WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Posesif Level Pro (Ketika Mas CEO Jadi Satpam Hati)
...🌹🌹🌹...
Pagi itu, sinar matahari Jakarta tidak sanggup mencairkan suasana beku di meja makan. Arkeas duduk dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, menyesap espresso ganda tanpa gula. Matanya sedikit berkantung—efek begadang menahan diri agar tidak balik lagi ke kamar Zolla semalam.
Zolla keluar dari kamar dengan langkah riang, sudah siap dengan celemek stroberinya. "Pagi, Mas Arkeas! Tadi malam tidur nyenyak? Kok mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika?"
Arkeas hampir tersedak kopinya. Ia teringat betapa dekatnya bibirnya dengan leher Zolla semalam. "Saya kurang tidur karena mikirin laporan produksi. Bukan karena hal lain. Jangan Ge-er."
"Dih, siapa yang Ge-er? Saya cuma nanya," Zolla mengerucutkan bibirnya sambil menyiapkan bubur bayi untuk Alisya. "Oh iya, Mas. Tadi Kak Genta WhatsApp, katanya mau jemput saya lagi sore ini. Ada pameran foto baru di—"
BRAK!
Arkeas meletakkan cangkir espressonya dengan sangat keras hingga bunuh diri di atas meja. Zolla melonjak kaget.
"Nggak ada Genta. Nggak ada pameran. Nggak ada keluar rumah," ucap Arkeas, suaranya rendah dan sangat otoriter.
Zolla melongo. "Lho? Kenapa, Mas? Kan kerjaan saya sudah beres?"
Arkeas berdiri, melangkah mendekat hingga Zolla terpojok di antara dispenser dan meja dapur. Ia menumpukan tangannya di dispenser, mengurung Zolla. "Mulai hari ini, aturan nomor satu: Kamu asisten pribadi saya, bukan asisten sosialita Genta. Kalau kamu mau keluar, harus dengan saya. Kalau kamu mau lihat foto, saya bisa beli galerinya buat kamu. Paham?"
Zolla menelan ludah. Jarak mereka cuma lima senti. "Mas... Mas cemburu ya?"
"Saya nggak cemburu. Saya cuma... menjaga aset perusahaan," alasan Arkeas, meski matanya menatap leher Zolla yang putih bersih tanpa "tanda" yang hampir ia buat semalam. "Sekarang, ganti baju kamu. Kita ke kantor. Kamu ikut saya rapat seharian."
...🌹🌹🌹...
Di kantor Injit Fragrance, suasana mendadak heboh. Karyawan bisik-bisik melihat CEO mereka yang biasanya datang sendirian, kini membawa asisten mungil yang disuruh duduk di sofa ruang kerjanya—tepat di hadapan meja kerjanya.
"Zol, jangan main HP terus. Baca ini," Arkeas melemparkan sebuah berkas tebal tentang formula parfum.
"Mas, ini kan bahasa kimia semua? Saya pusing bacanya!" keluh Zolla.
"Bagus. Kalau pusing, kamu nggak bakal kepikiran buat bales chat Genta," sahut Arkeas tanpa dosa sambil fokus pada laptopnya.
Setiap kali ada karyawan pria masuk untuk minta tanda tangan, Arkeas akan memberikan tatapan "Laser Kematian". Ia sengaja memanggil Zolla untuk berdiri di sampingnya hanya untuk hal-hal sepele seperti mengambilkan pulpen yang jaraknya cuma sepuluh senti dari tangannya.
"Zolla, ambilkan pulpen saya."
"Ini kan di depan Mas?"
"Ambilkan saja. Jangan banyak protes."
Zolla hanya bisa menghela napas. Dia sadar, Mas Arkeas lagi mode Reog alias posesif parah. Tapi anehnya, dalam hati Zolla merasa... baper. Rasanya kayak dijagain banget sama singa yang lagi galak tapi gantengnya minta ampun.
...🌹🌹🌹...
Saat jam makan siang, Arkeas memesan makanan mewah ke ruangannya. Hanya mereka berdua. Zolla yang merasa gerah karena AC kantor mati sebentar, refleks mencepol rambutnya ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus.
Arkeas yang sedang memotong salmon, mendadak berhenti. Matanya terkunci pada leher itu. Ingatan semalam kembali memicu adrenalinnya.
"Zolla, urai rambut kamu," perintah Arkeas tiba-tiba.
"Hah? Gerah, Mas!"
"Saya bilang urai," Arkeas berdiri, berjalan memutari meja dan menghampiri Zolla. Ia menarik ikat rambut Zolla hingga rambut gadis itu tergerai menutupi lehernya. "Jangan biarkan leher kamu terbuka di depan orang lain. Cukup... cukup saya yang lihat."
Zolla mematung. Suasana di ruangan itu mendadak jadi sangat dewasa dan penuh tekanan. Arkeas menyelipkan jarinya ke sela-sela rambut Zolla, mengusap tengkuknya perlahan.
"Mas... Mas kenapa sih? Dari tadi malam aneh banget," bisik Zolla, suaranya sedikit bergetar.
Arkeas menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Zolla. "Saya cuma nggak suka berbagi, Zol. Kamu itu aroma yang cuma boleh saya hirup. Kamu itu 'rumah' yang pintunya cuma boleh saya yang pegang kuncinya. Mengerti?"
Zolla merasakan serangan jantung mendadak. "Mas... ini pernyataan cinta atau ancaman?"
Arkeas terkekeh rendah, suara yang bikin Zolla meremang. "Anggap saja ini peringatan. Jangan pancing sisi buruk saya lagi dengan pergi sama laki-laki lain. Karena kalau itu terjadi lagi... saya nggak akan cuma berhenti di bibir atau kening kamu."
Arkeas menjauh, kembali ke kursinya seolah tidak terjadi apa-apa, meninggalkan Zolla yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya kembali.
...🌹🌹🌹...
Malam harinya, saat pulang ke penthouse, Arkeas melihat Zolla sedang tertidur di sofa karena kelelahan ikut rapat seharian. Ia mendekat, menatap wajah polos itu.
Arkeas mengambil ponsel Zolla yang tergeletak di sampingnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp, mencari kontak Genta, lalu melakukan hal yang sangat kekanak-kanakan: Memblokir nomor Genta dari HP Zolla.
"Maaf, Gen. Cari muse lain aja. Yang ini sudah permanen punya gue," gumam Arkeas puas.
Ia menyelimuti Zolla, kali ini dia benar-benar menahan diri untuk tidak mendekat ke lehernya. Ia mencium telapak tangan Zolla pelan. "Selamat malam, asisten bawel. Besok kita mulai adaptasi baru: Kamu nggak boleh jauh dari saya lebih dari satu meter."
...🌹🌹🌹...
(Bersambung ke Episode 15...)