauh lebih tinggi, wajahnya semakin dewasa, tetapi kebiasaan memandang langit ketika pikirannya penuh masih tidak pernah berubah.

Pagi itu, ia berdiri di halaman belakang rumah keluarga Pratama. Langit terlihat begitu cerah, hampir tanpa awan. Angin berembus pelan melewati rambutnya.

Raffi mendongakkan kepala.

Entah mengapa, langit selalu membuatnya teringat pada Maya.

Ia masih mengingat sedikit demi sedikit masa kecilnya—rumah sederhana di Kalimantan, makanan buatan ibunya, suara Maya ketika membangunkannya, dan tangan hangat yang selalu menggenggam tangannya ketika mereka berjalan bersama.

Kenangan itu tidak pernah benar-benar hilang.

Meski sekarang ia memiliki kehidupan yang jauh berbeda.

Raffi mendapatkan pendidikan terbaik. Ia tumbuh di tengah keluarga Pratama, mengenal dunia hotel dan bisnis sejak kecil, serta perlahan menemukan passion-nya sendiri dalam bidang arsitektur.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Ia masih ingin membangun hotel yang pernah ia khayalkan ketika kecil.

Hotel yang bukan sekadar megah, tetapi memiliki tempat yang hangat bagi orang-orang yang datang ke sana.

Raffi tersenyum tipis.

"Kalau Ibu masih ada, pasti Ibu senang melihatku sekarang."

Ia menarik napas panjang.

Dari belakang terdengar langkah seseorang mendekat.

"Melamun lagi?"

Raffi menoleh.

Mahesa berdiri beberapa langkah darinya.

Kini hubungan mereka sudah jauh lebih dekat. Meski masa lalu tetap menyimpan banyak luka, Mahesa berusaha menjadi ayah yang tidak pernah lagi meninggalkan Raffi.

Raffi tersenyum kecil.

"Aku cuma melihat langit."

Mahesa ikut menatap ke atas.

"Masih ingat Ibumu?"

Raffi terdiam sebentar.

"Setiap hari."

Jawaban itu membuat Mahesa tidak mampu berkata apa-apa.

Raffi kembali menatap langit.

"Aku ingin suatu hari membangun restoran sendiri, Yah."

Mahesa tersenyum samar.

"Kalau itu impianmu, kejar."

Raffi mengangguk.

Namun dalam hati, ia memiliki satu janji yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Suatu hari nanti, ia akan membangun sebuah restoran yang membuat ibunya bangga.

Sebuah tempat yang menjadi bukti bahwa semua perjuangan Maya selama hidupnya tidak pernah sia-sia.

Raffi akhirnya menyelesaikan seluruh rangkaian tes dan pendidikannya. Setelah bertahun-tahun belajar, ia memutuskan tidak langsung masuk ke perusahaan keluarga Pratama.

Sebaliknya, ia mengirimkan lamaran ke kantor pusat sebuah jaringan restoran bernama Arunika Food Group, perusahaan yang memiliki banyak cabang restoran di beberapa kota.

Keputusan itu membuat Mahesa terkejut.

"Kamu melamar kerja di restoran?"

Raffi mengangguk santai.

"Iya, Yah."

Mahesa menatap putranya beberapa saat. Selama ini ia sudah mempersiapkan Raffi untuk suatu hari masuk ke jajaran manajemen Grand Hotel Pratama. Bahkan beberapa orang di perusahaan sudah mengetahui bahwa Raffi adalah salah satu calon penerus keluarga.

"Kamu tahu sejak kecil Ayah mempersiapkanmu untuk memimpin hotel."

"Aku tahu."

"Jadi kenapa memilih restoran?"

Raffi terdiam.

Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah foto Maya yang tersimpan di meja kamarnya.

Dulu, ketika masih kecil, ia pernah berkhayal memiliki hotel besar. Ia ingin menjadi seperti pemilik hotel yang ia lihat di televisi. Namun ada satu percakapan dengan ibunya yang selalu melekat dalam ingatannya.

Maya pernah berkata bahwa jika suatu hari Raffi ingin memiliki usaha sendiri, ia lebih senang melihat anaknya membuka restoran.

Bukan karena restoran lebih hebat daripada hotel.

