"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunangan Yang Diimpikan
...*Tiga Minggu Setelah Lamaran Informal. Gereja Santa Perawan Maria Ratu, Bintaro. Pukul 10.00 Wib.*...
Gereja tidak penuh. Hanya keluarga inti saja, beberapa sahabat dekat, dan Romo Fransiskus yang telah mengenal Nicholas sejak ia masih aktif di OMK dulu.
Tidak ada pelaminan, tidak ada suara bising musik dangdut. Hanya bunga lili putih di depan altar dan lilin yang menyala tenang sebagai hiasan sederhana namun terlihat elegan.
Nerrisha berdiri di depan altar mengenakan dress putih sederhana berlengan pendek. Rambutnya disanggul rendah, dihiasi jepit bunga lili putih.
Di sampingnya, Nicholas mengenakan jas berwarna putih dan dasi putih tulang. Di jarinya, cincin tunangan emas putih sudah melingkar sejak seminggu lalu, tapi hari ini mereka akan memberkatinya secara resmi di hadapan Gereja.
Pak Chakra duduk di bangku depan bersama Mama Shanty. Di seberang, Pak Adinatha dan Mama Ningrum duduk berdampingan. Tidak ada jarak antara kedua keluarga lagi.
Romo Fransiskus membuka buku doa.
“Saudara saudari terkasih, hari ini kita berkumpul untuk memberkati langkah Nicholas Andreanus Theodore dan Nerrisha Aurelia Adiwangsa yang memutuskan untuk bertunangan pada hari ini. Pertunangan ini adalah tanda keseriusan mereka untuk mempersiapkan diri menuju sakramen pernikahan kudus...”
Nicholas dan Nerrisha saling berhadapan. Tidak ada naskah. Semua yang mereka ucapkan adalah kata yang sudah mereka latih dalam hati selama satu tahun penantian.
“Romo,” kata Nicholas, suaranya tenang.
“Saya Nicholas Andreanus Theodore, dengan ini menyatakan niat saya untuk bertunangan dengan Nerrisha Aurelia Adiwangsa. Saya berjanji untuk menjaga, menghormati, dan mempersiapkannya dengan setia hingga hari pernikahan kami nanti...”
“Saya Nerrisha Aurelia Adiwangsa, dengan ini menyatakan niat saya untuk bertunangan dengan Nicholas Andreanus Theodore. Saya berjanji untuk mempersiapkan diri dengan setia, untuk menjadi pendamping yang menghormati dan mencintai hingga kami dipersatukan dalam sakramen pernikahan kudus nanti...”
Romo mengangguk. “Baik. Sekarang, serahkan cincin sebagai tanda keseriusan kalian...”
Nerrisha mengulurkan kotak beludru kecil. Di dalamnya ada cincin emas putih kedua, identik dengan miliknya. Nicholas mengambilnya, memakaikan ke jari manis Nerrisha.
“Ner, dengan cincin ini saya mengikat kesetiaanku padamu. Sampai hari pernikahan kita, dan seterusnya,” ucapnya pelan.
Nerrisha melakukan hal yang sama. “Mas, dengan cincin ini aku mengikat kesetiaanku padamu. Aku percaya pada janji yang sudah kita jaga bersama...”
Romo memberkati kedua cincin itu dengan air suci, lalu mengangkat tangannya.
"Tuhan memberkati pertunangan kalian. Semoga masa pertunangan ini menjadi masa untuk saling mengenal lebih dalam, saling menguatkan, dan mempersiapkan diri dalam doa untuk dilanjutkan pada katekismus pranikah beberapa bulan kedepan...”
Kedua keluarga berdiri untuk memberi berkat. Pak Chakra maju pertama. Ia meletakkan tangannya di bahu Nicholas.
“Jaga anak saya, Nak. Saya serahkan dia pada Tuhan dan padamu...”
Pak Adinatha melakukan hal yang sama pada Nerrisha. “Jaga anak kami, Ner. Seperti Nicholas menjaga kamu selama ini...”
Tidak ada pelukan berlebihan. Hanya jabat tangan erat dan anggukan yang berarti lebih dari kata.
Setelah doa penutup, mereka keluar dari gereja bersama. Di halaman, fotografer keluarga mengabadikan momen sederhana itu. Tidak ada pesta besar. Hanya makan siang di rumah Adiwangsa dengan soto lamongan buatan Mama Shanty.
