NovelToon NovelToon
Tuhan, Dia Titipan Sahabatku

Tuhan, Dia Titipan Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Persahabatan
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nufierose

“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”

Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.

Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.

Bayu Putra!

Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?

“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”

Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.

“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?

Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.

Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.

“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”

Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.

“Mah!”

“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”

Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?

Tidak!!

Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UCAPAN PEDAS SEFA

BAB 30

Satu minggu telah berlalu sejak makan malam yang mencekam di pusat kota Roma.

Selama tujuh hari itu, Sefa memainkan perannya dengan sangat sempurna, terlalu sempurna hingga Arka dan Vina mulai merasa seolah-olah kecurigaan Sefa tempo hari hanyalah halusinasi mereka semata.

Namun, pagi ini berbeda. Sefa tidak menunggu Arka di ruang makan. Ia justru melangkah keluar dari rumah mewah itu dengan anggun, mengenakan kacamata hitam besar,tepat saat sebuah mobil mewah lain berhenti di depan gerbang.

Bukan Arka yang turun untuk membukakan pintu, melainkan Zidan, asisten sekaligus orang kepercayaan Arkana, bukan semata-mata kedatangan Zidan rupanya atas perintah Sefa sendiri.

Lokasi syuting hari ini dipenuhi oleh kru yang sibuk berlalu-lalang.

Spanduk besar bertuliskan judul film mereka terpampang di gerbang masuk.

Judul yang sangat ironis, mengingat kehidupan nyata para pemeran utamanya justru sedang menuju kehancuran.

Arka sudah berada di sana lebih dulu bersama Vina. Begitu melihat Sefa turun dari mobil Zidan, rahang Arka mengeras.

Ada rasa tidak suka yang membuncah, entah karena cemburu atau karena merasa kehilangan kendali atas Sefa.

"Sef, kenapa tidak berangkat bersamaku? Aku menunggumu di ruang makan tadi," sapa Arka, mencoba menahan nada kesalnya di depan kru.

Sefa hanya tersenyum tipis, tanpa melepaskan kacamata hitamnya.

 "Aku ada urusan mendadak dengan Zidan terkait revisi beberapa adegan, Kak. Lagipula, kamu kan sudah ada Vina yang menyiapkan segala keperluanmu. Aku tidak mau merepotkan."

Vina, yang berdiri di belakang Arka, hanya bisa menunduk. Ia merasa setiap kata yang keluar dari mulut Sefa mengandung jarum yang siap menusuknya.

Rapat dimulai di dalam trailer mewah yang kedap suara. Sutradara, produser, Arka, dan Sefa duduk mengelilingi meja oval.

Vina berdiri di sudut ruangan, siap dengan catatan dan botol air minum.

"Oke, kita masuk ke babak akhir," ujar sang Sutradara sambil mengetuk naskah.

"21 Hari Menuju Happy Ending.”

“Di sini, tokoh utama wanita mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Sefa, bagaimana menurutmu emosi yang tepat untuk adegan konfrontasi ini?"

Sefa menyesap kopinya perlahan, matanya menatap lurus ke arah Arka yang duduk tepat di depannya.

"Menurutku," suara Sefa terdengar tenang namun sangat berat,

"tokoh wanita ini tidak boleh menangis. Menangis itu terlalu lemah. Dia harusnya merasa... terhibur."

"Terhibur?" Arka menyela, suaranya agak meninggi.

"Tunangannya berkhianat, Sef. Mana mungkin dia terhibur?"

"Tentu saja," sahut Sefa tenang.

"Dia terhibur melihat betapa bodohnya pria itu. Pria itu mengira dia sangat hebat dalam bersembunyi, padahal setiap gerakannya sudah terbaca. Si wanita ingin melihat, seberapa jauh 'Happy Ending' yang dipaksakan ini bisa bertahan sebelum semuanya berantakan."

Suasana ruangan mendadak hening. Produser dan Sutradara saling lirik, merasa intensitas di ruangan itu jauh lebih nyata daripada naskah film manapun.

Sefa kemudian menoleh ke arah Vina yang berada di sudut.

"Bagaimana menurutmu, Vin? Sebagai orang yang selalu bersamaku dan Kak Arka, apa menurutmu tokoh 'sahabat' di film ini pantas mendapatkan maaf di akhir cerita?"

