Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
“El pasti bingung…” gumam Natasha pada dirinya sendiri, berusaha menenangkan diri sejenak tapi matanya masih memancarkan api amarah yang tak padam. “El pasti butuh aku buat sadarin dia. Dia pasti salah ambil keputusan karena lagi emosi atau lagi ada masalah. Aku harus ketemu dia. Aku harus bicarakan ini baik-baik. Aku bakal bujuk dia. Aku bakal minta dia cerai sama cewek itu dan balik sama aku. El sayang sama aku, El pasti akan dengerin aku.”
“Tapi Non…” Sita memberanikan diri menyela pelan, suaranya bergetar. “Tuan Elvano kan sudah sah jadi suami orang. Itu dosa lho Non, kalau Non masih mau deket-deket dan mau pisahin suami orang…”
“DOSA APA HAH?!” potong Natasha tajam seketika, ia menatap Sita dengan pandangan yang merendahkan dan sinis. “Cinta itu gak kenal dosa! Cinta itu buta! Dan Elvano itu jodohku! Dia ditakdirkan buat aku! Cewek itu yang ngerebut! Dia perusak hubungan orang! Dia pelakor! Dia perusak rumah tangga! Dia yang salah! Dia yang harusnya pergi dan hilang dari muka bumi ini!”
Natasha langsung berjalan tegas menuju lemari pakaiannya yang sangat besar dan luas bak butik mewah. Ia membuka pintu lemari itu dengan kasar, matanya memindai seluruh pakaian yang mahal, gaun-gaun yang indah, dan aksesoris berlian yang ada di dalam sana.
“Aku harus tampil sempurna!” ucapnya tegas dan penuh dengan keyakinan diri. “Aku harus lebih cantik, lebih seksi, dan lebih mempesona dari cewek itu! Aku harus tunjukkin sama El kalau cuma aku yang pantas berdiri di samping dia! Cuma aku yang punya kelas! Bukan cewek desa yang gak tau apa-apa, gak tau cara bersikap, dan gak tau cara memuaskan laki-laki kayak gitu!”
Sementara badai amarah sedang berkumpul di apartemen Natasha, suasana di kediaman megah keluarga Praditya terasa sangat berbeda. Suasananya hangat, tenang, penuh kasih sayang, dan kedamaian yang luar biasa.
Hari ini adalah hari pertama Aira tinggal di rumah besar itu setelah akad nikah kemarin. Nyonya Praditya terlihat sangat sibuk namun sangat bahagia dan bersemangat. Ia terus memegang tangan Aira, mengajaknya keliling rumah, mengenalkan pada seluruh staf dan pembantu rumah tangga, serta memastikan menantunya merasa nyaman dan betah seperti di rumah sendiri.
“Nah, ini kamar kamu sama El ya, Nak,” kata Nyonya Praditya lembut sambil membuka pintu sebuah kamar yang sangat luas, megah, dan mewah. “Kamarnya luas banget, adem, pemandangannya juga bagus banget menghadap taman. Mama yakin kamu pasti betah dan nyaman di sini.”
Aira menatap sekeliling kamar itu dengan mata yang berbinar-binar namun juga merasa sangat canggung dan asing. Kamar itu sangat besar, desain interiornya sangat maskulin dengan dominasi warna hitam dan putih yang elegan, sangat mencerminkan kepribadian pemiliknya: dingin, megah, bersih, dan tertutup rapat.
“Te… terima kasih banyak, Ma…” jawab Aira sopan dan lembut, wajahnya sedikit memerah karena malu membayangkan akan tinggal serumah bahkan sekamar dengan pria yang dingin itu. “Kamarnya indah sekali. Sangat megah.”
“Tentu saja dong!” Nyonya Praditya tersenyum lebar sangat ramah, lalu ia mengusap lembut punggung tangan Aira dengan penuh kasih sayang. “Kamu kan istri sahnya El, jadi kamu berhak dapat yang terbaik di dunia ini. El itu anaknya memang agak dingin, pendiam, cuek, dan agak keras kepala sedikit. Tapi Mama yakin kok, kamu wanita yang baik pasti bisa bikin dia berubah jadi lebih baik, lebih hangat, dan lebih lembut. Kamu kan gadis baik-baik, manis, penyabar, pasti El juga bakal sayang sama kamu sepenuhnya.”