...*Siang Hari. Ruang Makan Adiwangsa.*...
Meja panjang sudah ditata. Nerrisha duduk di samping Nicholas. Cincin bersemat di jari manis mereka berkilau di bawah cahaya matahari yang masuk dari jendela.
Pak Chakra mengangkat gelas. “Untuk Nicholas dan Nerrisha. Tiga bulan lagi, kita berkumpul lagi. Kali ini untuk pertunangan. Jangan kecewakan Romo, jangan kecewakan Gereja, dan jangan kecewakan keluarga...”
Nicholas mengangkat gelasnya. “Siap, Om. Kami akan menjaga janji ini...”
Nerrisha menatap Nicholas. Setahun lalu, mereka hanya boleh bertemu lima belas menit di Taman Suropati. Hari ini, mereka boleh duduk berdampingan, diberkati, dan menyebut nama satu sama lain tanpa takut.
Di sudut ruangan, Mama Ningrum berbisik pada Pak Adinatha.
“Lihat, Mas. Tembok itu sudah jadi pintu. Dan pintunya sudah dibuka di hadapan Tuhan...”
Adinatha mengangguk pelan. “Iya. Sekarang tugas kita hanya satu. Menjaga agar mereka tidak kehilangan arah jalan pulang...”
Malam ini, Nerrisha menulis di buku hariannya. 'Hari ini Nerrisha resmi bertunangan dengan Mas Nicholas. Aku gak takut lagi. Karena aku tahu, aku gak berjalan sendirian menuju altar. Mas ada di sampingku dan Tuhan selalu ada di depan kami.'
Tiga bulan menuju pernikahan. Bukan hitungan mundur. Tapi hitungan maju menuju hari di mana jembatan itu resmi menjadi rumah.
*Siang hari. Halaman belakang rumah Adiwangsa.*
Meja panjang beralaskan taplak putih sudah penuh dengan soto Lamongan, nasi kuning, dan kue-kue buatan Mama Shanty. Di bawah pohon mangga, tenda kecil dipasang untuk meneduhi para tamu.
Pertunangan Nerrisha dan Nicholas di gereja tadi pagi berjalan khidmat. Kini giliran perayaan kecil bersama keluarga dan sahabat terdekat.
Nerrisha keluar dari ruang tengah, masih mengenakan dress putih sederhananya. Di sampingnya, Nicholas berjalan pelan.
“Semua sudah datang, Ner,” bisik Nicholas.
“Keluarga besar sudah lengkap...”
Benar saja. Di sudut halaman, Evander berdiri bersama istrinya, Vania, sambil menimang Zefania yang berusia dua tahun. Zefania menggenggam balon biru kecil, matanya tidak lepas dari kue lapis di meja.
“Mas Evan, selamat ya untuk adikmu,” ujar Vania sambil tersenyum pada Nerrisha.
“Akhirnya si paling keras kepala mau tunduk juga...” lanjutnya
Evander mengacak rambut Nicholas pelan.
“Selamat, my little brother. Satu tahun nunggu itu bukan main-main. Kalo gak gue gagalin pake tiga plan waktu itu kayaknya gak bakalan kalian sampai ke tahap ini hahaha...”
Di bangku kayu sebelahnya, Arga duduk bersama istrinya, Tiara. Arga, kakak pertama Nerrisha, mengenakan kemeja berwarna soft blue lengan panjang senada dengan baju Tiara dan Rafael putranya.
“Selamat, buat kalian berdua,” kata Arga sambil menjabat tangan Nicholas.
“Jaga adik saya baik-baik. Kalau berani buat dia nangis, kamu urusan sama saya...”
Tiara menepuk lengan suaminya. “Sudah, Mas. Sekarang kamu jadi kakak ipar. Harusnya bantu agar mereka bisa tetap saling utuh...bukan nakut-nakutin...”
Rey, kakak kedua Nerrisha, baru keluar dari dapur membawa nampan kue. Ia masih dengan kebiasaan lama, kemeja digulung, rambut sedikit berantakan.
Mama Shanty langsung berseru dari arah meja, “Rey cebongnya mama! Jangan makan dulu! Bantu mama bagi kue ke tamu!”