Tetapi karena Maya percaya sebuah restoran bisa menjadi tempat orang berkumpul, makan bersama, dan pulang membawa kebahagiaan sederhana.

Raffi tersenyum kecil.

"Dulu aku memang ingin punya hotel."

Mahesa diam mendengarkan.

"Tapi Ibu pernah bilang, kalau aku punya usaha sendiri, dia ingin aku membuka restoran."

Mahesa tertegun.

Raffi melanjutkan,

"Aku tahu Ibu mungkin tidak pernah melihat aku bekerja di sana. Tapi aku ingin mencoba mewujudkan sesuatu yang pernah dia inginkan."

Mahesa menundukkan wajah.

Nama Maya kembali membuat dadanya terasa berat.

Selama bertahun-tahun, ia berusaha memberikan Raffi masa depan terbaik menurut versinya sendiri. Namun ternyata ada satu bagian dari kehidupan anaknya yang tidak pernah bisa ia kendalikan.

Keinginan Raffi.

"Kalau itu yang kamu inginkan, Ayah tidak akan memaksamu."

Raffi menatap ayahnya.

"Serius?"

Mahesa mengangguk.

"Serius. Hotel bisa menunggu."

Ia tersenyum tipis.

"Yang penting kamu belajar dari bawah. Kalau suatu hari kamu tetap ingin memimpin hotel, kamu akan punya pengalaman. Kalau ternyata kamu memilih restoran, Ayah juga akan mendukung."

Raffi tersenyum lega.

Untuk pertama kalinya, ia merasa keputusannya bukan sekadar bentuk penolakan terhadap warisan keluarga.

Ia hanya ingin membangun masa depannya dengan caranya sendiri.

Dan mungkin, tanpa disadarinya, langkah pertamanya di dunia restoran adalah cara sederhana untuk tetap membawa nama Maya bersamanya.

Mahesa kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Raffi cukup terkejut.

"Arunika Food Group bukan perusahaan asing bagi keluarga kita."

Raffi mengernyit.

"Maksud Ayah?"

"Sejak dua tahun lalu, Ayah sudah mengakuisisi sebagian besar saham Arunika Food Group."

Raffi terdiam.

"Jadi... perusahaan yang aku lamar itu?"

"Masih berada di bawah kendali keluarga Pratama."

Mahesa menjelaskan bahwa keputusan tersebut awalnya berasal dari Bu Ratih. Bertahun-tahun sebelumnya, Arunika Food Group pernah berada dalam lingkup bisnis keluarga dan kemudian dikelola oleh adik dari kakek Raffi. Setelah beberapa perubahan kepemilikan, Bu Ratih ingin perusahaan tersebut kembali berada di bawah kendali keluarga.

Mahesa akhirnya mengambil kesempatan itu dua tahun lalu.

"Jadi sebenarnya Ayah sudah tahu aku akan memilih restoran?"

Mahesa tersenyum kecil.

"Ayah tidak tahu. Tapi mungkin keputusanmu tidak terlalu jauh dari rencana keluarga."

Raffi menggeleng sambil tersenyum.

"Berarti aku tetap harus mulai dari bawah."

"Tentu."

Mahesa tidak ingin Raffi mendapatkan posisi hanya karena nama keluarga.

"Kalau kamu benar-benar ingin belajar bisnis restoran, datang ke pabrik. Pelajari semuanya. Mulai dari bahan baku, produksi, pengemasan, distribusi, sampai bagaimana sebuah produk bisa sampai ke meja pelanggan."

Raffi mengangguk antusias.

Keesokan harinya, ia mulai datang ke salah satu fasilitas produksi Arunika Food Group. Ia mengenakan pakaian kerja sederhana dan mengikuti para staf berkeliling.

Untuk pertama kalinya, Raffi melihat bagaimana bahan mentah diproses menjadi produk makanan, bagaimana standar kebersihan dijaga, bagaimana kualitas diperiksa, hingga bagaimana barang dikirim ke berbagai cabang.

Ia tidak hanya duduk di ruangan ber-AC.

Ia ikut melihat pekerjaan di lapangan.

Hari demi hari, Raffi mulai memahami bahwa menjalankan restoran tidak sesederhana yang selama ini ia bayangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!