Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Simfoni Kegelapan
Di dunia bawah tanah, paranoia bukanlah sebuah gangguan kejiwaan. Ia adalah sabuk pengaman yang menjaga lehermu dari sabetan pisau di dalam kegelapan.
Aku duduk di depan barisan monitor di pabrik garmen tua yang menjadi sarang baruku. Kopi di cangkir kalengku sudah lama dingin, menyisakan ampas hitam yang mengendap pahit di dasarnya. Mataku terasa perih dan kering, namun jemariku terus mengetikkan barisan kode, menyusup lebih dalam ke saluran komunikasi internal bayangan milik Vanguard Group.
Sejak Jenderal Sudiro kehilangan seluruh hartanya dan lari terbirit-birit, aku tahu Darmawan Salim tidak akan hanya duduk diam di balik meja mahoninya sambil menunggu giliran. Pria itu pasti melepaskan anjing-anjing pemburunya untuk membersihkan setiap jejak yang bisa mengarah pada dosa-dosanya.
Layar di sebelah kiriku berkedip merah. Sebuah inter-sepsi pesan dari gelombang radio frekuensi pendek yang biasa digunakan oleh tim pembersih (cleaners) Darmawan.
Pesan itu telah dideskripsi oleh algoritmaku. Kalimatnya singkat, padat, dan membuat darah di nadiku membeku seketika.
Tim Eksekusi Delta. Target sekunder telah memasuki zona karantina di Gudang 14 Marunda. Pintu utama telah disegel. Tunggu instruksi pembakaran. Pastikan barang bukti 'Kertas Badut' ditinggalkan di radius aman agar polisi menemukannya.
Gudang 14 Marunda.
Aku tahu tempat itu. Sebuah pabrik pengolahan kopra peninggalan era kolonial yang sudah ditinggalkan selama tiga dekade karena tanahnya tercemar limbah beracun. Tempat yang sangat sempurna untuk menghilangkan nyawa seseorang tanpa ada saksi mata yang peduli.
Namun, bukan lokasi itu yang membuat napasku tersendat hingga dadaku terasa sakit. Melainkan dua frasa laknat di dalamnya: Target sekunder dan Kertas Badut.
Darmawan Salim sedang merancang sebuah panggung teater palsu. Ia menyewa pembunuh bayaran untuk membakar seseorang hidup-hidup di gudang itu, dan ia berniat meninggalkan jejak palsu berupa simbol Joker untuk mengkambinghitamkanku. Ia ingin polisi berhenti menyelidiki korupsi Vanguard, dan memfokuskan seluruh sumber daya negara untuk memburu seorang pembunuh berantai gila yang membakar korbannya.
Siapa target sekunder yang mereka pancing ke sana? Siapa yang berani mengancam Darmawan hingga pria itu memutuskan untuk menggunakan api lagi?
Aku membuka tab baru, meretas akses kamera pengawas lalu lintas (CCTV) kota di sepanjang jalur arteri menuju kawasan Marunda dalam rentang waktu dua jam terakhir. Perangkat lunakku menyaring ribuan pelat nomor kendaraan yang melintas menembus hujan.
Hanya butuh empat puluh detik sebelum sistemku memberikan kecocokan visual.
Sebuah mobil SUV hitam. Melaju kencang menembus hujan gerimis ke arah utara. Di balik kemudinya, resolusi kamera yang buram menangkap siluet samar seorang wanita berjaket kulit gelap.
Elara.
Aku menggebrak meja kerjaku dengan kepalan tangan. Cangkir kopi kaleng itu terpental dan isinya tumpah membasahi lantai semen.
Rasa dingin yang luar biasa tajam merayap naik menelusuri tulang belakangku. Darmawan Salim tidak hanya menargetkan musuh bisnisnya. Ia menargetkan anaknya sendiri. Elara pasti telah menemukan dokumen asli dari brankas rahasia ayahnya, dan Darmawan entah bagaimana mengetahui hal itu.
Bagi predator sekelas Darmawan, tidak ada istilah keluarga jika itu mengancam kekuasaannya. Darah lebih encer daripada uang.
Mereka memancing Elara ke gudang tua itu. Mereka menguncinya dari luar. Dan sekarang, mereka bersiap untuk membakarnya hidup-hidup.
Gambaran mobil sedan yang hangus di dasar jurang sepuluh tahun lalu kembali berkelebat ganas di pelupuk mataku. Suara jeritan ibuku yang melolong di tengah kobaran api seolah kembali membelah gendang telingaku, disusul oleh bayangan siluet para pembunuh yang berdiri menonton dari atas tebing.