Aira hanya bisa tersenyum kecut mendengarnya. Sayang? Ia sangat meragukan hal itu. Mereka menikah karena kesepakatan, karena kontrak, karena keadaan yang memaksa. Bukan karena cinta yang tumbuh dari hati. Tapi ia tidak berani mengatakannya pada ibu mertuanya yang sudah begitu baik dan sangat menyayanginya ini. Ia tidak tega menyakiti hati wanita itu.
“Iya Ma… Aira bakal berusaha semampu Aira jadi istri yang baik dan sholehah buat Mas Elvano. Aira bakal jaga nama baik keluarga ini,” jawab Aira tulus.
“Nah gitu dong! Pinter anak Mama!” Nyonya Praditya semakin sayang dan gemas melihat kerendahan hati menantunya itu. “Yaudah, kamu istirahat dulu ya di kamar. El juga sebentar lagi pasti pulang dari kantor. Nanti sore kita makan malam bareng-bareng ya sebagai keluarga baru.”
Setelah mertuanya pergi dan menutup pintu, Aira perlahan berjalan masuk ke dalam kamar itu dan menutup pintu pelan-pelan. Suasana seketika menjadi hening total. Hening yang membuat jantungnya berdegup kencang tidak karuan.
Ini kamar suaminya. Ini tempat mereka akan tinggal bersama mulai detik ini dan seterusnya.
“Aira… tenang… Aira harus kuat… Aira harus sabar…” bisiknya pada diri sendiri sambil memegang dadanya yang berdebar sangat kencang. “Ini semua cuma sementara. Jalani aja dulu demi Papa dan keluarga. Demi kesembuhan Papa.”
Aira berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang sangat indah dan terawat. Ia menatap langit yang mulai berwarna jingga keunguan indah saat senja. Pikirannya melayang entah ke mana. Ia membayangkan bagaimana hidupnya ke depannya bersama pria yang dingin dan misterius itu. Apakah mereka akan selalu canggung seperti orang asing? Apakah Elvano akan bersikap baik dan lembut padanya? Atau justru makin dingin dan cuek?
Tiba-tiba saja, bayangan ocehan heboh sahabatnya Dinda muncul jelas di kepalanya, seolah Dinda sedang berdiri di sampingnya saat ini.
“Hati-hati janda muda ya Ra!! Jaga hati baik-baik!! Jangan kebawa perasaan!!”
Aira menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan kata-kata menyeramkan itu dari benaknya. “Enggak… enggak bakal terjadi. Aira harus fokus. Aira harus kuat.”
Sore itu, suasana di ruang tengah rumah besar itu terasa sangat hangat dan nyaman. Aira sedang duduk di samping Nyonya Praditya di sofa empuk, mendengarkan cerita-cerita lucu tentang masa kecil Elvano dengan senyum manis yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Di sebelah sisi lain, Elvano duduk dengan santai namun tetap terlihat gagah dan berwibawa. Ia sedang membaca koran bisnis dengan wajah yang datar dan serius seperti biasanya.
Tiba-tiba saja, tangan Aira terulur untuk mengambil cangkir teh hangat yang ada di atas meja depan mereka. Namun tanpa sengaja, siku tangannya yang halus bersentuhan lembut dengan tangan besar Elvano yang sedang bertumpu di sandaran sofa.
Srett!
Sentuhan kecil yang sangat ringan itu bagaikan aliran listrik yang menyengat manis. Aira langsung tersentak kaget dan menarik tangannya dengan cepat seolah terbakar api. Wajahnya langsung memerah padam menahan malu yang luar biasa. Ia melirik sekilas dengan takut ke arah suaminya itu.
Elvano yang tadinya fokus membaca koran, menoleh perlahan ke arahnya. Tatapan mata tajamnya bertemu dengan mata Aira yang langsung menunduk dalam karena malu dan gugup.
Tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi berlebih, Elvano perlahan menggeser tangannya di atas sofa, tepat di samping paha Aira, seolah memberi kode agar gadis itu merasa tenang dan tidak perlu menjauh. Jari-jarinya yang panjang dan kokoh bahkan sempat menyapu pelan ujung gaun yang dikenakan Aira, memberikan getaran aneh yang sulit dijelaskan di hati gadis itu.
“Ma… Aira izin ke dapur sebentar ya, mau ambil air minum,” ucap Aira pelan terbata-bata, berusaha menyembunyikan kegugupannya yang luar biasa.
“Ayo Mama temani,” sahut Nyonya Praditya ramah dan hangat.
Elvano hanya mengangguk pelan sebagai jawaban, tapi matanya tak lepas memandangi punggung kecil istrinya yang berjalan menjauh. Ada perasaan aneh yang mulai tumbuh subur di hatinya, rasa ingin selalu memastikan wanita itu ada di dekatnya, merasa tenang, dan baik-baik saja. Rasa kepemilikan itu mulai tumbuh lebih kuat dari sekadar perjanjian.
Malam semakin larut, bintang-bintang mulai bermunculan di langit yang hitam. Suasana makan malam di ruang makan yang megah itu awalnya berjalan sangat lancar, penuh dengan canda tawa dan cerita hangat dari Nyonya Praditya. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba...
BRAKK!!
Pintu utama rumah besar itu terbuka paksa dengan suara yang sangat keras dan menggelegar!
“BUKA PINTUNYA!! AKU MAU MASUK!! ELVANO!! KELUAR KAMU DARI SANA!!”
Suara teriakan wanita yang sangat nyaring, melengking, dan penuh dengan emosi menggema ke seluruh penjuru rumah, memecah keheningan malam dan membuat suasana hangat itu seketika berubah menjadi sedingin es.
Semua orang yang ada di meja makan langsung terdiam kaku. Sendok dan garpu yang tadinya berbunyi beradu dengan piring kini berhenti total. Wajah Tuan dan Nyonya Praditya langsung berubah menjadi masam dan tegang.
Dan tak lama kemudian, sosok wanita dengan gaun malam yang sangat seksi namun terlihat berantakan, riasan wajah yang tebal tapi mulai luntur karena air mata, serta tatapan mata yang membara penuh api amarah, muncul di ambang pintu.
Itu Natasha.
Natasha berjalan masuk dengan langkah lebar dan penuh dengan aura ancaman. Matanya langsung mencari-cari keberadaan Elvano. Dan saat matanya berhasil menangkap sosok pria itu yang sedang duduk tenang di kursi utama, ia langsung berlari kencang menghampiri meja makan.
“El!!” teriaknya histeris, suaranya seakan membuat dinding rumah itu bergetar. “JELASKAN SAMA AKU! APA YANG KAMU LAKUKAN INI BENAR?! KAMU NIKAH?! KAMU BENERAN NIKAH SAMA CEWEK INI?! HAH?!”
Natasha menunjuk wajah Aira dengan jari telunjuknya yang panjang dan bercat merah menyala dengan kasar dan penuh kebencian. Tatapannya tajam, merendahkan, dan sangat menyakitkan.
Aira yang merasa ditunjuk langsung seperti itu menjerit kecil kaget, tubuhnya gemetar hebat ketakutan, dan ia spontan mundur selangkah ke belakang, jantungnya berdegup dengan kencang bukan main. Ia bisa merasakan aura benci yang begitu pekat dan membunuh dari wanita di hadapannya ini.
“Natasha! Jaga sikapmu! Ini rumah keluarga kami! Bukan pasar malam!” tegur Nyonya Praditya dengan suara yang tegas dan keras, ia berdiri dari tempat duduknya.
Namun Natasha sama sekali tidak peduli. Matanya hanya terpaku tajam pada wajah Elvano.
