No plagiat 🚫
Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa
Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.
Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.
Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?
"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut di Qinghe dan Jalur Darah
Sementara langit di utara membara oleh cahaya Ibu Kota, Kota Qinghe justru diselimuti kabut tebal yang tak biasa. Di atas balkon tertinggi kediaman gubernur, Hua Ning berdiri mematung. Jubah birunya berkibar pelan tertiup angin malam yang membawa aroma hujan. Matanya yang tajam tidak lepas menatap cakrawala, seolah ia bisa menembus ribuan mil jarak yang memisahkannya dengan sang Pemanah Naga.
"Nona Hua," suara seorang prajurit membuyarkan lamunannya. "Semua penduduk dari sektor selatan sudah dievakuasi ke bunker bawah tanah. Persediaan Batu Roh untuk formasi pelindung kota juga sudah diamankan."
Hua Ning tidak menoleh. Tangannya mencengkeram erat pinggiran balkon hingga kayunya sedikit retak. "Bagaimana dengan jalur komunikasi ke utara? Apakah ada kabar dari burung pembawa pesan kita?"
Prajurit itu menunduk. "Senyap, Nona. Seluruh frekuensi energi di sekitar Ibu Kota telah dikunci oleh Formasi Sembilan Naga. Tidak ada pesan yang bisa keluar atau masuk."
Hua Ning menghela napas panjang. Ia tahu betul apa artinya itu. Song Yuan, Ming Luo, dan Yue Yin kini berada di zona buta. Mereka bergerak di dalam kegelapan tanpa bantuan apa pun.
"Jaga Qinghe dengan nyawamu," perintah Hua Ning dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Jika dalam tiga hari aku tidak menerima sinyal dari Ming Luo, aktifkan protokol Gerhana. Kita akan menarik seluruh pasukan mundur ke pegunungan dan memulai perang gerilya. Kita tidak boleh membiarkan pengorbanan Yuan menjadi sia-sia."
Ia kembali menatap langit. “Yuan... kau selalu menjadi pemanah yang hebat. Kali ini, jangan biarkan dirimu menjadi sasaran,” batinnya lirih.
Kembali ke Jalur Menuju Ibu Kota...
Di atas Bahtera Angin Cendana, suasana jauh lebih mencekam. Kapal itu kini telah memasuki koridor udara utama Kekaisaran. Di sekeliling mereka, belasan kapal patroli Unit Sayap Perak terbang mengiringi, seolah memberikan pengawalan kehormatan bagi "jenazah" musuh besar mereka.
Ming Luo berdiri di anjungan, mengenakan baju zirah perak yang terasa sesak dan asing di tubuhnya. Ia harus terus menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat berduka namun tetap tegas. Di sampingnya, Yue Yin menyamar sebagai tabib militer, wajahnya tertutup cadar tipis, tangannya terus memegang kotak obat yang sebenarnya berisi jarum-jarum pembunuh paling mematikan.
"Identitas dikonfirmasi," suara berat dari kapal patroli sebelah bergema melalui perangkat transmisi suara. "Unit Logistik 4-B, kalian diizinkan mendarat di Dermaga Langit Sektor Satu. Permaisuri Bayangan sudah menunggu di aula pemeriksaan."
Ming Luo mengangguk pelan ke arah kapten patroli tersebut. Begitu sambungan diputus, ia melirik ke arah tandu tempat Yuan terbaring.
Di bawah kain kafan yang berbau darah itu, Yuan berusaha keras mengatur detak jantungnya. Melalui teknik pernapasan kura-kura yang ia pelajari secara singkat, ia hanya mengambil napas satu kali setiap satu menit. Kulitnya terasa dingin, dan seluruh energinya ia kunci rapat-rapat di dalam pusar naga.
Setiap getaran kapal yang mendarat terasa seperti dentuman di jantung Yuan. Ia bisa mendengar suara riuh rendah para prajurit di dermaga, suara langkah sepatu bot yang menghantam lantai logam, dan suara terompet yang menandakan kedatangan tamu penting.
"Angkat tandunya!" perintah seorang perwira tinggi Kekaisaran saat kapal mereka berhenti sempurna.
Empat prajurit berzirah kasar mengangkat tandu Yuan. Tubuh Yuan terasa berguncang, ia bisa merasakan udara Ibu Kota yang pekat dengan energi spiritual yang menindas. Mereka membawanya melewati koridor panjang yang megah, di mana setiap langkah kaki menggema seperti lonceng kematian.
"Letakkan di sana," sebuah suara wanita yang sangat dikenal Yuan terdengar. Itu adalah suara Permaisuri Bayangan.
Tandu itu diletakkan di atas lantai marmer yang dingin. Yuan bisa merasakan kehadiran seseorang yang berdiri tepat di samping kepalanya. Aroma wangi bunga Nightshade yang mematikan tercium kuat.
"Buka kain kafannya," perintah Permaisuri. "Aku ingin melihat sendiri mata yang telah berani menantang takhta ini, meskipun mata itu kini sudah tidak bernyawa."