Hawa panas dari masa lalu seakan membakar bekas luka di bahuku.
"Tidak," geramku, suaraku bergetar hebat oleh amarah yang murni dan primitif. "Tidak kali ini. Tidak akan kubiarkan api itu menyentuhnya."
Aku menyambar mantel hitamku dari sandaran kursi, mengabaikan rasa nyeri yang menusuk dari tulang rusukku yang memar. Aku mengambil dua buah pisau lipat taktis berbilah karbon, tiga buah granat kejut (stun grenade), dan sebuah perangkat peretas sinyal portabel.
Aku melesat keluar dari pabrik tua itu, melompat ke dalam jok kemudi mobilku, dan menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai kabin. Mesin menderu marah, membelah jalanan malam Jakarta bagaikan peluru hitam yang ditembakkan dari laras dendam.
Kawasan industri Marunda pada malam hari adalah perwujudan dari kematian yang sunyi.
Bau garam laut yang amis bercampur dengan limbah amonia menusuk hidungku begitu aku mematikan mesin mobil sekitar dua ratus meter dari Gudang 14. Aku turun, membiarkan gerimis malam membasahi rambut dan mantelku. Aku bergerak menyusuri bayangan tumpukan kontainer karatan, menyatu dengan kegelapan layaknya cairan tinta yang menetes ke dalam air.
Di depan struktur bangunan gudang raksasa yang atapnya melengkung itu, aku melihat mereka.
Enam orang pria berpakaian serba hitam. Mereka bukan prajurit berseragam taktis standar militer seperti milik Sudiro. Orang-orang ini memakai pakaian sipil—jaket kulit tebal, celana jeans gelap—namun postur mereka, kewaspadaan mereka, dan senapan serbu berperedam suara yang menggantung di dada mereka menunjukkan satu hal: mereka adalah tim pembersih profesional (cleaners). Pembunuh berdarah dingin yang disewa dengan harga selangit.
Dua orang sedang berjaga di depan pintu geser utama yang digembok menggunakan rantai baja tebal. Dua orang lainnya sedang berjalan menyusuri dinding luar gudang, menyiramkan cairan dari jeriken merah. Bau bensin beroktan tinggi langsung menguar terbawa angin laut. Sisa dua orang lagi berdiri menyandar di dekat sebuah mobil van tanpa pelat nomor, salah satunya memegang radio komunikasi ke telinga.
Mereka sedang menunggu perintah akhir dari Darmawan Salim untuk menyalakan korek api. Dan di dalam sana, terjebak di tengah kegelapan, Elara sedang menunggu kematiannya.
Aku merogoh saku mantelku, mengeluarkan topeng porselen putih itu.
Kuusap permukaannya yang halus dan sedingin es. Selama ini, aku menggunakan topeng ini untuk menyembunyikan emosiku, untuk menjadi sosok algojo tanpa wajah. Namun malam ini, topeng ini akan menjadi perwujudan dari mimpi buruk terdalam yang pernah mereka rasakan.
Aku mengenakannya. Dunia di sekitarku menyempit melalui dua lubang mata yang gelap.
Aku merogoh perangkat peretas sinyalku. Gudang tua peninggalan Belanda ini masih memiliki sistem pengeras suara peringatan (PA system) usang yang corong-corong toa-nya menempel di setiap tiang lampu di luar bangunan. Kabel-kabelnya mungkin sudah digerogoti tikus, tapi sumber listriknya terhubung langsung dengan jalur bawah tanah.
Aku menyambungkan frekuensi nirkabel ponselku ke gelombang radio penerima dari sistem pengeras suara tersebut.
Aku tidak ingin menyerang orang-orang ini dalam keheningan. Orang-orang ini dibayar mahal untuk tidak memiliki rasa takut terhadap tembakan atau perkelahian fisik. Untuk menghancurkan mental mesin-mesin pembunuh ini, aku harus menciptakan sebuah atmosfer teror yang merobek kewarasan mereka.
Aku membuka daftar putar di ponselku. Jari telunjukku menggulir layar, lalu memilih sebuah mahakarya klasik yang paling muram dalam sejarah umat manusia: Mozart - Requiem in D minor: Lacrimosa.
