NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah Pertama

Rumah Bu Sumarni di pinggiran kota itu sederhana. Dinding bata diplester kasar, cat krem yang mulai mengelupas di beberapa bagian, atap genteng yang ditumbuhi lumut.

Halaman depannya sempit, hanya cukup untuk sepeda motor tua dan beberapa pot tanaman rambat yang menjalar di pagar besi berkarat. Rumah ini dulu sering dikunjungi Rafiq ketika ia masih menjadi menantu yang baik.

Ia selalu datang membawa buah tangan, tersenyum ramah pada mertuanya, membantu memperbaiki genteng bocor atau mengecat pagi yang mulai berkarat.

Sekarang, rumah itu terasa seperti kuburan.

Tono duduk di kursi plastik di teras depan, sandaran kepalanya menempel ke dinding, mata terbuka lebar menatap langit-langit teras yang berdebu.

Tubuhnya yang dulu kekar kini kurus kering, tulang pipinya menonjol tajam, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat di bawahnya. Kemeja lengan panjang yang ia kenakan—terlihat kebesaran, lengan bajunya bergelambir, kerahnya longgar memperlihatkan tulang selangka yang menonjol.

Celana training hitam yang ia pakai kusut, lututnya sobek. Rambutnya yang dulu selalu rapi dicukur kini panjang kusut, tidak pernah disisir. Jenggotnya tumbuh tidak beraturan, beberapa helai sudah beruban meskipun usianya baru 33 tahun.

Kadang ia bicara sendiri. Bukan bicara biasa—bicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Matanya bergerak mengikuti sesuatu yang bergerak di udara kosong, mulutnya komat-kamit membisikkan kata-kata yang tidak jelas.

Kadang tiba-tiba ia berteriak, memekik, membuat Bu Sumarni dan Aisyah yang di dalam rumah tersentak kaget.

"JANGAN DEKAT! JANGAN SENTUH AKU! BUKAN SALAHKU! DIA YANG MEMULAI! DIA—"

Dan kemudian ia diam. Tiba-tiba. Seperti ada yang membekukan suaranya. Matanya menjadi kosong, mulutnya ternganga, dan air liur menetes dari sudut bibirnya. Ia seperti patung hidup yang duduk di kursi plastik, tidak bergerak, tidak berkedip, tidak bernapas seperti manusia normal.

Aisyah mengintip dari balik tirai jendela. Ia tidak lagi berani keluar rumah sendirian. Ia tidak lagi berani tidur tanpa lampu. Ia tidak lagi berani memejamkan mata terlalu lama, karena setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat dua titik merah di balik kelopak matanya. Dua titik merah yang menatapnya.

Dua titik merah yang tidak pernah berkedip.

Keadaan Aisyah tidak lebih baik dari Tono, hanya saja ia masih bisa beraktifitas normal—masih bisa makan, masih bisa mandi, masih bisa berbicara dengan ibunya tanpa tiba-tiba berteriak.

Tapi setiap malam, ketika rumah mulai sepi, ketika lampu-lampu mulai diredupkan, ia melihat bayangan-bayangan hitam di sudut-sudut ruangan.

Bayangan yang bergerak. Bayangan yang tidak seperti bayangan biasa. Bayangan yang kadang berbentuk manusia, kadang hanya gumpalan asap pekat, kadang sesuatu yang tidak bisa ia deskripsikan. Dan di setiap bayangan itu, selalu ada dua titik merah yang menyala.

Perutnya mulai membesar. Empat bulan. Janin di dalam kandungannya mulai terbentuk—mata, hidung, jari-jari kecil. Tapi Aisyah tidak merasakan kebahagiaan seperti calon ibu lainnya. Yang ia rasakan hanya ketakutan. Karena setiap kali ia menyentuh perutnya, ia ingat kata-kata Rafiq.

"Anak yang kau kandung sekarang akan menggantikan anakku."

