“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20.Kedatangan Nona muda.
Perjalanan terasa begitu singkat bagi mereka. Tawa dan canda riang di dalam kereta seolah membuat waktu berjalan begitu cepat. Tidak ada lagi suasana kaku atau ketakutan yang menyelimuti perjalanan itu. Di dalam sana, mereka berlima—Luna ria, Ivy, Rian, Bimo, dan Lira—bagaikan sebuah keluarga kecil yang bahagia, melupakan sejenak bahwa mereka sedang menuju ke sarang harimau.
Mr. Gareth yang duduk meringkuk di pojokan hanya bisa menunduk, tidak berani bersuara sedikitpun. Wajahnya yang lebam dan bengkak menjadi saksi bisu betapa berbahayanya wanita yang kini tertawa santai itu.
Perlahan namun pasti, kereta kuda yang megah itu mulai melambat lajunya. Suara derap kaki kuda yang tadinya berirama cepat kini menjadi pelan dan tenang, seolah menghormati wilayah yang sedang mereka masuki.
"Kita sudah sampai, Nona," bisik Ivy lembut sambil menunjuk ke arah jendela.
Luna ria menghentikan tawanya. Ia menegakkan punggungnya, lalu perlahan menoleh ke luar jendela. Dan saat itu juga, matanya sedikit membelalak takjub.
Di hadapan matanya terbentang sebuah pemandangan yang luar biasa megah.
Mereka kini berada di dalam sebuah gerbang besar yang terbuat dari perak murni yang berkilauan. Jalan setapak yang mereka lalui terbuat dari batu-batu pualam berwarna putih bersih yang dipoles hingga licin, memantulkan cahaya matahari sore seperti cermin.
Di sisi kiri dan kanan jalan, terdapat taman-taman yang sangat luas dan terawat sempurna. Bunga-bunga ajaib dengan warna-warna neon yang mencolok tumbuh rapi, mengeluarkan aroma harum yang menenangkan namun tetap terasa magis. Air mancur sihir memancarkan air yang tidak pernah jatuh ke bawah, melainkan melayang membentuk pola-pola indah di udara.
Namun, yang paling menarik perhatian Luna ria adalah bangunan utama di hadapannya.
Itu bukan sekadar rumah atau vila. Itu adalah sebuah istana.
Bangunan itu sangat luas dan tinggi, dengan arsitektur bergaya kerajaan yang megah. Warna dominannya adalah biru langit yang dipadukan dengan ornamen emas dan perak yang berkilauan. Menara-menara tinggi menjulang ke angkasa, dengan atap-atap runcing yang dihiasi kristal-kristal besar yang memantulkan cahaya.
Itu adalah Kediaman Utama Keluarga Star born. Simbol kekuasaan, kekayaan, dan kebangsawanan tertinggi di Kota Avalon.
"Indah sekali..." gumam Luna ria pelan, matanya menyapu setiap sudut bangunan itu. "Bahkan lebih megah dari markas besar White Wolves."
Meski terpesona, naluri tajamnya tidak hilang. Ia bisa merasakan bahwa di balik keindahan yang memikat mata itu, tersimpan suasana yang dingin, kaku, dan penuh dengan kepura-puraan.
Kereta akhirnya berhenti tepat di tangga utama yang lebar dan megah.
Suasana seketika hening.
Dari dalam bangunan, puluhan orang mulai berjalan keluar berbaris rapi. Mereka adalah para pelayan dan staf rumah tangga. Semuanya mengenakan seragam yang rapi dan mahal. Pria-pria dengan jas hitam dan rompi putih, wanita-wanita dengan rok panjang dan apron bersih. Mereka berbaris membentuk dua barisan dari tangga kereta hingga ke pintu masuk utama.
Pintu kereta terbuka dari luar oleh seorang pelayan laki-laki yang tampan dan sopan.
"Selamat datang kembali, Nona Luna ria," ucap pelayan itu dengan suara rendah dan hormat.
Luna ria menarik napas panjang. Detak jantungnya berpacu sedikit, bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ini adalah momen pertemuan pertama. Momen di mana ia akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang telah membuang dan membiarkan nya berada di villa tua selama bertahun-tahun.
Tanpa kasih sayang, dan tanpa merasakan kemewahan yang seharusnya menjadi milik Luna ria.
Dengan gerakan anggun namun tegas, Luna ria mengangkat kakinya dan melangkah turun dari kereta.
Saat kakinya menyentuh lantai pualam yang dingin itu...
SR...E...ET!