Sebuah misa kematian. Sebuah komposisi yang ditulis Mozart di ranjang kematiannya, menceritakan tentang hari yang penuh air mata dan penghakiman jiwa-jiwa berdosa. Sangat puitis untuk orang-orang yang berniat membakar manusia malam ini.
Aku menekan tombol putar (play), lalu memaksimalkan volume keluarannya.
Seketika, alunan alat musik gesek—biola dan selo—yang sangat lambat, berat, dan menyayat hati bergema dari empat sudut corong toa karatan di sekitar gudang. Suaranya sedikit pecah, diwarnai dengung distorsi statis akibat usia pengeras suara yang sudah tua, namun cacat audio itu justru membuat alunan musiknya terdengar seperti tangisan duka dari alam kubur.
Keenam pembunuh bayaran itu tersentak kaget.
"Suara apa itu?! Siapa yang menyalakan radio sialan itu?!" teriak sang pemimpin, seorang pria botak dengan sayatan luka memanjang di rahangnya. Ia menjatuhkan radio komunikasinya ke lumpur dan mengangkat moncong senapannya.
Mereka berputar liar, mengarahkan lampu senter dari bawah laras senjata ke sekeliling area ilalang dan kontainer yang gelap. Gerimis yang turun membuat cahaya senter mereka berpendar, menciptakan ilusi optik yang membingungkan mata mereka sendiri.
Lalu, paduan suara koral masuk menghentak malam.
Lacrimosa dies illa... (Penuh air mata hari itu...)
Suara puluhan penyanyi koor yang menyanyikan lirik Latin dengan penuh penderitaan itu menggema luar biasa megah, menciptakan latar belakang akustik yang menggetarkan aspal di bawah kaki mereka.
Aku tidak membuang waktu. Sambil memanfaatkan bariton paduan suara yang meredam suara langkahku, aku melesat keluar dari balik tumpukan kontainer, memutari area sisi kanan gudang tempat dua pria sedang menyiram bensin.
Pria pertama sedang mendongak, kebingungan menatap ke atas corong toa yang berderak. Ia tidak melihat bayanganku yang meluncur dari titik butanya di sebelah kanan.
Tangan kiriku membekap mulutnya dengan keras, menarik kepalanya ke belakang hingga jakunnya terekspos. Di saat yang bersamaan, tangan kananku yang memegang pisau taktis menusuk celah mematikan di bawah tulang rusuk kirinya, mengincar paru-paru.
Ia meronta hebat, matanya melotot. Udara di paru-parunya keluar sebagai desisan darah yang teredam oleh sarung tangan kulitku. Aku menurunkan tubuhnya perlahan ke atas tanah berlumpur tanpa menimbulkan suara debam.
Satu tumbang.
Qua resurget ex favilla... (Ketika dari abu akan bangkit...)
Pria kedua yang berjarak tiga meter darinya baru saja berbalik karena merasakan ada yang tidak beres. Ia melihat tubuh temannya tergeletak, dan sebelum ia bisa berteriak memperingatkan yang lain atau menarik pelatuk senapannya, aku melemparkan pisau lipat keduaku lurus ke arah wajahnya.
Bilah karbon itu melesat membelah rintik hujan dan menancap dalam di pangkal bahu kanannya. Ia menjerit kesakitan, refleks menjatuhkan senapannya.
Dalam dua langkah panjang, aku sudah berada di hadapannya. Aku memutar tubuhku, mendaratkan tendangan tumit memutar yang menghantam keras sisi pelipisnya. Terdengar bunyi retakan tengkorak yang ngilu. Pria itu pingsan seketika, tubuhnya menghantam genangan bensin.
Dua tumbang. Musik terus berayun, paduan suara meratap semakin keras, seolah menangisi nyawa-nyawa yang sedang dicabut di lumpur ini.
"Mereka diserang! Sisi timur! Ada orang di sana!" teriak salah satu penjaga di depan pintu utama.
Empat orang yang tersisa berlari ke arah sisiku. Lampu senter mereka menembus hujan, menyapu lumpur yang kini berlumuran bensin dan darah segar.
Aku memutar tubuhku, mundur dan menyelinap masuk ke dalam bayang-bayang lorong sempit yang memisahkan gudang ini dengan tembok pembatas kawasan industri. Aku sengaja menendang sebuah kaleng cat kosong yang berkarat untuk menciptakan suara bising logam.
"Di lorong! Kepung dia! Bunuh bajingan itu!"
Tiga orang mengejarku masuk ke dalam lorong sempit yang gelap gulita itu, sementara sang pemimpin yang berwajah botak memilih tetap berjaga di dekat pintu mobil van, ketakutan mulai merayapi logikanya.