Ia memeluk perutnya, air mata mengalir di pipinya yang kurus. "Maafkan ibu, Nak," bisiknya.

"Maafkan ibu karena tidak bisa melindungimu. Maafkan ibu karena telah membawa kita semua ke dalam neraka ini."

Di ruang tamu, Bu Sumarni duduk di kursi bambu kesayangannya, jemarinya yang keriput memegang secarik kertas dengan alamat dan nama yang susah payah ia dapatkan.

Dari seorang kenalan yang memiliki kenalan yang kenal dengan seseorang yang tinggal di Kalimantan. Seorang dukun. Bukan dukun biasa—dukun yang konon memiliki ilmu yang sangat kuat. Ilmu yang tidak diajarkan di pesantren. Ilmu yang berhubungan dengan dunia bawah.

Bu Sumarni awalnya ragu. Ia adalah wanita yang taat beragama, yang setiap hari tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, yang setiap malam membaca Al-Qur'an sebelum tidur.

Tapi apa yang telah ia lakukan selama ini? Sholat? Doa? Ruqyah? Tidak ada yang berhasil. Ustad-ustad yang ia datangi pulang dengan wajah pucat dan tidak mau kembali. Kyai Mansur, guru Ustad Salim yang ilmunya sangat dalam, pulang dengan tubuh babak belur dan iman yang goyah.

Bu Sumarni tidak punya pilihan lain. Ia harus menyelamatkan anaknya. Ia harus menyelamatkan cucunya yang masih dalam kandungan.

Ia menggenggam kertas itu erat-erat. "Besok," bisiknya. "Besok aku akan pergi ke Kalimantan. Aku akan membawa dukun itu ke sini. Berapa pun biayanya. Apa pun risikonya."

Di luar, Tono berteriak lagi. Aisyah menangis di kamar. Dan Bu Sumarni hanya bisa memejamkan mata, berdoa kepada Tuhan yang mungkin sudah tidak mau mendengar doanya.

Sore itu, di sebuah rumah sakit bersalin di kota Bandung, suasana seperti biasa. Pasien keluar masuk, perawat sibuk bolak-balik, suara bayi menangis kadang terdengar dari ruang perawatan anak.

Di lantai tiga, di ruang poli kandungan, seorang wanita muda keluar dari ruang dokter dengan senyum legam di wajahnya.

Siti Karisma, 28 tahun. Perempuan dengan kerudung pastel berwarna pink lembut yang melilit kepalanya rapi. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang di balik jaket tipis berwarna krem, rok panjang hitam, dan sepatu flat berwarna putih.

Wajahnya bulat dengan pipi tembam yang merona karena kebahagiaan. Di tangannya, ia memegang hasil USG—selembar kertas hitam putih yang memperlihatkan bentuk kecil di dalam rahimnya.

Empat bulan. Janinnya sudah berbentuk manusia kecil, dengan kepala, badan, tangan, dan kaki yang mungil.

"Alhamdulillah," bisiknya sambil menatap foto USG itu. "Sehat, Nak. Kamu sehat."

Ia berjalan menuju lift di ujung lorong. Suami Siti, seorang pria muda berkacamata dengan kemeja batik lengan panjang, berjalan di sampingnya sambil memegang tas berisi obat-obatan yang diresepkan dokter.

Mereka berbincang pelan, sesekali tertawa kecil, sesekali saling memandang dengan penuh kasih.

Lift terbuka. Mereka masuk. Suami Siti menekan tombol lantai dasar.

Di saat pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan hitam menyelip di celah pintu. Tangan itu kurus, jari-jarinya panjang, dengan kuku yang tidak terawat. Pintu lift terbuka kembali.

Seorang pria masuk.

Kemeja hitam lengan panjang. Celana bahan hitam. Sepatu kets hitam. Rambut panjang sedikit tergerai di dahi, tidak cukup untuk menutupi tiga huruf hitam yang tertera di jidatnya. ك ف ر. Huruf-huruf itu menyala redup di bawah lampu lift yang putih, berdenyut pelan seperti jantung yang berdetak.