Tangan seseorang meraih ujung kain kafan di atas wajah Yuan. Di saat itulah, dalam kegelapan total, Yuan bersiap. Busur Naga di samping tubuhnya seolah ikut bergetar dalam diam. Satu gerakan lagi, satu detik lagi, dan penyamaran ini akan berakhir dengan ledakan darah yang tidak akan pernah dilupakan oleh sejarah Kekaisaran.
Tangan Permaisuri yang putih pucat itu bergerak lambat, seolah menikmati setiap inci ketakutan yang mungkin tersisa di udara. Ming Luo yang berdiri hanya beberapa langkah di belakangnya, menahan napas sekuat tenaga. Tangannya yang tersembunyi di balik jubah zirah sudah mengepal, siap memicu gangguan energi kecil jika situasi berubah menjadi pembantaian sebelum waktunya. Secara naluri, ia tahu, jika kain itu tersingkap dan Permaisuri menyadari Yuan masih bernapas, maka ruang ini akan berubah menjadi kuburan bagi mereka bertiga.
Sreeeeeet...
Kain kafan itu tersingkap perlahan, menampakkan wajah Yuan yang pucat pasi dengan bercak darah binatang spiritual yang mengering di pipinya. Matanya tertutup rapat, bulu matanya tidak bergerak sedikit pun. Di bawah pengawasan mata Permaisuri yang tajam dan berkilat seperti silet, Yuan tetap mematung. Ia memaksa jiwanya masuk ke dalam dormansi yang paling dalam, membiarkan Ao Kuang mengambil alih kesadarannya agar detak jantungnya benar-benar berhenti secara biologis.
Permaisuri Bayangan membungkuk sedikit, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Yuan. Ia menghirup udara di sekitar tubuh Yuan, mencari sisa-sisa kehangatan nyawa.
"Baunya benar-benar seperti kematian," bisik Permaisuri, jemarinya yang dingin mulai membelai rahang Yuan. "Tapi naga di dalamnya... naga itu tidak akan pernah mati semudah ini, bukan begitu, Ming Luo?"
Ming Luo berlutut dengan satu kaki, kepalanya tertunduk dalam. "Hamba hanya menjalankan tugas, Permaisuri. Pemanah Naga ini telah menggunakan seluruh esensinya untuk menghancurkan Unit Eksekutor di bunker. Tubuhnya tidak kuat menahan beban energi naga tersebut. Ia mati karena kesombongannya sendiri."
Permaisuri tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun membawa hawa dingin yang luar biasa. Ia berdiri tegak kembali, lalu menoleh ke arah barisan pengawal. "Bawa 'bangkai' ini ke Laboratorium Spiritual Bawah Tanah. Aku ingin para tetua membedah tubuhnya malam ini juga. Ambil tulang-tulang naganya, dan hancurkan sisa dagingnya di tungku api suci."
"Tunggu!" Yue Yin tiba-tiba bersuara, membuat Ming Luo hampir tersedak jantungnya sendiri.
Yue Yin melangkah maju sambil membungkuk hormat. "Ampun, Permaisuri. Sebagai tabib militer yang menangani jenazah ini, hamba menyarankan agar pembedahan dilakukan setelah energi hitamnya benar-benar menguap. Jika tidak, racun dari esensi naga itu bisa meledak dan menghancurkan laboratorium Anda."
Permaisuri terdiam sejenak, matanya menatap Yue Yin dengan penuh selidik. Keheningan yang tercipta di aula itu terasa lebih berat daripada gunung. Setiap detik yang berlalu terasa seperti ribuan tahun bagi Yuan yang masih menahan napas di atas tandu.
"Baiklah," Permaisuri akhirnya melambaikan tangan. "Letakkan dia di Ruang Isolasi Barat selama tiga jam. Setelah itu, tidak ada lagi alasan. Aku ingin jantungnya sudah berada di atas meja persembahan sebelum fajar menyingsing."
Prajurit segera mengangkat kembali tandu Yuan. Saat mereka bergerak menjauh dari aula utama, Ming Luo melirik Yue Yin dengan tatapan yang seolah berkata: “Kau hampir saja membunuh kita!” Namun Yue Yin hanya menunduk, matanya menunjukkan tekad yang bulat.
Di bawah kain kafan yang kini sudah menutupi wajahnya kembali, Yuan mendengar suara gerbang besi yang dikunci dengan rapat. Ia berada di jantung wilayah musuh, dikelilingi oleh ribuan prajurit, dan hanya punya waktu tiga jam sebelum pisau bedah para tetua merobek kulitnya.
Ini bukan lagi soal pelarian. Ini adalah perlombaan melawan waktu. Di kejauhan, gema lonceng Ibu Kota berbunyi, menandakan dimulainya malam yang paling panjang bagi sejarah Kekaisaran. Dan di dalam kegelapan Ruang Isolasi, sepasang mata naga perlahan-lahan terbuka, bersinar dengan api hitam yang siap melalap habis kemegahan istana yang garing ini.
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