Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersama Teman Mama
Apartemen yang diberikan untuknya pun sangat mewah dan di berada di kawasan elit. Kejadian yang menimpa dirinya seperti roller coaster. Tiba tiba nanjak parah, kemudian turun dengan sangat ekstrim. Jantungnya saja sejak tadi masih belum berdetak normal.
"Kamu suka? Kalo ngga suka, tante masih punya alternatif lain." Puspa berkata sambil memasuki unit apartemen itu. Rhea mengikuti di belakangnya.
"Suka banget, tante," jawab Rhea dengan wajah sumringah. Wow, bahkan dalam.hati dia bersorak kegirangan. Dia mengira akan tinggal di aparteman kecil yang hanya memiliki satu kamar saja. Ini di luar ekspetasinya.
"Oke, kalo gitu." Tante Puspa meraih ponselnya, dia menelpon seseorang.
"Bawakan sekarang barang barangnya, ya."
Rhea ngga ngerti apa maksud ucapan Tante Puspa. Karena setelah mengatakan hal itu, Puspa menoffkan ponselnya.
"Ada dua kamar. Bisa untuk keluarga kamu kalo datang dan menginap," jelas Puspa dengan melangkahkan kakinya memasuki salah satu kamarnya.
Rhea mengangguk senang.
Kamarnya luas banget. Rhea menarik nafas dalam dalam. Dia seperti bermimpi.
Suara banyak derap sepatu mengganggu perhatian Rhea yang sedang mengagumi ruangan yang akan jadi kamarnya.
"Jadi sudah kamu putuskan, ini kamar kamu?" tebak Puspa karena melihat reaksi anak temannya.
"I iya, tante." Rhea menatap bingung pada dua orang perempuan muda dengan seragam art yang kini masuk ke dalam kamarnya.
Mereka membawa tiga buah koper ukuran besar.
"Setelah mendapat telpon mama kamu, tante minta ponakan tante belanja pakaian untuk kamu. Semoga kamu suka dengan pilihannya, ya." Puspa tawa pelan. Dia masih ingat yang dikatakan Karla dan Nevia.
"Termasuk pakaian dalam, tante?" tanya Nevia dengan senyum.lebar di wajahnya.
"Iya. Kata Arsati, anaknya ngga sempat bawa apa apa."
"Kenapa harus kabur kaburan gitu, tante?" tawa Karla berderai.
"Mamanya ngga mau anaknya dijodohkan sama anak teman adik papanya," kekeh Puspa berderai setelah menjelaskan.
"Oooh....," ucap Nevia dan Karla berbarengan.
Kedua ponakannya pun tergelak.
"Aku salut dengan mamanya," tukas Nevia.
"Juga sama Tante Puspa," sambungnya lagi memuji.
"Iya, tante baik banget mau nolong teman," puji Karla.
"Nanti kalian juga akan begitu kalo lihat teman dekat lagi kesusahan."
Kedua ponakannya manggut manggut.
"Aku malah berterimakasih banget, tante," jawab Rhea agak malu. Dia benar benar merepotkan.
Rhea melihat pakaian pakaian yang masih berlabel yang sedang ditata dil lemarinya. Dia juga mendengar kesibukan di luar kamarnya.
Banyak sekali , batinnya kaget.
Kalo begini, dia ngga perlu beli baju lagi, batinnya lagi dengan hati senang.
Rhea berjalan keluar kamar bersama Tante Puspa. Ternyata banyak perempuan muda yang berseragam sedang sibuk di dapur.
"Tante ngga yakin kamu suka unit ini, jadi belum isi apa apa," jelas Puspa seakan tau yang dipikirkan Rhea.
"Jadi setelah kamu putuskan mau apartemen ini, tante baru minta mereka membantu membawakan barang barang keperluan kamu."
Rhea hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan perasaan mengharu biru. Dia jadi iri dengan pertemanan mamanya.
Ngga lama kemudian art art itu meninggalkan unitnya setelah tugas mereka selesai.
"Seminggu tiga kali asisten rumah tangga tante akan datang untuk beresin apartemen kamu, sekalian kamu yang akan dijemput supir, ya," pesan Puspa mengingatkan.
"Oh iya, tante."
"Ini nomer tante," ucap Puspa sambil menekan salah satu tombol di ponselnya.
Ponsel Rhea bergetar.
"Saya simpan tante." Sekarang daftar kontaknya sudah bertambah satu lagi jadi tiga. Mama, Kak Vidya dan Tante Puspa. Miris banget.
Puspa.tersenyum.