Rafiq.

Ia berdiri di sudut lift, membelakangi Siti dan suaminya. Tidak bicara. Tidak menoleh. Hanya berdiri diam dengan tangan di saku celana.

Siti merasakan sesuatu. Bukan karena ia mengenali Rafiq—ia tidak pernah bertemu pria ini sebelumnya. Tapi ada sesuatu di udara. Dingin. Dingin yang tiba-tiba masuk ke dalam lift yang sempit itu. Dingin yang membuat bulu-bulu di tangannya berdiri.

Ia merasakan perutnya bergerak. Janin di dalam kandungannya bergerak. Bukan gerakan biasa yang ia rasakan akhir-akhir ini—tendangan kecil yang lembut.

Ini gerakan yang berbeda. Gerakan yang panik. Seperti janin di dalam rahimnya ketakutan.

Siti merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia mendekat ke suaminya, meraih lengannya.

"Mas..."

"Hmm?"

"Sini cepat, aku tidak enak badan."

Suaminya menatapnya khawatir. "Sakit? Baru saja dari dokter, katanya sehat—"

Pintu lift terbuka di lantai dasar. Siti segera melangkah keluar, menarik suaminya. Ia tidak ingin berada di dekat pria berkemeja hitam itu. Ia tidak tahu mengapa, tapi nalurinya berteriak untuk menjauh.

Rafiq juga keluar dari lift. Ia berjalan di belakang mereka, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Siti dan suaminya berjalan menuju area parkir. Mobil mereka terparkir tidak jauh dari pintu keluar. Siti membuka pintu penumpang, duduk di kursi, mencoba menenangkan napasnya yang terengah-engah. Suaminya masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin.

Dan di kaca spion, Siti melihatnya. Pria berkemeja hitam itu berdiri di dekat mobil mereka. Tidak bergerak. Tidak mendekat. Hanya berdiri di sana, menatap ke arahnya.

Siti merasakan perutnya bergerak lagi. Lebih kuat. Lebih panik. Ia merasakan sakit. Sakit yang aneh. Seperti ada yang menarik sesuatu dari dalam rahimnya. Seperti ada yang meremas.

"Mas... Mas, sakit..."

Suaminya menoleh. "Kenapa, Sayang? Sakit di mana?"

"Perut... perutku..."

Dan kemudian Rafiq bergerak. Ia berjalan mendekati mobil. Langkahnya pelan, tenang, tidak tergesa. Ia berhenti di samping pintu penumpang. Jari-jari tangannya yang kurus mengetuk kaca jendela.

Tok. Tok. Tok.

Siti menoleh. Wajah Rafiq di balik kaca jendela. Pucat. Matanya kosong. Tiga huruf di dahinya menyala terang, cahaya merah samar yang memantul di kaca.

Suami Siti keluar dari mobil, berusaha menghalau. "Maaf, Pak, istri saya sedang tidak enak badan—"

Rafiq tidak mendengar. ia tidak peduli. Tangannya yang kurus meraih gagang pintu mobil, membukanya.

Suami Siti berusaha menahan. "Pak, jangan—"

Tapi Rafiq mendorongnya. Sentuhan tangan Rafiq di dada suami Siti tidak keras. Tapi pria itu terpental ke belakang, jatuh terduduk di aspal parkiran, dadanya terasa seperti dihantam palu godam.

Rafiq membungkuk ke dalam mobil. Matanya yang kosong menatap Siti yang sudah tidak bisa bergerak. Ketakutan telah membekukan seluruh tubuhnya. Ia hanya bisa duduk di kursi, memeluk perutnya, air mata mengalir di pipinya.

"Jangan... jangan... aku mohon... anakku... jangan ambil anakku..."

Rafiq tidak menjawab. Tangannya yang kurus terulang, menyentuh perut Siti.

