Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Lima hari terakhir terasa seperti pusaran angin yang tak berujung. Bagi Faelynn, waktu seolah kehilangan maknanya. Di antara hiruk-pikuk pengurusan dokumen di kantor catatan sipil—yang secara ajaib selesai dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam berkat "jalur khusus" Kingsley—hingga pengepasan terakhir gaun pengantin, ia hampir tidak punya waktu untuk bernapas. Kingsley benar-benar menepati janjinya; ia menjadi perisai yang menghalau segala kerumitan, membiarkan Faelynn hanya fokus pada satu hal: kesiapan hatinya.
Gedung apartemen lantai empat itu kini sunyi. Tidak ada lagi bisikan di koridor. Kabar bahwa Faelynn akan menikah dengan seorang Emerson telah membungkam lidah-lidah paling tajam sekalipun. Ada rasa hormat yang dipaksakan oleh rasa takut, namun bagi Faelynn, itu tidak lagi penting. Fokusnya kini tertuju pada hari ini.
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar hotel tempat Faelynn bersiap. Kingsley bersikeras menyewa penthouse di hotel bintang lima dekat katedral agar Faelynn bisa bersiap dengan tenang bersama ibu dan Anna.
Faelynn berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya. Gaun A-line dengan detail lace yang mereka pilih beberapa hari lalu kini melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajah, dan kerudung transparan panjang menjuntai hingga ke lantai.
"Kau cantik sekali, Kak," bisik Anna, matanya berkaca-kaca saat menyematkan bros kecil di pinggang gaun Faelynn. "Aku tidak pernah menyangka akan melihatmu seperti ini. Kau benar-benar terlihat seperti putri dari salah satu novelmu sendiri."
Melinda masuk ke ruangan, mengenakan kebaya modern berwarna sampanye yang elegan. Ia berhenti di ambang pintu, tangannya menutup mulut karena haru. "Fae... Nak... Ibu tidak menyangka hari ini benar-benar datang secepat ini."
Faelynn berbalik dan memeluk ibunya erat. "Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah selalu percaya padaku, bahkan saat semua orang meremehkan ku."
"Kingsley sudah menunggu di bawah, Sayang," ujar Melinda sambil mengusap air matanya. "SUV hitamnya sudah siap. Dia bilang, dia tidak ingin terlambat satu detik pun untuk menjadikanmu istrinya."
Katedral tua di pinggiran kota itu tampak agung dengan arsitektur gotik yang megah. Tidak ada dekorasi berlebihan; hanya rangkaian bunga lili putih dan mawar putih yang menghiasi sepanjang jalan menuju altar. Kingsley menginginkan privasi mutlak. Hanya ada keluarga inti Emerson, Melinda, Anna, dan dua rekan tim Kingsley yang berdiri di barisan depan sebagai saksi.
Kingsley berdiri di depan altar, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dipesan khusus. Bahunya yang lebar dan postur tubuhnya yang tegak membuatnya tampak sangat berwibawa. Luka di pipinya sudah hampir tidak berbekas, namun tatapan matanya tetap tajam, menyapu pintu besar katedral dengan kegelisahan yang jarang ia tunjukkan.
Pintu terbuka.
Alunan organ gereja yang lembut mulai bergema, memainkan melodi yang syahdu. Faelynn muncul di ambang pintu, menggandeng lengan ibunya karena ayahnya telah lama tiada. Saat mata mereka bertemu di sepanjang koridor panjang itu, dunia di sekitar mereka seolah lenyap.
Kingsley menahan napas. Ia telah melihat banyak hal indah di dunia ini—matahari terbit di gurun Sahara, puncak gunung es di Islandia—namun tidak ada yang menandingi pemandangan Faelynn yang berjalan ke arahnya dengan gaun putih itu. Di mata Kingsley, Faelynn bukan hanya seorang penulis kecil dari apartemen sederhana; dia adalah satu-satunya alasan mengapa ia ingin terus pulang ke rumah.
Langkah demi langkah, Faelynn mendekat. Saat ia sampai di depan Kingsley, pria itu mengulurkan tangannya. Sentuhan tangan Kingsley yang hangat dan kokoh seketika menghilangkan kegugupan Faelynn.