Rey mengangkat tangan menyerah. “Siap, Ma!” Ia melirik Nerrisha dan Nicholas, lalu mengedipkan mata.
“Selamat ya, Ner, Nick. Akhirnya Rey cebongnya mama bentar lagi punya adek ipar...”
Rafael, keponakan Nerrisha yang baru empat tahun, berlari-lari kecil menghampiri Nerrisha.
“Tante Ner! Aku bawa gambar!” Ia menyodorkan kertas coretan berbentuk dua orang memegang tangan.
"Ini Tante Ner sama Om Nicholas. Biar gak kesasar...”
Nerrisha berjongkok, memeluk Rafael. “Makasih ya, Raf. Tante simpan baik-baik gambar kamu...”
Alexandra, adik Evander dan Nicholas yang nomor tiga, datang membawa kamera.
“Kak Ner, Mas Nick, foto dulu. Biar ada kenangan. Nanti pas nikah gue yang jadi fotografer resmi yah...”
Di sebelahnya, Savira, adik bungsu mereka, tersenyum malu-malu.
“Kak Ner cantik banget hari ini. Aku jadi semangat kuliah biar cepat nyusul kayak kakak...”
Dari sisi lain, teman-teman kampus Nerrisha datang menyapa. Samira membawa buket bunga kecil.
“Ner, selamat ya! Akhirnya yang paling rajin ngerjain tugas itu lulus juga dari status single...”
Naira mengangguk setuju. “Dan selamat untuk Mas Nicholas. Berhasil lewatin seorang Pak Chakra. Itu final boss beneran...”
Mereka semua duduk melingkar. Romo Fransiskus berdiri di tengah, mengangkat gelas berisi air putih.
“Saudara saudari terkasih, mari kita bersyukur. Pertunangan ini bukan akhir, tapi awal. Semoga Nicholas dan Nerrisha diberi kekuatan untuk setia sampai pada hari pernikahan kudus nanti...”
Semua menunduk. Doa singkat dipanjatkan. “Amin...”
Suasana langsung mencair. Evander mulai bercerita tentang Nicholas kecil yang suka bersembunyi di gereja kalau malas latihan koor.
Arga membalas dengan cerita Nerrisha yang dulu pernah menangis karena laptopnya error sehari sebelum deadline skripsi.
Rey tetap menjadi penghubung antara dapur dan meja tamu, sambil digoda Mama Shanty, “Rey cebongnya mama, jangan lupa sotonya sekalian!”
Zefania merangkak ke pangkuan Nerrisha, lalu menunjuk cincin di jarinya.
“A tik, ate...”
Nerrisha menggendong Zefania pelan. “Makasih, Zef. Nanti kalau Tante nikah, kamu jadi flower girl ya...”
Zefania mengangguk serius.
Pak Chakra dan Pak Adinatha berdiri di teras, melihat semua orang berkumpul. Tidak ada lagi jarak antara keluarga Theodore dan Adiwangsa.
“Lihat itu, Adinatha,” kata Pak Chakra pelan.
“Anak-anak ini yang membuat saya yakin. Mereka kedepannya akan saling menjaga satu sama lain...”
Pak Adinatha mengangguk. “Iya, Chakra. Keluarga yang baik itu yang tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian, benar?”
Nerrisha duduk di samping Nicholas, tangannya menggenggam tangan Nicholas di bawah meja. Ia menatap semua orang yang ada di sana. Kakak, adik, keponakan, teman kampus, orang tua.
“Mas,” bisik Nerrisha.
“Aku ngerasa rumah itu bukan cuma rumah Papa dan Mama. Rumah itu ada di sini. Di antara mereka semua...”
Nicholas menggenggam balik. “Iya, Ner. Rumah kita mulai dari sini...”
Sore ini, halaman belakang rumah Adiwangsa penuh tawa dan doa. Pertunangan itu dirayakan bukan hanya oleh dua orang, tapi oleh seluruh keluarga yang akhirnya bersatu. Dan di tengah semua itu, Nerrisha dan Nicholas tahu, mereka tidak berjalan sendirian menuju altar melainkan bayak yang mengantarkan mereka menuju altar.
BERSAMBUNG!! ⭐🌟🌠
Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris