Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 badai di pelabuhan karang
Suasana di dalam kedai Napas Naga Laut menegang seperti tali busur yang ditarik maksimal. Bau alkohol murahan dan keringat pelaut bercampur dengan aroma ozon tajam yang mulai memancar dari tubuh Li Yun.
Tuan Muda Ketiga Keluarga Hai, Hai San, mengibaskan kipas lipatnya dengan angkuh. Di belakangnya, sepuluh pengawal pribadi dengan kultivasi rata-rata Qi Condensation Tingkat 4 menyeringai, memblokir satu-satunya jalan keluar. Bagi mereka, ini adalah rutinitas harian: memeras pendatang baru, mengambil wanita mereka, dan membuang mayat pria ke laut untuk dimakan hiu.
"Kalian tuli?" Hai San melangkah maju, menutup kipasnya dengan bunyi plak yang keras. "Aku bilang, tinggalkan gadis bercadar itu dan kapal kalian. Sisanya boleh pergi merangkak keluar."
Su Lang duduk tenang di bangkunya, masih memegang cangkir teh yang isinya tinggal setengah. Dia tidak menoleh pada Hai San. Matanya tertuju pada Li Yun.
"Li Yun," panggil Su Lang pelan.
"Ya, Guru?" Li Yun menjawab, matanya terkunci pada leher Hai San.
"Jangan hancurkan kedai ini. Pak Tua Telinga Laut tadi memberikan informasi yang bagus. Kita tidak boleh merusak tempat usahanya."
"Mengerti, Guru. Saya akan membuang sampahnya keluar dulu."
Hai San terbelalak. "Sampah? Kau memanggilku sampah?! Bunuh mereka! Potong lidah bocah itu!"
Para pengawal Hai San menerjang maju. Senjata mereka—golok-golok berat khas pelaut—bersinar dengan Qi elemen air yang lembap.
Li Yun menyeringai. Dia tidak menghunus pedang. Dia hanya mengangkat tangan kanannya yang mengenakan Cakar Guntur.
Seni Gerak: Langkah Kilat!
ZRRRT!
Li Yun menghilang dari pandangan mata telanjang. Hanya kilatan biru yang terlihat meliuk di antara para pengawal.
"ARGH!"
"KAKIKU!"
"TANGANKU!"
Jeritan kesakitan meledak beruntun. Dalam tiga detik, Li Yun sudah muncul kembali di posisi awalnya.
Di belakangnya, sepuluh pengawal itu jatuh berlutut secara bersamaan. Senjata mereka patah, dan di setiap lengan kanan mereka terdapat luka cakar yang hangus terbakar listrik. Mereka tidak mati, tapi saraf lengan kanan mereka telah diputus dengan presisi bedah.
"Apa..." Hai San mundur selangkah, kipasnya jatuh dari tangannya yang gemetar. Dia adalah kultivator Tingkat 5 Awal yang dibangun dengan obat-obatan mahal, tapi dia bahkan tidak bisa melihat gerakan Li Yun tadi.
"Giliranmu, Tuan Muda," suara Li Yun terdengar tepat di samping telinga Hai San.
Hai San hendak berteriak minta tolong, tapi sebuah tangan dingin mencengkeram lehernya. Lin Yue sudah berdiri di sana, Pita Sutra Es-nya melilit leher Hai San seperti ular piton putih.
"Guru bilang jangan merusak kedai," bisik Lin Yue dingin. "Jadi, diamlah."
Es merambat dari pita itu, membekukan pita suara Hai San. Dia membuka mulutnya untuk berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar, hanya uap dingin.
Su Lang akhirnya berdiri. Dia meletakkan beberapa keping Batu Roh di meja sebagai bayaran untuk tehnya (dan kompensasi mental untuk pemilik kedai yang bersembunyi di bawah meja).
Dia berjalan mendekati Hai San yang kini wajahnya membiru karena tercekik dan kedinginan.
"Keluarga Hai, ya?" Su Lang menatap mata pemuda itu. "Dengar baik-baik. Aku hanya lewat. Aku tidak tertarik dengan politik pelabuhan kecil ini. Tapi jika kalian mengejarku... pastikan kalian membawa peti mati yang tahan air."
Su Lang memberi isyarat. Lin Yue melepaskan lilitannya.
Hai San jatuh terbatuk-batuk di lantai, memegangi lehernya yang lecet beku. Matanya memancarkan ketakutan murni, tapi di balik itu, ada dendam yang membara.
