Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23. Siasat Ketiga
Lampu ruang tengah Unit 402 masih menyala hingga pukul dua pagi. Setelah deklarasi Saga tempo hari tentang "membangun jalan sendiri", suasana di apartemen itu tidak lantas menjadi romantis.
Sebaliknya, meja makan mereka kini berubah menjadi pusat komando perang.
Sketsa arsitektur Saga tersingkir oleh tumpukan kontrak vendor dan daftar tamu undangan yang panjangnya mirip antrean bansos.
Saga duduk dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, matanya menatap tajam ke arah laptop.
Sementara Nala, dengan daster gambar beruang kutub yang sudah pudar warnanya, duduk bersila di atas kursi sambil mengunyah keripik pedas dengan suara kriuk yang sangat mengganggu.
"Bisa berhenti makan itu? Suaranya merusak konsentrasi saya," cetus Saga tanpa menoleh. Jutek dan kaku.
Nala menelan keripiknya lalu menunjuk Saga pakai potongan keripik yang tersisa. "Aku butuh micin supaya otak aku jalan, Mas! Mas Saga pikir gampang mikirin cara batalin nikahan tanpa bikin Mama pingsan? Lagian, ide 'Siasat Ketiga' Mas itu masih abstrak banget. Kayak desain Mas, estetik tapi nggak jelas pintu masuknya di mana."
Saga menutup laptopnya dengan suara keras.
"Pintu masuknya adalah kejujuran yang brutal, Nala. Kita akan mendatangi mereka satu per satu. Tapi sebelum itu, saya mau kita punya daftar 'Dosa Pernikahan'. Hal-hal yang akan membuat Eyang dan Mama berpikir kalau kita disatukan, dunia akan kiamat."
Nala meletakkan bungkus keripiknya.
Matanya berbinar nakal. "Oh, kalau itu sih aku jago. Kita harus bikin mereka mikir kalau kita ini pasangan paling toxic di muka bumi. Mas harus jadi si jutek yang pelit, dan aku jadi cewek matre yang nggak tahu adat. Gimana?"
Saga menatap Nala datar.
"Kamu tidak perlu akting untuk jadi cewek yang tidak tahu adat. Itu sudah bakat alami kamu."
"Heh! Ngajak berantem ya?!" Nala melotot, tangannya sudah siap melempar bantal kursi.
"Fokus, Nala. H-20," potong Saga cepat.
"Besok Mama minta kita fiting terakhir untuk Modern Minimalist White Wedding-nya di Bandung. Itu target pertama saya. Kita buat Mama menyerah dengan selera kita yang... 'unik'."
Malam itu, mereka duduk di pendopo rumah Eyang.
"Gagal, kan? Ide 'alergi beludru' Mas itu cupu banget!" ejek Nala.
"Setidaknya saya mencoba. Ide 'telanjang keliling kampung' kamu itu yang lebih parah," balas Saga kepada Nala, kembali menggunakan kata ganti yang menjaga jarak.
Nala menghela napas panjang. "H-20, Mas. Dan kita malah terjebak di antara oranye neon dan kain kafan. Kalau kita nggak bisa batalin ini, aku beneran bakal jadi manekin yang Mas bilang itu."
Saga menoleh ke arah Nala. "Nala," panggil Saga pelan.
"Apa?"
"Kalau... seandainya semua sabotase ini gagal. Dan kita benar-benar harus berdiri di sana 20 hari lagi. Apa yang akan kamu lakukan?"
Nala diam sejenak. "Aku bakal bikin Mas nyesel karena punya istri yang kerjaannya cuma makan keripik micin di atas kasur mahal Mas."
Saga terkekeh. Tipis, hampir tak terdengar.
"Saya rasa saya sudah mulai menyesal sekarang."
"Tuh kan! Jutek lagi!" Nala memukul lengan Saga.
Saga tidak menghindar. "H-20. Kita masih punya waktu untuk membuat satu kekacauan besar lagi. Tapi Nala... kalaupun kita harus 'kalah' dari mereka, pastikan kita kalah bersama-sama."
Nala tertegun. Kalimat Saga barusan tidak terdengar seperti strategi perang. Itu terdengar seperti sebuah pengakuan, atau mungkin, sebuah janji bahwa di tengah badai siasat ini, dia tidak sendirian.