Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Jujur
Saat Minggu Kania dan Bella sudah magang di kafe dan resto milik Axel, meski Axel kadang kerepotan karena kedua sahabat itu belum juga mengerti apa yang tidak boleh dan boleh di kafe tersebut.
Bella juga sama saja, dia sangat gigih awalnya karena tidak mau kalah dengan Kania. Tapi Kania senang bisa bekerja dengan sahabatnya juga meski persaingan selalu ada di antara mereka.
"Eh, itu satu keponakannya bos Axel, terus yang satu siapanya bos Axel?"
"Ngga tahu, kelihatannya cewek itu ganjen banget deh kalau sama bos Axel."
"Hm, iya yah. Cantik sih tapi kok centil banget."
"Kalian dengar tidak, satunya itu sahabatnya keponakannya bos Axel."
"Oh, sahabatan? Tapi kok keponakan bos Axel itu kelihatan ngga suka sama sahabatnya itu."
"Katanya sih tuh cewek suka sama bos Axel."
"Waah, itu sih saingan si Rani deh."
"Hmm, benar. Apa si Rani tahu ya?"
"Kayaknya sih tahu, tapi kelihatannya si Rani lagi merencanakan sesuatu."
"Sudah biarkan saja, bos Axel juga ngga peduli tuh sama cewek centil itu."
Begitulah gosip mengenai Kania di pantry khusus karyawan, banyak yang tidak suka dengan Kania. Dan gadis itu tahu itu, tapi dia cuek saja yang penting tujuannya dekat dengan Axel tercapai.
Kania sedang menunggu minuman yang di pesan oleh pelanggan, dia sedang asyik memainkan ponselnya karena ada tugas dari dosen melalui pesan WhatsApp.
"Eh, cewek ganjen. Tuh lihat pesanannya, kenapa Lo enak-enakan main hape terus."
Kania menoleh pada sumber suara, gadis yang berusia dua puluh lima berdiri menatap sinis. Kania langsung memasukkan ponselnya dalam kantong, Bella melihat sahabatnya di omel sama karyawan lain.
"Iya mbak, maaf." jawab Kania mengambil nampan di meja.
"Maaf maaf, di sini harus kerja yang bener. Jangan santai begitu main ponsel."
"Tadi ada pesan dari dosen harus di jawab," jawab Kania beralasan.
"Halah, alasan saja kamu. Bos Axel tahu kamu kerja santai begitu bisa di pecat kamu."
Kania diam saja, dia malas meladeni ucapannya. Dia berbalik dengan membawa nampan berisi minuman, Bella melihat itu pun hanya diam saja.
"Ck, sok jadi bos. Mentang-mentang udah tua."
_
Setelah sudah beberapa Minggu akhirnya Kania sudah hafal dengan tugasnya sendiri. Begitu juga dengan Bella dan gadis itu sekarang jarang masuk ke kafe.
"Hmm, Bella kenapa sekarang ngga masuk lagi ya? Apa dia capek dengan kerjaannya?" ucap Kania.
Satu karyawan yang cukup lama darinya meski memang kafe baru memasuki bulan kedua.
"Kania, jangan banyak ngelamun dong. Tuh lihat banyak cucian piring," ucap senior.
"Bukan tugas gue kok, kenapa gue yang harus cuci piring," jawab Kania.
"Walau pun bukan tugas Lo, tetap saja Lo harus ngerjain. Jangan mentang-mentang kenal sama bos Axel, Lo suka seenaknya aja kerjanya."
Kania menatap senior itu dengan kesal, mendengus kasar. Dia merasa sekarang senior itu semena-mena padanya.
"Eh kan Sinta. Walau pun gue kenal sama om Axel. tapi gue kerja profesional kok, ngga kayak kak Sinta yang suka ngatur-ngatur seenaknya." ucap Kania.
"Jangan lancang kamu, sejak awal pembukaan kafe ini aku sudah ada di sini. Jadi, jangan seenaknya." ucap senior Sinta.
Kania berdecak kesal, dia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Dia malas berurusan dengan orang seperti Sinta.
"Kania! Jangan pergi kamu!"
"Bodo amat!"
Kania terus pergi, dia pergi menuju ruang kecil dan duduk di sana. Hatinya masih kesal pada Sinta, bukan hanya kali ini saja Sinta menyuruhnya mencuci piring padahal bukan tugasnya. Tapi dia tidak peduli dengan titah Sinta itu.
"Seenaknya aja nyuruh gue cuci piring, gue bukan bagian cuci piring. Kesal banget gue," Kania menggerutu.
Dia tidak sadar kalau ada yang memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Kamu marah kenapa, Kania?"
Suara berat dari Axel membuat Kania mendongak, seketika rasa kesalnya hilang lalu tersenyum kecil.
"Om Axel," ucap Kania.
Axel duduk di sebelahnya. Minuman mineral di depannya di ambil lalu membuka tutupnya dan menenggaknya perlahan. Kania memperhatikan Axel, pemandangan yang cukup seksi menurutnya. Rahang dan jakun Axel sungguh membuat Kania terpukau.
Axel meletakkan kembali botol air mineral di meja dan menatap Kania, alisnya bertaut. Heran.
"Kania?"
Kania belum sadar dengan panggilan Axel, tatapannya pada wajah Axel dengan kekaguman luar biasa.
"Kania."
Kania tersadar, matanya berkedip dan gugup.
"Eh, iya om. Ada apa?" tanya Kania.
Axel menggeleng kepala lalu menunduk sambil tersenyum lucu. Kania menyadari Axel menertawakannya, mulutnya maju beberapa senti.
"Ih, om Axel ngetawain aku ya?" tanya Kania.
"Ngga, kamu kenapa melamun?" tanya Axel.
"Aku ngga melamun om." jawab Kania.
"Lalu, tadi kelihatannya ngomel-ngomel. Kamu marah sama siapa?" tanya Axel lagi.
"Tadi, kak Sinta nyuruh aku cuci piring om. Kan bukan tugas aku cucu piring," jawab Kania.
"Oh, karena itu kamu marah. Tapi bisa juga kok karyawan magang cuci piring, kenapa tidak?"
"Eh, aku cuci piring om?"
"Ya, kamu bisa kan?"
"Boro-boro bisa om, di rumah aja yang cuci piring itu bi Siti. Aku ngga pernah cucu piring," jawab Kania.
"Ya makanya, kamu magang itu kan supaya bisa belajar mengerjakan sesuatu yang belum kamu kerjakan. Cuci piring itu bisa melatih kesabaran lho."
"Teori dari mana om? Yang ada nanti tangannya panas."
"Itu untuk melatih tangan kamu supaya ngga panas. Kalau sudah terbiasa kan ngga panas lagi," kata Axel lagi.
"Jadi, om Axel nyuruh aku cuci piring?"
"Sekali ini, bisa kan?"
Kania tampak berpirik, merasa ragu dia mengerjakan pekerjaan rumah tangga itu. Tapi kemudian otaknya berpikir cepat, dan senyumnya mengembang.
"Boleh om aku cuci piring. Asal om Axel jujur." kata Kania.
"Jujur? Jujur apa?"
"Om Axel duda kan?"
_
_
*****