"Kita pergi," perintah Su Lang.
Mereka bertiga berjalan keluar dari kedai, meninggalkan Hai San dan pengawalnya yang mengerang kesakitan. Tidak ada satu pun pengunjung kedai lain yang berani mengangkat kepala.
Satu Jam Kemudian, Di Dermaga.
Su Lang dan murid-muridnya telah kembali ke atas Naga Penyeberang. Chen Ling, yang ditinggal menjaga kapal, menyambut mereka dengan wajah cemas.
"Guru! Ada pergerakan aneh di pelabuhan. Lampu-lampu suar dinyalakan, dan banyak kapal perang mulai keluar dari dok pribadi Keluarga Hai!"
"Mereka cepat juga," komentar Li Yun sambil melepas sarung tangannya. "Dasar orang kaya manja. Tidak bisa menerima kekalahan, langsung panggil bapak."
Su Lang berjalan ke anjungan kapal. Dia melihat ke arah kota. Benar saja, lusinan obor bergerak menuju dermaga. Dan di laut, tiga kapal perang besar—model Kura-kura Besi yang dilapisi baja hitam—sedang bermanuver untuk memblokir jalur keluar pelabuhan.
Kapal-kapal itu dilengkapi dengan ballista raksasa yang ujung panahnya dilapisi bubuk peledak.
"Tiga kapal perang kelas berat," gumam Su Lang. "Keluarga Hai benar-benar penguasa di sini."
"Apa yang harus kita lakukan, Guru? Menerobos?" tanya Lin Yue.
"Tentu saja. Angkat jangkar. Aktifkan Formasi Pendorong Angin ke tingkat maksimum."
"Tapi Guru," sela Chen Ling, "Tiga kapal itu memblokir muara. Jika kita menabrak, lambung kapal kita mungkin rusak."
Su Lang tersenyum tipis. Dia mengeluarkan Pedang Naga Hitam dari inventarisnya.
"Siapa bilang kita akan menabrak? Kita akan memotong."
Pertempuran Laut Pertama
Naga Penyeberang mulai bergerak. Suara dengungan rendah terdengar saat Inti Monster Angin di ruang mesin diaktifkan. Kapal itu melesat maju, membelah ombak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk kapal seukurannya.
Di salah satu kapal blokade Keluarga Hai, seorang komandan berteriak melalui terompet pengeras suara.
"Berhenti! Atas nama Tuan Besar Hai, kalian ditahan karena melukai Tuan Muda Ketiga! Matikan mesin dan menyerah, atau kami akan menenggelamkan kalian!"
Su Lang berdiri di haluan kapal, jubahnya berkibar ditiup angin laut yang kencang. Dia tidak menjawab. Dia hanya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Li Yun, Lin Yue! Lindungi sisi kiri dan kanan kapal dari serangan panah! Aku akan membuka jalan!"
"Siap!"
Komandan musuh melihat kapal Su Lang tidak melambat, malah semakin cepat.
"Tembak! Tenggelamkan mereka!"
DUM! DUM! DUM!
Ballista raksasa dari ketiga kapal musuh melepaskan tembakan serentak. Puluhan tombak besi berujung ledak melesat ke arah Naga Penyeberang.
Lin Yue melangkah maju ke sisi kanan dek. Dia merentangkan kedua tangannya.
"Dinding Laut Beku!"
Air laut di samping kapal tiba-tiba naik, lalu membeku menjadi dinding es tebal setinggi sepuluh meter yang bergerak mengikuti kapal.
BLAM! BLAM!
Tombak-tombak itu menghantam dinding es, meledak dan menghancurkan sebagian es, namun tidak ada satu pun yang menyentuh lambung kapal.
Di sisi kiri, Li Yun tidak menggunakan pertahanan pasif. Dia melompat ke udara, Cakar Guntur-nya menyambar-nyambar.
"Potong!"
Dia menebas tombak-tombak yang datang di udara. Kecepatan reaksinya luar biasa. Tombak-tombak itu terbelah dua sebelum sempat meledak.
Kini, Naga Penyeberang sudah berjarak kurang dari seratus meter dari kapal utama musuh yang memblokir tengah jalur.
Su Lang memejamkan mata sejenak, lalu membukanya. Pupil naganya bersinar emas.