"Tante pulang dulu, ya. Jangan sungkan sungkan sama tante. Kalo ada apa apa, calling aja, tante."
"Iya, tante."
Keduanya berjalan menuju pintu keluar.
"Tante tau kamu udah sering ke Jakarta. Tapi kamu tetap harus hati hati, ya, karena sekarang kamu tinggal sendirian," pesan Puspa. Pintu unit apartemen Rhea sudah dibuka.
"Iya, tante."
Puspa mengusap puncak kepala Rhea lembut. Raut wajahnya tampak khawatir.
"Beneran ngga mau ke rumah tante aja?" Agak berat kaki Puspa untuk melangkah pergi.
Rhea tersenyum manis.
"Ngga apa apa, tante. Saya di sini aja."
Puspa menghela nafas panjang.
"Kalo ada apa apa, telpon, tante, ya," pesannya lagi.
"Iya, tante."
Puspa tersenyum, masih dengan wajah khawatir sebelum meninggalkan unit Rhea.
Setelah menutup pintu, Rhea terduduk dengan kaki yang berselonjor dan bersandarkan pintu.
Nafasnya terhembus pelan. Dia akan jadi guru tk?
Tangan Rhea menepuk keningnya dengan mata terpejam.
"Apa bisa?" gumamnya ngga yakin.
*
*
*
Nazar tentu saja naek darah begtu tau putri bungsunya sudah ngga ada di kamarnya. Padahal hari masih sangat pagi. Matahari saja.masih malu malu memancarkan sinarnya.
"Ma, jangan bilang ini rencana mama." Nazar berkata dengan wajah frustasi. Dia yakin sepenuhnya kalo istrinyalah pelakunya.
"Papa ngomong apa?" kilah Arsati ngga mau disalahkan.
"Salah papa, kan, mau ngusir Rhea. Kabur pastilah dia. Apalagi pake embel embel mau dijodohkan."
Suaminya menghela nafas pelan.
"Arsati, kamu jangan bohong. Kemana kamu kirim anak kita?" Nazar sampai menurunkan nada suaranya.
"Nanti pasti dia kirim kabar kalo uang simpanannya abis," jawab Arsati tenang.
Suaminya menghela nafas lagi, tapi pikirannya tetap yakin kalo istrinya yang sudah menyuruh putrinya pergi. Tapi pergi kemana?
Dia mengelus dagunya.
"Baiklah." Nazar menyerah.
"Aku dan Nara hanya ingin mengenalkan Rhea dengan anak temannya. Kalo cocok, bisa kita nikahkan," lanjut Nazar lagi. Menurutnya ngga salah yang dia dan adiknya lakukan. Usia Rhea juga sama dengan usia Vidya waktu dinikahkan dengan Jay-suaminya.
Istrinya ngga menyahut.
"Buktinya Vidya baik baik aja sama suaminya, kan?" Lembut Nazar membujuk.
"Rhea beda.dengan Vidya," sanggah Arsati dengan mimik kesal.
"Ya, kan, bisa kenalan dulu sambil Rhea mengurus kebun apel Nara."
Istrinya melengos. Malas mendengar hukuman buat Rhea.
"Aku hanya mau Rhea bisa bertanggungjawab, sayang. Tau sendiri, kan, kelakuan Rhea." Suaminya masih mencoba mempengaruhi istrinya.
Tapi istrinya masih diam, sibuk memperhatikan jari.jari lentiknya.
Nazae tau, kalo sudah begini, akan sia sia membujuknya. Dia akan cari tau sendiri dimana keberadaan putri bungsunya.
Vidya, kamu ngga ikutan, kan? Batinnya jadi curiga juga dengan putri pertamanya.
gimana yah.. rasanya tuh kaya digerogoti rayap hari ke hari yg hidupnya berkoloni utk menumbangkan kayu yg kokoh menunggu kayu itu keropos sampai tumbang..
kalau rayapnya sendirian mah gak ngeri. Yg ngeri itu kalau udah 1 koloni.
sama kayak orang toxic yg ngegennk..
Mereka tuh kuat karena rame.
Satu jd kompor, yg lain kipas-kipas. Targetnya ya "kayu kokoh" = orang yg kerja bener/jujur/gak ikut arus mereka...
Abaikan aja Rhe, anggep aja angin lalu, dia belum tau aja siapa kamu sebenernya..
faktanya kalau mereka tau kamu dr keluarga mana, mungkin mereka seperti kucing basah kena air hujan "Menggigil"
😂🤣
belum tau aja di jidat Rhea itu sudah ada marker nya "Belong to Dave" dan hanya org beriman aja yg bs liat mark itu wkwkkk