“Kenapa kamu bisa begini El?! Apa salah aku sama kamu?! Hah?! Kita sudah bertahun-tahun bersama! Kita sudah lewatkan segalanya! Kamu lupa semua kenangan manis kita?! Kamu lupa siapa yang selalu ada buat kamu?! Karena cewek desa ini?! Karena gadis kampungan yang tiba-tiba muncul ini yang gak ada apa-apanya dibanding aku?!”
Natasha berjalan mendekat, wajahnya berubah menjadi memelas dan penuh dengan air mata, ia mencoba menggunakan cara lamanya untuk memanipulasi perasaan Elvano. Ia mencoba meraih tangan Elvano yang berada di atas meja.
“El… ayo kita bicarakan ini dengan baik-baik ya… Tolong jelaskan sama aku… Ceraikan dia dan balik sama aku ya? Aku janji aku bakal berubah jadi lebih baik… Aku janji aku bakal nurut sama kau…”
Tapi sebelum tangannya yang dingin sempat menyentuh kulit tangan Elvano...
PLAK!!
Dengan gerakan cepat, dingin, dan sangat kasar, Elvano menepis tangan Natasha menjauh dengan keras!
Hentakan itu begitu kuat hingga membuat tubuh Natasha yang tinggi dan langsing itu terhuyung mundur beberapa langkah ke belakang karena kaget dan sakit.
“Jangan sentuh aku,” ucap Elvano pelan namun suaranya terdengar sangat mengintimidasi dan dingin. Tatapan matanya tajam bagaikan pisau yang siap mengiris leher lawan. “Aku sudah bilang berkali-kali, hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Dan sekarang aku tidak mau melihatmu lagi.”
Wajah Natasha berubah pucat pasi lalu kembali memerah padam karena amarah yang memuncak. Ia menatap Aira dengan penuh kebencian yang luar biasa.
“OH JADI KARENA DIA YA?! KARENA WANITA TIDAK BERGUNA INI?!” teriak Natasha histeris putus asa.
Dengan mata yang membelalak, ia berjalan cepat dengan langkah yang lebar tepat ke arah Aira. Tangannya terangkat tinggi-tinggi ke udara, kuku-kukunya yang panjang dan tajam siap untuk mencakar atau menampar wajah polos Aira!
“DASAR PEREBUT LAKI-LAKI ORANG! KAMU PIKIR KAMU BISA PUNYA DIA SELAMANYA?! AKU BUNUH KAMU SEKARANG JUGA! AKU RUSAK WAJAH MURAHAN ITU!”
Aira menjerit kecil ketakutan, “AAAA!!” Tubuhnya gemetar hebat, kakinya terasa lemas dan tak bisa bergerak, matanya terpejam rapat menunggu rasa sakit yang akan datang. Ia merasa tak berdaya.
Namun...
HAP!!
Dalam sepersekian detik, sebuah tubuh tegap, kokoh, dan sangat hangat tiba-tiba berdiri tepat di depannya! Menghalangi seluruh tubuh kecil Aira dari serangan maut Natasha!
Itu ELVANO!
Tapi tidak hanya menghalang, tangan kiri Elvano dengan reflek yang sangat cepat meraih pinggang ramping Aira dari samping!
HAP!
Dalam satu gerakan mulus dan kuat, Aira terseret masuk ke dalam sela-sela kaki Elvano! Gadis itu kini terperangkap aman dan nyaman di dalam lingkaran lengan kokoh suaminya itu!
Elvano memeluk bahu Aira erat-erat, menempelkan tubuh gadis itu sangat dekat ke dadanya yang bidang dan kekar. Kepala Aira bahkan terbentur pelan di dada bidang Elvano, bisa merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang, kuat, dan sangat menenangkan.
“JANGAN BERANI-BERANINYA MENYENTUH SEHELAI RAMBUT PUN DARI KEPALA ISTRIKU!” bentak Elvano, suaranya menggelegar penuh dengan amarah yang luar biasa. Matanya menatap Natasha tajam bagaikan harimau yang terlindas dan siap menerkam. “Satu sentuhan saja di kulit istriku, aku pastikan hidupmu hancur lebur tak bersisa! Mengerti kamu?!”