Dia mengalirkan Qi Tingkat 7 Puncak-nya ke dalam Pedang Naga Hitam. Bilah pedang itu memanjang menjadi pedang energi raksasa sepanjang empat puluh meter yang membara dengan api biru.
Air laut di bawah pedang itu mendidih seketika.
"Seni Naga: Pembelah Samudra!"
Su Lang mengayunkan pedangnya vertikal ke bawah.
Bilah cahaya biru itu melesat, membelah udara, membelah ombak, dan...
KRAAAAK!
Kapal Kura-kura Besi milik musuh, yang dibanggakan karena pertahanan bajanya, terbelah menjadi dua bagian rapi tepat di tengahnya.
Potongan logam yang panas membara mendesis saat menyentuh air laut. Kapal itu tidak meledak; kapal itu hanya... terpisah.
Para kru kapal musuh menjerit panik saat kapal mereka mulai tenggelam ke dua sisi, menciptakan celah lebar di tengah laut.
"Jalan terbuka! Kecepatan penuh!" teriak Su Lang.
Naga Penyeberang melesat melewati celah di antara bangkai kapal musuh yang sedang tenggelam. Su Lang berdiri di haluan, menatap para pelaut musuh yang berenang menyelamatkan diri. Dia tidak membunuh mereka. Menghancurkan kapal mereka sudah cukup untuk mengirim pesan.
Dua kapal musuh lainnya yang berada di sisi kiri dan kanan terpaku. Mereka melihat kapal utama mereka dibelah dalam satu serangan. Moral mereka hancur seketika. Tidak ada yang berani memerintahkan tembakan susulan.
Mereka membiarkan Naga Penyeberang lolos menuju laut lepas, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Memasuki Lautan Kabut
Satu jam setelah pertempuran, pelabuhan dan armada Keluarga Hai sudah jauh tertinggal. Di depan mereka, membentang dinding kabut putih yang sangat tebal, menjulang dari permukaan laut hingga ke langit.
Ini adalah batas wilayah Lautan Kabut. Wilayah tanpa hukum.
"Kita masuk," kata Su Lang.
Saat Naga Penyeberang menembus dinding kabut itu, suasana berubah drastis.
Suara ombak yang menderu tiba-tiba hilang, digantikan oleh kesunyian yang menekan. Air laut di sini tidak berwarna biru gelap, melainkan abu-abu mati. Jarak pandang terbatas hanya sepuluh meter.
Suhu udara turun drastis. Lin Yue merasa nyaman, tapi Li Yun dan Chen Ling harus merapatkan jubah mereka.
"Guru... tempat ini aneh," bisik Chen Ling. "Saya tidak bisa merasakan energi kehidupan di air. Tidak ada ikan, tidak ada rumput laut."
"Ini wilayah hantu," jawab Su Lang waspada. Indera spiritualnya yang biasanya bisa menjangkau satu kilometer kini tertekan hingga hanya lima puluh meter. Kabut ini mengandung energi penghambat persepsi.
Tiba-tiba, Fragmen Kuali di inventaris Su Lang bergetar pelan. Bukan getaran resonansi tarik-menarik, tapi getaran... ketakutan?
Tidak. Itu getaran antisipasi.
Su Lang berjalan ke pinggir dek, menatap ke dalam air abu-abu.
Di kedalaman sana, dia melihat bayangan raksasa lewat di bawah kapal mereka. Lebih besar dari kapal perang Keluarga Hai. Jauh lebih besar.
Dan bayangan itu memiliki ratusan mata yang menyala redup.
"Matikan mesin pendorong," perintah Su Lang berbisik. "Kita berlayar senyap. Jangan buat suara sedikit pun."
Li Yun segera berlari ke ruang mesin untuk mematikan inti monster. Kapal kini hanya meluncur pelan sisa momentum.
Mereka menahan napas. Bayangan di bawah air itu perlahan menjauh, menghilang ke kedalaman palung.
"Apa itu tadi?" tanya Li Yun dengan wajah pucat.
"Leviathan Kabut," jawab Su Lang. "Binatang Roh Tingkat 6. Dan itu baru penjaga pintu gerbang."
Su Lang menatap ke depan. Di dalam kabut, dia melihat siluet pulau-pulau karang yang menjulang seperti gigi monster.
"Selamat datang di wilayah Raja Bajak Laut Hantu. Tetap waspada. Di sini, musuh bukan hanya yang terlihat, tapi juga yang berbisik di kepalamu."