"Kau sangat cantik, Sayang," bisik Kingsley, suaranya parau oleh emosi.
"Kau juga sangat tampan, Ay," sahut Faelynn pelan.
Pendeta mulai membacakan liturgi pernikahan. Suasana begitu sakral, hanya suara angin sepoi-sepoi yang masuk melalui jendela kaca patri yang terdengar. Tibalah saatnya bagi mereka untuk mengucapkan janji suci.
Kingsley mengambil tangan kanan Faelynn, menatap tepat ke dalam matanya yang bulat.
"Aku, Kingsley Emerson, mengambil engkau, Faelynn Yosephine, menjadi istriku yang sah. Di hadapan Tuhan dan saksi-saksi ini, aku berjanji untuk menjadi perisaimu di saat badai, menjadi pelabuhanmu di saat lelah. Aku berjanji akan menjagamu dengan nyawaku, mencintaimu dalam kegelapan maupun terang, sampai maut benar-benar memisahkan kita. Tidak akan ada lagi rahasia yang menghalangi kita, tidak ada lagi jarak yang menjauhkan kita. Kau adalah misi terakhirku, dan aku akan setia selamanya."
Air mata jatuh di pipi Faelynn. Ia menarik napas dalam, mencoba menstabilkan suaranya.
"Aku, Faelynn Yosephine, mengambil engkau, Kingsley Emerson, menjadi suamiku yang sah. Aku berjanji untuk menjadi penyejuk di saat kau panas, menjadi rumah di saat kau tersesat. Aku menerima segala duniamu, segala rahasiamu, dan segala lukamu. Aku akan mencintaimu bukan hanya sebagai karakter dalam ceritaku, tapi sebagai pria nyata yang memegang hatiku. Aku akan menunggumu pulang, dan aku akan selalu ada di sampingmu, sampai tinta hidup kita habis."
"Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai suami istri yang sah. Silakan cium mempelai wanita."
Kingsley menyingkap kerudung Faelynn perlahan. Ia menangkup wajah Faelynn dengan kedua tangannya yang besar, lalu mengecup bibirnya dengan lembut namun penuh penekanan—sebuah segel bagi janji yang baru saja mereka ucapkan.
Tepuk tangan kecil namun hangat pecah di dalam katedral. Arthur Emerson dan Eleanor tampak tersenyum lega dari barisan depan. Bahkan rekan-rekan Kingsley yang biasanya berwajah kaku pun tampak ikut terharu.
Setelah upacara selesai, mereka berjalan keluar katedral sebagai sepasang suami istri. Para fotografer pribadi mengabadikan momen saat Kingsley menggendong Faelynn keluar menuju mobil—sebuah adegan yang persis seperti bab penutup novel romansa yang pernah Faelynn tulis.
"Jadi, Nyonya Emerson..." Kingsley berbisik di telinga Faelynn saat mereka sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju resepsi kecil di mansion keluarga. "Bagaimana rasanya menjadi istri dari seorang pria 'tiang listrik'?"
Faelynn menyandarkan kepalanya di bahu Kingsley, memainkan cincin pernikahan yang kini melingkar di jari manisnya, bersanding dengan berlian nenek Kingsley.
"Rasanya seperti aku baru saja menulis akhir paling bahagia dalam hidupku, King. Tapi ini bukan akhir, kan?"
Kingsley menggenggam tangan istrinya erat, mencium jemarinya dengan penuh kasih. "Bukan, Sayang. Ini adalah Bab 1 dari sisa hidup kita. Dan aku pastikan, setiap halaman berikutnya akan penuh dengan cinta, bukan lagi air mata.
Di kejauhan, gedung apartemen lama itu sudah tidak terlihat lagi. Masa lalu yang penuh cibiran, fitnah dari mantan, dan ketakutan akan kesepian telah ditinggalkan di belakang. Di depan mereka, terbentang jalan panjang menuju kediaman Emerson, menuju kehidupan yang penuh tantangan, namun dihadapi bersama.
Faelynn Yosephine kini bukan lagi si perawan tua yang malang. Dia adalah jantung dari kehidupan Kingsley Emerson. Dan sang agen rahasia itu akhirnya menemukan misi yang paling berharga: mencintai wanita di sampingnya seumur hidupnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