Serentak! Semua pelayan yang berbaris rapi itu membungkukkan badan mereka secara bersamaan dengan sempurna. Tanda hormat yang sangat formal dan kaku.
"Selamat datang, Nona Muda!!" seru mereka serempak, suaranya menggema di halaman luas itu.
Luna ria berdiri tegak. Ia tidak gemetar, tidak menunduk. Ia berdiri dengan bahu yang terbuka dan dagu yang terangkat sedikit. Aura yang dipancarkannya bukanlah aura gadis desa yang baru pertama kali masuk kota, melainkan aura seorang ratu yang sedang meninjau wilayah kekuasaannya.
Di belakangnya, Ivy, Rian, Bimo, dan Lira turun dengan gagah berani mengikuti langkah tuannya. Mereka bertiga berdiri tegak di belakang Luna ria layaknya pengawal pribadi, membuat penampilan mereka terlihat sangat keren dan berwibawa.
"Luna ria..." terdengar sebuah suara berat dan berwibawa dari arah tangga utama.
Luna ria mendongak perlahan.
Di sana, di puncak tangga yang lebar itu, munculah sepasang suami istri yang berjalan turun dengan penuh gaya.
Pria di sebelah kiri memiliki postur tubuh yang tinggi dan kekar, wajahnya tegas dengan garis rahang yang kuat, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, dan sepasang mata yang tajam namun saat ini berusaha dipenuhi dengan senyuman hangat. Ia mengenakan jas panjang berwarna biru tua yang disulam benang emas. Itu adalah Lord Valde mar Star born, Kepala Keluarga Star born.
Dan di sebelahnya, berdiri seorang wanita yang sangat cantik dan anggun. Penampilannya sempurna tanpa cela. Gaunnya mewah, riasan wajahnya pas, dan senyumnya terlihat sangat manis dan lembut.Namun ada kesan dingin di baliknya. Itu adalah Lady Seraphina, Ibu dari Luna ria dan Lae ria.
Mereka berdua berjalan turun selangkah demi selangkah, seolah sedang berjalan di atas karpet merah acara penghargaan.
Luna ria menatap mereka lekat-lekat. Ini adalah pertama kalinya ia melihat mereka secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Jadi... itu ayahku... dan itu ibuku... batin Luna ria.
Wajah mereka memang sangat rupawan. Tidak heran jika Lae ria dan Luna ria memiliki wajah yang cantik jelita. Namun, saat menatap mata mereka, Luna ria tidak merasakan kehangatan sedikitpun. Yang ia rasakan hanyalah kekosongan dan perhitungan yang dingin.
Lord Valde mar dan Lady Seraphina akhirnya berhenti tepat di hadapan Luna ria. Mereka berhenti beberapa langkah di depan, menatap putri mereka dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Ada kilatan kaget yang samar di mata Lord Valde mar. Ia tidak menyangka gadis yang ia buang itu tumbuh menjadi sosok yang begitu... memancarkan aura. Bukan aura sihir, tapi aura kepercayaan diri yang menakutkan.
Tapi segera, Lord Valde mar menyembunyikan kagetnya itu dengan sebuah senyuman lebar yang sangat ramah.
"Ah, Luna ria, anakku. Akhirnya kau kembali," ucap Lord Valde mar dengan suara yang dibuat-buat lembut. Ia membuka kedua tangannya seolah ingin memeluk. "Kau sudah besar. Ayah rindu sekali padamu."
Di saat yang sama, Lady Seraphina juga menampilkan ekspresi haru yang berlebihan. Matanya bahkan dipaksa mengeluarkan air mata palsu.
"Putriku... Ibu sangat merindukanmu, sayang. Maafkan Ibu yang jarang mengunjungimu. Tapi sekarang kau sudah di rumah," ucapnya lembut, suaranya manis seperti madu, namun rasanya pahit seperti empedu.
Para pelayan yang melihat pemandangan itu merasa terharu. Ah, betapa bahagianya keluarga ini. Tuan dan Nyonya sangat menyayangi Nona Luna ria ternyata.
Tapi Luna ria hanya berdiri diam. Ia tidak maju memeluk. Ia tidak menangis haru. Ia hanya menatap mereka dengan tatapan datar, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit dimengerti.
Rindu? batin Luna ria tertawa dalam hati. Rindu apa? Rindu melihatku menderita? Atau rindu mencari kambing hitam untuk masalah kalian?
Ia tahu betul permainan ini. Ia pernah melihat ratusan aktor hebat di dunia bawah tanah melakukan hal yang sama persis. Senyum di bibir, pisau di belakang punggung.
