Karin seorang wanita karir, dia mendoktrin dirinya sendiri agar harus berkerja keras, tidak perlu memikirkan yang namanya pernikahan.
Dan ya, di umurnya yang sudah 30 tahun, dia masih jomblo alias belum menikah. Sedangkan teman-temannya yang seumuran sudah memiliki anak dua.
Karin merasa, menikah dan punya anak akan mengganggu pekerjaannya. Sehingga dihari cutinya, dia hanya tinggal di dalam kamar membaca novel.
"Ck. Makanya jangan menikah jika belum siap mengurus anak!" tegur Karin sambil melempar Tabnya ke atas kasur.
Dia sedang membaca novel online, yang berjudul ( Pembalasan Tiga Penjahat )
Karin tertidur setelah mambaca novel itu sampai tamat. Tapi saat membuka mata, dia sudah berada di tempat yang berbeda.
"Sial!"
Penasaran kan? Ayo ikuti perjalanan Karin yang menjelajahi dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Teman Baru
Nan Wei Kelua dari ruang baca, Tuan Jiang setuju untuk menjadi Guru mereka, padahal dia sudah lama tidak memiliki Murid, dia hanya mengajar Anak dan cucunya.
Tapi karena Nan Wei diutus oleh Tabib Rong, dia harus setuju dengan syarat tidak menambah atau mengajak orang lain lagi, karena dirinya juga sudah tua.
Nan Wei bukan orang seperti itu, dia hanya ingin fokus dengan anak-anaknya, dia tidak ada waktu untuk mengurus anak orang lain.
Tuan Jiang mengatur jadwal 5 hari dalam seminggu dan hanya meminta biaya perbulan seperti dengan jumlah pembayaran di sekolah.
Nan Wei Juga sudah bertemu dengan istri Tuan Jiang. Dan reaksinya lebih heboh saat melihat Nan Wei lah yang menjadi tamu suaminya.
***
"Yuyu! Kalian sedang bermain apa?" tanya Nan Wei melihat mereka sedang bermain di halaman dengan tambahan anak yang seumuran dengan Limei.
"Ibuuu.. Kamu sudah selasai? Aku sedang bermain dengan teman baruku!" serunya dengan antusias.
"Oh siapa nama teman barumu?"
"Namanya Kak Xiu Chun! Kak Xiu, ini Ibuku!" ucapa Zhao Yu sambil menggandeng tangan ibunya.
"Salam Bibi!" Xiu Chun berdiri dengan tegap lalu memberi salam dengan sedikit membungkuk dengan kedua tangan menyatu.
Nan Wei tersenyum dengan kagum, beginilah hasil jika anak-anak di didik dengan baik oleh orang tuanya. Padahal, statusnya lebih tinggi, tapi dia tetap memberi salam dengan layak.
"Anak baik. Lain kali kalau bertemu Bibi tidak perlu memberi salam, cukup sapa Bibi saja!" pinta Nan Wei.
"Baik Bibi!" kata Xiu Chun dengan patuh. Dia sudah belajar tentang yang namanya Tata Krama. Jika orang itu menolak, maka harus dihargai.
Nan Wei membiarkan mereka untuk bermain lagi, dia juga bingung mau ajak mereka jalan-jalan ke mana, karena dirinya juga belum keliling kota.
Melihat Xiu Chun bermain tanpa memandang status, membuat tekadnya makin kuat untuk menyekolahkan anak perempuannya.
Bisa saja dia langsung mendidiknya, tapi jika banyak yang mengajarinya maka akan lebih baik dan lebih bagus, setelah bisnis mereka stabil dia akan mencari Guru Wanita untuk Zhao Yu
Selang beberapa menit, Nan Wei mengajak Zhao Yu dan Limei untuk pulang. Dia harus menyiapkan persiapan anak-anaknya, karena besok sudah mulai sekolah.
"Kak Xiu. Kami pulang dulu!" sahut Zhao Yu berpamitan.
"Emm.. Bibi kami bisa bermain lagi?" tanyanya pada Nan Wei. Dia sangat suka bermain dengan mereka, karena selama ini banyak yang berteman dengannya tapi mereka tidak tulus.
"Tentu! Kalian kan sudah berteman! Nanti kalau Bibi tidak sibuk, akan mengajak Zhao Yu dan Limei datang lagi!"
"Ya, yaa. Kalian harus datang lagi!" balasnya dengan semangat.
Zhao Yu dan Limei juga sangat senang memiliki teman baru yang sangat baik dan cantik. Tadi saat mereka duduk di tangga, Xiu Chun dan Neneknya menghampiri mereka.
Nenek Xiu memberi mereka kue dan permen, saat ingin masuk di ruang belajar, Xiu Chun malah mengajak mereka untuk bermain.
"Kenapa harus tunggu mereka datang? Kalau mau bermain dengan mereka, bisa langsung pergi ke Desa!" ucap Tuan Jiang yang baru kembali dari kamar mandi.
"Ek Kakek! Desa? Desa tempat tinggal Nenek Ming?" tanyanya.
"Ya. Teman barumu ini tetangga dengan Nenek Ming mu!" ujarnya.
"Bagus kalau begitu, aku akan ke Desa untuk mencari kalian!" Xiu Chun makin semangat.
Xiu Chun sebenarnya baru sekali ke Desa Wusu, saat dia ke sana, Desa itu sangat sepi, dan di rumah Neneknya dia malah bertemu dengan Pamannya yang sangat irit berbicara. Sehingga dia tidak lagi pernah ke Desa Wusu yang menurutnya sangat sepi.
"Baiklah.. kami pamit dulu!" Nan Wei kembali berpamitan, dan akan datang besok pagi tepat waktu.
***
Setelah keluar dari halaman Kediaman Jiang, Nan Wei segera mengajak Paman Tao untuk mencari Toko buku untuk membeli kebutuhan sekolah anak-anak.
Paman Tao juga tidak bosan menunggu, karena penjaga memintanya untuk masuk halaman, dan dia bermain catur dengan penjaga yang tidak bertugas.
Tiba toko buku, Nan Wei hanya membeli satu set masing-masing untuk mereka berempat. Karena ternyata harganya lumayan mahal, dan sisanya akan dia beli di Toko Sistem.
Setelah itu mereka menuju pasar untuk membeli kebutuhan dapur. Nan Wei juga melakukan hal yang sama, dia hanya membeli sedikit saja.
Dia memilih belanja di Toko Sistem, karena akan lebih murah jika beli banyak. Apalagi para pekerja diberi makan sekali, yaitu di siang hari.
Semua sudah terbeli, dan bertepatan waktu makan siang. Nan Wei mengajak mereka untuk makan Mie di warung pinggir jalan.
***
Mereka tiba di Desa sekitar pukul 2 siang. Karena meresa lelah, Nan Wei pulang le rumahnya untuk beristirahat sekaligus untuk membeli bumbu dapur yang masih kurang.
Sedangkan Zhao Yu dan Limei pergi mencari saudara-saudaranya yang lain untuk membagikan kue dan permen yang dia beli di pasar.
"Yuyu di mana Ibumu?" tanya sang Nenek dengan heran, karena ternyata mereka sudah pulang dari Kota.
"Nenek! Ibu pulang ke rumah, katanya mau istirahat!" balas Zhao Yu.
Ibu Xia mengangguk, dia merasa kasihan melihat Nan Wei yang sibuk ke sana kemari. Tapi itu lebih baik, daripada dia tinggal di dalam rumah tanpa melakukan apapun.
Bukan dia egois, tapi hanya Nan Wei sendiri yang mampu melakukannya. Jika seandainya, dia memiliki seorang suami, mungkin tidak tidak terlalu repot karena ada yang membantunya.
"Tapi tidak juga, Mantan suaminya saja tidak pernah membela Nan Wei jika sang mertua menyuruhnya untuk jadi pelayan di rumahnya sendiri!" gumamnya dalam hati.
"Oh tapi kalian sudah makan kan?"
"Sudah. Kami makan Mie di warung!" balas Zhao Yu sambil tertawa seolah-olah pamer dengan kegiatannya di Kota.
"Hmm baiklah.. Kalian bermain di sini saja! Jangan ganggu Ibumu yang sedang beristirahat!"
"Baik Nenek!"
Ibu Xia kembali ke halaman samping untuk membantu menggoreng kentang. Dan giliran Nenek Limei yang keluar saat mengetahui mereka sudah pulang.
Dan dia sangat lega melihat cucunya baik-baik saja. Dia benar-benar khawatir, Limei membuat Nan Wei kerepotan.
"Nenek! Aku tidak nakal, aku dengar semua perkataan Bibi Nan Wei. Bibi bahkan membelikan aku Permen!" ucapnya sambil memperlihatkan permen yang ada di tangannya.
"Bagus! Kalau kamu lelah, kamu bilang yaa! Nenek akan mengantarmu pulang!" Katanya dengan penuh perhatian. Bagaimana tidak, hanya Limei yang dia punya.
***
Nan Wei benar-benar lelah, dia bahkan tidur sampai pukul 4 sore. Badannya tidak sehat seperti sebelumnya yang rajin berolahraga dan meminum berbagai Vitamin.
Meski tampak terlihat baik-baik saja dari luar, tapi Nan Wei yang merasakannya sangat jengkel, karena tubuhnya sangat mudah lelah.
"Sistem aku ingin beli Vitamin yang untuk tulang dan imun! Mulai besok, aku akan mulai berolahraga! Oh, aku juga ingin cermin kaca seukuran tubuhku!"
[ Silahkan dipilih! Menu tersedia berbagai macam bentuk dan warna!" ]
Nan Wei langsung membeli Vitamin yang mahal, karena baginya kesehatan itu sangat penting. Untuk apa punya uang banyak jika tidak bisa dinikmati?
"Ini wajahku? Kenapa mirip sekali denganku di dunia nyata?" Nan Wei sangat terkejut melihat pantulan dirinya di cermin.
Cantik, sangat cantik malahan, karena semenjak bercerai, pemilik tubuh lebih mementingkan membeli perawatan tubuh daripada mengisi perut.
Dia tidak pernah melihat wajah pemilik tubuh, karena dia benar-benar tidak peduli, apalagi hanya ada cermin tembaga yang sangat buram.
"Tidak mungkin! Ada yang tidak beres!" katanya dengan serius.
.
.
.
.
double up donk kak😍😍
aku menunggu kelanjutan nya😍
Sambil tunggu UP,
jangan lupa mampir di novel yg sudah Tamat😁🙏😍
semoga sampai tamat ya
selalu semangat up trus loh😍😍😍
aku menunggu kelanjutan nya