Mengejarku ke dalam lorong sempit adalah kesalahan taktis yang sangat amatir. Mereka membiarkan emosi menguasai formasi tempur. Di lorong sesempit ini, keunggulan jumlah orang dan panjangnya laras senapan serbu mereka sama sekali tidak berguna. Mereka justru saling menghalangi jarak tembak satu sama lain.
Aku bersembunyi menempelkan punggungku di balik sebuah pilar balok beton penyangga. Saat bayangan pria pertama melewatiku, diiringi oleh puncak ratapan soprano dari musik Mozart di udara, aku menarik pelatuk cincin dari granat kejut (stun grenade) dan melemparkannya tepat ke tengah-tengah kaki mereka.
KILAT! BLAAAM!
Cahaya putih yang luar biasa menyilaukan meledak di lorong sempit itu, menelan kegelapan, diikuti oleh dentuman suara bertekanan lebih dari seratus tujuh puluh desibel.
Ketiga pria itu menjerit histeris, menjatuhkan senjata mereka sambil memegangi telinga yang berdenging keras hingga mengeluarkan darah. Orientasi ruang dan keseimbangan tubuh mereka hancur lebur seketika.
Aku keluar dari persembunyianku layaknya hantu pencabut nyawa dari neraka yang dipanggil oleh lantunan lagu Requiem itu.
Aku meraih lengan pria terdepan yang sedang terhuyung, memutar pergelangan tangannya ke arah luar hingga berbunyi krak yang tajam, lalu menggunakan bahunya sebagai tumpuan untuk melontarkan tendangan lutut ke dada pria kedua hingga ia terlempar menabrak tembok bata.
Pria ketiga mencoba mengucek matanya yang buta sesaat dan merogoh pistol di pinggangnya, tapi aku menghantam pangkal hidungnya dari bawah menggunakan tumit telapak tanganku. Darah menyembur. Tulang rawannya patah masuk. Ia jatuh telentang ke dalam lumpur, tak sadarkan diri.
Tiga. Empat. Lima. Semuanya tumbang dalam waktu kurang dari tujuh puluh detik.
Alunan Lacrimosa mencapai bait penutupnya. Suara paduan suara merendah menjadi bisikan doa yang memilukan, menciptakan kontras yang mengerikan dengan pemandangan mayat-mayat hidup yang terkapar mengerang di bawah guyuran hujan.
Tinggal satu orang tersisa.
Aku berjalan keluar dari lorong sempit itu, melangkah pelan dengan ritme yang tenang di atas genangan lumpur, menuju mobil van.
Pemimpin pembunuh bayaran itu berdiri dengan lutut yang bergetar hebat. Senapan serbunya diangkat tinggi, membidik ke arahku. Ia akhirnya bisa melihatku dengan jelas sekarang. Siluet seorang pria tinggi berbalut mantel hitam panjang yang ujungnya berkibar ditiup angin laut, mengenakan topeng porselen putih yang memantulkan cahaya redup dari lampu jalanan.
Wajah sang Joker.
"Jangan mendekat! Aku bersumpah akan menembakmu hingga hancur!" teriaknya, suaranya parau oleh kepanikan absolut yang kini mencekik tenggorokannya.
Aku tidak menghentikan langkahku. Aku terus berjalan menembus rintik gerimis, lurus ke arah moncong senjatanya.
"Mati kau, iblis!"
Ia menarik pelatuknya dengan putus asa. Tat-tat-tat! Tiga butir peluru melesat membelah malam. Namun, tangannya yang gemetar karena teror psikologis membuat bidikannya berantakan. Dua peluru mendesing membakar udara, melewati bahu dan telingaku, menghantam dinding bata gudang di belakangku. Satu peluru menyerempet lengan jaketku, merobek kain hitamnya tanpa mengenai dagingku.
Sebelum ia bisa menarik pelatuk untuk rentetan kedua, jarak di antara kami sudah menguap tak bersisa.
Tangan kiriku melesat ke atas, mencengkeram laras senapannya yang masih panas dan menyentak senjatanya ke atas. Tangan kananku meluncur cepat mencengkeram kerah jaket kulitnya. Menggunakan momentum berat badannya yang kaget, aku memutar tubuhku, membantingnya dengan seluruh tenaga ke atas kap mesin mobil van miliknya sendiri.
