NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:36.5k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Setelah puas berkeliling dan mencoba berbagai wahana di pasar malam, langkah Aira akhirnya melambat. Lampu-lampu berwarna yang berkelap-kelip, suara musik yang bercampur dengan tawa pengunjung, serta aroma makanan yang menggoda masih memenuhi udara malam itu. Namun bagi Aira, keseruan bermain tadi rupanya belum benar-benar selesai.

“Aku mau beli makanan dulu,” ucap Aira sambil menoleh ke arah deretan stan yang menjual berbagai jajanan.

Bima yang berjalan di sampingnya langsung mengangkat alis. Ia menatap Aira dengan ekspresi heran yang tidak disembunyikan sama sekali. “Kamu serius? Tadi kita sudah makan banyak sekali.”

Aira mendengus pelan, sedikit kesal melihat ekspresi Bima yang seperti itu. “Ini bukan buat aku. Buat paman dan bibi.”

Bima menyipitkan mata, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Alasan yang bagus,” gumamnya dengan nada yang terdengar seperti menggoda. “Tapi aku yakin setengahnya bakal kamu makan sendiri.”

Aira berhenti berjalan dan menatap Bima dengan kesal. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia langsung berbalik dan berjalan cepat menuju salah satu stan yang tadi sempat mereka datangi. Stan bakaran yang menjual berbagai macam makanan seperti cumi, bakso bakar, dan sosis masih ramai pengunjung.

Aira menunjuk beberapa pilihan makanan, berniat membeli secukupnya. Namun sebelum ia sempat menyebutkan jumlahnya, Bima sudah lebih dulu bergerak. Dengan cekatan, ia mengambil beberapa tusuk dalam jumlah yang cukup banyak, jauh lebih banyak dari yang direncanakan Aira.

“Ini, ini, sama yang itu juga,” ucap Bima santai kepada penjual.

Aira menatapnya dengan kaget. “Bima, itu kebanyakan—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Bima sudah mengeluarkan uang dan membayar semuanya. Gerakannya cepat, seolah tidak memberi Aira kesempatan untuk protes lebih jauh.

Aira akhirnya hanya bisa diam. Ia tahu, dalam kondisi seperti sekarang, ia memang tidak punya banyak pilihan. Sejak tidak bekerja, keuangannya terbatas. Bahkan untuk sekadar membeli jajanan seperti ini pun ia harus berpikir dua kali. Dan Bima… sepertinya sudah memahami itu tanpa perlu dijelaskan.

“Ayo,” kata Bima ringan sambil mengambil kantong berisi makanan tersebut.

Aira hanya mendengus pelan, tapi tidak benar-benar marah. Mereka pun melanjutkan langkah kembali ke parkiran.

Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Suasana di dalam mobil terasa lebih tenang dibandingkan hiruk-pikuk pasar malam tadi. Mesin mobil menyala, dan Bima mulai mengemudi keluar dari area parkir.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Aira membuka kantong makanan dan mulai mengambil satu tusuk bakso bakar. Tanpa ragu, ia langsung menggigitnya. Aroma bumbu yang masih hangat membuatnya tersenyum puas.

Bima melirik sekilas ke arahnya. “Katanya buat paman dan bibi?”

Aira tetap mengunyah dengan santai. “Iya. Ini aku cuma coba sedikit.”

“Sedikit?” ulang Bima, melihat sudah beberapa tusuk berpindah dari kantong ke tangan Aira.

Aira tidak menggubrisnya. Ia justru beralih ke cumi bakar berikutnya, menikmati setiap gigitan dengan ekspresi puas.

Beberapa menit kemudian, Bima kembali berbicara. “Aku mau.”

Aira menoleh, sedikit bingung. “Mau apa?”

“Itu,” jawab Bima singkat, mengangguk ke arah makanan di tangan Aira. “Suapin.”

Aira langsung mengernyit. “Makan sendiri saja.”

Bima tersenyum tipis, matanya tetap fokus ke jalan. “Kalau aku makan, siapa yang nyetir?”

Aira terdiam sejenak. Ia menatap Bima dengan kesal, tapi tidak bisa menyangkal logika sederhana itu. Ia menghela napas pelan, merasa terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Dengan gerakan enggan, Aira mengambil satu tusuk bakso dan mendekatkannya ke arah Bima.