"Ayah... Ibu..." ucap Luna ria pelan, suaranya tenang dan dingin. "Terima kasih sudah menyambutku."
Ia tidak memanggil dengan sayang, tidak memanggil dengan lembut. Hanya panggilan formal yang dingin.
Lord Valde mar dan Lady Seraphina sedikit terkejut dengan respon putri mereka.Mereka berpikir Luna ria akan gemetar, menangis, dan langsung memeluk mereka dan mengatakan aku rindu kalian.Dimana rumor yang mengatakan sifat Luna ria yang pendiam, cengeng dan pemalu. Tapi gadis di hadapannya ini... seolah orang asing yang sangat sopan namun sangat menjaga jarak.
"Ehm... ya, ya. Masuklah, nak. Udara di luar agak dingin. Kami sudah menyiapkan kamar yang nyaman untukmu," potong Lady Seraphina cepat, mencoba mencairkan suasana yang mulai canggung. "Dan... oh? Siapa mereka ini?"
Mata Lady Seraphina menatap ke arah Rian, Bimo, dan Lira yang berdiri tegak di belakang Luna ria. Wajahnya langsung berubah sedikit masam melihat penampilan mereka yang sederhana dan bukan dari kalangan bangsawan.
"Mereka adalah orang kepercayaanku, Ibu," jawab Luna ria tegas sebelum siapapun sempat bicara. "Mereka akan tinggal bersamaku dan melayaniku. Mohon perlakukan mereka dengan baik karena mereka sudah aku anggap sebagai saudara ku."
Kalimat itu terdengar sopan, namun ada penekanan yang membuat jantung Lord Valde mar berdegup. Ia melihat wajah Gareth yang lebam di belakang, dan ia mulai paham bahwa putrinya ini... sudah berubah total.
"Baiklah... terserah kau saja. Masuk," ucap Lord Valde mar singkat.
Mereka pun berbalik berjalan masuk ke dalam istana biru itu. Luna ria berjalan di tengah, diapit oleh orang tuanya yang pura-pura ramah, dan diikuti oleh pengawal-pengawal setianya.
Saat kerumunan orang itu mulai masuk ke dalam bangunan dan pintu besar perlahan mulai tertutup...
Di kejauhan, tepat di atas puncak menara tertinggi istana itu, ada sesuatu yang bergerak.
Angin sore berhembus cukup kencang, mengibarkan tirai-tirai jendela dan menggoyangkan dedaunan pohon. Namun, di tengah angin itu, sebuah sosok hinggap dengan tenang di ujung menara.
Itu adalah seekor burung gagak.
Tapi bukan gagak biasa.
Burung itu berukuran lebih besar dari gagak biasa, bulu-bulunya hitam legam pekat seolah menyerap seluruh cahaya di sekitarnya, tidak memantulkan sedikitpun cahaya matahari. Namun, yang paling mengerikan adalah sepasang matanya.
Mata itu bukan hitam atau oranye. Mata itu berwarna merah darah yang bersinar terang layaknya dua buah bara api yang menyala-nyala.
Burung itu menundukkan kepalanya, menatap lurus ke arah pintu masuk istana tempat Luna ria baru saja lewat.
Kr..r..kk...
Suara pekiknya tidak terdengar seperti burung biasa, melainkan lebih seperti suara gesekan logam tumpul yang menusuk telinga, meski suaranya sangat pelan sehingga tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali angin.
Sepasang mata merah itu menyipit, menatap intens ke arah sosok Luna ria yang kini menghilang di balik pintu besar. Seolah-olah ada ikatan aneh yang terbentuk di antara mereka.
Burung gagak hitam bermata merah itu tetap diam mematung selama beberapa menit, terus mengawasi setiap gerakan di dalam aula utama melalui jendela-jendela kaca besar. Ia melihat bagaimana Luna ria berjalan dengan tegap, bagaimana ia menatap orang tuanya tanpa rasa takut.
Tiba-tiba, sepasang mata merah itu berkedip. Burung itu mengepakkan sayapnya lebar-lebar.
WUSH!
Tanpa suara, tanpa jejak, sosok hitam itu melesat cepat meninggalkan menara. Ia terbang menembus awan-awan tipis di langit kota Avalon, dan dalam sekejap mata, ia lenyap ditelan langit biru yang luas, seolah-olah ia tidak pernah ada di sana sama sekali.
Burung hitam itu terbang kearah istana Avalon, burung itu seperti akan memberitahukan apa saja yang terjadi di kediaman keluarga Star born.