Vina tersentak, buku catatannya hampir terjatuh.

"Aku... aku rasa, jika dia benar-benar menyesal... mungkin..."

"Menyesal?" Sefa memotong dengan tawa kecil yang dingin.

"Di dunia nyata, penyesalan hanya datang saat seseorang tertangkap, Vin. Bukan saat mereka melakukan dosanya."

Sefa berdiri, menutup naskahnya dengan bunyi brak yang cukup keras.

"21 hari lagi film ini selesai, dan kita akan merayakan 'Happy Ending' itu. Aku harap, tidak ada di antara kita yang jatuh pingsan sebelum hari ke-21 tiba."

Begitu rapat bedah naskah usai, Arka tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia segera menyambar lengan Sefa tepat saat gadis itu hendak melangkah keluar menuju mobil Zidan yang masih terparkir di area depan.

"Sefa, tunggu!" Arka menariknya ke sudut lorong yang lebih sepi.

Sefa berhenti, namun ia tidak menoleh. Ia hanya menatap jemari Arka yang melingkar di lengannya dengan tatapan yang seolah-olah sedang melihat serangga pengganggu.

"Kenapa, Kak? Bukankah kamu harus segera bersiap? Adegan pertama kita adalah adegan dansa di taman, kan?" tanya Sefa datar.

"Ada apa denganmu seminggu ini? Kenapa tiba-tiba kamu begitu dekat dengan Zidan? Dan kenapa kamu berangkat dengannya?" Suara Arka rendah namun penuh penekanan.

"Aku tunanganmu, Sefa. Bukan dia."

Sefa akhirnya menoleh. Ia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang tajam dan tidak terbaca.

"Tunangan? Oh, aku hampir lupa status itu masih ada. Habisnya, seminggu ini kamu terlihat sangat sibuk memperhatikan 'kenyamanan' Vina sampai-sampai aku merasa kamu lebih seperti suaminya daripada tunanganku."

Arka tersentak. Lidahnya mendadak kelu.

"Soal Zidan," Sefa melanjutkan sambil merapikan kerah kemeja Arka yang sedikit miring,

"dia hanya membantuku fokus pada pekerjaan. Dia tahu apa yang aku butuhkan tanpa aku harus memintanya. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan oleh orang yang 'peduli'?"

Sefa menepuk bahu Arka pelan, lalu berbisik tepat di samping telinganya.

"Jangan khawatir, Kak. 21 hari ini akan berlalu dengan cepat. Setelah itu, kamu bebas melakukan apapun... atau dengan siapapun."

Proses syuting dimulai.

Set taman buatan di dalam studio itu terlihat sangat indah, namun atmosfernya mencekik. Arka dan Sefa harus memerankan pasangan yang sedang merayakan pertunangan mereka.

Vina berdiri di balik monitor sutradara, memegang botol air minum dan naskah. Ia harus menyaksikan Arka memeluk pinggang Sefa, menatap mata Sefa dengan penuh cinta sesuai arahan skrip.

Namun, setiap kali mata Arka dan Sefa bertemu, ada kilatan amarah dan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.

"Action!" teriak Sutradara.

Arka menarik Sefa ke dalam pelukannya. Musik klasik mulai mengalun.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, Sefa," ucap Arka, membacakan dialognya dengan getaran yang nyata di suaranya.

Sefa tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Arka. Namun, dari sudut matanya, ia menatap lurus ke arah Vina yang berdiri di kegelapan.

"Janji adalah hutang, Sayang," balas Sefa, menyimpang sedikit dari naskah asli namun tetap dalam karakter.

"Dan di film ini, tokoh pria yang berbohong biasanya akan kehilangan segalanya di hari ke-21. Kamu siap untuk itu?"

"Cut! Bagus sekali!" teriak Sutradara dari balik layar.

"Intensitasnya luar biasa! Sefa, tambahan dialogmu tadi sangat dalam!"

Saat istirahat, Vina masuk ke ruang ganti Sefa untuk mengantarkan vitamin. Ia menemukan Sefa sedang duduk diam, menatap pantulan dirinya di cermin yang dikelilingi lampu-lampu terang.

Vina meletakkan botol itu di meja rias dengan tangan gemetar. Saat ia hendak berbalik pergi, Sefa memanggilnya.

"Vin, kalungnya bagus sekali di lehermu."

Vina refleks menyentuh liontin kunci yang diberikan Sefa seminggu lalu.

"Terima kasih, Sef."

"Kunci itu... pasangannya adalah sebuah gembok," Sefa berdiri dan berjalan perlahan mengitari Vina.

"Aku punya gemboknya di rumah. Di dalam gembok itu, ada sebuah rahasia yang sudah sangat lama ingin kubuka. Kamu ingin tahu apa isinya?"

Vina menggeleng cepat.

"A-aku tidak tahu, Sef. Aku hanya temanmu."

Sefa berhenti tepat di depan Vina, menunduk sedikit agar wajah mereka sejajar.

 "Kamu bukan sekadar teman, Vin. Kamu adalah 'istri' dari sahabat kak arkayang sudah tiada, kan? Bayu pasti sedih melihat istrinya sekarang harus melayani tunangan pria lain... atau mungkin, dia sedih karena istrinya sedang berbagi ranjang dengan pria lain?"

Prang!

Vina tidak sengaja menjatuhkan botol vitamin itu hingga isinya berserakan di lantai.

"Ups, tumpah," Sefa tersenyum manis, namun sorot matanya mengerikan.

"Sama seperti rahasiamu, Vin. Sekali tumpah, tidak akan pernah bisa dimasukkan lagi ke dalam botolnya dengan utuh."

Sefa melangkah keluar ruang ganti, meninggalkan Vina yang terisak dalam diam di antara butiran-butiran vitamin yang hancur.

Di luar, Zidan sudah menunggu Sefa dengan sebuah payung hitam, siap melindunginya dari panas matahari Roma, sementara Arka hanya bisa menonton dari kejauhan dengan perasaan hancur yang mulai berubah menjadi kemarahan besar.

21 hari menuju akhir. Dan hari pertama baru saja dimulai dengan tumpahnya sebuah botol yang tidak akan pernah bisa diisi kembali.

1
Amelia Kesya
ceritanya menarik, tapi update nya lama sekali mesti nunggu berminggu"
Nufie: maaf ya kak.. authornya belum stabil waktunya
total 1 replies
Nufie
Haii. kak.. jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya😍...
like dan berikan ulasan.. agar authornya semangat UP setiap bab 🙏😍😍😍
Siti Patimah
dan sebentar lg senua akan terbongkar, yg sabar ya kha, semua pasti bisa di lalui, semoga sefa bisa nerima kenyataan yg ada, di sini gak ada yg salah senua korban, 💪💪💪
rafika saptawati: swmu korban ke egoisan bayu
total 2 replies
Dew666
🌼🌼🌼
cinta❤😘
up lagi dong min🤭
Helmin Lawi
bagus buat penasaran
Nurgusnawati Nunung
Hadir..
Siti Patimah
bentar lagi botak itu kepala arka, yg satu istri, yg satu, tunangan, cari satu lg ka swlingkuhan biar pas😄😄😄
Siti Patimah
dag dig duk bacanya, smangat up nya kak💪💪💪
Siti Patimah
cinta yg rumit, tapi aku suka, bacanya kayak ada tantangan, setiap episode sllu di tunggu up ny
Nufie: terimakasih kak😍 jangan lupa follow authornya yaaa🙏
total 1 replies
Sumarni Ris
lanjutkan ceritamu bagus
Nufie: trimakasih kak.. jangan lupa follow authornya yaa😍
total 1 replies
Siti Patimah
sabar ya ka, kamu hanya butuh waktu, smnagt ka, buat isteimu klepek2 ya
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🌻🌻🌻
Muna Junaidi
Nabung dulu ya thor💪💪
Nufie: siap kak.. jangan lupa follow authornya yaa
total 1 replies
Siti Patimah
kalo horang kaya mah bebas yak, dari italia pulang ke tanah air cuma buat ngadirin reunian gak sampe 5 menit🤣🤣🤣
Nufie: hahaha
total 1 replies
Siti Patimah
hay kak aku baru mampir kak tapi aku suka ceritanya,
Nufie: haii kak.. terimakasih sudah mampir
jangan lupa follow autornya yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!