“Cepat,” gumamnya.

Bima tersenyum kecil sebelum membuka mulut dan menerima suapan itu. Ia mengunyah dengan santai, jelas menikmati momen tersebut.

“Lumayan,” komentarnya.

Aira memutar mata, tapi tetap melanjutkan menyuapinya beberapa kali lagi, meskipun dengan ekspresi setengah kesal. Sementara itu, Bima tampak semakin santai, bahkan sesekali melirik Aira dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

Setelah beberapa saat, Aira kembali bersandar di kursinya. “Tadi aku masih penasaran sama beberapa wahana.”

Bima mengangguk pelan. “Nanti kita ke sana lagi.”

Aira menoleh, sedikit terkejut. “Serius?”

“Iya,” jawab Bima singkat. “Masih banyak waktu.”

Namun kemudian ia menambahkan, “Tapi bukan sekarang. Ini sudah hampir jam sembilan.”

Aira melihat jam di ponselnya dan mengangguk pelan. Waktu memang terasa cepat berlalu.

“Aku sudah janji,” lanjut Bima, “tidak akan mengantar kamu pulang terlalu malam.”

Aira langsung menatapnya, ekspresinya berubah. “Kenapa jadi bahas itu lagi?”

Bima tidak langsung menjawab. Ia tetap fokus mengemudi, wajahnya terlihat tenang. “Karena aku ingin jadi calon menantu yang baik.”

Aira menghela napas panjang. Rasa kesal kembali muncul di dadanya. “Itu cuma kesalahpahaman.”

“Buat kamu mungkin,” jawab Bima santai.

Aira menatapnya tajam. “Jadi kamu tidak mau jelasin ke paman dan bibi?”

“Tidak.”

Jawaban itu datang terlalu cepat, tanpa ragu sedikit pun.

Aira semakin kesal. “Kenapa?”

Bima tersenyum tipis. “Aku tunggu kamu terima lamaran aku saja.”

Aira langsung memalingkan wajahnya. “Kamu ini...”

Ia menggeleng pelan, mencoba menahan emosi. “Fokus balikan dulu saja tidak bisa?”

Bima tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Menurutku lebih baik sekalian.”

Aira menatapnya lagi, kali ini dengan ekspresi tidak percaya. “Sekalian?”

“Iya,” jawab Bima. “Daripada balikan tapi tidak nikah.”

Aira terdiam. Ia merasa pembicaraan ini berjalan terlalu jauh. Terlalu cepat. Dan entah kenapa, hal itu membuatnya tidak nyaman.

“Itu terlalu jauh,” ucap Aira akhirnya.

Bima tidak terlihat terganggu. “Tidak juga.”

Aira menghela napas lagi. “Kamu terlalu santai.”

Bima tersenyum kecil. “Tidak perlu takut.”

Aira menatapnya dengan bingung. “Takut?”

“Ayah kamu,” lanjut Bima. “Aku pasti bisa dapat restunya.”

Aira langsung mengernyit. “Kamu meremehkan ayahku.”

Bima menggeleng pelan. “Bukan meremehkan.”

“Tapi dulu aku putus sama kamu karena beliau,” balas Aira dengan nada lebih serius.

Bima tetap tenang. “Semua harus dicoba dulu.”

Aira tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, pikirannya mulai penuh. Percakapan itu membuatnya kembali mengingat masa lalu, sesuatu yang sebenarnya ingin ia hindari malam ini.

Mobil terus melaju, suasana di dalamnya perlahan menjadi hening. Tidak ada lagi percakapan. Hanya suara mesin mobil dan sesekali suara kendaraan lain yang melintas.

Beberapa menit berlalu.

Tanpa disadari, Aira mulai merasa kantuk. Tubuhnya yang lelah setelah berkeliling pasar malam, ditambah perut yang kenyang, membuat matanya semakin berat.

Ia mencoba bertahan, tapi akhirnya menyerah.

Kepalanya perlahan bersandar ke sisi kursi, dan tak lama kemudian, ia tertidur.

Bima yang menyadari hal itu melirik sekilas. Senyum tipis muncul di wajahnya.

“Pasti capek,” gumamnya pelan.

Ia kembali fokus ke jalan, namun sesekali tetap melirik ke arah Aira. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tenang melihat Aira seperti itu. Wajah yang biasanya penuh ekspresi kini terlihat begitu damai.

Tanpa terasa, perjalanan mereka hampir sampai.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah paman dan bibi Aira. Lampu teras masih menyala, menandakan mereka belum tidur.

Bima mematikan mesin mobil, lalu turun perlahan. Ia berjalan ke pintu dan mengetuknya.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Bibinya Aira muncul dengan wajah penasaran.

“Aira mana?” tanyanya.

“Tidur, Tante,” jawab Bima pelan.

Ia kemudian menyerahkan kantong makanan yang mereka beli tadi. “Ini tadi Aira yang pilih.”

Bibinya menerima kantong itu, terlihat sedikit terkejut. “Banyak sekali.”

Bima hanya tersenyum kecil.

Tanpa menunggu lama, ia kembali ke mobil dan membuka pintu penumpang. Dengan hati-hati, ia mengangkat Aira yang masih tertidur.

Gerakannya perlahan, berusaha tidak membangunkan Aira. Wajahnya terlihat serius, penuh perhatian.

Bibinya yang melihat itu hanya diam, memperhatikan.

“Kamarnya di dalam,” ucapnya pelan sambil berjalan lebih dulu.

Bima mengikuti dari belakang, tetap menggendong Aira dengan hati-hati. Mereka masuk ke dalam rumah, lalu menuju kamar yang dimaksud.

Pintu kamar dibuka, dan Bima perlahan mendekati tempat tidur. Ia menurunkan Aira dengan sangat hati-hati, memastikan posisi tidurnya nyaman.

Aira sedikit bergerak, tapi tidak terbangun.

Bima memperhatikannya sejenak, lalu menarik selimut dan menutupinya.

Setelah itu, ia berdiri dan melangkah mundur.

“Saya pamit, Tante,” ucapnya pelan.

Bibinya mengangguk. “Hati-hati di jalan.”

Bima membalas dengan senyum singkat sebelum keluar dari kamar.

Setelah Bima pergi, bibinya kembali melihat ke arah Aira yang masih tertidur pulas.

Ia kemudian teringat bagaimana Bima memperlakukan keponakannya tadi. Cara ia mengangkatnya, cara ia memastikan Aira nyaman, semuanya terlihat begitu tulus.

Perlahan, sebuah pemikiran muncul di benaknya.

Mungkin… Bima bukan orang yang buruk untuk Aira.

Bahkan, mungkin ia benar-benar mencintai Aira dengan sungguh-sungguh.

Bibinya menghela napas pelan, lalu mematikan lampu kamar, membiarkan Aira beristirahat dengan tenang malam itu.

1
susi_ambarsari
enak y pemikiran laki laki, lbh terbuka biarpun sakit hati mereka gk baperan, beda klo cewe lebih baperan ujung2nya ngambek gk selesaikan mslh mlh bikin mslh stuck dsitu, klo pandu - bima menimpa cewek pasti berantem abz itu udahan persahabatan selesai, serumit itu y pemikiran cewe krn terlalu berpegang pd ego msg2 😮‍💨😮‍💨😮‍💨
susi_ambarsari: SEMANGAAAAAT 💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽💪🏽
total 4 replies
McBos
Bapak temanku ternyata ibuku
Black Rascall: maaf ga bikin karya BL kalau suka BL mungkin bisa cari yang lain kak
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget alurnya thor
Black Rascall: semoga terus baca sampai selesai
total 1 replies
Hennyy exo
wow awal yg bagus kk
Black Rascall: terima kasih
total 1 replies
Uning Sodik
waduh. ru miiiit ya😄😄😄
Black Rascall: kalau gak rumit kurang Indonesia aja kak karena rumit adalah budaya
total 1 replies
Uning Sodik
duuuh .... 😄😄😄😄
Black Rascall: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
Uning Sodik
eeeeh..blm ada yg komen
Black Rascall: makasih kak udah komen
total 1 replies
Nurhasana Oppo
laaaanjuuuuttttt kak mantap ❤️😭❤️😭😭❤️
Black Rascall: siap kak minta dukungannya dengan like dan komen biar saya makin semangat 🙏🙏🙏
total 1 replies
Sri Wahyudi
klo bisa up nya sehari 2x kak
Black Rascall: maaf ya kak soalnya ada dua karya yang saya tulis jadi gak bisa 🙏🙏🙏
total 1 replies
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!