Kaca depan mobil itu retak seribu akibat benturan tulang punggungnya. Senapannya terlempar jatuh ke kubangan lumpur.
Pria botak itu mengerang kesakitan, mencoba melayangkan pukulan buta ke wajahku. Tapi aku menekan lengan kiriku kuat-kuat ke jakunnya, menjepit jalur napasnya ke kap mobil yang dingin. Ia meronta-ronta seperti ikan di daratan, kakinya menendang bempeR mobil dengan panik. Wajahnya mulai membiru karena kekurangan oksigen.
Aku mencondongkan wajah topengku hingga hanya berjarak lima sentimeter dari wajahnya yang basah oleh keringat dan hujan. Mata kosong porselenku menatap lurus ke dalam pupilnya yang membelalak.
"Siapa yang memerintahkanmu untuk membakar tempat ini?" desisku, suaraku terdengar rendah dan bergetar menahan luapan amarah yang sewaktu-waktu bisa meledak.
"A... aku tidak tahu namanya!" pria itu tercekik, suaranya terdengar seperti cicitan tikus yang terjepit. Ia berusaha melepaskan cekikanku, tapi tenagaku didorong oleh kemarahan yang membakar pembuluh darahku. "Klien anonim! Pembayaran koin kripto! Pesannya hanya... untuk mengurung wanita detektif itu... dan membakarnya! Tolong... lepaskan aku!"
"Kau tahu bagaimana rasanya terbakar hidup-hidup?" tanyaku pelan, tidak melepaskan cengkeramanku sedikit pun. "Kau tahu bagaimana rasanya udara di paru-parumu berubah menjadi abu sementara kulitmu meleleh mengelupas dari tulangmu?"
Pria itu menggeleng dengan histeris, air mata mulai keluar dari sudut matanya. Pembunuh bayaran yang lima menit lalu bersiap membakar seorang wanita hidup-hidup, kini menangis memohon ampun saat dewa kematian menatap langsung ke wajahnya.
"Sampaikan pesan ini pada majikan yang menyewamu jika kau masih hidup nanti," bisikku tajam, menekan lehernya sedikit lebih keras hingga ia memejamkan mata menahan sakit. "Katakan padanya, bahwa sang Joker tidak pernah bermain-main dengan api. Sang Joker adalah neraka itu sendiri."
Aku mendaratkan satu pukulan keras dengan buku jariku tepat ke rahang bawahnya. Rahangnya terkilir. Pria itu langsung terlelap seketika, tubuhnya merosot lemas dari kap mobil, jatuh berdebam ke atas tanah yang becek.
Aku memutar tubuhku, menatap pintu geser raksasa Gudang 14 yang tergembok rantai baja tebal.
Alunan Lacrimosa dari corong toa menyelesaikan bait terakhirnya: Amen.
Satu kata penutup yang menggema muram, sebelum akhirnya mati menyisakan desis statis dan suara hujan.
Aku mengangkat senapan serbu yang terjatuh di lumpur tadi, mengarahkan moncong berperedamnya ke gembok rantai baja tersebut. Aku menarik pelatuknya. Peluru tajam menghantam gembok baja itu hingga hancur berkeping-keping dengan suara dentingan logam yang keras.
Aku menendang pintu geser itu sekuat tenaga. Pintu besi berkarat itu bergeser terbuka, menguarkan bau debu dan memperlihatkan kegelapan pekat dari dalam gudang.
Di tengah-tengah gudang itu, disorot oleh satu-satunya lampu industri yang menyala seperti panggung teater kosong, aku melihatnya. Elara sedang berjongkok berlindung di balik sebuah pilar beton, menodongkan pistol Glock-nya lurus ke arah pintu. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal, namun matanya memancarkan keberanian yang tak pernah padam.
Ia melihat siluetku berdiri di ambang pintu. Siluet seorang pria bermantel hitam dengan topeng badut, berdiri di bawah rintik hujan, di kelilingi oleh tubuh-tubuh pembunuh bayaran yang terkapar di lumpur.
Elara tidak menurunkan senjatanya. Tangannya masih gemetar.
Aku menjatuhkan senapan curian itu dari tanganku, membiarkannya membentur lantai semen dengan suara klontang yang nyaring. Aku melangkah pelan memasuki gudang itu, membiarkan diriku masuk ke dalam area bidikan senjatanya.
Aku menatap pria botak yang terkapar pingsan di luar sana dari ekor mataku.
"Musik ini adalah lagu pemakamanmu."