Dan di saat itu, Siti merasakan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Perutnya terasa seperti di blender. Seperti ada pisau-pisau kecil yang berputar di dalam rahimnya, menghancurkan sesuatu, mencabik-cabik, melumat. Sakit yang tidak bisa ia deskripsikan. Sakit yang membuatnya ingin mati seketika.

Ia berteriak.

"AAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Suaranya memecah kesunyian area parkir. Beberapa orang yang sedang berjalan menuju mobil mereka berhenti, menoleh ke arah sumber suara. Seorang satpam berlari mendekat.

Tapi Rafiq tidak terburu-buru. Tangannya tetap di perut Siti. Matanya terpejam. Tiga huruf di dahinya menyala terang, berdenyut cepat, seperti ada yang mengalir dari huruf-huruf itu ke tangannya, dari tangannya ke perut Siti.

Dan Siti merasakan sesuatu yang keluar dari tubuhnya. Bukan hanya darah—darah merah segar mulai mengalir dari bawah roknya, membasahi jok mobil, menetes ke aspal.

Tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Sesuatu yang hangat. Sesuatu yang berdenyut. Sesuatu yang keluar dari rahimnya dan mengalir ke telapak tangan Rafiq.

Rafiq membuka matanya. Ia tersenyum.

Tangan kirinya melepas genggaman dari perut Siti. Ia memasukkan tangan kanannya ke saku celana, mengeluarkan sebuah botol kecil—botol kaca gelap dengan tutup hitam.

Ia membuka tutupnya, meletakkan botol itu di bawah perut Siti, dan sesuatu yang tidak terlihat mengalir dari tubuh Siti ke dalam botol itu.

Darah? Bukan hanya darah. Ada sesuatu yang lebih gelap. Lebih pekat. Lebih... hidup.

Ketika botol itu terisi setengah, Rafiq menutupnya rapat-rapat. Ia memasukkan botol itu kembali ke saku celananya.

Ia menatap Siti yang sudah pucat pasi, tidak sadarkan diri, tubuhnya lemas di kursi mobil dengan darah yang terus mengalir.

"Maaf," bisik Rafiq. "Tapi anakmu akan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Dia akan membantu anakku kembali."

Ia berbalik, meninggalkan Siti yang pingsan di kursi mobil. Suaminya masih terduduk di aspal, dadanya sakit, tidak bisa bergerak. Satpam yang berlari mendekat hanya bisa menatap bingung—tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tidak tahu harus mengejar siapa, tidak tahu harus menolong siapa terlebih dahulu.

Rafiq berjalan pelan menuju Fortuner hitam yang terparkir di sudut area parkir. Ia membuka pintu, duduk di kursi kemudi, meletakkan botol kecil berisi cairan gelap di kursi penumpang.

Ia menatap botol itu. Di dalam botol, cairan hitam pekat bergerak pelan, seperti ada kehidupan di dalamnya. Seperti ada sesuatu yang berdenyut.

"Satu," bisik Rafiq. "Enam lagi."

Ia menyalakan mesin. Fortuner hitam melaju keluar dari area parkir, meninggalkan kekacauan di belakangnya. Siti dibawa ke UGD rumah sakit itu, tapi dokter tidak bisa menyelamatkan janinnya.

Janin itu sudah tidak ada. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Tidak ada luka luar. Tidak ada pendarahan internal yang signifikan. Tapi janin itu lenyap. Seperti tidak pernah ada.

Siti sadar tiga jam kemudian. Ia tidak ingat apa-apa selain rasa sakit yang luar biasa di perutnya dan wajah pucat pria berkemeja hitam dengan tiga huruf di dahi.

Ia tidak bisa berhenti menangis selama berhari-hari. Suaminya tidak bisa berhenti merasakan sakit di dadanya—sakit yang tidak kunjung hilang meskipun sudah ke dokter dan hasil rontgen menunjukkan tidak ada yang salah.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!